Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 514. Menuju Ibukota


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh Qian Yu, Weng Lou diam selama beberapa saat dan menatap ke arah luar gua.


Terlihat kegelapan di luar sana, yang menandakan bahwa saat ini hari belum pagi sepenuhnya karena matahari belum naik. Asap hitam yang berkumpul di telapak tangannya berputar selama beberapa saat, sebelum kemudian segera ditarik kembali ke dalam tubuh Weng Lou.


Weng Lou pun bangkit berdiri dari tempatnya. Ketika dia menyentuh pinggiran ember besar tempat dia berada, pinggir ember itu seketika remuk, seperti baru saja menerima kekuatan yang luar biasa dari genggaman tangan Weng Lou. Weng Lou termenung melihat itu dan menatap dalam diam tangannya yang baru saja menghancurkan pinggiran ember.


Dia mengepalkan tangannya dan merasakan kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya.


"Sepertinya kekuatan fisikku meningkat sangat banyak. Aku bahkan tanpa sengaja menghancurkan pinggiran ember tersebut," ucap Weng Lou tanpa ekspresi apapun.


Tidak mau merusak ember itu lebih jauh, Weng Lou memilih untuk tidak menggunakan tangannya dan langsung melompat keluar. Tapi apa yang terjadi kemudian segera membuatnya menarik napas dingin


*Prak!*


Bagian bawah ember itu langsung hancur karena kekuatan yang dikeluarkannya. Ember itu, mau bagaimana pun, ember itu sekarang telah rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Weng Lou hanya bisa menghela napas karena itu. Ember itu adalah satu-satunya ember besar yang dia punya, sepertinya dia harus mencari penggantinya di ibu kota nanti.


Weng Lou mengayunkan tangannya di udara dan sebuah ember yang berukuran lebih kecil bersisi air bersih muncul di hadapannya. Dia segera membasuh seluruh tubuhnya dengan air bersih itu, dan membersihkan kotoran yang ada di sekujur tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Weng Lou kemudian mengenakan pakaiannya. Dia memilih mengenakan sebuah pakaian berwarna biru gelap tanpa lengan, dan mengikat rambut hitamnya kebelakang.


Pada saat ini, Weng Lou terlihat jauh berbeda dengan sebelum dia menyerap esensi darah Kirin. Tingginya bertambah hampir 10 cm, dan tubuhnya sedikit lebih besar dan berisi dari sebelumnya, mungkin karena otot-otot yang menonjol di tubuhnya.


Penampilan Weng Lou kini terlihat seperti pemuda berusia 17 tahun, padahal dia baru akan berusia 16 beberapa bulan lagi.


"Setelah tulang-tulang ku dihancurkan dan dipulihkan terus menerus, aku bisa merasakan kekuatan yang sangat besar di dalam tubuhku. Seolah-olah, jika aku tidak berhati-hati, maka aku akan menghancurkan apa saja yang ada di sekitar ku."

__ADS_1


Ye Lao bebricara kepada Weng Lou, "Yah, itu akan menjadi masalah. Tapi simpan kekhawatiran mu itu terlebih dahulu. Kau tidak perlu menahan diri saat menjalankan rencana kita nanti."


Yang dikatakan Ye Lao memang benar, dia tidak perlu menahan kekuatan nya dalam rencana mereka nanti, tapi tetap saja itu akan jadi masalah besar. Dia tidak mau menghancurkan segalanya hanya karena sedikit sentuhan dari dirinya.


Memejamkan matanya, Weng Lou kemudian menarik napas dalam. Dia bisa merasakan kekuatannya itu, dan mencoba untuk mengendalikannya.


"Ayo, kau bisa belajar mengendalikannya dalam perjalanan kita. Perjalanan dari sini ke ibu kota akan memakan waktu beberapa jam, dan jelas terbang bukan pilihan terbaik kita. Jadi kita hanya bisa berjalan kaki," ujar Ye Lao yang berjalan keluar dari gua.


Weng Lou membuka matanya, "Baiklah. Setidaknya kekuatan yang ku keluarkan ini tidak terlalu besar, jadi seharusnya baik-baik saja."


"Oke, kalau begitu....kau, cepat bangun. Kami akan menggunakan mu sebagai tunggangan kami." Qian Yu berbicara kepada Kirin yang bersamanya.


Kirin itu tanpa mengatakan satu kata patah pun, segera bangkit berdiri dan keluar dari gua. Dia menundukkan tubuhnya dan membiarkan mereka semua untuk naik ke atas tubuhnya.


"Hm, memang keputusan yang bagus untuk tidak membunuhnya. Makhluk ini seharusnya sangat cepat seperti seekor kuda, kita bisa menghemat waktu lebih cepat dengan menaikinya."


Dengan arahan dari Qian Yu, Kirin itu pun mulai bergerak dan pergi ke satu arah, dimana lokasi ibu kota Kekaisaran Fanrong berada.


***


Di depan sebuah tembok besar yang sangat besar dan tinggi, kelompok para mantan budak yang dipimpin oleh Liu Ning berjalan mendekat ke arah sebuah gerbang besar yang terdapat di tembok besar itu.


Tembok besar ini merupakan pembatas yang diciptakan oleh Kaisar Shengshi Huangdi untuk mencegah kaburnya para budak yang telah dimasukkan ke Wilayah Kumuh. Ada total 4 gerbang yang dimiliki tembok besar yang mengelilingi Wilayah Kumuh ini, yang masing-masing terletak di 4 mata angin.


Kelompok yang dipimpin oleh Liu Ning saat ini berada di gerbang yang terletak di selatan Wilayah Kumuh.

__ADS_1


Setelah berjalan kurang lebih 3 jam dari Kota 1, kelompok Liu Ning telah tiba di gerbang ini. Ketika mereka mendekati gerbang, terlihat kondisi tempat itu telah berada dalam kondisi porak-poranda.


Tubuh para prajurit yang seharusnya bertugas menjaga gerbang saat ini terbaring di tanah dalam kondisi tak bernyawa.


Mereka semua terlihat telah mati karena terkena serangan dadakan yang bahkan membuat mereka tidak sempat bereaksi. Terlihat wajah kebingungan dari para prajurir yang kini telah mati di tanah, mereka jelas tidak mengira bahwa mereka akan mati hari ini begitu saja, tanpa tau apa yang telah membunuh mereka.


Diantara kelompok Liu Ning, sosok Du Zhe yang sedang berada di atas tubuh Kera Hitam Petarung mendekati salah satu tubuh prajurit dan memeriksa kondisi tubuhnya. Tidak ditemukan satu bekas serangan pun dari tubuh prajurit itu, yang bahkan membuat Kera Hitam Petarung yang membawa Du Zhe tampan serius.


"Ini pasti ulah gurumu itu. Dari yang aku lihat, seperti nya dia menggunakan sejenis serangan dari Qi atau sejenisnya yang langsung menghentikan detak jantung para prajurit ini," jelas Kera Hitam Petarung itu kepada Du Zhe.


Du Zhe tidak bisa menahan diri untuk memuji gurunya itu, dia penasaran seberapa kuat gurunya itu hingga bahkan bisa membunuh tanpa menyentuh lawannya.


Kera Hitam Petarung tertawa pelan mengetahui kekaguman bocah yang bersamanya itu, "Kau tidak perlu khawatir, bocah. Dengan bimbingan dari guru monster mu itu, kau pasti akan bisa menjadi sekuat dia dalam waktu beberapa tahun saja."


"En! Aku pasti akan berlatih dengan keras dan membuat guru bangga padaku!" Du Zhe mengangguk sambil tersenyum lebar.


Sementara itu di tempat kelompok Liu Ning, Li Min tampan mendekat ke Liu Ning dan memberikan laporan kepadanya.


"Lapor Putri, seperti nya gerbang ini telah diserang dengan kekuatan yang sangat besar. Gerbang yang memisahkan Wilayah Kumuh tampaknya telah ditembus oleh seekor makhluk raksasa," ujar Li Min dengan hormat.


Liu Ning mengangguk mengerti, dia juga bisa melihat hal itu. Di depan matanya, gerbang yang dulu tinggi menjulang hingga hampir 40 meter, kini telah jebol dan hancur berantakan. Siapapun yang melihatnya pasti berpikir seperti apa yang dikatakan oleh Li Min.


Hanya saja, apakah benar ada makhluk hidup sebesar itu di dunia ini? Mereka semua tidak yakin, namun satu hal yang bisa mereka pikirkan adalah, hal ini ada kaitannya dengan Weng Lou yang telah bergerak lebih dulu menuju ke ibu kota Kekaisaran Fanrong.


Liu Ning kemudian berbalik dan menatap para pasukan yang datang bersamanya. "Kita tidak boleh membuang-buang waktu! Semuanya, ayo lanjutkan perjalanan kita! Sang Pahlawan kita semua telah membukakan jalan untuk kita, kita tidak boleh menyia-nyiakannya!"

__ADS_1


Setelah mendengar perintah dari Liu Ning, mereka semua pun mulai bergerak melewati gerbang itu, dan melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Kekaisaran. Menurut prediksi Liu Ning, mereka semua seharusnya akan tiba sore hari nanti.


__ADS_2