
Yang Guang tersenyum lebar melihat kedatangan Weng Ying Luan.
Sudut mata Weng Ying Luan menoleh ke bawah Yang Guang, dan melihat sang Kera Hitam Petarung yang sedang sekarat yang sepertinya karena telah bertarung melawan Yang Guang sebelumnya.
"Kulihat sepertinya kau habis bersenang-senang, huh?" ucap Weng Ying Luan yang kemudian berjalan maju dengan perlahan.
Tap....
Sosok Yang Guang melompat turun dari atas tubuh kera tersebut, lalu ikut berjalan ke arah Yang Guang.
"Ya...lumayan. Meski tidak bisa menggunakan Qi untuk bertarung, tapi kulit kera ini cukup keras dan juga kekuatan fisiknya benar-benar luar biasa. Aku hampir dibuatnya remuk tadi jika saja aku gagal menghindari serangannya," ucap Yang Guang.
Mata Weng Ying Luan kemudian bergerak dan menatap sekelilingnya yang penuh dengan bekas pertarungan.
"Sayang sekali, aku tidak bisa mencoba bertarung melawannya."
"Hahaha...maafkan aku, tapi tenang saja, aku akan menggantikannya. Aku yakin kau akan lebih suka hal itu, bukan?"
Weng Ying Luan berhenti melangkah dan tertawa pelan. Dia kemudian memasang kuda-kuda nya dan mengubah raut wajahnya.
"Kalau begitu ayo, aku masih harus mengumpulkan bagian binatang buas untuk dijual. Meski aku sangat menantikan pertarungan kita berdua ini, tapi kesempatan emas untuk mengumpulkan begitu banyak bagian tubuh binatang buas telah ada di depan mataku, aku tidak mungkin melewatkannya begitu saja."
Senyum lebar Yang Guang pun memudar dan digantikan dengan wajah yang sama seriusnya dengan Weng Ying Luan.
"Baguslah, aku juga harus bertarung dengan temanmu itu, Lou dan Lin Mei. Kalian betiga sama-sama berhubungan dengan peserta yang sebelumnya telah berani mencekik leherku. Aku sebelumnya masih belum puas menghajarnya karena dihentikan oleh Zu Zhang.
Namun sekarang ada kalian bertiga di sini yang bisa menggantikan posisinya. Jadi bersiaplah, karena aku tidak akan menahan diri seperti sebelum-sebelumnya."
Keduanya pun diam selama beberapa saat, sampai kemudian secara mendadak mereka berdua sama-sama melesat maju dan memberikan sebuah pukulan menggunakan tangan kanan mereka yang kemudian saling beradu kekuatan satu sama lain.
***
__ADS_1
Sementara Weng Ying Luan dan Yang Guang sudah memulai pertarungan mereka, Lin Mei di sisi lain telah tiba di bagian barat arena, di atas salah satu bukit.
Dia menunduk dan menatap ke bawah, di salah satu sungai yang diciptakan oleh Zu Zhang sebelumnya.
Terlihat seekor gajah dengan tubuh yang ditutup oleh rambut di seluruh tubuhnya sedang berendam santai di dalam sungai yang memiliki lebar sekitar delapan meter tersebut.
Belalai panjangnya setiap beberapa detik sekali menghisap air di sungai dan menyirami tubuhnya dengan air tersebut.
"Ah....ini adalah kenikmatan sejati.....aku harus menikmatinya sebelum dikurung lagi di dalam tas usang itu. Dia sama sekali tidak menyediakan air di dalamnya, hanya memberi makan daging tiap harinya.
Hmp, apa dia pikir aku aku bisa tahan hanya dengan memakan daging saja? Jika bukan karena kera bau itu, aku pasti sudah mengamuk di dalam tas tersebut."
Suara yang dalam terdengar dari arah gajah tersebut dan membuat Lin Mei yang sedang mengawasinya menaikkan sebelah alisnya karena merasa bahwa sepertinya gajah besar ini tidaklah sebodoh seperti yang dia pikirkan beberapa saat yang lalu saat dalam perjalanan ke tempat ini.
"Pergilah dari sini gadis kecil, jangan mengganggu waktu bersantai ku yang sudah sangat lama aku nantikan ini," ucap gajah tersebut.
"Ah, ternyata sudah ketahuan yah?" Lin Mei menghela napasnya.
Sebenarnya dia tidak yakin apakah bisa menjinakkan gajah ini, sehingga memilih untuk mengamatinya terlebih dahulu selama beberapa saat. Tapi sepertinya kehadirannya sudah diketahui sedari awal.
"Maaf sudah menggangu mu, tapi aku harus menjadikan mu sebagai binatang tunggangan ku," ucap Lin Mei dengan suara halus nya.
"Percuma gadis kecil, kau tak akan bisa melakukan apa yang kau inginkan itu. Perlu kau ketahui meski aku kelihatan seperti bebas pada saat ini, nyatanya aku ini masih terpantau oleh sesuatu yang namanya 'dendam'. Aku tidak akan pergi meninggalkan bajingan Zu Zhang itu sebelum kedua mataku ini melihatnya mati." Gajah itu berkata pada Lin Mei tanpa menoleh kepadanya sama sekali.
Lin Mei pun diam di tempatnya. Menunggu sampai Zu Zhang mati? Itu mungkin perlu ratusan tahun untuk melihat dia mati karena usia. Hanya jika Zu Zhang bertarung habis-habisan maka memiliki kemungkinan mati jauh lebih cepat.
Memutar otaknya, Lin Mei pun akhirnya menemukan sebuah ide yang cukup bagus.
"Ohh.... benarkah? Padahal aku datang menemui mu ke sini karena berpikir kau mau menjadi binatang tunggangan ku," ucap Lin Mei yang sambil melirik ke arah gajah itu.
"Jangan bercanda, tidak ada satupun binatang buas yang akan sukarela menjadi binatang tunggangan seorang manusia. Itu adalah penghinaan. Lagi pula, kenapa kau berpikir aku akan mau menjadi binatang tunggangan mu?" tanya gajah itu dengan malas.
__ADS_1
"Ah, sebenarnya aku sudah pergi ke utara dimana ada seekor rusa raksasa dengan tanduk yang sangat indah dimilikinya. Aku berniat untuk menjadikan nya binatang tunggangan ku, tapi dia mengatakan bahwa satu-satunya yang bersedia menjadi binatang tunggangan adalah gajah berambut busuk yang aku pikir adalah kau," jelas Lin Mei.
Itu jelas adalah kebohongan. Dia bahkan belum pergi ke utara karena jaraknya yang lebih jauh dibandingkan dengan jarak wilayah barat ini. Dan lagi, dia sendiri masih tidak yakin apakah binatang yang ada di utara itu benar rusa atau tidak.
Meski begitu, dia mau berani untuk bertaruh apakah gajah dihadapan nya ini akan terpancing oleh kebohongannya atau tidak.
"Hah, tidak perlu membohongi ku, rusa tua terkutuk itu bahkan tidak mau repot-repot berbicara dengan kami waktu masih di dalam tas itu. Tidak mungkin dia akan mengucapkan hal seperti itu kepadamu." Gajah itu membalas sambil tertawa pelan.
Dia itu tidak cukup bodoh untuk mau dibodohi oleh Lin Mei. Kecerdasan miliknya telah dia dapatkan sejak lahir, jadi bisa dibilang wawasannya sudah bertambah seiring usianya yang mendekati dua ratus tahun.
Di sisi lain, ekspresi wajah Lin Mei berubah saat mendengar balasan dari gajah tersebut. Namun dia tidak akan menyerah begitu saja, masih ada segudang cara yang dia miliki di dalam kepalanya.
"Eh? Jadi yang dimaksudnya bukan kau yah? Maafkan aku, memang dia mengatakan bahwa gajah itu berukuran sama besar dengan dirinya dan memiliki bau tubuh seperti seekor bangkai. Gajah itu juga memiliki rambut kotor dan sangat kusut di sekujur tubuhnya, lalu yang terpikirkan olehku hanya kau.
Aku mohon maaf, kalau begitu aku akan mencari gajah lain yang mirip dengan penjelasannya itu," jelas Lin Mei yang kemudian beranjak pergi dari situ.
Namun belum lima langkah dia ambil, gajah besar itu sudah bangkit berdiri dan membuat tanah dipijaknya bergetar hebat.
"Apa tadi kau bilang....?"
Mendadak suara gajah itu menjadi dingin, matanya berubah menjadi merah sepenuhnya dan aura membunuh menjalar keluar dari dalam tubuhnya.
Aura membunuh itu sukses membuat Lin Mei terdiam di tempatnya dan tidak bisa bergerak sama sekali. Wajahnya juga berubah pucat dan ketakutan. Tapi sebenarnya di dalam hatinya dia tersenyum lebar dan bahagia karena umpannya berhasil ditarik oleh gajah tersebut
"Ya-a....rusa itu mengatakan kalau rambut yang ada pada sekujur tubuh gajah tersebut tidak pernah dicuci selama bertahun-tahun jadi baunya sangatlah busuk seperti bau tumpukan bangkai yang disatukan menjadi satu," ucap Lin Mei dengan nada ketakutan.
Mengangkat tinggi belalainya, membunyikan. Suara nyaring keluar dari belalainya itu hingga Lin Mei bahkan sampai harus menutup kedua telinganya dengan tangannya dan juga dengan Qi miliknya.
Kali ini Lin Mei tidak main-main, bunyi tersebut seakan bisa memecahkan gendang telinganya jika dia terlambat sedikit saja.
"Gadis kecil, bawa aku pada rusa sialan itu. Biar aku lihat bagaimana dia mengatakan sesuatu tentang rambut pada sekujur tubuhku ini setelah aku mematahkan kedua tanduk kesayangannya itu!" seru gajah itu pada Lin Mei setelah dia selesai meniupkan belalainya
__ADS_1
Lin Mei yang baru saja membuka kedua telinganya dengan cepat mengangguk dan segera melesat pergi yang kemudian diikuti oleh gajah besar itu.
Lin Mei memilih untuk melewati jalur sungai dibandingkan melewati garis lurus, selain untuk sedikit mengulur waktu, dia juga ingin memastikan apakah gajah ini memiliki stamina yang cukup banyak. Ini semua dia lakukan karena setelah gajah ini bertemu dengan rusa itu, keduanya akan melawan Lin Mei yang telah membohongi sang gajah.