
"Aku baru memikirkan ini, selama ini aku hanya berlatih mengayunkan palu tiap harinya untuk memperkuat tubuhku, aku hampir tidak pernah melakukan latihan lain untuk memperkuatnya karena latihan fisik biasa tidak akan membantuku memperkuat tubuhku yang telah diperkuat dengan tempaan tubuh lewat mengayunkan palu."
Weng Lou yang sedang tidak mengenakan baju berbicara pelan sambil melakukan push up dengan sebuah batu besar diletakkan di punggungnya. Dia melakukan itu semua tanpa merasa kesulitan, atau lelah sedikitpun. Kira-kira dia telah melakukan ini kurang lebih selama setengah jam, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan segera berhenti karena lelah.
Tepat ketika dia melakukan push up ke seribu nya, Weng Lou pun memilih untuk bangkit berdiri dan menjatuhkan batu di punggungnya beberapa meter darinya.
"Tidak, ini sama sekali tidak membantu. Aku perlu.... sesuatu yang lebih berat, sesuatu yang lebih melatih fisikku......" Weng Lou kembali teringat dengan palu latihan miliknya yang berada di dalam cincin penyimpanannya.
Dia ingin sekali meminta seseorang untuk mengambilkan barang-barang miliknya dari dalam cincin penyimpanannya. Hanya saja isi dari cincin-cincin penyimpanan miliknya itu merupakan barang-barang yang sangat berharga bagi seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa.
Dia sangat yakin, jika seseorang melihat isi dari cincin penyimpanannya, pasti mereka akan langsung memiliki pemikiran untuk mengambilnya untuk dirinya sendiri. Begitulah sifat alami manusia, serakah dan kikir. Untuk itulah dia ingin Du Zhe segera naik tingkat secepat mungkin ke ranah Pembersihan Jiwa agar dia bisa mengaktifkan salah satu cincin penyimpanannya.
Atau paling tidak, dia berada di puncak Dasar Pondasi tingkat 12 dan sudah bisa merubah Tenaga Dalam nya menjadi Qi dan menggunakannya.
Meski Kalung Spasial tidak bisa dibuka dengan Qi, masih ada cincin penyimpanan yang sengaja Weng Lou tidak masukkan isinya ke dalam Kalung Spasial agar dia bisa berjaga-jaga jika seandainya kehilangan kalung itu. Cincin inilah yang berisikan palu latihannya, juga beberapa senjata buatannya yang lebih baik dari pedang kembar miliknya saat ini.
Ketika Weng Lou larut dalam pemikirannya, seseorang muncul dari balik semak-semak dan berjalan pelan ke arahnya. Weng Lou diam-diam mengetahui kedatangan orang ini, namun memilih untuk berpura-pura tidak menyadarinya.
"Emm....jika kau tidak keberatan, Junior Lou, aku bisa memberikanmu saran tempat berlatih yabg lebih baik." Seseorang yang berjalan ke arah Weng Lou itu mengungkapkan kehadirannya dan memperlihatkan sosok murid perempuan yang memiliki wajah yang sekilas sama seperti Liang Lu, namun terdapat beberapa perbedaan pada bagian mata, dan gaya rambutnya sehingga Weng Lou dengan cepat bisa menyimpulkan perempuan ini adalah orang yang berbeda.
Dia juga terlihat sedikit lebih muda dari Liang Lu, namun tetap dengan bentuk tubuh yang sama menggodanya. Dua gundukan besar di dadanya itu bisa menjamin hal ini.
Weng Lou menaikkan sebelah alisnya saat mendengarkan perkataan perempuan itu, dia seperti ingin bertanya sesuatu pada perempuan, tapi dengan cepat perempuan itu kembali berbicara padanya.
"Ah, namaku Liang Nu, adik dari Liang Lu. Aku juga merupakan murid Tetua Meigui. Ingat? Aku yang berdiri di urutan keempat paling depan?" Entah mengapa, nada suara gadis di depan Weng Lou ini terdengar seperti bersemangat.
"Em, yah aku ingat kau, tapi kenapa kau di sini? Bukankah kau dan yang lain sedang berlatih di dekat kediaman tadi?"
"Aku melihatmu pergi ke sini, dan kebetulan ini adalah tempat yang sering aku datangi untuk menyendiri. Jadi aku sekalian ingin melihat mu berlatih, siapa tau aku menemukan pencerahan dari latihanmu." Gadis itu menjawab dengan pertanyaan Weng Lou sambil terus berjalan mendekat ke arahnya lalu mulai memperhatikan dari atas sampai bawah tubuh Weng Lou.
Matanya terlihat seperti berkilau saat mengamat-amati otot-otot pada tubuh Weng Lou.
Sebelah alis Weng Lou terangkat ketika melihat gadis itu sama sekali tidak merasa canggung dengannya, justru dia sepertinya merasa tertarik dengannya. "Apa maksud perkataan mu tadi? Kau mengetahui tempat yang bagus untuk ku berlatih, apakah itu benar?"
Liang Nu terlihat sedang ingin menyentuh otot perut Weng Lou saat kemudian dia menatap ke atas karena mendengar pertanyaan Weng.
"Oh ya, benar. Kau bilang bahwa latihan mu tidak akan memperkuat tubuh mu lagi bukan? Aku tau tempat yang cocok untuk kau pakai sebagai bentuk latihan yang bagus."
__ADS_1
"Benarkah itu? Memangnya tempat apa yang kau maksud itu?" Weng Lou terlihat tertarik.
Hal-hal yang bisa membantu latihannya adalah barang-barang yang dianggap berharga oleh para Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa. Liang Nu yang ada di depannya hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 puncak, dan itu sudah cukup mengejutkannya. Liang Nu tersenyum misterius, dia menatap sekitarnya dan kemudian mendekatkan wajahnya pada Weng Lou.
"Akan kuberitahu, tapi dengan satu syarat. Kau harus berjanji, bahwa kau mau menjadi pengawalku, setiap kali aku keluar dari kediaman ini. Jika kau mau melakukan ini aku akan memberitahukannya padamu."
Syarat yang diajukan oleh Liang Nu membuat wajah Weng Lou menjadi penasaran. Ini adalah Sekte Bambu Giok, dan Liang Nu adalah murid dari Tetua Meigui yang merupakan seorang Tetua Inti di sekte ini, bagaimana mungkin Liang Nu membutuhkan pengawalan darinya?
Bukankah justru orang-orang akan menjadi segan kepadanya, dan memilih untuk mendekat padanya? Syarat yang cukup aneh ini malah membuat Weng Lou merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Liang Nu. Mungkin saja ada sesuatu yang penting tentang hal ini, namun Weng Lou yang baru saja berada di tempat ini belum mendengarkan nya.
Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Weng Lou pun akhirnya berjanji untuk melakukan apa yang diinginkan oleh gadis itu.
"Bagus! Sekarang ikut aku. Aku akan membawa mu ke tempat pelatihan fisik paling efektif yang ada di Sekte Bambu Giok dan hanya bisa dinikmati oleh para murid inti dan murid-murid dari tetua sekte, seperti kita berdua!"
Dengan senyum di wajahnya, Liang Nu melemparkan baju Weng Lou padanya lalu pergi dari situ. Weng Lou menangkap bajunya itu dan kemudian mengenakannya dengan cepat. Dia segera mengikuti Liang Nu dari belakang dan keduanya pun beranjak pergi dari kediaman Tetua Meigui dan dilihat oleh para murid Tetua Meigui yang lain, termasuk Liang Lu yang baru sampai di lapangan belakang.
"Hei?! Kalian mau kemana???" tanya Liang Lu yang segera menangkap tangan Weng Lou. Terlihat ekspresi wajahnya yang seperti melihat Weng Lou sebagai seorang penjahat.
Dalam hatinya, Weng Lou mendecakkan lidahnya dan dengan cepat, dia memutar tangannya yang dipegang oleh Liang Lu itu dan membuatnya terlepas.
"Tanyakan saja pada adikmu itu, aku sendiri tidak tau dia mau membawaku ke mana."
'Si sialan ini! Apa yang dia rencanakan pada adikku?!'
Karena takut sesuatu terjadi pada adik kecilnya itu, Liang Lu pun segera mengejar Weng Lou dan adiknya. Para murid yang melihat kejadian itu hanya bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, sementara satu dua murid malah membuat beberapa rumor mengenai Liang Lu yang menyukai Weng Lou di hari pertamanya.
Di luar kediaman, Liang Nu terus berjalan dan melewati banyak bangunan yang mana terdapat banyak murid sekte yang berlalu lalang. Weng Lou bisa melihat mereka menatap ke arah mereka berdua, tidak, kepada Liang Nu dengan tatapan yang bisa diartikan dalam satu kata.
'Hinaan.' Tatapan-tatapan mata mereka semua penuh dengan rasa hina pada Liang Nu seakan dia adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Berbeda jauh dengan tatapan yang mereka berikan pada Liang Lu yang sedang mengejar mereka dari belakang. Liang Lu mendapatkan tatapan penuh rasa kagum, entah itu pada bakatnya atau pun kecantikan yang dimilikinya.
"Hei hei hei.... sepertinya ini jauh dari perkiraan ku. Gadis ini, sepertinya dia memiliki masalah yang sangat rumit mengikat dirinya," ucap Weng Lou dengan pelan.
Dia pun segera mempercepat langkahnya dan bergerak di samping Liang Nu yang sama sekali tidak menghiraukan tatapan mata yang diberikan padanya. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tatapan mata yang diberikan padanya ini, seolah-olah ini adalah hal yang biasa terjadi padanya.
Ketika keduanya sedang bergerak keluar dari lingkungan yang padat dari orang-orang, seorang pemuda yang terlihat berusia sembilan belas tahun tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan menghalangi mereka untuk pergi.
"Liang Nu! Apakah kau sudah memikirkan tawaranku? Maukah kau menjadi tunangan ku?" Pemuda itu segera menggenggam erat kedua tangan Liang Nu dan membuat Liang Nu terkejut sambil melangkah mundur.
__ADS_1
Dahi Weng Lou mengerut, pemuda ini cepat. Weng Lou hampir tidak menyadari kedatangan nya sebelum dia masuk dalam radius seratus meter darinya. 'Apakah dia memiliki semacam senjata pusaka yang bisa menyembunyikan kehadirannya? Tidak, itu pasti sesuatu yang lain. Mungkinkah teknik gerakan kakinya?'
Mata Weng Lou bergerak memeriksa pemuda ini, dan pemuda itu juga segera menyadari kehadirannya lalu dengan cepat tiba di hadapannya.
"Siapa kau? Kenapa kau bersama Liang Nu ku?" Pemuda ini, secara ajaib tampak seperi pasangan yang sangat peduli pada Liang Nu, walau Weng Lou yakin seratus persen bahwa mereka berdua bukanlah pasangan. Bisa dilihat dari raut wajah tak senang dari Liang Nu yang seakan ingin Weng Lou meninju wajah pemuda di hadapannya ini.
"Hm? Bukankah tidak sopan menanyakan identitas seseorang sebelum memberitahukan identitas mu sendiri?" Pertanyaan Weng Lou mungkin terdengar seperti sesuatu yang bisa memancing amarah seseorang yang memiliki ego dan harga diri tinggi tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi pemuda tersebut.
Dia memasang ekspresi terkejut dan segera meminta maaf pada Weng Lou, "Oh ya! Benar! Maafkan ketidaksopanan ku ini. Perkenalkan nama dari Tuan Muda yang tampan ini adalah Kuai Pao dari Klan Kuai yang merupakan klan tercepat di Sekte Bambu Giok! Aku adalah orang yang akan menikahi gadis pujaan hatiku, Liang Nu! Baiklah, aku sudah memperkenalkan diriku padamu. Silahkan perkenalkan dirimu juga padaku!"
Entah Weng Lou harus tertawa atau menangis mendengarkan perkenalan diri dari pemuda itu. Dia merasa bahwa pemuda ini terlalu percaya diri pada dirinya sendiri, namun hal itu bisa dianggap wajar mengingat kecepatan luar biasa yang dimilikinya. Harusnya kecepatannya itu hampir menyamai kecepatan gerakan Weng Lou yang dengan mudah mengalahkan seniornya.
Weng Lou tersenyum samar, dia pun melipat kedua tangannya di depan dada, dan mulai memperkenalkan dirinya juga, "Perkenalkan, namaku Wei Lou. Murid Tetua Meigui yang baru bergabung dalam sekte hari ini. Aku adalah pengawal dari Nona Nu yang kau hadang ini, kami sedang menuju ke suatu tempat, jadi bisakah kau membiarkan kami lewat?"
"APA?! PENGAWAL LIANG NU?! Bagaimana mungkin kau bisa menjadi pengawal sang Putri Nu?! Huh?! Cepat katakan! Bahkan aku yang sudah mengejarnya hanya bisa melihat dirinya yang secantik langit malam berbintang!"
Cukup mengejutkan bahwa Kuai Pao lebih terfokus pada informasi mengenai dia adalah pengawal Liang Nu, dibandingkan dengan dirinya yang merupakan murid dari Tetua Meigui yang baru.
Entah mengapa, Weng Lou merasa Kuai Pao ini memiliki sedikit kesamaan dengan Weng Wan dan ini cukup menghiburnya, namun hal ini tidak berlangsung lama karena sebuah suara tak asing terdengar mendatangi mereka. Weng Lou mendecakkan lidahnya dan buru-buru membawa Liang Nu dan menggendongnya pergi.
Kuai Pao berseru histeris menyaksikan ini, namun segera sosok yang dihindari oleh Weng Lou tiba di tempat itu.
"Hei, kau bajingan!!! Berhentilah!! Mau kau bawa kemana adikku, hah??!!!" Liang Lu berseru dengan marah sambil melewati sosok Kuai Pao yang terkejut akan kemunculannya.
Dia sedikit mengalami kebingungan sejenak, namum dia dengan cepat kembali sadar dan segera pergi mengejar Weng Lou dan Liang Nu seperti Liang Lu. Namun dirinya terlihat seperti menjaga jarak dari sosoknya beberapa meter di belakang meski sebenarnya dia bisa dengan mudah melewatinya.
Liang Nu yang digendong oleh Weng Lou mengarahkan Weng Lou kemana mereka akan pergi, dan setelah berlari sejauh satu kilometer, mereka pun sampai di lokasi yang dimaksudkan oleh Liang Nu, yang mana merupakan sebuah kawah besar yang terbentuk dari jatuhnya sebuah meteor beberapa tahun yang lalu di sekte ini.
Kawah ini terlihat berwarna coklat gelap, yang tercipta dari tabrakan meteor dengan tanah. Kawan ini memiliki diameter mencapai dua ratus meter, dan di tengah-tengah kawan, terdapat sebuah batu berwarna hitam gelap yang kemungkinan besar adalah apa yang tersisa dari meteor yang menciptakan kawan ini. Sementara itu, di dalam kawan, terdapat beberapa murid yang terlihat sedang sibuk bermeditasi.
Saat salah satu kaki Weng Lou menginjak pinggir kawah, sebuah gaya gravitasi yang lebih besar menimpa kakinya yang berada di dalam kawah itu dan ini segera menarik rasa penasaran Weng Lou.
"Ini....sangat menarik! Ahahaha.... benar-benar sesuatu yang menarik!"
Sambil tertawa pelan, Weng Lou pun segera berjalan masuk ke dalam kawah itu setelah menurunkan Liang Nu di luar jawab. Sekujur tubuh Weng Lou langsung merasakan gaya gravitasi yang lebih besar membebani tubuhnya. Untungnya telah menurunkan Liang Nu sebelumnya.
Berat gravitasi itu tidak mempengaruhi Weng Lou sama sekali, dia pun segera melangkah lebih dalam ke dalam kawah dan gaya gravitasi yang menimpanya semakin terus membesar hingga akhirnya Weng Lou harus berhenti masuk saat merasakan tulang-tulangnya yang bergetaran dan tidak bisa menahan tekanan lebih jauh lagi meski sebenarnya Weng Lou baru masuk sejauh lima puluh meter lebih.
__ADS_1
"Beban ini....ini sudah menyamai berat kedua palu khusus milikku," gumam Weng Lou sambil melihat kedua tangannya yang diangkatnya sambil sedikit gemetaran.
"Ini benar-benar medan gravitasi ganda yang diciptakan meteor itu. Untuk berpikir bahwa beratnya bisa mencapai titik ini meski baru di lima puluh meteran dari pinggir kawah, seberapa besar berat di tengah-tengah kawah? Mungkin aku akan langsung menjadi bagian dari tanah ketika berada di situ. Tapi kesampingkan semua itu, sekarang, aku sudah menemukan tempat berlatih yang sempurna! Dengan berat seperti ini yang ku terima secara terus menerus, mungkin aku bisa melewati batas kekuatan fisik tubuhku dan menjadi lebih kuat lagi."