
Di jalanan Kota Heishin, Weng Lou bersama dengan Du Zhe berjalan berdampingan menyusuri jalan menuju kembali ke arah Perguruan Iblis Merah berada.
Akan tetapi, sama seperti sebelum mereka datang ke restoran, suasana kota masih tampak sepi tanpa terlihat satu orangpun yang mondar-mandir di jalanan meski pintu-pintu pada bangunan yang terletak di pinggir jalan terbuka.
Du Zhe tidak menyadari keanehan itu, sementara Weng Lou diam berjalan bersamanya dengan kedua matanya terus bergerak menatap beberapa sosok yang bersembunyi dari mereka di beberapa gang yang mereka lewati. Tidak ada napsu membunuh yang Weng Lou rasakan dari mereka sehingga dia tidak mengambil tindakan terburu-buru, dia ingin melihat apa yang diinginkan oleh orang-orang ini.
Berselang beberapa waktu kemudian, mereka berdua sudah hampir mencapai ujung kota, dana sebentar lagi tiba di jalan yang menuju ke Perguruan Iblis Merah.
Pada saat itulah, puluhan orang secara mendadak keluar dari dua lorong terakhir di ujung jalan dan menghalangi Weng Lou dan juga Du Zhe. Dari belakang mereka juga, puluhan orang keluar dari gang dan lorong ******, dan mengelilingi keduanya.
Weng Lou menghentikan langkah kakinya, begitu pula dengan Du Zhe yang bersama dengannya.
Puluhan orang yang mengelilingi mereka menatap mereka berdua dengan tatapan dalam. Beberapa saat kemudian, kerumunan orang yang ada di depan keduanya mendadak terbuka, dan seorang pria yang bertelanjang dada berjalan keluar dan berdiri di hadapan Weng Lou.
Kedua matanya menyipit menatap Weng Lou dan melihatnya dari atas sampai bawah dengan teliti. Weng Lou hanya diam melihatnya sementara Du Zhe merasa agak aneh dengan tatapan pria itu.
Di sisi lain, orang-orang yang mengelilingi mereka tidak bersuara sedikit pun dan hanya diam menunggu orang yang sedang menatap Weng Lou dengan teliti selesai dengan apa yang sedang dia lakukan.
Setengah menit kemudian, pria itu pun berdiri tegak kembali dan memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.
Buk-.....Pak!
Mendadak, pria itu berlutut di tanah dan langsung menghantamkan kepalanya pada tanah.
"Tidak salah lagi, anda adalah sang Pahlawan yang aku lihat kemarin!! Terima hormat dariku yang sangat hina ini, Pahlawan kami!!!" Pria itu berseru dan membuat semua orang yang mengelilingi Weng Lou dan Du Zhe tertegun di tempat mereka.
Sudut bibir Weng Lou terangkat dan dia menoleh menatap satu persatu orang-orang itu lalu membuka mulutnya.
"Aku tidak mengerti maksud mu memanggil sebagai pahlawan, aku hanya seorang pemuda biasa saja," ucapnya sambil tetap terlihat tenang.
"Anda tidak perlu merendah seperti itu, oh Tuan Pahlawan! Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, anda telah membunuh para prajurit yang telah lama terus menyiksa kami tiada henti! Anda terbang di udara seperti layaknya dewa dan membebaskan kami dari perbudakan kaisar bajingan itu!" Pria itu membalas perkataan Weng Lou dengan suara penuh hormat.
Weng Lou bisa merasakan kesungguhan dari tiap kata yang diucapkan olehnya, dan kemudian melangkahkan kakinya satu langkah ke depan. Dia pun berjongkok di depan pria itu yang masih menempatkan kepalanya di tanah. Tangan kanan Weng Lou ditempatkan pada pundak kiri pria itu.
"Berdirilah."
Mendengar ucapan Weng Lou, pria tersebut langsung bangkit kembali ,dan berdiri dengan tegak.
"Aku melihat kalian semua sepertinya adalah mantan budak, aku benar?"
"Ya, Tuan Pahlawan! Kami semua di sini dulunya adalah budak yang hina, tapi karena anda kami telah bebas kembali!"
"Apa kalian menginginkan balas dendam?" Weng Lou bertanya dengan suara tenang namun tetap mempertahankan senyum kecil nya.
Pertanyaan Weng Lou bagai sebuah sambaran petir di siang bolong, dan membuat semua orang yang sedang mengelilinginya terdiam dan mengepalkan tangan dengan keras.
"Apakah anda sedang mengetes kami, Tuan Pahlawan?" tanya pria yang berdiri di depan Weng Lou.
__ADS_1
Wajahnya, meski tidak menampakkan emosi dan amarahnya, namun matanya yang sudah mulai memerah bisa mencerminkan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Weng Lou tertawa pelan sebagai balasan. Dia menoleh ke arah Du Zhe yang hanya diam di tempatnya.
"Bagaimana denganmu, Du Zhe. Apakah kau ingin balas dendam setelah menjadi budak dalam waktu yang cukup lama?" tanya Weng Lou pada Du Zhe dengan nada yang sama seperti ketika dia bertanya pada pria di depannya.
Du Zhe dengan wajah polosnya berkedip beberapa kali mencoba mencerna maksud dari pertanyaan Weng Lou sebelum kemudian akhirnya paham akan pertanyaan tersebut.
"Ya, Guru! Aku ingin balas dendam!" jawab nya dengan suara tegas namun masih tetap dengan wajah polosnya, sangat bertentangan dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Kau lihat? Bahkan muridku bisa langsung menjawab pertanyaan ku dengan mudah. Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah kalian ingin balas dendam?"
Krack....kregg....
Suara kertakan gigi terdengar dan tatapan semua orang itu segera berubah.
""YAA!!! KAMI INGIN BALAS DENDAM!!!"" Mereka semua berseru dengan suara dalam.
"Baiklah, karena tujuanku selanjutnya ada hubungannya dengan keinginan kalian itu, sekalian akan aku bantu. Du Zhe, kau pimpin mereka dan kumpulkan di depan gerbang kota, aku akan datang setelah memberikan tugas pada si pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah," ucap Weng Lou.
Matanya bergerak menatap mereka semua, laku berhenti pada Du Zhe sesaat.
Dia pun segera melangkah maju, dan orang-orang di depannya langsung membukakan jalan untuknya.
"Ba-Baik Guru! Akan aku lakukan!" seru Du Zhe bersemangat.
Kini yang tersisa di antara kerumunan orang-orang itu tinggal Du Zhe seorang yang baru tersadar bahwa situasi mereka semua sangatlah canggung. Dia tidak mengenal mereka semua, terlebih dia hanya seorang bocah asing di mata orang banyak ini, bagaimana bisa dia memimpin mereka sendirian?
Tapi pemikirannya itu segera hilang begitu saja saat orang-orang itu menunduk hormat padanya.
""Mohon arahannya, Murid Pahlawan!!!"" seru orang-orang itu serentak.
'Murid Pahlawan?! Julukan macam apa itu?!' ucap Du Zhe dalam hatinya karena terkejut dengan ucapan mereka semua.
Du Zhe menenangkan dirinya, dan menarik napas dalam.
"Aahh..... baiklah, semuanya! Dengarkan aku, semua orang yang ingin balas dendam segera berkumpul di depan gerbang kota! Setelah itu bentuk 10 barisan jika sudah sampai di gerbang! Apa kalian mengerti?!" Du Zhe berseru pada mereka semua dengan suara tegasnya.
"""Mengerti, Murid Pahlawan!!"""
Mereka semua pun segera bubar dan bergerak ke depan gerbang kota. Jumlah mereka yang bergerak keluar pada awalnya hanya terlihat seperti puluhan saja, namun seiring mereka mendekati gerbang kota, jumlah mereka yang sesungguhnya pun terlihat.
Mereka ada ratusan orang!!! Dan bahkan masih terus bertambah!!
Du Zhe menatap orang-orang masih di tempatnya selama beberapa saat, dan berbalik melihat ke arah gerbang Perguruan Iblis Merah yang hanya tinggal beberapa puluh meter saja dari tempatnya saat ini.
"Aku tidak boleh mengecewakan Guru, ini adalah tugas pertama ku. Aku harus menunjukkan bahwa aku memang layak menjadi muridnya!"
__ADS_1
Dengan langkah pasti, dia pun berbalik kembali dan mulai berjalan pergi mengikuti dari belakang para mantan budak itu.
***
Weng Lou yang menuju ke Perguruan Iblis Merah sampai hanya dalam waktu beberapa menit. Dia langsung menemui pria pemimpin cabang perguruan itu dan memberikan dia beberapa tugas dan arahan karena dia berniat untuk pergi meninggalkan Kota Heishin.
Pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah hanya bisa menerima apa yang Weng Lou ingin dia lakukan karena tidak ingin Weng Lou malah menghancurkan perguruan mereka hanya karena dia tidak setuju.
Setelah memberikan arahannya, Weng Lou bersama dengan Kera Hitam Petarung pun pergi dari Perguruan Iblis Merah, dan menuju ke luar kota, dimana Du Zhe dan para mantan budak sudah menunggunya.
"Hei, apa kau tidak berniat memberiku makan? Aku sudah seharian berlari kemarin, kau tau?" Kera Hitam Petarung bertanya pada Weng Lou sambil berjalan menelusuri jalan kota.
Keduanya memilih untuk mengambil jalan memutar agar tidak menimbulkan kepanikan karena kemunculan sosok Kera Hitam Petarung yang memiliki tubuh sangat besar. Dan juga dengan melewati jalan yang saat ini mereka pakai, akan terhindar dari hambatan karena jalan ini biasanya digunakan khusus untuk para prajurit dan budak yang ada di Kota Heishin.
"Kau sudah berada pada tingkat kekuatan setara Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, buat apa kau makan? Bahkan hanya dengan menyerap tenaga dalam yang ada di lingkungan sekitar dan mengubahnya menjadi energi milik mu sendiri kau sudah bisa membuat perut mu kenyang setiap hari," jawab Weng Lou dengan santainya.
"Aku ini binatang buas, bukan manusia, ingat? Kami makan untuk menekan hasrat liar kami."
"Benarkah? Lalu apa yang diberikan oleh Zu Zhang pada kau dan 3 binatang buas lainnya di dalam tas binatang tunggangan?"
"Daging, tentu saja. Darah adalah kontrol utama pikiran hasrat kami."
"Daging, huh? Tenang saja, aku memiliki persediaan daging yang sangat banyak di ruang penyimpanan ku. Akan kuberikan padamu semuanya nanti."
Setelah mendengar perkataan Weng Lou, Kera Hitam Petarung pun tidak lagi lanjut bicara, dan memilih untuk menambah laju jalannya. Mereka berdua pun tiba di gerbang depan kota dalam waktu kurang lebih lima menit.
Sesampainya mereka, Weng Lou menemukan bahwa semua mantan budak yang sebelumnya telah membentuk 10 barisan memanjang ke belakang dan Du Zhe berdiri di depan mereka semua.
Kedatangan Weng Lou bersama Kera Hitam Petarung membuat para mantan budak yang telah berbaris rapi hampir berlari berhamburan karena ketakutan dengan sosok Kera Hitam Petarung. Untungnya Weng Lou langsung meminta mereka untuk tenang dan tidak panik sehingga mereka semua mempertahankan barisan mereka.
Weng Lou berdiri bersama Du Zhe, dan menatap semua orang yang berbaris itu satu persatu sebelum kemudian mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Sepertinya kalian memiliki jumlah diluar perhitungan ku, huh? Tak apalah, toh lebih banyak lebih bagus."
Mengalirkan Qi pada tenggorokannya, Weng Lou pun membuka mulutnya.
"Selamat pagi semuanya, aku lihat sepertinya banyak sekali orang yang ingin balas dendam hari ini. Apa kalian sungguh-sungguh ingin membalas dendam?" tanya Weng Lou. Sebelah alisnya terangkat saat menanyakan itu.
"""Ya!!!! Kami ingin balas dendam!""" Mereka semua menjawab dengan bersemangat.
"Memangnya kepada siapa kalian ingin balas dendam?"
"""'KEPADA KAISAR SHENGSHI HUANGDI!!!!'"""
Weng Lou tersenyum mendengarnya dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Hahaha..... sepertinya mereka benar-benar sudah termakan oleh rasa benci mereka pada kaisar saat ini. Ya.... sebenarnya ini cukup bagus karena aku tidak mungkin datang seorang diri ke istana kaisar dan mengambil alih kekaisaran. Lebih baik para budak yang melakukan itu, dan tentu saja aku yang akan mengatasi para prajurit, sementara mereka cukup bergerak melewati jalan yang akan aku buat nantinya," ucap Weng Lou pelan.
__ADS_1
Sepertinya keputusannya untuk membiarkan para budak tetap hidup sudah tepat.