Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 584,3. Petualangan Weng Ying Luan II (SPESIAL)


__ADS_3

Weng Ying Luan tau bahwa alasan yang dia buat terdengar sangat bodoh di telinga mereka. Bahkan dia sendiri juga merasa bodoh karena mengatakan nya.


Namun itu satu-satunya alasan yang bisa dia buat untuk sekarang. Memberitahukan asalnya mungkin saja akan menimbulkan reaksi yang lebih tak terduga dari orang-orang ini.


"Se-Sebenarnya aku pergi berpetualang menggunakan sebuah kapal berukuran sedang bersama kelompok ku. Tapi mendadak kami berhadapan dengan badai besar yang luar biasa besar. Kapal kami tidak kuat menahan dahsyatnya badai itu sehingga hancur dan kami semua pun harus bertahan di puing-puing kapal. Terhanyut oleh ombak besar yang mengerikan."


"Aku menemukan diri ku sudah berada di pantai pulau ini kemarin pagi, tapi sama sekali tidak menemukan seorangpun manusia. Hanya binatang buas saja disepanjang jalan aku temui. Sampai akhirnya aku melihat tembok besar ini, dan aku tau kalau ada manusia yang tinggal di pulau ini. Aku pun memilih untuk ke sini, berharap mendapatkan informasi mengenai tempat ku berada sekarang." Weng Ying Luan menjelaskan alasannya lebih detail.


Atau lebih tepatnya karangan yang dia buat di dalam kepalanya. Karangan ini akan jauh lebih mudah dicerna oleh para prajurit di hadapannya. Sebuah kelompok yang berhadapan dengan badai di laut bukanlah suatu hal yang jarang terjadi.


Pada kebanyakan kasus, semua orang di kapal akan mati, namun ada satu dua kasus spesial dimana seseorang selamat dari badai berkat keberuntungannya. Weng Ying Luan haruslah merupakan salah satu orang yang beruntung itu jika mengikuti cerita yang dia katakan pada mereka.


Ketika para prajurit itu masih bercakap-cakap dan menimbang apakah Ying Luan adalah orang baik atau jahat, mendadak gerbang besar yang terdapat di tembok belakang mereka bergerak terbuka. Perhatian semua orang segera tertuju pada gerbang tersebut termasuk Weng Ying Luan.


Dari gerbang itu, sosok seorang pria yang mengenakan baju perang lengkap dan mengeluarkan aura berwibawa berjalan keluar dengan langkah yang tegas. Para prajurit, serta anak-anak yang sedang berlatih beladiri menjadi terkejut melihat sosok pria itu. Dengan buru-buru mereka berlutut hormat ke arah pria itu sementara Ying Luan dengan kebingungan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"""Hormat pada Raja Singa Api! Kejayaan bagi Kerajaan Singa Api!!""" Mereka semua berseru lantang dan membuat Weng Ying Luan akhirnya tau identitas orang tersebut.


"Jadi tempat ini adalah kerajaan, huh? Dan pria ini adalah rajanya. Kekuatannya tidak buruk," gumam Ying Luan ketika memeriksa kekuatan pria tersebut.


Tatapan mata sang Raja pun terarah padanya ketika merasakan dirinya yang sedang diperiksa oleh mata Ying Luan. Dia melangkah ke depan dan berdiri lima langkah dari Weng Ying Luan. Tinggi pria itu mencapai dua meter lebih, sehingga dia harus sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap mata pemuda itu.


"Apa urusan kedatangan mu di kerajaan ku, wahai petualang?" Mendadak Raja itu bertanya pada Ying Luan dengan suara serak. Namun suaranya itu mengandung kekuatan yang besar.


Jika seorang manusia biasa mendengar suaranya itu, mungkin mereka akan langsung kehilangan kesadarannya.


Berkedip, Weng Ying Luan pun akhirnya menjawab, "Seperti yang aku katakan. Aku datang ke sini untuk tau di mana aku sedang berada."


Tidak ada rasa takut dari kata-kata nya. Baginya Raja di hadapannya ini hanya lah orang yang sedikit kuat saja. Pada kenyataannya mereka berdua memiliki posisi yang sama secara kekuatan.


Raja itu mendengar jawaban Weng Ying Luan. Dia menatap matanya selama beberapa saat dan tidak menemukan kebohongan di sana. Dia pun menghela napasnya. Ada perasaan lega ketika dia tau Weng Ying Luan tidak berbohong.


"Kalau begitu aku akan memberitahu mu. Kau saat ini sedang berada di Pulau Dongwu, dan tempat kau berada sekarang adalah wilayah Kerajaan Singa Api. Aku adalah Raja sekaligus pemimpin umat manusia di sini, sang Raja Singa Api."


Mendengar nama Pulau Dongwu, Ying Luan hanya bisa mendecakkan lidahnya. Dia baru mendengar tentang nama pulau itu. Dia hapal nama beberapa pulau lain di dekat Pulau Pasir Hitam, namun Pulau Dongwu jelas bukan salah satunya.


"Namaku Luan, senang berkenalan dengan anda, Raja Singa Api. Jika tidak keberatan, apakah aku boleh masuk ke kerajaan mu? Aku tidak akan membuat masalah dengan wilayah mu ini. Aku hanya ingin menemukan cara agar bisa pulang kembali ke tempat asal ku," tanya Ying Luan dengan tenang.


Dia tau dirinya tidak bisa masuk begitu saja ke dalam kerajaan orang lain. Meski dia memiliki kekuatan, namun dia sedang berhadapan dengan pemimpin Kerajaan Singa Api yang ingin dia masuki. Setidaknya dia harus menunjukkan rasa hormatnya pada raja itu.


"Ijin, huh? Baiklah, aku mengundang mu masuk ke kerajaan ku. Mari ikut aku, kita akan langsung pergi menuju istana." Tanpa disangka oleh Ying Luan, Raja Singa Api itu langsung setuju begitu saja dan malah mengundang nya ke istana.

__ADS_1


Dia tidak tau ini jebakan atau apa, tapi tidak ada salahnya bagi dia untuk mengikutinya. Lagipula dia tidak tau apa-apa tentang tempat ini selain namanya.


Tanpa aba-aba, tubuh sang Raja Singa Api terbang ke udara dan melesat masuk ke dalam gerbang. Weng Ying Luan segera mengikutinya dan terbang dengan kecepatan yang sama dengan sang raja. Kepergian mereka berdua membuat semua orang di depan tembok menjadi terdiam membisu. Siapa yang menyangka, Weng Ying Luan yang sebelumnya mereka todongkan senjata, ternyata bisa terbang layaknya raja mereka.


Itu berarti pemuda itu memiliki kekuatan menyamai raja mereka.


***


Di dalam istana. Weng Ying Luan dibawa menuju ke sebuah ruangan yang sepertinya ruangan makan. Sebuah meja panjang ditempatkan di tengah-tengah ruangan dengan beberapa kursi berjajar rapi di tiap sisinya.


Pada salah satu sisinya, terdapat sebuah kursi yang paling besar dan mewah yang tidak lain adalah tempat duduk sang Raja. Weng Ying Luan dipersilahkan untuk duduk di sisi satunya yang berhadapan dengan sang Raja. Kursi itu memang biasanya dipakai untuk tamu kerajaan.


"Apakah sarapan sudah siap?" tanya Raja itu pada seorang pelayan yang berdiri di samping belakangnya.


"Sudah, Yang Mulia." Pelayan itu menjawab dengan hormat.


"Bagus, bawa ke sini cepat. Kita kedatangan tamu dari tempat yang sepertinya sangat jauh jadi dia pasti kelaparan. Apakah aku benar?" Raja itu menatap Ying Luan.


"Tentu saja, aku cukup lapar saat ini." Weng Ying Luan tidak berbohong tentang itu. Dia memang lapar sekarang. Setelah bertarung dalam waktu berjam-jam dia tentu telah kehilangan sedikit tenaga nya. Apalagi dia sebelum terkirim ke pulau ini sedang mengikuti turnamen bersama-sama dengan Weng Lou dan Lin Mei.


"Bagus sekali."


Makanan pun segera dibawa masuk ke tempat itu. Berbagai macam jenis hidangan disajikan di atas meja dan Raja Singa Api itu segera mempersilahkan Ying Luan untuk makan tanpa ragu. Dia sendiri sudah lebih dulu mengambil satu potong daging bakar dan melahapnya tanpa peduli dengan tatapan mata pemuda itu.


Dia dan Raja itu pun makan kurang lebih dua puluh menit sebelum akhirnya mereka selesai menghabiskan semua makanan di meja tanpa tersisa sedikitpun. Seusai makan, Ying Luan pun menanyakan mengenai Pulau Dongwu dan Kerajaan Singa Api kepada Raja.


Tanpa ragu sedikitpun, Raja itu menceritakan semua sejarah tentang Pulau Dongwu serta bagaimana bisa Kerajaan Singa Api terbentuk. Dia juga tidak keberatan menceritakan mengenai pelatihan wajib militer yang dia tetapkan kepada anak-anak dibawah umur pada Ying Luan.


Ying Luan mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia mengangguk mendengarkan cerita sang Raja. Hingga akhirnya Raja itu selesai bercerita dan Ying Luan mulai memahami semua yang ada di Pulau Dongwu.


"Jadi hampir tiap harinya terjadi serangan binatang buas di kerajaan? Itukah alasan mengapa tembok besar itu dibangun? Untuk menahan para binatang buas itu tidak masuk ke wilayah kerajaan?" tanya Ying Luan dengan penasaran.


"Tidak, tembok itu bukan untuk menahan binatang-binatang itu. Tembok itu ayahku dan aku bangun untuk meredam sosok-sosok lain yang lebih mengerikan. Mereka adalah binatang buas dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5. Kau jelas tau besarnya perbedaan kekuatan antara ranah Penyatuan Jiwa tahap 1-4 dengan tahap 5. Hampir mustahil untuk mengalahkan mereka dengan kekuatan di bawah tahap 5 juga."


"Tembok itu dibangun dengan usaha keras ayahku semua prajurit kami agar umat manusia di pulau ini tidak binasa karena serangan mereka. Tiap kali salah satu dari mereka melakukan penyerangan, tembok itu adalah pertahanan utama untuk menahan serangan mereka. Jika tembok itu runtuh, maka hanya ada kematian saja yang tersisa untuk kami semua."


Penjelasan dari Raja itu ditanggapi dengan diam oleh Weng Ying Luan. Masalah mereka sedikit rumit baginya. Satu sisi, yang dilakukan oleh para binatang buas itu merupakan tindakan wajar karena mereka tidak mau tanah mereka dikuasai oleh manusia yang adalah pendatang. Di sisi lain para manusia juga tidak salah karena mereka hanya mempertahankan diri mereka dari serangan para binatang buas.


Tidak ada yang salah dalam hal ini. Namun tetap saja, Ying Luan sebagai seorang manusia juga memiliki hati sebagai manusia. Sudah sewajarnya dia berpihak pada manusia. Namun menyerang para binatang buas itu tidak akan menghasilkan solusi apapun.


"Aku mengerti situasinya. Tapi aku penasaran, kenapa kalian tidak berdamai saja dengan membagi wilayah di pulau ini? Kalian mendapatkan seperempatnya sedangkan sisanya berikan pada binatang buas. Lagi pula ini memang tempat tinggal mereka, jadi sewajarnya memberikan wilayah yang lebih luas," saran Ying Luan.

__ADS_1


Namun mendadak ekspresi wajah Raja yang sejak tadi tenang dan tegas kini berubah menjadi wajah seseorang yang sangat marah.


"Berdamai?! Setelah semua yang mereka lakukan?! Kau pikir berapa banyak manusia di kerajaan ku ini mati karena penyerangan mereka!!! Setiap tahunnya lebih dari seratus rakyatku harus mati karena bertarung mempertahankan kerajaan! Dan kau menyuruh kami berdamai dengan mereka?! Ha!!! Lebih baik kerajaan ku ini jatuh karena peperangan melawan mereka daripada harus berdamai dengan musuh bebuyutan kami!"


Oke, Ying Luan tidak mengharapkan reaksi seperti itu dari sang Raja. Sepertinya dia tidak akan mau berdamai apapun yang terjadi. Para binatang buas itu juga sangat jelas tidak akan mau berdamai dengan mereka.


Situasi ini telah mencapai dimana hanya salah satu dari mereka yang akan tersisa di Pulau Dongwu.


"Lalu apa nyawa rakyat dan keluarga mu itu tidak kau anggap berharga? Jika kerajaan mu ini hancur, mereka semua akan mati, kau mau hal itu terjadi?"


"Tidak, tapi mereka akan mau! Aku yakin mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi kerajaan ini, tempat mereka lahir dan dibesarkan!" Raja Singa Api itu menjawab dengan tegas.


Weng Ying Luan memasang ekspresi gelap ketika mendengarnya. Rela mengorbankan nyawa? Dari apa yang dia lihat ketika sedang terbang menuju istana, dia hanya melihat orang-orang yang berjalan dalam rasa takut dan was-was setiap saat.


Mereka takut jika seandainya tembok yang menjadi pertahanan mereka itu runtuh. Mereka takut tidak bisa melihat anak-anak mereka tumbuh besar dan hidup dengan normal layaknya anak-anak pada umumnya. Semua anak-anak di kerajaan ini tidak bisa merasakan masa kecil yang indah karena selalu membawa rasa takut itu kemanapun, terlebih mereka harus mengikuti wajib militer yang keras selama beberapa tahun dan membuat mereka tidak bisa menghabiskan masa kecil mereka dengan indah.


"Sial....kau hanya mengatakan omong kosong sejak tadi. Tau kah kau mengapa orang-orang itu rela mati berperang melawan binatang buas? Kenapa mereka mau menghabiskan kehidupan mereka dalam bayang-bayang kematian setiap saat? Itu karena mereka lebih takut padamu!!! Pemimpin mereka adalah orang terkuat di kerajaan, jika tidak mengikuti perintah mu, mereka takut akan menerima hukuman mati!!"


"Apa kau melihat ketika anak-anak itu menerima pelatihan beladiri di luar tembok? Menurutmu mereka senang melakukannya? Menurutmu mereka secara sukarela mau mengikuti?! Sialan, mereka semua itu hanyalah tubuh tanpa jiwa di tempat ini!" Ying Luan kehilangan kendalinya dan membentak raja itu.


"Hmp! Ini adalah tempat tinggal mereka! Sudah jelas mereka harus mempertahankan nya! Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan mati oleh para binatang buas!" Raja itu membalas Ying Luan.


"Itu sebabnya aku menyarankan mu untuk berdamai dengan mereka!"


"Tidak! Tidak akan pernah!"


Weng Ying Luan baru kali ini melihat orang sekeras kepala Raja di depannya ini. Hanya Weng Lou dan Lin Mei saja yang dia tau memiliki sifat keras kepala seperti ini, dan sekarang dia menemukan satu orang lagi.


"Sial, aku sebenernya tidak mau melakukan ini karena aku hanya orang asing, tapi melihat anak-anak itu tidak bisa menghabiskan waktu mereka bermain dan tertawa bersama membuatku tidak bisa diam saja. Jika kalian tidak mau berdamai, maka biar aku yang mendamaikan kalian!"


Weng Ying Luan bangkit berdiri dan melepaskan aura bertarungnya. Raja itu juga segera bangkit berdiri, dia tidak menyangka Ying Luan akan berbuat sejauh ini. Dia segera melesat ke arah Weng Ying Luan dan keduanya pun saling beradu kekuatan.


"Ayo kita keluar dari sini!"


Secara mengejutkan, Ying Luan menggenggam erat tangan Raja Singa Api dan memaksanya keluar dari istana. Dengan cepat sosok mereka berpindah menuju keluar dari kerajaan dan tiba tepat di atas hutan yang tampak sudah mati karena pohon-pohon yang lagi.


Weng Ying Luan kemudian melemparkan tubuh Raja Singa Api itu ke udara dan membuat mereka terpisah dalam jarak sepuluh meter yang saling berhadapan satu sama lain.


"Petualang seperti mu memang tidak mengerti apapun. Kalian selalu berpergian kemanapun yang kalian mau, tanpa peduli tempat-tempat yang pernah kalian kunjungi sebelumnya. Bagi kalian, petualangan adalah segalanya, sedangkan rumah dan tempat kelahiran, hanyalah sebatas tempat biasa bagi kalian!" cibir Raja Singa Api itu dengan marah.


"Ck, tau apa kau tentang petualang? Orang yang menghabiskan waktunya berpuluh-puluh tahun mempertahankan sebuah tempat tanpa menghasilkan apapun tidak akan mengerti apa yang seorang petualang sejati lewati!"

__ADS_1


Qi mulai dikeluarkan oleh mereka berdua, dan detik berikutnya, pertarungan pun terjadi.


__ADS_2