
Di dalam ruangan kastil yang terdapat di wilayah pusat Kediaman Keluarga Lin.
Seorang wanita berparas cantik tanpa cacat duduk sambil memejamkan kedua matanya. Rambutnya merah membara seperempat kobaran api. Dia mengenakan sebuah gaun yang dibuat dari kain tipis berwarna merah transparan. Sesekali gaun itu mengeluarkan cahaya merah.
Berdiri di belakangnya, dua orang berpakaian tempur lengkap. Keduanya tampak seperti patung karena tidak bergerak sedikitpun meski waktu terus berlalu.
Tak berapa lama, wanita itu membuka matanya, dan menampilkan sepasang mata merah ruby yang sangat indah. Orang-orang yang menatapnya akan terpana karena keindahan sepasang mata itu, seolah mereka terhipnotis dan terpaku pada matanya saja.
"Sudah datang."
Wanita itu berbicara pelan. Dua orang di belakangnya bisa mendengarnya dengan jelas, namun belum menunjukkan reaksi pergerakan.
Menoleh ke belakangnya, wanita itu menatap salah satu dari orang di belakangnya, tepatnya orang yang berdiri di belakang kirinya.
"Han, segera kumpulkan Pasukan Tempur milikmu yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 ke atas dan bawa mereka ke gerbang kota," perintah wanita itu.
"Baik Ibu." Orang itu menjawab cepat. Dari suaranya dia adalah seorang perempuan yang kemungkinan berusia akhir dua puluhan, atau awal tiga puluh.
Setelah memberikan jawaban, sosoknya segera menghilang dari ruangan itu.
Wanita itu pun menoleh ke arah orang yang tersisa. "Hen, bawa semua orang di wilayah dalam menuju ke perbatasan wilayah utama.Terutama mereka yang berada di bawah ranah Penyatuan Jiwa. Kumpulkan mereka semua dan atur dengan tertib. Jangan sampai ada yang tanpa sengaja masuk ke wilayah utama, atau masih berada di dekat gerbang perbatasan wilayah luar."
"Mengerti, Ibu," jawab orang lainnya. Kali ini adalah suara seorang pria dewasa yang sedikit berat. Terdengar seperti suara pria empat puluhan.
Tak lama, sosok orang itu pun ikut menghilang juga dari ruangan, dan menyisakan wanita itu seorang diri di dalam. Berkedip. Wanita itu kembali menghadap ke depan dan menatap kosong selama beberapa saat.
Dengan cepat pandangan di depannya berubah menjadi pemandangan di depan lahar panas. Namun tubuh wanita itu baik-baik saja. Itu hanya sebuah penglihatan, tubuhnya tidak ikut berpindah.
Pemandangan yang dia lihat tidak lain adalah pemandangan di dalam danau lahar yang terdapat di sekitar gunung Kediaman Keluarga Lin berada.
Berkedip. Pemandangan yang dilihat oleh wanita itupun kembali berganti. Kali ini adalah pemandangan di dekat pinggiran danau, dekat kaki gunung. Namun wanita itu tidak peduli pada danau lahar, tatapannya lebih terfokus pada beberapa titik bayangan yang bergerak di antara tiang-tiang bebatuan yang tercipta secara alami di kaki gunung.
Dia memberikan semua fokusnya, dan akhirnya bisa melihat bayangan-bayangan itu dengan jelas.
Itu adalah kelompok Weng Lou yang telah sampai di kaki gunung berapi dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju kota di wilayah luar Kediaman Keluarga Lin. Mereka berpikir bahwa mereka telah berhasil masuk tanpa ketahuan, tapi sayangnya yang mengawasi mereka adalah seorang Kaisar Jiwa. Mustahil mereka bisa menyusup ke kediaman seseorang yang didiami oleh seorang Kaisar Jiwa.
"Hmmm....perasaan familiar ini.....harusnya orang itu ada di antara kelompok tersebut. Menarik. Sungguh menarik. Orang yang mencampakkan kami ratusan tahun lalu kini berinisiatif datang sendiri ke wilayah kami. Akan kudengarkan alasan apa yang kau punya, Weng Lou."
***
Di dalam kota di wilayah luar.
Weng Lou bersama dengan anggota kelompoknya berjalan masuk melewati gerbang kota dengan santai.
Sebelum sampai di kota, Weng Lou memberitahukan pada Du Zhe dan yang lain untuk berakting seperti dirinya. Mereka menyusup ke dalam wilayah Keluarga Lin, jika mereka ketahuan maka seluruh Keluarga Lin di tempat itu akan mengejar, lalu menangkap dan mengintrogasi mereka satu persatu.
Weng Lou tidak memiliki kepercayaan diri melawan seorang Kaisar Jiwa.
__ADS_1
Meski Samsara cukup kuat membunuh seorang Penguasa Jiwa biasa, namun harusnya senjata itu juga memiliki batasan. Senjata yang sangat kuat mustahil tidak memiliki kelemahan, bahkan Pedang Naga Malam saja memilikinya.
Untungnya, sistem keamanan pada gerbang kota sangatlah longgar. Hal ini dikarenakan orang-orang yang berhasil melewati danau seharusnya telah melewati pemeriksaan terlebih dahulu di pelabuhan, jadi tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan, kecuali ketika akan memasuki wilayah yang lebih dalam, maka pemeriksaan akan dilakukan.
"Lou, bukankah kota ini......" Weng Ying Luan di samping Weng Lou berbicara pelan. Weng Lou langsung mengangguk sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.
"Ya, kota ini.....besar! Tidak, terlalu besar! Apa-apaan luas kota ini? Bagaimana bisa sebuah kota sebesar ini dibangun tepat di kaki gunung berapi raksasa? Dan juga, kenapa di sini bisa begitu banyak orang?! Bukankah jumlah orang yang menaiki kapal penyeberangan sangat dibatasi? Lalu dari mana datangnya orang-orang ini???"
Weng Lou kehabisan kata. Dia sadar gunung yang menjadi tempat utama Keluarga Lin ini memiliki besar yang sangat luar biasa, tapi siapa sangka sebuah kota sangat luas bisa dibangun di kaki gunungnya?
Besar kota ini bahkan sedikit lebih besar dari Kota Tiesha yang merupakan salah satu kota terbesar di Daratan Utama Wilayah Selatan yang dikuasai oleh Keluarga Lin.
Ketika mereka semua masih dalam kondisi terkejut, sudut mata Weng Ying Luan tanpa sengaja menangkap sesuatu yang hampir mereka lewatkan. Sebagian besar penduduk di dalam kota ini mengenakan pakaian dengan lambang yang sama pada diri mereka. Lambang tersebut adalah lambang Keluarga Klan Besar Lin, yaitu lambang Phoenix merah menyala. Lambang Phoenix itu terletak secara acak, ada di dada, punggung, atau sekujur pakaian mereka, lambang Phoenix bisa terlihat di mana saja.
Hanya sebagian kecil dari orang di dalam kota saja yang tidak memiliki lambang Phoenix pada pakaian mereka. Dengan mudah Weng Ying Luan bisa menebak bahwa mereka yang memakai pakaian dengan lambang Phoenix tidak lain merupakan anggota Keluarga Lin, sedangkan yang tidak menggunakan pakaian dengan lambang Phoenix seperti kelompok mereka adalah pengunjung dari luar.
Weng Lou juga segera menyadari ini. Dia dan Weng Ying Luan saling bertatapan satu sama lain sebelum kemudian mengambil napas dingin.
*Hufft.....*
"Mereka ada di mana-mana. Orang-orang Keluarga Lin. Ini berbahaya, aku takut identitas kita sebagai penyusup akan terbongkar dengan sangat cepat di dalam kota ini jika kita salah bicara sedikit saja," ucap Weng Lou dengan suara serius.
Weng Ying Luan mengangguk sebagai balasan.
Jika jumlah mereka hanya beberapa ratus atau ribu di sepanjang kota, mereka tidak akan terlalu takut, bagaimana pun luas kota ini benar-benar luar biasa. Mereka masih memiliki peluang untuk melarikan diri.
"Aku mendeteksi beberapa kelompok Praktisi Beladiri sekitar beberapa ratus dari sini. Dilihat dari pergerakan mereka, sepertinya mereka sedang bergerak ke arah kalian, ku sarankan untuk bergegas pergi dari sini sambil berusaha sebisa mungkin untuk tidak tampil mencolok."
Samsara muncul di samping Weng Lou sambil menatap ke arah tengah kota, dimana tiga kelompok pasukan sedang bergerak cepat menuju ke arah gerbang luar kota. Meski belum pasti apakah mereka bergerak dengan tujuannya adalah mereka, namun kelompok Weng Lou tidak boleh mengambil resiko yang lebih besar lagi.
"Aku bisa merasakannya, mereka bergerak dengan terburu-buru, yang berarti ada sesuatu yang sedang mereka kejar. Ini akan buruk jika kelompok kita bertemu mereka."
"Semuanya, ikut dengan ku, dan berusahalah untuk tidak menarik perhatian. Jalan senormal, dan sebiasa mungkin, kita akan mengambil rute memutar dan menghindari para prajurit kota," ucap Weng Lou pada semua orang di kelompok nya.
Dengan dipimpin oleh Weng Lou, mereka semua pun segera mengambil jalan ke kanan di perempatan pertama jalanan kota. Tepat beberapa saat kemudian, tiga kelompok prajurit berjalan melewati perempatan jalan tersebut dan tetap berjalan lurus menuju ke gerbang luar kota.
Di dalam kota, kelompok Weng Lou berjalan dengan hati-hati. Weng Lou mengedarkan Kekuatan Jiwa nya hingga menutupi radius seratus meter di sekitarnya. Dengan begitu dia bisa menghindari para prajurit kota dan memilih jalan yang terlihat aman.
Agar tidak terlalu dicurigai, mereka sesekali berhenti dan melihat-lihat barang yang dijual di dalam kota.
Meski tempat kota itu berdiri adalah tempat pertambangan utama milik Keluarga Lin, namun barang-barang yang di jual di dalam kota tidak hanya bahan-bahan mineral alam. Sebagai salah satu Empar Keluarga Klan Besar, Keluarga Lin terkenal juga sebagai penghasil perhiasan-perhiasan berkualitas di Daratan Utama.
Perhiasan yang dihasilkan oleh mereka dibuat dari berbagai macam mineral berharga yang didapatkan dari tambang mereka sendiri sehingga harga dari perhiasan-perhiasan ini begitu fantastis untuk kalangan biasa. Namun di mata orang-orang yang mengerti nilai sebuah karya, perhiasan-perhiasan ini adalah barang yang menjadi incaran utama mereka.
Bayangkan saja, sebuah bahan untuk membuat Senjata Spiritual dibuat menjadi kalung yang begitu indah, siapa yang tidak tertarik? Bahkan para Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tidak keberatan untuk membelinya, terutama dikalangan perempuan.
"Hm?"
__ADS_1
Ketika sedang sibuk memilih jalan, sudut mata Weng Lou tanpa sengaja menangkap sesuatu di sebuah toko perhiasan yang membuatnya berhenti mendadak.
Weng Ying Luan yang tepat di belakangnya tidak siap dengan itu dan menabrak punggung Weng Lou hingg membuat keduanya terdorong maju beberapa langkah dan terjatuh di depan tangga toko perhiasan yang Weng Lou lihat.
"Astaga, Lou! Tidak bisakah kau memberi tanda sebelum berhenti mendadak seperti itu?!" Weng Ying Luan bersungut dengan kesal.
Meski jatuh seperti itu tidak membuatnya merasakan sakit sedikit pun, namun dia merasa malu karena dilihat oleh banyak orang di jalanan. Terutama beberapa perempuan yang tertawa kecil melihatnya.
Jika Weng Lou bukan sahabatnya , Weng Ying Luan pasti sudah menendang bokongnya dengan keras.
"Tidak ada yang menyuruh mu untuk berjalan tepat di belakangku." Weng Lou berbicara tanpa melihat pada Weng Ying Luan.
Perhatiannya justru tertuju pada perhiasan di toko perhiasan tersebut. Sebuah anting berbentuk bulu api yang berwarna merah terang. Anting itu mengeluarkan cahaya redup setiap beberapa detik sehingga membuatnya tampak menarik.
Namun bukan hal itu yang menarik perhatiannya, tetapi bahan dari anting itu yang membuatnya tertarik.
"Logam Nadi Merah Murni? Bahan anting itu adalah Nadi Merah yang murni? Bagaimana mungkin?"
Logam Nadi Merah, adalah logam dengan unsur api alam di dalamnya. Biasanya merupakan bahan utama pembuatan Senjata Tingkat 3.
Pada umumnya, Logam Nadi mengandung unsur yang kacau di dalamnya sehingga butuh teknik yang tepat untuk penggunaan nya. Ada beberapa cara, namun biasanya teknik yang dipakai hanya membuat kualitas logam tersebut menjadi turun karena banyak unsur yang terbuang sia-sia, hal ini yang membuat Logam Nadi hanya cocok sebagai bahan pembuatan Senjata Tingkat 3, atau sebagai bahan tambahan pada Senjata Spiritual yang lebih rendah.
Sedikit yang mengetahui bahwa ada satu atau dua teknik khusus untuk membuat kualitas pada Logam Nadi tetap utuh, atau bahkan meningkatnya.
Ketika unsur di dalam Logam Nadi menjadi stabil dan dimurnikan dengan sempurna, Logam Nadi bisa menjadi logam yang sama sekali berbeda dari sebelumnya, bahkan bisa dibuat sebagai bahan utama sebuah Senjata Spiritual tingkat 3.
Unsur alam di dalamnya adalah yang paling utama, yang membuatnya sangat berharga. Semakin murni maka semakin tinggi nilainya di mata para Praktisi Beladiri.
Melihat bahan mewah seperti itu dibuat menjadi sebuah anting, bagaimana Weng Lou tidak terkejut dengan itu?
Apalagi, anting itu terlihat hanya dipajang dengan biasa saja di bagian terdepan toko, tanpa ada penjagaan ketat dari sang pemilik toko. Weng Lou berpikir, mungkinkah pemilik toko ini adalah seorang idiot yang tidak tau apapun tentang logam?
Ketika dia masih terpaku di tempatnya, anting merah di toko itu mengeluarkan cahaya redup dan membuatnya tampak indah, seperti layaknya bulu Phoenix sesungguhnya.
Namun, tanpa diketahui Weng Lou, dari anting itu, sang Kepala Keluarga Lin telah melihatnya dengan jelas.
Anting itu, tidak ditaruh sembarangan oleh sang pemilik toko perhiasan, melainkan memang sengaja ditaruh tepat di depan tokonya tanpa penjagaan apapun.
Dari luar, anting itu hanya seperti sebuah perhiasan biasa yang sangat indah, namun sebenarnya itu adalah alat yang dipakai oleh sang Kepala Keluarga untuk mengawasi dengan lebih mudah seluruh kota. Dengan anting itu, dia bisa melihat dan merasakan sosok Weng Lou yang terpaku di depan toko.
"Hoo...tidak menyangka orang nya datang secepat ini. Sepertinya leluhur sendiri mendukung pertemuan kami." Kepala Keluarga Keluarga Lin berbicara dengan lembut di atas singgasana nya.
Dia menoleh ke depan dan melihat sebelas orang telah berdiri kokoh di hadapannya.
Kesebelas orang ini mengenakan pakaian tempur lengkap yang menutupi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seluruh tubuh mereka mengeluarkan uap panas dan aura bertarung yang kuat terpancar dengan kuat dari tubuh mereka.
"Mari, ikut dengan ku, kita akan menyambut Tuan lama kita. Semoga dia tidak melupakan hal-hal yang telah dia perbuat dulu, pada kita semua yang ada di sini."
__ADS_1