Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 582. Keluarga Yang


__ADS_3

Ketika Weng Lou masih menunggu Tablet Identitas nya selesai dibuat oleh Shanhu, beberapa bajak laut di sepuluh pulau utama lain mendapatkan informasi mengenai dirinya dari mata-mata yang sudah ditanam di Pulau Karang Bintang.


Mereka mengetahui transaksi yang dilakukan oleh Weng Lou dan Shanhu, dimana Weng Lou menawarkan sumber daya untuk pembuatan Tablet Identitas miliknya. Sepuluh Kapten di sepuluh pulau utama pun merasa tertarik dengan hal tersebut. Mereka yakin Weng Lou memiliki jauh lebih banyak sumber daya bersamanya karena rela memberikan sebuah sumber daya yang sangat berguna untuk Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa.


Mereka pun mengirimkan pasukan masing-masing untuk menangkapnya dan menjarah semua yang dia miliki. Jika dia melawan, maka mereka tidak akan segan membunuhnya.


"Guru, aku memiliki firasat tidak enak sejak beberapa saat yang lalu, apa ada sesuatu yang terjadi?"


Dari balik pintu tempat Kera Hitam Petarung berada, sosok Du Zhe berjalan masuk dan mendekat ke arah Weng Lou dengan wajah yang khawatir. Weng Lou menenangkannya dengan mengatakan tidak ada sesuatu yang berbahaya akan terjadi.


"Kau berlatih saja di dalam. Aku akan mengetes mu nanti, jika kau tidak bisa mengayunkan palu yang kuberikan padamu sebanyak lima kali, kau hanya akan makan sayur nanti malam," ucap Weng Lou yang segera membuat Du Zhe pergi dengan cepat dari tempat itu.


Kera Hitam Petarung memutar matanya ketika mendengarkan Weng Lou yang mengancam Du Zhe. Hanya monster berwujud anak kecil saja yang mampu mengangkat palu itu, dan Weng Lou menyuruh Du Zhe agar mampu mengayunkan palu itu sebanyak lima kali, dia pasti berencana menghabisinya.


Weng Lou menyadari tatapan mata Kera Hitam Petarung dan dia tidak peduli. Menurut pandangannya, Du Zhe perlu dilatih semaksimal mungkin selama dia masih berumur 10-13 tahun agar mendapatkan hasil yang memuaskan ketika umurnya telah menginjak 14 tahun seperti dirinya. Meski sebenarnya Weng Lou akan berusia 15 beberapa bulan lagi.


"Aku akan ke atas, kau bersiap-siaplah. Ketika aku memberi sinyal, kau bisa keluar dari sini. Jangan sampai ada yang merusak kapal ketika pertarungan berlangsung. Bahan-bahan yang aku butuhkan untuk meningkatkan kualitas kapal masih belum cukup, jadi semaksimal mungkin kita harus mewaspadai pertarungan di kapal kita. Kalau bisa, bertarung saja di kapal musuh," jelas Weng Lou yang segera melompat ke atas dek.


"Aku mengerti. Jangan lupa berikan aku tubuh Ular Tanah Raksasa yang kau janjikan selesai ini semua."


"Tentu, aku akan memberikannya padamu. Aku masih ingat dengan jelas janji ku itu."


Weng Lou pun menutup pintu dan membuat cahaya yang menyinari ruangan tempat Kera Hitam Petarung tersebut menghilang, meninggalkan ruangan yang gelap dan sunyi.


Di atas dek kapal, angin laut bertiup kencang ketika kapal mereka akhirnya meninggalkan wilayah Pulau Karang Bintang dan juga sekaligus keluar dari wilayah Kepulauan Doulou. Sekali lagi kapal uap memasuki daerah pemakaman kapal yang mana di situ, bukannya terdapat kapal-kapal yang tah hancur dan karang, malah terdapat belasan kapal utuh yang sedang membentuk barisan yang menghalangi jalan kapal kelompok Weng Lou.


"Hentikan kapal mu, atau kami akan melepaskan tambakan meriam dan menenggelamkannya dengan paksa!" Terdengar suara ancaman dari salah satu kapal.


Yang berseru adalah komandan yang sebelumnya telah mengawasi kapal kelompok Weng Lou. Mereka melewati rute khusus agar mampu tiba lebih dulu dan menghalangi mereka, dan terlihat sepertinya bukan mereka saja yang berpikiran seperti itu.


"Hei! Beraninya kau menyuruh kami! Akan ku tenggelamkan kau dan kapal jelek mu itu!" Pria dengan wajah yang cantik dan mengenakan pakaian perempuan berbicara dari kapal lain dengan suara melengking yang bahkan jauh lebih jelek dari suara Wakil Kapten Bajak Laut Karang Hitam yang sebelumnya Weng Lou temui.


Pertengkaran pun terjadi diantara mereka, akan tetapi pertengkaran itu segera berkahir ketika sebuah kapal bergerak maju ke depan dari antara barisan. Semua orang menatap kapal itu dan melihat sosok seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian seorang ahli beladiri dan menampilkan aura yang mengagumkan dari dirinya.


Alis Weng Lou terangkat ketika melihat bahwa kapal yang dinaiki oleh pemuda tersebut tidak mengibarkan bendera hitam yang biasanya dipakai oleh para bajak laut, melainkan bendera merah dengan gambar singa emas di tengahnya.


"Gambar singa emas itu....kalau tidak salah ingat, harusnya itu adalah lambang Keluarga Yang. Keluarga yang bertugas menjaga perbatasan antara Daratan Utama dan Pulau Fenshu. Mereka juga menjaga bagian teritori ini agar para bajak laut tidak bisa melakukan kejahatan sesukanya. Namun kenapa mereka ada di sini sekarang? Bukannya mereka bermusuhan dengan para bajak laut itu?" Kepala Weng Lou dipenuhi dengan banyak pertanyaan saat ini.


Dia berencana masuk secara diam-diam ke wilayah Daratan Utama agar terhindar dari orang-orang di Keluarga Klan Besar, namun nyatanya orang yang dia hindari justru telah datang menemuinya.


"Mereka terlalu cepat untuk menemukan ku, apa ada mata-mata yang telah menguping pembicaraan ku dengan Shanhu? Tapi aku yakin sekali ruangan tempat kami berdiskusi waktu itu bersih dari alat penyadap."


Weng Lou berpikir keras, dia tidak mungkin melewatkan seseorang yang menguping pembicaraan antara dirinya dan Shanhu. Kecuali Shanhu yang memberitahu mereka, maka itu akan lebih masuk akal.


Tidak, itu memang masuk akal. Seringai jahat muncul di wajah Weng Lou ketika dia menyadari bahwa ini semua adalah ulah Shanhu. Pria itu, dia memang tidak berencana melepaskan Weng Lou dari awal. Terlebih dia sudah melukai harga dirinya, pastinya dia tidak akan membiarkan Weng Lou begitu saja.


"He....hehehehe... hahaha!!! Bagus! Bagus sekali! Kau berani mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan padamu. Hei Shanhu, aku Weng Lou adalah orang yang memberikan balasan kepada seseorang tergantung perbuatannya padaku. Kau mengkhianati ku, maka hanya kematian yang layak kau dapatkan!" Dengan satu hentikan jarinya, Shanhu yang sedang melakukan meditasi di Pulau Karang Bintang mendadak membuka matanya dan sesuatu yang mengerikan terjadi.


"Aaaghh!!!" Shanhu menjerit kesakitan ketika perutnya mendadak membesar seperti balon yang ditiup.


Bahkan besar perutnya itu telah melebihi dua kali besar tubuhnya dan bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti membesar.


"AAAAGGHH!!! WENG LOUU!!!!"


*BAM!!!* Perutnya yang membesar itu pun pecah dan seluruh isi perutnya berhamburan kemana-mana. Para kru nya yang ada di dekatnya hanya berdiri terdiam dengan raut wajah terkejut. Mereka tidak mengerti apa yang sebenernya terjadi.


Perut kapten mereka mendadak membesar tanpa sebab apapun, dan detik berikutnya dia pun tewas karena perutnya yang pecah seperti balon. Tubuh mereka pun semua tertutupi oleh darah dan organ tubuh milik Hei Shanhu.

__ADS_1


Weng Lou yang berada di kapal uapnya terkekeh ketika merasakan kematian Shanhu. Pil yang dimakan olehnya telah dimasukkan sesuatu oleh Weng Lou untuk mengantisipasi jika Shanhu melakukan pengkhianatan di detik-detik terakhir. Dengan satu hentikan jarinya, pil yang sedang berada di perut Shanhu itu meledak, namun tidak menyebabkan kerusakan, melainkan hanya mengeluarkan daya ledak yang kemudian meniup perutnya layaknya balon hingga pecah.


"Itu yang kau dapatkan jika berani mengkhianati ku," ucap Weng Lou.


Dia pun kembali menatap ke arah kapal di depannya yang dinaiki oleh orang-orang dari Keluarga Yang tersebut. Matanya menatap tajam pada pemuda yang berdiri di ujung kapal yang juga ikut menatapnya balik.


Dari badan kapal, dua buah meriam berukuran besar keluar dan mengarah ke kapal uap Weng Lou. Pemuda yang berada di atas kapal itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan menatap Weng Lou dengan datar.


"Sebelum aku menenggelamkan kapal mu, katakan padaku apa kau memang benar penyusup dari Kekaisaran Ryuan." Pemuda itu mendadak berbicara pada Weng Lou.


Ekspresi nya tidak berubah sedikit pun. Weng Lou yang berada di depannya sama sekali tidak dia anggap sebagai ancaman sama sekali.


"Jika aku menjawab 'bukan', apakah kau akan melepaskan ku?" tanya Weng Lou yang masih tersenyum.


Pemuda itu diam dan berkedip, dia menggeleng dengan anggun sebagai jawaban.


"Kalau begitu kau tidak perlu menanyakan hal bodoh seperti itu padaku. Ayo serang aku dan mari kita selesaikan ini dengan cepat."


"Haaa....kau yang memintanya. Dengarkan perintahku, tembak kapal itu dan jangan membiarkannya tetap berlayar di lautan."


Perintah dari pemuda itu dibalas dengan kedua meriam yang berada di kapalnya dinyalakan, dan detik berikutnya dua suara dentuman bergema ketika kedua meriam besar itu menembakkan dua buah bola meriam sebesar tiga kali tubuh manusia dewasa.


*Shuuu-*


Dua buah bola besi panas bergerak sangat cepat ke arah kapal uap Weng Lou. Peluru meriam itu mengeluarkan bunyi tajam karena membelah udara. Mata Weng Lou menatap keduanya dengan perasaan takjub. Dia ingin tau seberapa hebatkah kerusakan yang dibuat dari peluru meriam tersebut.


Namun pada saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memuaskan rasa penasarannya. Jika dia membiarkan keduanya mencapai kapal uap maka semua awak kapalnya akan tewas begitu juga dengan Du Zhe.


"Mari kita lihat bagaimana kekuatannya dengan mencobanya pada kapal yang lain?"


Kedua tangan Weng Lou terbuka dan mengeluarkan Kekuatan Jiwa nya yang kemudian menyelimuti seluruh wilayah perairan di tempat itu. Pemuda dari Keluarga Yang itu mengerutkan alisnya ketika merasakan Kekuatan Jiwa milik Weng Lou. Informasi yang dia dapat tentang tingkat praktik Weng Lou ternyata memang benar, Hei Shanhu tidak berbohong sama sekali padanya.


"Baik, Tuan Muda! Semuanya! Hentikan kapal!!" Prajurit itu berseru ke belakang kepada para pekerja yang terlihat memegang semacam roda besar di tengah-tengah dek kapal.


*CTAK!!!* Suara cambuk bergema dan beberapa prajurit pun mulai melepaskan cambukan ke arah para pekerja itu. Dengan wajah meringis kesakitan, para pekerja itu pun mulai memutar roda kapal.


Ketika roda itu diputar, sebuah rantai yang terhubung pada roda itu tampak mengencang. Suara raungan marah pun bergema dari bawah kapal mereka dan membuat kapal mereka berhenti seketika.


"Hooo...ini pertama kalinya aku menyaksikan kapal yang dikendalikan oleh binatang buas lautan. Kapal milik Bajak Laut Karang Hitam juga dikendalikan oleh binatang buas lautan, hanya saja aku belum pernah melihat ketika kapal itu berlayar karena hanya bersandar di dermaga tiap harinya. Karena kalian telah menunjukkan sesuatu yang menarik, aku akan memberikan sedikit hadiah pada kalian."


Kekuatan Jiwa yang ada di sekitar Weng Lou membentuk lapisan pelindung yang sangat tipis, namun jika ada seseorang di ranah Penyatuan Jiwa yang ahli dalam menggunakan Kekuatan Jiwa, mereka akan bisa mengetahui bahwa lapisan tipis Kekuatan Jiwa itu nyatanya terbentuk dari berlapis-lapis pelindung yang dipadatkan menjadi satu.


*BDUM!* Dua bola meriam pun terhenti di udara, dan lapisan pelindung itu mulai membungkusnya. Weng Lou mengayunkan tangannya dan pelindung itu pun mengayunkan bola meriam tersebut hingga terbang kembali ke arah kapal Keluarga Yang.


"Hmp!"


Pemuda Keluarga Yang dengan tenang mengibaskan tangannya, dan kedua bola meriam itu pun meledak di udara sebelum bisa sampai menyentuh kapal mereka.


"Pasukan penyerang, angkat senjata kalian dan ikut dengan ku. Kita akan menghancurkan sang penyusup dengan cara seorang Praktisi Beladiri." Pemuda itu segera terbang ke arah kapal uap kelompok Weng Lou dan diikuti oleh belasan prajurit di belakang nya yang terbang menggunakan bantuan pedang di bawah kaki mereka.


Weng Lou tidak mau menunggu orang-orang itu untuk datang kepadanya. Dia mengeluarkan tiruan Pedang Naga Malam dari Kalung Spasial nya dan juga ikut terbang ke arah kelompok prajurit Keluarga Yang yang dipimpin oleh pemuda tersebut. Melihat sosok Weng Lou yang juga ikut terbang ke arah mereka, pemuda itu memberikan perintah pada prajurit yang bersamanya untuk bersiap bertarung.


Pemuda mengalirkan Qi dan Kekuatan Jiwa kepada kedua tangannya sebelum kemudian tanpa rasa takut menyerang ke arah Weng Lou. Dia melepaskan pukulan ke udara, dan gelombang Qi dan Kekuatan Jiwa terbentuk di udara. Mata Weng Lou dengan cepat menangkap serangan yang mengarah padanya.


Sesuatu dikeluarkannya dari dalam Kalung Spasial. Itu adalah jubah yang terdapat di harta penyimpanan Chizi Ryuan. Dengan cepat Weng Lou memakai jubah itu, dan gelombang serangan yang mengarah padanya itu pun diredam oleh jubah tersebut. Weng Lou terkekeh menyaksikan kehebatan dari jubah itu.


Harta-harta yang disimpan oleh Chizi Ryuan memang menakjubkan. Dia malah ingin mencoba satu persatu benda milik Chizi Ryuan untuk mengetahui kehebatannya.

__ADS_1


"Ck, Senjata Spiritual? Dan kemampuan yang sehebat ini, itu pasti Senjata Spiritual tingkat 2," ucap pemuda dari Keluarga Yang.


"Nama ku Yang Zhengyi, bagian dari Keluarga Yang yang menjaga perbatasan Daratan Utama di sekitar perairan ini. Kau penyusup yang masuk seenaknya ke wilayah ini harus dihukum atas nama keadilan!" Pemuda Keluarga Yang itu berbicara dengan nada serius.


Para prajurit yang bersamanya menyerukan namanya dan mengerikan kata 'keadilan' seperti orang tidak waras. Para kelompok bajak laut yang sebelumnya berniat menyerang Weng Lou kini telah mengambil jarak sejauh mungkin dari kapal mereka berdua.


Tidak ada yang tidak mengenal Keluarga Yang di Daratan Utama. Mereka memiliki kekuasaan yang sangat besar dan terkenal akan orang-orang nya yang senang melakukan 'penegakkan keadilan' dalam segala hal. Mereka seperti orang gila yang setiap saat membicarakan mengenai keadilan, sama seperti pemuda bernama Yang Zhengyi di hadapan Weng Lou.


Bahkan catatan milik Chizi Ryuan juga menuliskan secara jelas bahwa Keluarga Klan Besar Yang adalah keluarga tidak waras yang selalu menggempur pasukan Kekaisaran Ryuan jika mereka tidak sengaja memasuki wilayah Daratan Utama.


"Yang Zhengyi kah? Kau bisa memanggilku dengan nama panggilan Lou. Sayang sekali kita harus bertarung seperti ini, hanya akan ada kematian jika kita berdua bertarung. Bagaimana jika kalian membiarkan kami pergi saja?" Weng Lou mencoba bernegosiasi dengan Yang Zhengyi akan tetapi tatapan mata pemuda itu sama sekali tidak bersahabat dan membuat Weng Lou hanya bisa menghela napasnya.


"Ya mau bagaimana lagi. Aku harus segera pergi dari sini, jadi tidak bisa lama-lama menemani kalian."


Weng Lou mengeluarkan benda lain dari dalam Kalung Spasial nya. Kali ini, dia mengeluarkan dua buah palu latihannya yang dia pakai ketika berada di puncak ranah Pembersihan Jiwa tahap 9. Melihat Weng Lou yang bersiap menyerang, prajurit Keluarga Yang pun membentuk formasi bertahan.


*Hush.....*


Kedua palu itu diputarnya dengan cepat, lalu dalam satu gerakan, keduanya pun dilemparkannya ke arah para prajurit itu. Gerakan palu itu jauh lebih cepat dari pada peluru meriam milik Keluarga Yang dan dengan telah menghantam tubuh dua orang prajurit yang telah memasang pelindung Qi di depannya.


*BUK!!! PLASHH!!!*


Salah satu palu menghantam kepala prajurit itu dan memecahkannya seperti melon, sementara palu yang lain mengenai dada salah satu prajurit dan membuat dada prajurit tersebut remuk hingga meninggalkan bekas membentuk palu itu.


Semua itu terjadi begitu cepat, hingga Yang Zhengyi tidak bisa bereaksi dengan cepat. Dia baru menyadari kedua prajuritnya telah tewas mengenaskan ketika keduanya terjatuh ke laut.


"!!!!"


Semua prajurit yang tersisa terkejut dengan hal itu. Mereka melihat kedua palu Weng Lou terus melesat dan kemudian menabrak kapal mereka.


*BUM! BRUACK!!* Suara dari hantaman palu itu mencapai telinga mereka. Palu Weng Lou dengan tepat mengenai dek kapal dan nyaris membuatnya jebol.


"Ah, aku kurang kuat mengayunkannya. Harusnya tadi itu cukup untuk menenggelamkan sebuah kapal kayu biasa. Tapi sepertinya kapal Keluarga Yang bukanlah kapal 'biasa', aku benar bukan?"


"Kau!!!!"


"Dasar penyusup!!!"


"Bunuh dia!!! Berikan dia hukuman yang sepadan karena membunuh kedua teman kita!!!!"


Lebih dari sepuluh prajurit melesat terbang ke arah Weng Lou. Qi mereka mulai dikumpulkan menjadi satu dan memperkuat diri mereka dengan pesat.


Yang Zhengyi juga tidak diam menonton begitu saja. Dia mengeluarkan dua buah pedang dari cincin penyimpanan dan mengikuti dari belakang para prajuritnya.


Tiruan Pedang Naga Malam di kaki Weng Lou mengeluarkan cahaya keungunan begitu Weng Lou mengalirkan lebih banyak Kekuatan Jiwa ke dalamnya. Dalam satu tarikan napas, sosok Weng Lou pun melesat ke arah para prajurit itu.


Tangannya terkepal, dia menangkap sisi pedang salah satu prajurit yang menebas ke arah lehernya dan dengan cepat melepaskan pukulan ke arah leher prajurit itu.


"Ck! Seni Pedang Keluarga Yang, Pedang Keadilan!!"


Tiga orang prajurit bersama-sama menyerang ke arah Weng Lou. Pedang di tangan mereka mengeluarkan cahaya emas terang. Ketika mereka mengayunkannya, Pedang Qi raksasa pun muncul di langit dan menebas ke arah Weng Lou.


"Hahaha!!!! Usaha yang bagus! Tapi serangan seperti ini masih belum cukup!! Kalian membutuhkan hasrat yang ada pada diri kalian untuk dapat menghasilkan serangan yang jauh lebih kuat dari ini."


Weng Lou memasang ancang-ancang sebelum kemudian melakukan tendangan ke atas dan menendang pedang dari Qi itu hingga menghancurkannya berkeping-keping.


Akan tetapi, serangan itu nyatanya hanyalah sebuah serangan pengalihan. Serangan yang sebenernya dilancarkan oleh Yang Zhengyi. Kedua pedangnya memancarkan dua warna yang berbeda, satu berwarna kemerahan dan satunya lagi kebiruan.

__ADS_1


Ketika dia mengayunkan keduanya. Tebasan unsur api dan air tercipta di udara dan menebas tubuh Weng Lou dengan telak.


__ADS_2