Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 416. Mengurangi Jumlah Peserta Turnamen (I)


__ADS_3

DAANNGGG!!!!!


Suara gong menggema bersamaan dengan semua pintu lorong yang berada di pinggir lapangan arena tertutup secara bersamaan.


Semua orang, baik para peserta yang ada di arena atau pun penonton yang ada di luar arena , semuanya terdiam begitu mendengar suara gong kedua itu.


Tidak ada suara atau pun gerakan dari mereka semua.


Situasi yang sebelumnya ramai mendadak langsung menjadi tegang meski dalam keheningan.


Srrrck.....


"Seraaaannngggg!!!!"


"Habisi mereka semuuuaaaa!!!!!"


Mendadak salah satu kelompok peserta berseru nyaring, dan pertarungan dimulai.


Para peserta turnamen yang sebelumnya hanya diam, kini mulai bertarung satu sama lain di arena.


Di salah satu sudut arena tempat kelompok Weng Lou berada.


Weng Lou dan yang lainnya masih diam di tempat mereka dan menatap sekitar mereka yang sudah terjadi pertarungan.


"Hei Wan, kalian yakin kalian tidak apa-apa bersama kami? Bagaimana jika tetua yang bersama kalian menjadi marah dan kalian mendapatkan masalah begitu pulang ke Keluarga Leluhur Weng nantinya?" tanya Weng Lou pada Weng Wan sambil menonton salah satu peserta yang sedang adu senjata dengan peserta turnamen lainnya.


"A-Ah...itu dia yang sebenarnya aku bingungkan. Tetua Zhe sama sekali tidak memanggil kami atau pun memberitahukan kami apapun sebelumnya, jadi menurut ku dia tidak apa-apa dengan ini," jawab Weng Wan yang juga sama bingung nya dengan Weng Lou.


"Tapi apa teman-teman mu itu tidak apa-apa? Dari yang kulihat kekuatan mereka hanyalah rata-rata saja saat bertarung melawan mereka sebelumnya. Aku tidak yakin mereka akan bisa menangani para peserta yang berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 ke atas."


Weng Ying Luan ikut memberikan komentarnya. Menurutnya para murid yang datang bersama dengan Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning dari Keluarga Leluhur Weng tidak lah terlalu kuat, dan kemungkinan mereka akan dalam bahaya jika Weng Wan dan lainnya tidak bersama dengan mereka.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, tenang saja. Ada Tetua Zhe yang bersama mereka. Meski hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2, tapi kami tau betul seberapa kuatnya Tetua Zhe.


Saat masih di tempat Keluarga Leluhur Weng, Tetua Zhe sanggup bertarung melawan mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 sekali pun meski saat itu masih di tahap 2. Oleh sebab itu dia yang diutus untuk menjaga kami bersepuluh oleh Kepala Keluarga."


Weng Hua menjawab Weng Ying Luan dengan ringan.


"Benarkah? Bagus lah kalau begitu. Aku tidak kau kalian malah mendapat masalah hanya karena kalian bersama kami di sini," ucap Weng Lou.


"Maaf mengganggu obrolan kalian, tapi orang-orang ini sudah tidak sabar ingin bermain dengan kita." Pang Baicha berbicara sambil menunjuk sekelompok peserta yang melesat ke arah mereka sambil membawa senjata mereka.


Weng Lou dan yang lainnya menoleh dan kemudian tersenyum melihat orang-orang itu yang sedang mengarah kepada mereka.


"Nah, ayo kita mulai pemanasan terlebih dahulu, babak pertama ini akan berlangsung cukup lama menurut ku, jadi usahakan selesaikan mereka dalam 1 serangan."


Berjalan dengan santai, Weng Lou kemudian mengangkat tangannya dan cahaya keemasan pun tercipta di atasnya.


Cahaya itu mulai berubah bentuk menjadi pedang-pedang Qi tapi kemudian sebelum terbentuk secara sempurna, pedang-pedang itu mendadak berhenti membentuk saat suara dai Ye Lao bergema di dalam kepala Weng Lou.


"Hentikan itu nak," ucapnya tiba-tiba.


"Ada apa? Kenapa kau menyuruhku berhenti di tengah-tengah?" tanya Weng Lou dengan kebingungan.


Dirinya siap meluncurkan pedang-pedang dari Qi miliknya pada para peserta lainnya yang ada di hadapannya. Ini bisa dia pakai untuk mengurangi dengan cepat jumlah para peserta yang ada, dibandingkan harus menunggu orang lain yang melakukannya.


"Apa kau tidak bosan memakai cara seperti itu terus menerus? Aku bahkan mulai muak melihatmu terlalu sering menggunakan Qi mu untuk bertarung melawan orang-orang yang lebih lemah darimu," kritik Ye Lao yang seketika membuat Weng Lou menjadi kesal.


Meski begitu Weng Lou tetap sadar diri, dan tidak begitu saja mengeluarkan emosinya. Dia menarik napas dalam, lalu menghilangkan cahaya keemasan yang sebelumnya berada di atasnya.


"Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Menyuruh teman-teman ku yang menyerang mereka?" tanya Weng Lou dengan malas.


"Bukan, bukan begitu. Kau sendiri yang bilang ini pemanasan, bukan? Seharusnya kau menyerang mereka menggunakan kekuatan fisikmu saja. Pakai Qi mu jika memang kau tidak bisa bertarung hanya dengan menggunakan fisikmu untuk bertarung melawan para peserta lainnya," jelas Ye Lao.


Itu benar, Weng Lou sendiri yang mengatakan bahwa ini adalah pemanasan. Menggunakan Qi sama sekali tidak bisa dianggap sebagai pemanasan, karena bukan tubuh yang bergerak, hanya Qi saja.


"Haaa....baiklah... baiklah..."


Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Weng Lou pun kemudian berjalan maju ke arah para peserta yang sedang bergerak ke arahnya.

__ADS_1


Dengan langkah ringan dia terus berjalan maju, sementara Weng Ying Luan dan yang lainnya diam menatap Weng Lou.


"Apa yang ingin dia lakukan?" Man Yue yang sedikit bingung.


Mereka sebelumnya menduga bahwa Weng Lou akan memakai Qi nya untuk langsung menghabisi orang-orang itu, tapi kemudian Weng Lou mendadak menyerap kembali Qi miliknya, yang mana malah membuat mereka kebingungan.


"Hahahaha....memang harusnya seperti itulah pemanasan!!"


Berbeda dengan yang lainnya, Weng Ying Luan justru segera berjalan maju dan berjalan di samping Weng Lou.


"Aku ingin sedikit menggerakkan badanku ini, ayo kita lihat seberapa jauh kau dan aku bisa mengalahkan orang-orang ini tanpa menggunakan Qi sedikit pun," ucap Weng Ying Luan pada Weng Lou yang ada di sampingnya.


Dia mengatakan itu dengan suara sedikit keras, sehingga bisa di dengar oleh Weng Wan dan yang lainnya yang ada di belakangnya.


"Ah, aku mengerti sekarang...."


Tap....


"Tunggu aku kalian berdua." Weng Wan bergegas maju dan ikut bersama Weng Lou dan Weng Ying Luan sementara Lin Mei, dan yang lain menatap punggung mereka.


"Haaa...anak laki-laki semuanya sama saja," komentar Weng Hua.


"Hei, kita bagi rata biar adil, aku ambil yang tengah, kalian berdua yang kiri dan kanan " Weng Lou berbicara pada Weng Wan dan Weng Ying Luan di sampingnya.


"Oke."


"Tentu."


Mereka bertiga kemudian berhenti berjalan saat jarak mereka dengan para peserta yang bergerak ke arah mereka berjarak lima meter saja dari mereka.


"Mulai!" seru Weng Lou yang kemudian langsung menerjang maju dan segera diikuti oleh Weng Ying Luan dan Weng Wan di belakangnya.


"Habisi mereka!!!" Salah satu dari orang-orang itu berseru sambil mengangkat senjatanya.


Tepat ketika Weng Lou sudah di depan peserta yang ada di paling depan, Weng Lou dengan cepat menggerakkan tangannya dan segera menangkap senjata orang itu.


Dia menarik tubuh orang itu, dan kemudian menendangnya telak menggunakan lututnya.


"Agh-!"


Seperti kertas, orang itu terlempar tinggi sementara rekannya yang lain datang dan ikut menyerang ke arah Weng Lou.


"Hei! Jangan serang dia saja, kami juga ada di sini sialan!!"


Weng Ying Luan yang juga ikut maju, melepaskan sebuah serangan tapak ke perut salah satu orang-orang itu.


Buck!


Dengan sukses pukulannya mendorong orang itu, beserta rekannya yang ada di belakangnya.


"Jangan terlalu keras, aku jadi sedikit kasihan sama mereka," ucap Weng Wan yang kemudian melompat ke arah kelompok peserta lain.


Dia mengepalkan tangannya, dan kemudian melakukan tinju tepat di kepala seorang pria yang merupakan anggota dari kelompok peserta itu.


Brack-!


Pukulannya membuat pria itu terhempas ke tanah, dengan kepalanya yang lebih dulu menyentuh tanah. Sedetik kemudian, tidak ada gerakan dari pria itu sama sekali.


"Kau sendiri juga terlalu kasar, bodoh!" Weng Ying Luan balik mengkritik Weng Wan.


Pukulan dari Weng tampak sangat ringan, tapi kekuatan yang dilepaskannya benar-benar luar biasa.


Ini adalah kekuatan dari hasil latihan mereka selama tiga minggu ini.


Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Weng Wan tidak berhenti melepaskan satu serangan saja.


Mereka bertiga segera menyerang anggota lainnya dari kelompok peserta itu dengan pukulan, tendangan, atau pun serangan tapak pada mereka semua.


Selang setengah menit kemudian, mereka telah selesai mengalahkan semua anggota kelompok peserta itu.

__ADS_1


"Sial, itu bahkan tidak bisa disebut sebagai pemanasan," umpat Weng Ying Luan yang menendang perut salah satu peserta yang telah ia kalahkan dengan sangat mudah.


"Kau benar, aku tidak tau mereka yang terlalu lemah, atau kita yang terlalu kuat. Mereka benar-benar kalah hanya dalam satu serangan saja." Weng Wan ikut berbicara.


Mendengar keduanya, Weng Lou hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Jelas mereka yang terlalu kuat sehingga peserta yang menyerang mereka sebelumnya sama sekaki tidak bisa memberikan perlawanan terhadap serangan-serangan yang ketiganya berikan.


Dalam tiga minggu berlatih, Weng Wan sukses berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 7 puncak, sementara Weng Ying Luan yang benar-benar berlatih seperti orang gila berhasil naik ke ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 awal.


Itu adalah peningkatan yang sangat ekstrim. Bahkan bagi mereka yang memang merupakan seorang yang berbakat beladiri sejak lahir mustahil meningkat sejauh itu.


Ini semua berkat kemampuan Kitab Keabadian milik Weng Lou.


Tiga minggu di Kota Hundan ini, Weng Lou menghabiskan sedikit waktunya untuk berburu di Hutan Kabut dekat lokasi dari bekas kastil milik Kelompok Darah.


Menggunakan tubuh dari binatang buas yang ia buru agar diserap oleh Kitab Keabadian, mereka pun bisa meningkatkan tingkat praktik mereka dengan sangat mudah.


"Sepertinya akan sedikit membosankan jika hanya bertarung melawan mereka saja, ayo ikut aku, kita bersihkan para peserta lainnya yang ada di sekitar tempat kelompok kita," ucap Weng Lou yang kemudian kembali melangkahkan kakinya, ke arah dua orang kelompok yang sedang bertarung.


Weng Ying Luan dan Weng Wan saling menatap satu sama lain dan tersenyum lebar. Mereka pun bergegas mengejar Weng Lou.


"Permisi, kami ingin bergabung dalam pertarungan kalian." Weng Lou berbicara dengan sangat santai ketika mereka telah sampai di tempat dua kelompok yang sedang bertarung satu sama lain itu.


Perhatian dua kelompok itu segera teralih pada Weng Lou dan yang lainnya. Tapi mereka hanya menatap ketiganya selama beberapa saat saja, sebelum kemudian kembali melanjutkan pertarungan mereka.


Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Weng Wan benar-benar diabaikan.


"Hahaha.....mereka benar-benar mengabaikan kita," kata Weng Ying Luan.


Weng Lou hanya diam, dia kemudian mengangkat tinggi kaki kanannya dan dengan setengah kekuatannya, dia menghentakkan kakinya.


Brack!!!!


Kawal kecil langsung tercipta hanya dari hentakan kakinya tersebut, dan Weng Lou pun mengangguk-angguk melihat itu.


"Sepertinya segini saja," ucapnya lalu mendadak sosoknya menghilang dari situ.


Detik berikutnya, sosok Weng Lou sudah muncul di tengah-tengah dua kelompok yang saling bertarung itu.


Weng Lou sedikit membungkuk, dan dengan gerakan cepat, dia menendangkan kakinya pada salah satu orang di dekatnya, mengunakan setengah dari kekuatan fisiknya.


"Urghhh!!!!"


Buck!!!


Dalam satu tendangan itu, tubuh pria yang ia tendang langsung terlempar dan menabrak peserta lainnya.


Dua kelompok itu kembali berhenti bertarung dan semuanya menatap ke arah Weng Lou yang berada di tengah-tengah mereka.


"Jangan salahkan aku, kalian sendiri yang tidak mau memperhatikan kami."


Selesai mengatakan itu, Weng Lou kembali mengangkat kakinya dan kemudian melakukan tendangan ke udara kosong.


Shuuu- SRRAAATTT!!!!


Dari tendangan kosong Weng Lou, tercipta hempasan angin tajam yang dengan telak mengenai salah seorang peserta. Sebuah luka sayatan pun tercipta begitu saja saat angin itu mengenai dadanya.


Mulut orang itu terbuka lebar, tidak ada suara yang keluar darinya, dan detik berikutnya tubuhnya pun terjatuh ke tanah.


"Ba-Bajingan sialan...."


"Bocah!!!! Beraninya kau!!!!!"


"Khuaaa!!!! Bunuh anak sialan itu!!!"


Satu demi satu orang dari kelompok itu berseru dan mengutuk-ngutuk Weng Lou. Mereka dengan beringas merubah target serangan mereka pada Weng Lou, sementara Weng Lou hanya memberikan senyum mengejek.


"Mereka mudah sekali terprovokasi."

__ADS_1


__ADS_2