Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 690. Penduduk Desa


__ADS_3

Setelah Weng Lou selesai memberikan beberapa 'pelajaran' penting pada Ular Kegelapan, dia segera turun kembali ke Hutan Fu Lin.


Dia berjalan menelusuri jalan setapak yang cukup kecil dan berkelok-kelok karena menghindari pepohonan di setiap jalannya. Setelah beberapa saat, dia pun tiba di Desa Fenmu. Pemandangan yang dia lihat pertama kalinya adalah setelah mencapai desa adalah sebuah rumah kayu yang hampir tampak seperti sebuah gubuk.


Rumah itu tampak persis seperti rumah Weng Lou di Desa Sungai Biru, kecil dan sederhana.


Namun apa yang membedakan diantara keduanya adalah di pekarangan rumah di depan Weng Lou, banyak rerumputan yang tumbuh dengan liar dan bahkan tumbuh di dinding rumah.


Lumut ada di setiap sisi rumah tersebut, bisa diketahui rumah ini telah sangat lama ditinggalkan, bukan satu dua tahun, melainkan puluhan tahun, tidak, mungkin bahkan lebih dari itu.


Weng Lou tersenyum kecil. Kenangan kehidupan kelima puluh satu kembali terputar dalam kepalanya. Dia ingat ini adalah rumahnya dulu. Dia tinggal bersama dengan ayahnya di rumah ini, hanya berdua saja tanpa ibunya.


Setiap harinya dia menghabiskan waktu mengurusi pekerjaan rumah karena ayahnya hanya bermalas-malasan dan menontonnya ketika dia bekerja. Itu kenangan yang cukup indah menurut Weng Lou, meski perasaan jengkel masih bisa dia rasakan dalam dirinya saat dia mengingat ayahnya yang suka menyuruh-nyuruhnya melakukan sesuatu tapi ketika dia balik menyuruhnya, ayahnya akan banyak beralasan.


"Salam, Kepala Desa."


Ketika Weng Lou sedang asik memandangi rumah tersebut, terlihat beberapa orang berjalan ke arah Weng Lou dan segera memberi hormat kepadanya.


Weng Lou mengalihkan pandanganya dari rumah kayu itu dan memandang orang-orang yang mendatanginya.


Berkedip. Dia tidak mengenali semua orang ini. Tidak ada satupun dalam kenangannya di kehidupan sebelumnya mengenai mereka.


"Apa kalian para penduduk desa baru?" tanya Weng Lou. Satu-satunya yang bisa menjadi alasan dia tidak mengenal mereka meski mereka mengenalnya adalah orang-orang ini baru menjadi penduduk dari Desa Fenmu setelah kematian kehidupan kelima puluh satu nya.


Mereka segera mengangguk, membenarkan dugaan Weng Lou.


"Orang yang paling lama di desa ini diantara para penduduk desa yang lain adalah aku. Sudah sepuluh ribu tahun aku tinggal dalam desa ini dan menjadi bagian dari penjaga segel yang anda buat. Penduduk desa sebelum diriku telah mempercayakan desa ini padaku dan mengangkat ku menjadi salah satu pengurus desa. Sisa penduduk desa lainnya rata-rata menjadi penduduk desa sekitar lima ribu tahun setelah ku." Seorang pria tua dengan tubuh kurus kering berbicara pada Weng Lou dengan hormat.


Tubuhnya yang kurus membuatnya terlihat seperti akan jatuh jika tertiup angin sepoi-sepoi. Namun kekuatannya jelas


Weng Lou yang mendengarnya tidak bisa menahan keterkejutannya. Itu artinya pria tua di hadapannya telah hidup selama paling tidak sepuluh ribu tahun lamanya.


Itu bukanlah waktu yang sebentar. Terutama bagi seorang Dewa tingkat tertinggi sepertinya, sepuluh ribu tahun hampir menjadi seluruh umur yang bisa dia capai. Weng Lou tau bahwa orang di depannya ini paling banyak hanya memiliki beberapa puluh tahun saja untuk hidup.

__ADS_1


Bahkan seorang Dewa tetap akan mati karena usia! Tidak ada Dewa yang abadi di dunia ini, kecuali mereka berhasil menembus ranah selanjutnya dan berada di ranah Absolute.


Tapi seorang Absolute juga memiliki batas usia, hanya saja ratusan, bahkan jutaan kali lebih lama dibandingkan para Dewa. Sehingga tidak salah menyebut mereka sebagai makhluk abadi.


Pria di hadapan Weng Lou ini mengatakan dia menjadi penduduk Desa Fenmu lima ribu tahun sampai orang lain datang dan menjadi penduduk desa sepertinya. Weng Lou tidak tau seberapa lama dia hidup seorang diri di tempat ini, tapi dia menghormati pria di depannya ini karena dia mau menjalani kehidupan sebagai pengurus Desa Fenmu seumur hidupnya.


"Jadi begitu......aku berterima kasih pada kalian semua karena sudah menjaga tempat ini selama diriku tidak ada. Sekarang, kalian bisa beristirahat dengan tenang, tugas dan tanggu jawab kalian kini sepenuhnya aku ambil kembali," ujar Weng Lou dengan nada tulusnya.


Pria tua di depan Weng Lou tersenyum tipis. Dia mengeluarkan sebuah potongan logam dari dalam bajunya dan menyerahkannya pada Weng Lou.


"Anda telah membimbing ku selama ini, terima kasih banyak. Meski bukan diri anda yang sebenarnya, tapi rasa terima kasih ku benar-benar tulus. Ribuan tahun lamanya menjaga desa ini, aku berhasil menyempurnakan ketenangan hati yang anda ajarkan. Dengan begitu aku bisa merasakan berada di puncak ranah Deva. Jika seandainya anda tidak mengajari saya, mungkin aku tidak akan bisa berada di hadapan anda saat ini. Sekali lagi, aku berterima kasih dari lubuk hatiku terdalam."


Setelah menyerahkan potongan logam itu pada Weng Lou, tubuh pria itu tiba-tiba berubah menjadi pudar dan kemudian menghilang di udara. Sebelum benar-benar hilang dia menoleh ke belakang. Weng Lou tidak tau siapa yang dia lihat, itu bukan urusannya.


Weng Lou tidak terkejut melihat pria itu menghilang di udara. Dia sudah menebak bahwa pria tua itu telah berada di ujung usianya. Seharusnya dia masih bisa hidup beberapa puluh tahun lagi, tapi pria tua itu memilih untuk melepaskan kehidupannya.


Ini menunjukkan bahwa dia sudah lelah dengan kehidupannya di dunia ini. Hidup sepuluh ribu tahun bukanlah perkara mudah. Di salah satu kehidupan terdahulu Weng Lou, dia paling lama hidup seratus ribu tahun, dan waktunya banyak terpakai untuk meningkatkan kekuatannya, serta menjelajahi Dimensi-Dimensi kuno yang telah lama ditinggalkan.


Setelah pria itu penduduk desa lainnya berjalan maju dan satu persatu mengucapkan terima kasih kepada Weng Lou sambil memberikan sebuah potongan logam kepada Weng Lou.


Mereka semua memilih untuk mengakhiri hidup mereka seperti pria tua sebelumnya. Hampir semua penduduk Desa Fenmu telah berusia ratusan, bahkan ribuan tahun, mereka juga tau mengenai situasi di dunia luar. Dengan begitu, kebanyakan dari mereka tidak mau menyiksa diri mereka lebih lama lagi dan memilih memutuskan kehidupan mereka sendiri.


Dengan Daratan Utama yang telah hancur, tidak ada tempat pulang bagi mereka.


Tak lama kemudian, yang tersisa dari mereka adalah seorang wanita yang terlihat berusia dua puluhan tahun. Dia memiliki rambut hijau muda dengan sepasang mata hijau seperti zamrud. Wajahnya cantik dan terkesan alami. Tubuhnya mungil dan langsing, serta memiliki aroma obat-obatan yang sangat kuat dari tubuhnya.


Wanita itu berjalan pelan ke arah Weng Lou. Dia membungkuk hormat pada Weng Lou dan kemudian memberikan potongan logam miliknya pada Weng Lou.


Weng Lou tidak berkedip saat memandang wanita itu. Ada sesuatu yang membuatnya merasa wanita itu sangat menarik dan membuatnya tidak bisa mengalihkan pandanganya.


Sungguh takdir yang lucu. Sepertinya aku tidak perlu berusaha payah mencari jiwanya, takdir sendiri yang akan membuatnya bertemu dengan ku. Weng Lou membalas senyuman wanita itu dan mengambil potongan logam dari tangan wanita itu.


Berbeda dengan penduduk desa lain, wanita itu memilih diam di tempatnya setelah memberikan potongan logam pada Weng Lou, tanpa berbicara sedikit pun. Dia terlihat sangat tenang dan dewasa. Ini pasti karena dia hidup diantara para penduduk desa yang sudah berusia lanjut usia.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Seluruh Daratan Utama telah hancur. Jika kau memiliki keluarga atau tempat untuk dikunjungi di luar Daratan Utama, beritahu saja aku, aku akan mengantarmu," kata Weng Lou pada wanita itu.


Sebagai balasan, wanita itu hanya tersenyum dan membungkuk hormat. Dia tidak berbicara sedikitpun yang mana membuat Weng Lou merasa aneh. Beberapa saat kemudian, dia menyadari apa yang membuat wanita itu tidak berbicara kepadanya dan menghela napas pelan.


Dia pun berbicara kembali, "Kau bisa berbicara dengan telepati dengan ku. Aku tidak akan merasa terganggu dengan itu, tenang saja."


Kekuatan Jiwa kemudian keluar dari dalam tubuhnya dan dia mengirim telepati kepada Weng Lou.


"Maaf atas kelancangan saya, Kepala Desa. Saya terlahir bisu dan baru belajar cara berbicara dengan telepati selama beberapa bulan. Pengurus desa yang mengajari saya. Dia mengatakan berbicara secara langsung dengan orang asing menggunakan telepati itu tidak sopan, jadi saya tidak berani berbicara lewat telepati kepada anda sebelumnya, mohon maafkan saya."


Suara telepatinya bergema dalam kepala Weng Lou. Suaranya terdengar lembut dan ragu-ragu. Weng Lou bisa membayangkan bagaimana jika dia berbicara langsung kepadanya, mungkin itu adalah suara terlembut yang pernah di dengar oleh telinganya.


"Tidak masalah, jangan terlalu kaku terhadap ku. Kita berusia hampir sama, jadi jangan berbicara formal."


Wanita itu berkedip dan mengangguk mengerti.


"Lalu, seperti yang aku tanyakan sebelumnya, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi? Aku akan mengantar mu, tempat di luar sini sangat tidak aman, jadi akan berbahaya jika kau pergi seorang diri." Weng Lou kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada wanita itu.


Sebagai balasan, wanita itu segera menggelengkan kepalanya. "Aku ditemukan oleh para penduduk desa di wilayah lapisan pelindung yang menutupi Hutan Fu Lin ketika masih bayi. Mereka membawa ku masuk ke dalam desa ini dan membesarkan ku bersama-sama. Ini adalah rumahku dan satu-satunya tempat yang aku kenal. Dunia luar adalah dunia asing bagiku. Lebih baik aku tetap tinggal di sini dan menjaga kebun," kata wanita itu lewat telepati.


Weng Lou yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Wanita ini telah berada di Desa Fenmu sejak bayi, sama sepertinya di kehidupan kelima puluh satu. Bedanya, dia memutuskan keluar dari desa ketika berusia delapan belas tahun untuk menjelajahi dunia luar. Wanita ini di sisi lain tidak pernah keluar sedikitpun, yang membuat Weng Lou merasa tidak enak.


Dia baru berusia dua puluhan, tapi Daratan Utama telah hancur, tidak ada tempat yang bisa dilihatnya. Wilayah di luar Daratan Utama juga tidak lebih baik. Banyak yang telah hancur dan porak-poranda karena dampak pertarungan Weng Lou melawan Unknown God.


"Kau wanita yang hebat." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Weng Lou.


"E-Eh!? Kenapa anda mengatakan itu? Aku hanya berkebun, tidak lebih." Wanita terkejut dengan kata-kata Weng Lou.


"Tidak, kau adalah wanita yang hebat. Aku tau kau sedang bersedih, tapi kau menahan semua kesedihan itu dalam dirimu tanpa menunjukkannya sedikitpun di wajah ataupun mata mu. Kau wanita yang hebat dan kuat. Itu adalah kenyataan. Tapi, ada kalanya seseorang harus menangis. Bahkan orang terkuat sekalipun akan menangis saat-saat tertentu. Jadi, jangan berpura-pura kuat dan menangislah. Jangan menahannya. Aku yakin para penduduk desa tidak mau melihatmu menutupi kesedihanmu itu. Lebih baik melepaskannya, itu jauh lebih baik."


Kata-kata dari Weng Lou membuat wanita itu terdiam. Segala kesedihan yang sudah dia sembunyikan jauh dalan hatinya tidak bisa disembunyikan dari mata Weng Lou. Perlahan, air mata mengalir dari kedua matanya dan dia menangis dalam diam.


Weng Lou tidak mengatakan apapun dan hanya menontonnya menangis.

__ADS_1


__ADS_2