
Dengan rasa penuh kebahagiaan, Weng Lou membuka salah satu bungkusan kue yang terdapat di dalam cincin milik Siwang Hua.
Tanpa pikir panjang dia pun mengambil satu potong kue dan memasukkannya semuanya langsung kedalam mulutnya.
Beberapa detik kemudian, kue itu pun habis lalu dia kembali mengambil kue lainnya. Weng Lou terus memakan kue itu hingga hanya tersisa tiga perempat bungkus saja lalu mengikat kembali bungkusannya.
Weng Lou tidak pernah tenang memakan kue yang dia punya di dalam ruang penyimpanannya karena selalu berpikir bahwa kue-kue itu pasti akan segera habis jika ia tidak hati-hati. Namun sekarang, masalah itu sudah teratasi sepenuhnya, dia memiliki lebih banyak persediaan sekarang.
Dan tentunya, itu tidak diketahui oleh Weng Ying Luan atau pun Lin Mei.
Semua kue ini adalah miliknya!!
Dalam hatinya, Weng Lou bersyukur karena Weng Ying Luan tidak membantunya dalam pertarungan tadi, atau jika tidak, maka dia harus membagi setengah kue yang ia dapatkan ini.
Setelah selesai menggeledah tubuh Du Bishou dan Siwang Hua, Weng Lou pun langsung mengubur mereka dalam satu lubang yang sama tanpa memberikan tanda kuburan keduanya sama sekali.
Dirinya sadar, bahwa keduanya pasti hanya mengikuti perintah dari orang yang menyuruh mereka saja jadi tidak terlalu memperlakukan secara kejam tubuh mereka, walaupun sebenarnya tubuh Du Bishou yang tak memiliki kepala sudah sangat kejam, pikirnya.
Weng Lou pun kembali ke perkemahan setelah melakukan semua itu, tentunya dengan suasana hati yang sangat senang.
Dia ingin segera tidur kembali, dan memimpikan dirinya yang sedang memakan kue tanpa harus takut kehabisan sama sekali.
***
Sementara Weng Lou dan yang lainnya sedang beristirahat di pinggiran Hutan Kabut, di Kota Yulong, terlihat sosok sekelompok orang berjalan masuk kedalam kota.
Suasana malam yang sepi membuat tidak ada satu pun yang mengetahui kedatangan dari kelompok berjumlah sepuluh orang ini.
Sepuluh orang itu berjalan dan sampai di depan sebuah bangunan penginapan, penginapan yang sama dengan yang dipakai oleh Weng Lou, Weng Ying Luan, Lin Mei, dan juga Shan Hu.
Salah satu dari orang-orang itu, yang terlihat paling tua, merupakan seorang pria berusia sekitar akhir dari empat puluhan, memmpin masuk sembilan orang lainnya kedalam penginapan tersebut.
Sesampainya mereka di dalam, mereka langsung disambut oleh seorang wanita berusia tiga puluhan tahun sambil memasang senyum manisnya kepada kesepuluh orang itu.
"Selamat malam, apa kalian datang kesini untuk menginap?" tanya wanita itu sambil tetap memasang senyumnya.
"Ya, kami ingin memesan kamar. Berapa banyak kamar yang masih kau miliki?" tanya pria yang memimpin kelompok itu.
__ADS_1
"Kami masih memiliki empat kamar yang tersisa, dalamnya cukup luas sehingga bisa dipakai untuk dua sampai tiga orang dalam satu tempat tidur," jawab wanita itu dengan sesopan mungkin.
"Kami pesan keempatnya."
Pria itu berbicara sambil melemparkan sekantong uang kepada wanita itu dan langsung ditangkap oleh wanita dengan cepat.
"Baik Tuan, silahkan ikut saya."
Mereka pun dibawa ke lantai dua di mana terdapat empat kamar yang kosong. Para penginap biasanya memesan kamar di lantai satu atau pun di lantai paling atas jadi kamar di lantai dua terkadang selalu kosong.
Setelah sampai di lantai dua, wanita itu pun memberikan kunci kamar kepada pria pemimpin kelompok itu, lalu turun kembali ke lantai satu.
Selang beberapa saat kemudian, pria itu meminta untuk sembilan orang yang mengikutinya untuk berjumpa di hadapannya.
"Kamar kita bagi secara adil, perempuan mengambil dua kamar, laki-laki mengambil dua kamar," ucap pria itu dengan tenang.
Namun kemudian, salah satu dari sembilan orang yang menghadap pria itu pun mengangkat tangan. Dia adalah seorang pemuda berusia sekitar lima belas tahun, dan tampak memakai pakaian serba abu-abu.
"Tapi tetua, laki-laki totalnya berjumlah enam, sedangkan perempuan hanya empat orang-"
Pria itu dengan tenang berbicara kepada pemuda itu, kemudian membagikan kunci kamar kepada mereka.
Kesembilan orang itu pun saling berpandangan kemudian membentuk kelompok untuk sekamar, lalu segera bergegas masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
Tak lama, lorong lantai dua itu pun kembali kosong menyisakan sosok pria pemimpin kelompok itu seorang diri.
Pria itu menatap jalanan kota yang sepi selama beberapa saat, sebelum kemudian melompat keluar, lalu naik ke atas atap bangunan penginapan.
Dengan santai, dia menempatkan dirinya dan duduk dengan tenang menatapi bulan malam yang indah.
Di dalam salah satu dari kamar perempuan, terlihat dua orang gadis berusia empat belas dan lima belas tahun sedang berbaring di atas tempat tidur dan sibuk mengobrol.
"Tak terasa perjalanan kita dari Kastil Keluarga sampai di kota ini memakan waktu lebih dari dua minggu meskipun kita melalui rute yang memakai garis lurus." Salah satu gadis itu berbicara sambil menatap langit-langit kamar.
Gadis ini memiliki rambut berwarna kecoklatan dengan panjang hingga sampai sepunggungnya. Pakaian yang ia kenakan memiliki warna biru tua dengan sebuah lambang keluarga pada bagian dada kirinya.
"Em, jika bukan karena sekumpulan bandit itu menghalangi perjalanan kita, pasti siang tadi kita sudah sampai, dan bisa pergi mencari makanan," jawab gadis yang bersamanya.
__ADS_1
Dia memiliki warna rambut seputih salju yang memiliki panjang hingga sepinggulnya, dengan warna kulit yang sangat putih dan bersih. Kedua bola matanya tampak berwarna merah delima, dan membuatnya tampak sangat cantik dan anggun, setidaknya satu tingkat diatas gadis yang bersamanya.
Baju yang dikenakannya berwarna biru muda dengan lambang keluarga yang sama pada dada kirinya.
Mereka berdua diam selama beberapa saat sebelum kemudian gadis berambut kecoklatan itu bangkit dan merubah posisinya mnejadi duduk, dan menatapi langit malam lewat jendela yang keduanya biarkan terbuka.
"Menurutmu apa yang sedang dilakukan oleh idiot itu saat ini?" tanya gadis berambut kecoklatan itu kepada gadis berambut putih.
"Hm? Entahlah...mungkin dia sedang sibuk berlatih, itu kebiasaannya setiap waktu," jawab gadis berambut putih itu sambil terus menatapi langit-langit kamar.
Gadis berambut coklat itu tersenyum tipis lalu menghela napasnya.
"Mungkin dia akan sangat terkejut jika melihat perkembangan kita saat ini. Waktu itu dia mengatakan bahwa kita akan bertemu tiga tahun lagi, dan saat itu semuanya harus sudah berada di Dasar Pondasi tingkat 12 paling rendah, dan yang belum mencapainya akan mendapatkan hukuman.
Ketika kita bertiga mendengarnya waktu itu, tidak ada salah satu dari kita bertiga yang yakin bisa sampai dalam waktu tiga tahun. Namun lihat sekarang, kau bahkan hampir naik ke ranah Pembersihan Jiwa tahap 7, aku dan Wan sudah naik ke ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 menengah.
Tidak ada yang pernah menyangka nya. Dari surat yang ayahnya berikan, dia berhasil masuk ke Sekte Langit Utara yang terkenal itu, aku yakin dia juga sudah berada di ranah Pembersihan Jiwa seperti kita saat ini." Gadis berambut kecoklatan itu berbicara dengan suara pelan.
"Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya," kata gadis berambut putih melanjutkan pembicaraan yang terhenti selama beberapa detik.
"Aku juga, kuharap kita akan bertemu dalam waktu dekat."
Setelah berbincang selama beberapa menit lagi, keduanya pun memutuskan untuk beristirahat.
Di dalam kamar lainnya yang merupakan salah satu kamar laki-laki.
Terlihat sosok pemuda memakai pakaian berwarna hitam tanpa lengan, dan sedang duduk bersila di lantai, sementara teman-temannya sudah beristirahat.
Pemuda ini memiliki otot-otot yang kekar pada kedua lengannya, dan rambutnya dipotong pendek.
Dia dengan konsentrasi penuh sedang menyerap khasiat dari sebuah pil yang telah ia telan beberapa saat yang lalu.
Tak lama kemudian, dia membuka matanya, dan menghembuskan napas panjang.
"Sedikit lagi, dan aku akan sampai di tahap 6 puncak. Aku akan sampai di tahap 7 dalam beberapa minggu lagi, dan akan bisa mengikuti Turnamen Beladiri Bebas itu dengan mudah. Tunggu saja Lou, kau pasti akan terkejut melihat peningkatan dari diriku," ucap pemuda itu yang kemudian memilih untuk bersemedi kembali.
Sosok dari tiga orang yang telah lama menghilang tanpa kabar, mulai terlihat kembali. Apakah pertemuan empat orang sahabat akan terjadi?
__ADS_1