Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 636. Keputusasaan


__ADS_3

Para pasukan Keluarga Ying sedang dalam ketakutan besar. Mereka tidak menyangka, tugas yang diberikan pada mereka untuk menahan serangan binatang buas, ternyata adalah tugas bunuh diri.


Melihat jumlah ratusan ribu binatang buas di depan mereka, satu-satunya yang terlintas dalam pikiran mereka adalah mereka semua akan mati dan menjadi makanan bagi para binatang buas ini.


"Aku tidak bisa melakukan ini......aku tidak boleh mati di tempat seperti ini......"


"Istriku sedang menunggu di rumah....."


"Aku sudah berjanji akan pulang dengan selamat pada putraku sebelum pergi mengambil tugas ini. Kami rencananya akan pergi ke Menara Leluhur Ying......"


"........apa, aku akan mati di sini.....?"


"Tidak......jika aku tidak ikut dalam perang ini, maka aku mungkin selamat....."


"Aku harus pergi dari sini. Jika berada di sini aku hanya akan mati."


"Benar! Jika kita pergi secara diam-diam, pemimpin tidak akan sadar kalau kita pergi dari sini!"


"Ayo kita pergi! Aku tidak mau mati menjadi makanan binatang buas!"


"Ayo pergi!"


"Pergi!!!!"


Ketakutan pada para prajurit telah mempengaruh rasionalitas mereka. Perasaan takut akan kematian membuat mereka memikirkan cara satu-satunya agar mereka terhindar dari kematian.


Cara itu tidak lain adalah dengan kabur! Kabur sejauh-jauhnya! Semakin jauh mereka, semakin mereka terhindar dari kematian!


Waktu demi waktu berlalu, benih-benih pemberontakan segera tersebar diantara para prajurit Keluarga Ying. Mereka tidak berasal dari Keluarga Ying, dan hanya berkerja kepada mereka karena membutuhkan uang.


Kekuatan mereka hanya berada di ranah Pembentukan Pondasi. Jika dibandingkan dengan para binatang buas yang kekuatan paling lemahnya adalah puncak Dasar Pondasi, mereka hanyalah daging berjalan yang siap dihancurkan kapan saja!


Satu demi satu muncul pemberontak dari tiap satuan prajurit Keluarga Ying. Jumlahnya terus bertambah, bahkan hingga mencapai lebih dari setengah jumlah pasukan yang berjaga di depan pasukan binatang buas.


Pada saat peperangan biasa, biasanya para pemberontak akan langsung dieksekusi di tempat. Mereka dijadikan contoh kepada para prajurit lain agar tidak mencoba-coba untuk memberontak. Dan hasilnya, tidak ada pemberontak yang lain muncul.


Namun hal tersebut terjadi karena jumlah yang memberontak hanyalah beberapa orang saja! Jika jumlahnya bahkan mencapai lebih dari total jumlah pasukan, maka itu bukan lagi pemberontakan, namun sebuah revolusi!

__ADS_1


Komandan pasukan Keluarga Ying hanya diam menyaksikan semua anggota pasukannya yang satu persatu kehilangan akal sehatnya karena ketakutan. Dia juga takut. Dia juga tidak mau mati. Dia juga tidak ingin dimakan oleh binatang buas. Dia juga tidak mau pulang dalam nama saja. Dia memiliki keluarga, seorang istri dan dua orang anak, putra dan putri.


Dia ingin pergi dari sini, lebih dari siapapun di dalam pasukan. Namun dia paham bahwa jika dia pergi, maka seluruh keluarganya akan mati dieksekusi bersamanya oleh Keluarga Ying. Tidak ada pilihan yang tersisa darinya.


Ini adalah resiko bekerja dibawah kendali Keluarga Ying. Mereka mendapatkan fasilitas yang cukup dan tidak kekurangan, namun semuanya datang dengan harga. Dengan keluarga mereka yang tinggal di fasilitas yang disediakan Keluarga Ying kepada mereka, maka secara tidak langsung keluarga mereka menjadi jaminan agar mereka tidak berusaha melakukan hal yang macam-macam.


Kau ingin uang? Aku bisa memberikannya kepadamu! Namun kau harus tau, jika kau melawan perintahku, maka keluarga mu yang akan menanggungnya!


Komandan pasukan memejamkan matanya selama beberapa saat. Dia mengenang istrinya, saat dia pertama kali bertemu dan akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain sebelum kemudian menikah dan dianugerahi sepasang anak, laki-laki dan perempuan.


Dia ingat ketika kedua anaknya untuk pertama kalinya berjalan, dia sangat bahagia. Ketika kedua anaknya bertambah umur dan siap untuk berlatih beladiri, dia sendiri yang mengajarkannya, menjadi guru bagi kedua anaknya. Masih banyak yang ingin dia lakukan dengan anak-anaknya, namun perintah adalah segalanya. Melawan, maka keluarganya yang akan menanggung akibatnya.


"Maafkan ayah. Aku mencintaimu sayang ku. Kumohon jagalah anak-anak hingga mereka bertumbuh dewasa dan menjadi anak-anak yang baik."


Waktu terus berlalu, dan akhirnya sinar matahari pagi mulai muncul dari pegunungan di sebelah timur, mengenai langsung ke arah tenda sang komandan.


Dia membuka kedua matanya. Setelah memantapkan hatinya, dia pun mengenakan helm perangnya dan mengambil pedangnya, lalu berjalan keluar dari tenda.


Saat dia keluar, hanya tersisa sepersepuluh pasukan yang ditugaskan untuk menahan serangan para binatang buas yang masih setia di tempat mereka. Semuanya dalam keadaan yang tidak baik.


Beberapa sedang menangis di tempat mereka sambil berdoa kepada para leluhur mereka. Ada beberapa yang memilih untuk meminum alkohol dan membiarkan diri mereka dalam keadaan mabuk. Ada juga yang tampak sedang memegang pedang dan mengarahkan ke leher mereka sendiri. Tanpa ragu, seorang prajurit menggorok lehernya sendiri. Darah muncrat ke segala arah dan segera membasahi tanah.


Jika mereka harus mati, maka mereka lebih memilih mati di tangan mereka sendiri, dibandingkan harus mati dan menjadi makanan para binatang buas!


Dedikasi seperti patut diberi pujian, bahkan komandan pasukan mereka terdiam sejenak melihat pilihan yang diambil pasukannya. Harus dia akui, bahkan mereka memiliki keberanian yang jauh lebih besar dibandingkan dirinya sendiri.


"Komandan, apa perintahmu?" Sebuah suara terdengar dari samping komandan pasukan.


Dia menoleh dan melihat seorang prajurit muda. Itu adalah prajurit muda yang sama dengan yang memberikannya laporan tadi malam. Bahkan komandan itu terkejut melihatnya masih berada di tempat ini.


"Kenapa.....kau masih ada di sini? Kenapa kau tidak pergi? Kau tau kalau kau hanya akan mati di sini. Buat apa terus bertahan dan melakukan misi bunuh diri ini? Kau masih muda, masih banyak hal yang bisa kau lakukan," ucap komandan pasukan itu pada prajurit mudah di sampingnya.


Prajurit itu terdiam sejenak, sebelum kemudian tersenyum pada komandannya.


"Aku tidak bisa. Ayah, ibu, dan kakak perempuan ku tinggal di dalam rumah yang diberikan oleh Keluarga Ying. Jika aku kabur dan beritanya terdengar oleh Keluarga Ying, maka mereka semua akan mati dieksekusi. Aku lebih memilih mati seorang diri, daripada mati dan membawa keluarga ku untuk mati bersama ku. Setidaknya jika aku mati dalam perang, keluarga ku akan mendapatkan uang pensiunan ku. Uang itu bisa dipakai agar kakak perempuan ku bisa menikah. Jika mereka bahagia, aku tidak masalah harus mati dengan cara apapun."


Penjelasan prajurit muda itu benar-benar mengejutkan komandan pasukan. Sebuah senyuman terlihat di wajahnya. Dia menepuk pundak prajurit muda itu sebelum kemudian berbicara, "Terima kasih, kau memberikan harapan baru bagiku. Semoga dengan kematian ku, anak-anak ku bisa membeli beberapa teknik beladiri dan bergabung dengan sebuah Perguruan Beladiri. Akan lebih bagus jika itu bukan Perguruan Beladiri yang dinaungi oleh Keluarga Ying."

__ADS_1


Prajurit muda itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan komandannya.


"Semuanya, dengarkan perintah terakhir dari ku! Ayo kita bunuh sebanyak mungkin binatang buas dan buat keluarga kita bahagia karena kematian kita! Hahahaha!" Komandan pasukan Keluarga Ying mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara


Para prajurit lain mendadak merasakan api semangat membakar dada mereka. Wajah putus asa mereka segera menghilang begitu mendengar kata 'keluarga' yang dikatakan oleh komandan mereka.


"Komandan benar, ayo kita habisi makhluk-makhluk tak berakal itu! Akan kubawa sebanyak mungkin dari mereka mati bersama ku!"


"Aku akan membawa sepuluh!"


"Aku akan membawa puluhan!"


"Aku akan membawa lebih dari seratus bersama ku!"


Seruan semangat mereka segera memenuhi gerbang depan kota. Komandan mereka mengangguk melihat semangat yang ditunjukkan oleh pasukan mereka.


"Kalau begitu, aku akan membawa ribuan bersama ku. Aku akan membuatkan kita semua lautan darah yang akan menjadi kuburan kita semua!"


"Demi keluarga kita!"


"Demi anak-anakku!"


"Demi pacarku!"


"Demi....ah sialan, aku tidak tau lagi, ayo habisi mereka!!!"


Para prajurit segera mengambil senjata mereka dan membentuk sebuah barisan memanjang yang menghadap ke arah pasukan binatang buas.


Ribuan binatang buas menanggapi mereka dan meraung marah ke arah mereka semua. Namun bukannya takut, para prajurit justru tampak semakin bersemangat.


"Pasukan ku! Matilah dan bawa para binatang buas itu bersama kita ke liang kubur!"


Dengan begitu, lebih dari seratus prajurit yang ada segera melesat ke arah pasukan binatang buas. Pasukan binatang buas meraung sekali lagi dan ikut melesat ke arah pasukan Keluarga Ying.


Para prajurit menatap dengan mata memerah. Kekuatan hidup mereka terbakar hingga membuat umur mereka terus berkurang. Namun kekuatan mereka dengan cepat melonjak naik.


Ketika kedua pasukan sudah saling mendekat, prajurit manusia tidak terlihat bersiap melakukan serangan apapun, mereka justru memukul perut mereka sendiri. Mereka memukul Dantian mereka!

__ADS_1


Laju mereka semakin bertambah, dan mereka memilih untuk melesat masuk ke antara para binatang buas, tanpa menghiraukan serangan yang mendarat di tubuh mereka. Saat mereka semua sudah masuk cukup dalam di lautan binatang buas, kekuatan hidup yang terbakar dalam tubuh mereka segera menghilang, dan kemudian.....


BOOOMMMM!!!!!


__ADS_2