
Ketika Weng Lou dan Du Zhe melakukan latihan rutin selama dua minggu tiap harinya, Weng Ying Luan di sisi lain sibuk melakukan sesuatu yang telah menjadi hobi barunya.
Hobi itu adalah meminum racun.
Hobi ini dia temukan tanpa sengaja saat dia sedang senggang di arena bertarung Kota Tiesha.
Waktu itu, dia berpapasan dengan seorang petarung yang bisa mengandalkan binatang buas, dan kebetulan binatang milik petarung itu adalah seekor ular yang sangat beracun. Karena penasaran dengan teknik mengendalikan binatang miliknya, akhirnya Weng Ying Luan berusaha membujuknya untuk mengajarinya.
Setelah ditawari sejumlah besar koin emas, akhirnya orang itu mau mengajari Ying Luan. Dia mengajari Ying Luan dengan dengan buru-buru, dan terkesan terpaksa. Namun mengingat seberapa kuatnya Ying Luan, dia tetap mengajarinya dari hal-hal paling mendasar tentang mengendalikan binatang buas.
Setelah memberikan peragaan pada Ying Luan, akhirnya orang itu memintanya untuk mencobanya juga, meski sebenarnya dia ragu apakah Ying Luan akan bisa atau tidak. Kemampuan mengendalikan binatang buas di dasari oleh bakat, jika orang itu tidak berbakat pada hal itu, maka kecil kemungkinan akan berhasil.
Sebagai permulaan, dia meminta Weng Ying Luan untuk mengendalikan binatang buas miliknya, yaitu Ular Tujuh Racun miliknya. Binatang yang menjadi percobaan pertamanya itu telah berhasil dijinakkan oleh orang lain, jadi seharusnya akan sedikit lebih mudah bagi Weng Ying Luan.
Namun, hal yang tak disangka-sangka terjadi. Sebelum sempat mencoba teknik mengendalikan binatang pada sang ular, ular tersebut sudah terlebih dahulu menerkam dan mengigit bahu Weng Ying Luan.
Weng Ying Luan yang terkejut, refleks memukul ular itu dan membunuhnya dalam satu tamparan tangan.
Sayangnya, racun Ular Tujuh Racun tersebut sudah masuk ke dalam tubuhnya dan mengalir dengan cepat menuju jantungnya.
Sang pemilik ular, yang juga tidak menduga hal itu akan terjadi langsung kabur meninggalkan Ying Luan yang malah berdiam diri setelah membunuh ular itu. Dia merasakan dengan jelas racun mengalir masuk ke dalam tubuhnya dan mempengaruhi sistem kerja organnya.
Setelah beberapa saat kemudian, racun itu mulai mempengaruhi detak jantungnya. Namun dia tidak panik sedikitpun, racun seperti Ular Tujuh Racun mungkin sangat berbahaya, tetapi hanya mempan pada orang-orang di bawah ranah Penyatuan Jiwa.
Hal ini karena Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa bisa mengendalikan Kekuatan Jiwa mereka, dan menggunakannya sebagai perlindungan dari benda-benda asing yang mencoba mempengaruhi sistem kerja tubuh. Namun saat ini, Weng Ying Luan tidak dengan menggunakan Kekuatan Jiwa sedikit pun.
Dia hanya membiarkan racun itu menyebar dan mempengaruhi dirinya.
Kedua matanya mulai sedikit merah, dan penglihatannya berubah menjadi seperti warna-warni.
Hal itu terjadi selama beberapa saat, sebelum kemudian tubuh Ying Luan mengeluarkan uap panas dan penglihatannya kembali normal.
"Jadi seperti itu, garis darah keturunan milik ku memiliki kekebalan terhadap racun, namun membutuhkan waktu untuk tubuhku menghasilkan anti-racun nya."
Penjelasan itu membuat Ying Luan menjadi bersemangat. Akhirnya, selain bertarung dan memakan kue, dia memiliki kegiatan lainnya yang dia gemari.
__ADS_1
Hampir tiap harinya, dia akan mengonsumsi racun secara langsung dengan meminumnya, dan akan berganti setelah memastikan tubuhnya benar-benar telah kebal terhadap satu racun tertentu.
Kebiasaan ini akhirnya terus berlanjut ketika dia sampai di di Kediaman Keluarga Lin.
Dia menemukan banyak barang-barang bagus yang memiliki racun api, yang diperjual belikan di dalam kota, yang mana merupakan jenis racun yang belum dia kembangkan anti-racun nya di dalam tubuhnya.
Koin emasnya dengan cepat terkuras, dan hanya ada setengah dari tabungannya yang tersisa saat ini. Barang-barang yang mengandung racun api cukup jarang dan kebanyakan memiliki harga puluhan hingga ratusan koin emas.
Saat ini di dalam kota, Weng Ying Luan sedang berkeliling dan mencari toko-toko yang menjual logam dengan kandungan racun api. Luasnya kota membuat pencariannya baru mencakup seperempat toko yang ada di dalam kota.
Meski begitu, dia sudah memiliki puluhan liter racun api dalam berbagai jenis tingkatan, dan juga beberapa kilo bahan lainnya yang mengandung racun api.
Cukup jarang ada yang menjual racun api, namun bahan yang mengandung itu cukup banyak di dalam kota ini.
"Menurut yang dikatakan pedagang sebelumnya, setengah bahan-bahan yang mengandung racun api di kota ini disediakan oleh Paviliun Harta Karun milik anggota dalam Keluarga Lin. Hanya barang-barang berkualitas yang diperjual-belikan di dalam tempat itu. Ada juga pelalangan yang kadang diadakan setiap beberapa bulan sekali, yang mana banyak barang-barang berharga yang tidak pernah ditemukan di tempat lain selain tempat ini."
Weng Ying Luan berjalan dengan langkah cepat ke arah pusat kota, dimana Paviliun Harta Karun terletak.
Dalam perjalanannya itu, dia akan berpapasan dengan beberapa penjual yang sudah akrab dengannya hanya dalam waktu dua minggu ini. Mereka akan menyapanya, atau hanya sekedar memberikan anggukan.
Ini adalah murni karena kemampuannya dalam berdagang. Harus dia akui, dirinya memang hebat dalam hal ini. Bahkan dia terpikir, apabila dia sudah selesai dalam mengejar kekuatan, dia akan mulai berbisnis.
"Tuan Luan, ayo singgah sebentar dan minum teh bersama ku di sini."
"Tuan Muda, aku melihat mu kemarin membeli racun api di toko lain, itu membuat hati ku terasa perih. Ayo ke toko ku, ada beberapa pasokan racun api yang baru kudapatkan kemarin, kita bisa menegosiasikan harganya, bagaimana?"
"Mari, mari, Tuan Luan. Kami sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk mu, ini adalah sebuah racun api yang dibuat oleh leluhur kami. Racun api ini terkenal karena kenaikan suhunya yang eksplosif, kau pasti akan menyukainya!"
Satu demi satu pedagang yang akrab dengan Ying Luan mulai mengajak nya untuk berkunjung. Beberapa orang yang juga berkunjung ke dalam kota tampak kebingungan melihat hal ini.
Mereka tau dengan baik seberapa tingginya harga diri dari setiap anggota Keluarga Lin, bahkan hanya seorang anggota luar sekalipun akan bertindak sangat sombong di dalam kota ini. Namun melihat Weng Ying Luan yang bukan anggota Keluarga Lin diperlakukan sedemikian rupa oleh para pemilik toko di dalam kota, membuat mereka yang menyaksikan menjadi terheran-heran.
"Siapa sebenarnya orang ini? Hanya berjalan menyusuri kota, tetapi para pedagang langsung menyambutnya dengan tangan terbuka lebar, seolah-olah dia adalah anggota dalam dari Keluarga Lin. Bahkan anggota dalam sekalipun tidak akan menimbulkan reaksi seperti ini!"
"Hm, aku seperti pernah melihatnya tapi dimana yah?"
__ADS_1
"Itu Luan!"
"Astaga itu benar-benar dia! Luan! Petarung nomor satu di Arena Pertarungan Kota Tiesha! Dia orang yang berhasil mengalahkan Lin Bei, pemimpin Pasukan Pengejar milik Keluarga Lin!"
"Itu benar-benar dia?! Dia benar-benar tampan!"
"Sepertinya rumor bahwa dirinya yang berusia jauh lebih muda dari pada Lin Bei memang benar, dia jelas baru berusia dua puluhan. Dengan kekuatannya yang seperti itu, tidak heran dia benar-benar terkenal diantara para pemilik toko di dalam kota!"
Satu persatu orang-orang mulai membicarakan Weng Ying Luan. Orang yang sedang dibicarakan oleh mereka justru tampak tidak peduli sama sekali, dia terus berjalan cepat dan buru-buru pergi ke pusat kota.
Dia tidak suka menjadi pusat perhatian di dalam kota seperti ini, karena itu mengingatkannya pada para penggemar fanatiknya yang membuat dia harus membayar biaya perbaikan fasilitas umum di Kota Tiesha.
"Orang-orang ini membuat perasaanku menjadi tidak enak saja," gumamnya sambil mempercepat langkah kakinya.
Saat dia sedang berencana menambah lebih jauh lagi kecepatannya, mendadak langkah kakinya terhenti dan dia segera menoleh ke belakang.
Arah yang dia tatap adalah arah menuju ke Kediaman Keluarga Lin, tempat istana mereka tinggal saat ini.
Untuk sesaat, dia seperti merasakan sesuatu sedang memanggilnya. Tapi dia tidak yakin, mengingat Weng Lou bahkan tidak mempedulikannya selama dua minggu ini, dan dia tidak berencana membuatnya peduli. Dia tau Weng Lou akan benar-benar memukulnya saat mengatakan dirinya akan mematahkan beberapa tulang rusuknya waktu itu.
Namun ketika dia mulai memikirkan itu, sensasi yang sama kembali muncul, namun disertai sesuatu yang membuatnya tersentak.
Matanya melebar dan terbelalak tak percaya. Dia segera mengangkat tangan kanannya dan menangkap sebuah batu yang nyaris mengenai wajahnya. Jika saja dia tidak bereaksi cepat, batu itu pasti sudah menghantam wajahnya.
Dia tidak merasakan Qi atau pun Kekuatan Jiwa dalam batu itu, sehingga membuatnya terlambat untuk mendeteksinya.
Ini adalah salah satu kelemahan jelas dari para ahli Qi atau pun Kekuatan Jiwa, mereka cenderung akan lengah terhadap hal-hal tak terduga seperti ini.
Lagipula, siapa yang berpikir akan menerima lemparan batu seukuran kepalan tangan di tengah-tengah kota? Bahkan lemparan batu itu bisa membunuh seorang di ranah Pembersihan Jiwa puncak dengan sangat mudah.
"Sialan itu! Apa dia benar-benar berencana membunuh ku?!" Weng Ying Luan sudah akan menggerutu marah, ketika kemudian dia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan batu di tangannya.
Ternyata di batu itu, ada sebuah celah retakan kecil yang mana terdapat gulungan kertas kecil diselipkan ke dalamnya.
Dengan cepat dia mengambil kertas itu dan mulai membukanya. Wajah marahnya segera berubah menjadi terkejut dan tak percaya.
__ADS_1
Kertas itu diremasnya dan segera dihancurkannya hingga berkeping-keping.
Dengan satu langkah, dia melesat cepat diantara jalanan kota. Karena ada larangan terbang, membuat dia hanya bisa mengandalkan kecepatan berlarinya untuk bergegas menuju kembali ke Kediaman Keluarga Lin.