
Di dalam lorong yang sempit, Weng Lou dan para Jenderal terus berjalan masuk.
Suhu di tempat itu terus naik ketika mereka semakin masuk ke dalam. Suhu panas itu mencapai titik tertingginya ketika mereka tiba diujung lorong, dan melihat pemandangan sungai lahar yang mengalir ke satu tempat menyerupai kolam, dan di tengahnya terdapat sebuah batu yang persis seperti tempat duduk untuk bermeditasi di ruangan meditasi di atas mereka.
"Ini adalah ruangan meditasi yang sebenernya digunakan oleh Chizi Ryuan. Aura miliknya bisa aku rasakan dengan jelas di tempat ini. Dia pasti menghabiskan waktu yang sangat lama di sini untuk bermeditasi," ucap Weng Lou yang berada di paling belakang barisan kelompok mereka.
Dia berjalan santai ke depan, dan kakinya menapak ke sungai lava. Sosoknya segera tenggelam ke dalam lahar dan membuat para Jenderal yang datang bersamanya terkejut bukan main. Meski mereka berada di ranah Penyatuan Jiwa, lahar sepanas itu tetap akan membuat mereka mati jika tidak menggunakan Qi atau pun Kekuatan Jiwa untuk melindungi tubuh mereka.
Namun, tak berapa lama, sosok Weng Lou sudah muncul di seberang sungai dan tampak tidak terluka sedikitpun. Lahar panas menetes dari tubuhnya, dan tampak pakaiannya juga tidak rusak sedikitpun.
Pakaian yang dia pakai ini berasal dari Kalung Spasial nya. Pakaian ini mampu menahan suhu panas setinggi apapun. Dan tidak akan rusak meski diserang menggunakan Senjata Tingkat 3 sekali pun. Dia bisa dengan percaya diri mengatakan, bahwa ini adalah baju terbaik yang pernah dia gunakan selama ini.
Para Jenderal entah mengapa bernapas lega melihat sosok Weng Lou yang masih utuh dan tidak terluka sedikitpun oleh lahar panas, menurut mereka, Weng Lou telah melindungi diri menggunakan Kekuatan Jiwa sehingga tidak terluka sedikitpun.
"Aku sudah memeriksa di bagian bawah sungai, tidak ada apapun selain beberapa ular nakal. Tapi tenang saja, ular-ular itu tidak akan menggangu kita," kata Weng Lou sambil pergi lanjut berjalan menuju tempat meditasi.
Dengan buru-buru, para Jenderal mengikutinya dari belakang. Mereka terbang dengan cepat dan sampai di samping Weng Lou ketika dirinya tiba di depan tempat meditasi yang tampak sangat polos dan tidak terlihat istimewa sedikitpun.
Akan tetapi, begitulah yang terlihat bagi manusia biasa dan Praktisi Beladiri di bawah ranah Penyatuan Jiwa.
Mereka semua yang telah berada di ranah Penyatuan Jiwa bisa merasakan sebuah Kekuatan Jiwa yang telah dipadatkan di suatu titik di tempat meditasi tersebut, akan tetapi mereka tidak bisa menentukan dimana titik yang tepat.
Saat ini, Weng Lou berhenti menggunakan otaknya, dan melakukan apa yang biasanya dia lakukan. Tangan kanan nya dengan keras memukul tempat meditasi itu hingga membuatnya hancur berkeping-keping.
Semua Jenderal di sampingnya membuka mulut lebar, terkejut atas tindakannya tersebut. Mereka tau dengan jelas jika melakukan tindakan brutal seperrti Weng Lou, bisa tanpa sengaja menghancurkan sesuatu yang memancarkan Kekuatan Jiwa padat tersebut.
"Hmp!"
Weng Lou mendengus. Bebatuan panas yang telah hancur itu terangkat ke udara karena dampak pukulannya. Matanya segera terfokus pada cincin emas yang memancarkan cahaya dari Kekuatan Jiwa yang ikut terangkat oleh bebatuan.
Bersamaan dengan mata Weng Lou yang melihat cincin emas itu, tatapan mata penuh keserakahan langsung terarah padanya. Tatapan itu mengandung keserakahan dan napsu membunuh yang kuat. Weng Lou hanya tersenyum lebar ketika tiga orang Jenderal yang berdiri di belakangnya kini telah memegang senjata mereka dan mengarahkannya padanya.
Senyuman Weng Lou tampak sangat menakutkan, seakan-akan dia sudah menunggu saat-saat ini. Dengan tangan kirinya, dia menarik salah satu pedang kembarnya dan menahan tiga senjata tersebut sebelum bisa mengenai dirinya.
*BAMMM!!!!*
Ruangan tempat mereka berada itu bergetar hebat, ketika Weng Lou mendorong mundur tiga orang Jenderal yang menyerangnya. Dua Jenderal yang lain yang salah satunya adalah pemimpin mereka tersentak kaget. Dia tidak memerintahkan sama sekali ketiga Jenderal itu untuk menyerang Weng Lou.
"Apa yang kalian lakukan?! Hentikan itu!!!" Dia berseru nyaring dan hendak melesat menghentikan ketiganya, akan tetapi matanya terpaku pada sosok Weng Lou yang sudah tersenyum lebar menatap ketiga Jenderal tersebut.
Dia mendapatkan firasat buruk, dan berniat cepat-cepat menghentikan mereka, namun sosok bayangan melesat sangat cepat dan telah menghantam salah satu Jenderal tersebut.
*PRACK!!!* Dinding ruangan hancur, dan semburan lahar keluar dari dinding itu, membakar tubuh Jenderal yang menghantam dinding.
Sementara itu, sosok Weng Lou telah berdiri di sampingnya dan menggenggam erat salah satu pedang kembarnya. Cincin emas yang memancarkan Kekuatan Jiwa terjatuh ke tanah, dan membuat perhatian semua orang kembali terarah padanya.
Pemimpin Jenderal itu menatap beberapa saat cincin tersebut, sebuah keinginan untuk memiliki nya seorang diri sempat terbesit di pikiran nya, namun dengan cepat dia menghilangnya ketika merasakan tatapan mata Weng Lou yang seperti menginginkan agar mereka semua tertarik dengan cincin itu dan memilih bertarung dengannya.
"Ck....tolong hentikan semua ini!!! Jangan ada lagi yang bertarung satu sama lain! Tolong berhenti! Kita sudah sejauh ini, kesepakatan yang sebelumnya kita buat akan tetap dilakukan, tidak ada dari kita yang akan mengambil isi cincin ini seorang diri!" Dengan tangan terkepal, dia berseru kepada semua orang di ruangan itu.
Wajah Weng Lou terlihat kecewa karena dia tidak terhasut oleh keserakahan nya. Namun dia hanya bisa menghela napasnya. Dia tidak memiliki kekuatan untuk bertarung melawan mereka semua jika bukan dia yang memulai lebih dulu. Samsara sangat bergantung dengan hukum karma untuk bisa dipakainya.
"Ya terserahlah. Aku akan mengambil enam puluh persen seperti penawaran pertama ku," ucap Weng Lou acuh tak acuh dan meninggalkan Jenderal yang dihantamnya ke dinding dengan kondisi menderita luka cukup parah.
Beberapa tulangnya patah dan terdapat luka bakar karena terkena lahar panas dari dinding tempatnya mendarat.
"Enam puluh?! Kesepakatan kita adalah lima puluh lima puluh!"
__ADS_1
"Jika seandainya tiga orang itu tidak menyerang ku, maka kesepakatan nya akan tetap terjadi, tapi karena aku telah diserang, aku harus mendapatkan biaya kompensasi untuk menyembuhkan mental ku yang terluka parah," jawab Weng Lou dengan santai dan mengangkat kedua bahunya seolah-olah tak bersalah sama sekali.
Menanggapi ucapannya tersebut, sebuah pedang meluncur cepat dan menusuk bahunya hingga menembusnya. Sosok Jenderal yang dihantam oleh Weng Lou sebelumnya memegang pedang itu dan tersenyum dengan beringas.
"Aku mendapatkannya!!! Serang dia!!! Kita akan mendapatkan semua harta itu dan membaginya dengan rata!!" Jenderal itu berseru sambil tersenyum lebar dan darah terlihat menghiasi mulutnya.
Perkataan Jenderal itu seakan memicu bubuk mesiu, semua Jenderal yang ada di tempat itu pun segera melesat ke arah Weng Lou sambil memegang senjata mereka masing-masing.
"KHAAA!!!!" Jenderal yang memiliki tubuh tinggi dan kurus melesatkan sebuah rantai dengan sabit di ujungnya ke arah tangan kiri Weng Lou yang memegang pedangnya.
*Tsk!!* Sabit pada ujung santai menembus lengannya, namun pegangan Weng Lou pada pedangnya tidak melonggar sedikitpun.
Pada saat yang sama, dua serangan dari dua Jenderal lain tiba dan menyerang Weng Lou. Sebuah gada besar menghantam ke perutnya, dan anak panah dari Qi mengenai lengan kanannya.
Hanya tersisa sang Pemimpin para Jenderal yang masih belum menyerang, dia masih tampak ragu dan berpikir bahwa pasti ada yang salah dengan situasi ini. Namun keinginannya untuk bisa memiliki sumber daya yang lebih banyak benar-benar menenggelamkan seluruh pemikirannya tersebut.
Tombak dan pedang muncul di kedua tangannya. Tombak di tangan kanan, dan pedang di tangan kirinya. Tombaknya dengan cepat dia lemparkan dan segera meluncur cepat, lalu menusuk paha kanan Weng Lou hingga menembusnya. Dia tidak berhenti di situ, sosoknya segera menghilang dan kemudian muncul di atas Weng Lou dengan pedang yang terayun ke lehernya, siap memenggal kepala pemuda itu.
"Bagus!!! Sekarang aku tidak perlu menahan diri lagi!!!"
Weng Lou mengangkat kepalanya, dan menatap kedua mata pemimpin Jenderal itu seperti orang gila.
Entah dari mana, pedang kembar Weng Lou kini telah dipegang oleh kedua tangannya. Aura yang kuat segera merembes keluar dan mengenai para Jenderal yang menyerang Weng Lou.
Pemimpin mereka yang berada di udara terhentak ke belakang dengan wajah terkejut sekaligus panik, dia sudah menduga bahwa Weng Lou pasti telah lama bersiap menunggu momen mereka menyerangnya.
"Kau ingin menggunakan ku?" Wujud Roh Senjata Samsara kembali muncul di samping Weng Lou. Kedua matanya memancarkan cahaya dan seperti sedang menatap Weng Lou dengan tatapan ingin tau.
Weng Lou dengan pelan menggelengkan kepalanya. Roh Senjata itu diam, dan sosoknya pun menghilang. Meski memiliki kekuatan sangat besar, dirinya tetap terikat pada diri Weng Lou. Dia tidak memiliki tujuan apapun, dan hanya mengikuti keinginan Weng Lou untuk menghancurkan lawannya berdasarkan karma milik mereka.
Pedang kembarnya digenggam erat, Kekuatan Jiwa mulai menyelimutinya, dan dia telah memasang kuda-kuda nya.
"Teknik Pedang Angin, Badai Tebasan Pedang!!"
Kedua tangan Weng Lou ditempatkan di belakang, dan dalam satu ayunan kuat, pedang yang telah dilapisi oleh Kekuatan Jiwa nya itu menebas ke depan dan menghasilkan dua buah angin kencang dengan beberapa garis keemasan yang tidak lain adalah Kekuatan Jiwa miliknya.
Angin tersebut menerpa tubuh Jenderal yang menusuk Weng Lou dengan pedangnya dari belakang dan puluhan luka tebasan langsung muncul di sekujur tubuhnya. Dia tidak bisa melakukan perlawanan apapun ketika angin itu melewatinya dan meninggalkan nya dengan tubuh penuh darah.
Dia terkapar tak berdaya di tanah dan tidak mampu menggerakkan tubuhnya lagi. Luka dari hantaman Weng Lou pertama kali sudah membuat banyak tulangnya patah, sekarang kulit dan dagingnya telah terkoyak oleh puluhan tebasan dari angin pedang Weng Lou. Sebuah keberuntungan dia masih hidup.
Melihat nasib rekannya yang sudah tak berdaya, Jenderal yang memiliki tubuh kurus tinggi segera menghindari angin tebasan Weng Lou, sementara para Jenderal yang lain buru-buru membuat pelindung dari Qi mereka.
*Fhuuuhh-* Angin itu pun melewati mereka, dan tidak membuat banyak kerusakan seperti pada rekan mereka.
"Jangan terpancing emosi! Kita bisa mengalahkannya jika bekerja sama!" Pemimpin mereka mengkertakkan giginya. Sudah tidak ada jalan kembali lagi, mau tidak mau dia harus bertarung melawan Weng Lou bersama rekannya yang lain.
Dia tidak tau sekuat apa Weng Lou, tapi seharusnya dia tidak mungkin mengalahkan Kaisar mereka tanpa bantuan sesuatu seperti senjata rahasia atau sejenisnya. "Ketiga Jenderal yang lain mengangguk gugup. Hampir saja mereka menjadi korban dari serangan Weng Lou.
"Bekerja sama? Aku ingin melihatnya. Bisakah kalian melawan teknik ku ini dengan kerja sama kalian itu!"
Sambil terkekeh, Weng Lou mencabut satu persatu senjata yang menancap di tubuhnya, lalu melemparkannya ke dalam lahar panas.
Pedang kembar Weng Lou digabungkan dan membuat sebuah busur panjang yang memiliki senar dari Kekuatan Jiwa nya. Sebuah anak panah muncul di tangan Weng Lou, dan busur itu pun ditarik.
Anak panah itu diarahkan pada Jenderal yang menyerangnya menggunakan panah sebelumnya dan segera dilepaskannya. Anak panah itu meluncur sangat cepat ke arah Jenderal tersebut, rekan-rekannya yang menyaksikan ini tampak panik. Mereka bisa merasakan kekuatan dari anak panah itu, dan akan gawat jika salah satu dari mereka terkena olehnya.
"Bentuk pelindung!!"
__ADS_1
Ketiga Jenderal yang lain buru-buru menuju ke depan Jenderal yang ditargetkan oleh Weng Lou. Mereka segera melepaskan Qi dalam jumlah besar dan membentuk berlapis-lapis pelindung demi menahan anak panah tersebut.
Akan tetapi, panah itu tiba-tiba merubah arahnya, dan masuk ke dalam sungai lahar. Kebingungan terjadi diantara para Jenderal itu, namun tak berapa lama kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi.
Secara mengejutkan, anak panah itu melesat keluar dari dalam tanah, tepat dimana Jenderal yang ditargetkan oleh Weng Lou berdiri. Tanpa peringatan apapun, panah itu meluncur dan menusuk dari dagu ke otaknya, lalu meledak membuat kepala Jenderal tersebut hancur seperti semangka.
Dia adalah yang terlemah diantara jajaran para Jenderal yang dimiliki Chizi Ryuan, kemampuannya dan bertahan bisa dibilang yang paling buruk dari semuanya. Namun dia tetap seorang Praktisi Beladiri ranah Penyatuan Jiwa, mati begitu saja dengan satu buah anak panah merupakan hal paling tak terbayangkan olehnya.
"TIDAKK!!!!"
Kematian satu diantara mereka menyebabkan ledakan emosi yang telah Weng Lou tunggu-tunggu.
Jenderal yang membawa gada dan Jenderal bertubuh kurus tinggi langsung melepaskan pelindung Qi mereka dan berlari menyerang Weng Lou.
*Shuuu-!!!*
Rantai diputar dengan sangat cepat, dan kobaran api berwarna biru terang menyelimuti rantai dan juga sabit yang ada di ujungnya.
"Taring Naga Api!!!"
*Tsshh!!! Tringgg!!!* Seperti sebuah cambuk, rantai berapi itu dilesatkan ke arah Weng Lou dengan sabitnya yang siap menusuknya.
"Hm!! Hancurkan!!!" Jenderal yang lain ikut melemparkan gadanya ke arah Weng Lou. Qi yang sangat besar bisa dirasakan oleh Weng Lou dari gada itu. Jelas dia akan selesai jika terkena olehnya begitu saja.
"Huuu..."
Busurnya diputar, dan segera kembali menjadi dua pedang kembarnya. Otot-otot kakinya mengembang ketika dia kemudian meloncat menghindari lemparan gada tersebut.
*BUMMM!!!* Tanah yang dirinya pihak sebelumnya hancur lebur ketika gada itu menabrak dengan keras, dan membuat sebuah kawah besar.
Namun perhatian Weng Lou tidak terarah pada gada itu, melainkan rantai dengan sabit yang bergerak mengikutinya. Sepertinya rantai itu bisa dikendalikan oleh penggunanya dengan bebas seperti dia mengendalikan anak panahnya sebelumnya.
"Kau tidak akan kemana-mana!!" Jenderal kurus itu meraung, dan rantainya dengan cepat melilit kaki kanan Weng Lou. Dia pun menarik tubuh Weng Lou dan membuatnya kembali ke atas tanah.
Ketika dia mendarat di tanah, gada yang sebelumnya kini telah terbang kembali dan mengarah tepat ke tubuhnya. Mata Weng Lou menyipit, dia mendecakkan lidahnya lalu memfokuskan kekuatan fisiknya pada tangan kanannya, dan melapisinya dengan pelindung tipis dari Kekuatan Jiwa.
"HMP!!!"
*BAMM!!!* Gada itu dipukul keras, dan ujungnya terlihat hancur setelah beradu dengan pukulan Weng Lou.
"Kau sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk beradu kekuatan serangan dengan ku." Weng Lou berbicara dengan dingin.
Tangannya bergerak cepat memotong rantai yang mengikat kakinya. Dalam satu tarikan napas, dia menggunakan teknik pernapasan Teknik Meringankan Tubuh' dan menghilang dari pandangan semua orang.
"Biar ku tunjukkan padamu, apa itu kekuatan serangan yang menghancurkan segalanya!"
Suara Weng Lou muncul dari belakang Jenderal yang melemparkan gada kepadanya sebelumnya. Telapak tangan Weng Lou menggenggam erat wajahnya. Dia langsung menghempaskan dengan kekuatan maksimal kepalanya tanpa membiarkan Jenderal itu bereaksi sedikitpun. Kepalanya menghantam tanah, sebuah retakan panjang pun tercipta dan memperlihatkan lahar di dalamnya.
Tangan Weng Lou masih menggenggam erat kepala Jenderal itu, dia kemudian melemparkannya ke udara, sebelum akhirnya memberikan serangan penutupnya.
*Husssh.....*
Tangan kanan Weng Lou terkepal lalu dilapisi oleh Kekuatan Jiwa padat, dan tekanan yang sangat kuat bisa dirasakan dari tinjunya itu.
"Pergilah ke neraka!!!"
*Buk- BRACKK!!!* Pukulan keras diberikan tepat di leher belakangnya dan suara tulang yang remuk bisa terdengar di seluruh tempat itu.
__ADS_1