Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 423. Pertarungan Sengit Pada Seleksi Kedua


__ADS_3

"Maaf sudah membuat kalian menunggu, para penonton!!!! Waktu beristirahat dan persiapan telah selesai! Sekarang, mari kita mulai, babak seleksi kedua!!!!"


DANNGGGG!!!!!!


Sama seperti sebelumnya, suara gong sekali lagi menggema di lapangan arena, membuat semangat para penonton yang ada menjadi terbakar.


"UWWAAAHHH!!!!"


"Segera mulai seleksi keduanya!!! Aku sudah lama menunggu!!!!"


"Akhirnya!!! Setelah menunggu berjam-jam, seleksi kedua pun akhirnya dimulai!!!!"


Penonton semuanya berseru dengan bersemangat. Satu persatu dari mereka menyeru-nyerukan nama dari para peserta turnamen yang ada di atas arena.


Senyuman Zu Zhang semakin lebar melihat semangat para penonton itu dan kemudian mengalihkan tatapannya pada para peserta yang ada di arena.


"Para peserta, ambil kertas-kertas ini! Lapangan arena telah dibagi menjadi seratus bagian, dan kalian akan mengisinya sesuai dengan susunan yang ada di kertas tersebut!


Pertarungan kalian sudah di tentukan di kertas tersebut. Dimana kalian akan bertarung, siapa yang kalian lawan, semuanya sudah dituliskan di kertas yang aku bagikan ini! Kalian harus mengikutinya, atau jika tidak maka kalian akan di diskualifikasi!"


Zu Zhang mengayunkan tangannya, dan setumpuk kertas pun muncul di udara, lalu terbang ke arah seratus peserta turnamen.


Masing-masing peserta mendapatkan satu kertas tersebut, dan mereka semua segera membacanya dengan baik-baik. Tak perlu waktu lama, mereka segera berpencar dan menduduki tempat yang sudah ditentukan pada mereka semua.


Seratus bagian arena pun segera terisi semuanya.


Begitu semuanya telah terisi sesuai dengan daftar yang diberikan pada mereka, Zu Zhang pun kembali melayang lebih tinggi di udara.


"Baiklah, para peserta semuanya!!!! Pertarungan, dimulai!!!!!"


Suara Zu Zhang terdengar bagai sebuah 5anda yang jelas bagi semua peserta turnamen yang ada.


Mereka segera kembali bergerak, dan menuju ke arena dimana mereka akan bertarung.


Segera seratus bagian arena yang terisi sebelumnya, kini menjadi lima puluh yang terisi oleh masing-masing bagian arena diisi oleh dua peserta yang akan bertarung.


***


Di salah satu bagian arena, dimana Weng Lou saat ini berada.


Dia berhadapan dengan seorang pria tinggi yang merupakan lawan pertamanya di seleksi kedua ini.


Pria tersebut memiliki tinggi dua setengah meter, dan memegang senjata tombak yang panjangnya mencapai 3 meter. Kekuatan yang ditunjukkan oleh pria ini adalah Ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 puncak, sementara Weng Lou yang menyembunyikan kekuatan penuhnya, hanya menunjukkan dirinya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 awal.


Lawannya menatap Weng Lou dengan tatapan rendah sambil tersenyum mengejek. Tapi meski begitu, dia tidak memulai pertarungan dan diam menatap Weng Lou selama beberapa saat.


Dirinya terus mengamati tubuh Weng Lou dari atas hingga bawah sampai dirinya akhirnya pun puas melihat-lihat tubuh Weng Lou dan segera melangkah maju.


"Nak, dari yang kulihat kau sepertinya berasal dari keluarga cukup kaya. Serahkan semua barang berharga yang kau miliki, dan aku tidak akan melukai mu dengan serius dalam pertarungan pertamamu ini," ucap pria itu yang kemudian berhenti melangkah begitu jaraknya dengan Weng Lou hanya satu meter saja.


Weng Lou yang jauh lebih pendek darinya harus mengangkat tinggi kepalanya, untuk bisa melihat wajah pria tinggi itu dan melihat senyum mengejeknya.


"Pria ini, dia sengaja ingin mengejek diriku yang lebih pendek darinya."


Urat-urat muncul di kepala Weng Lou. Dia terlihat marah dan kesal melihat pria tinggi itu berdiri dengan tegak di hadapannya. Terlebih melihat senyum mengejek darinya, semakin membuat Weng Lou semakin kesal.


"Ye Lao, dalam peraturan Kitab Keabadian, jika aku menyebabkan orang ini tidak bisa berdiri lagi, tidak akan melanggarnya bukan?"


"Hm? Apa yang kau bicarakan?" Ye Lao tampak seolah-olah tidak paham akan pertanyaan dari Weng Lou, namun sebenarnya dia tau dengan jelas maksud pertanyaan Weng Lou.


Dia saat ini berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa karena melihat ekspresi dari Weng Lou.


"Secara teknis, seharusnya kau melanggar salah satu peraturan yang ada di Kitab Keabadian, tapi karena ini merupakan pertarungan, jadi itu tidak dihitung sana sekali."

__ADS_1


Qian Yu yang menjawab pertanyaan dari Weng Lou, dirinya juga paham maksud dari Weng Lou, sehingga menjelaskannya dengan mudah pada Weng Lou.


"Baguslah jika seperti, itu. Aku tidak harus takut tingkat praktik ku turun hanya karena melanggar peraturan bodoh yang dibuat oleh Zhi Juan,"ucap Weng Lou yang kemudian mengepalkan tangannya dengan kuat.


Alis mata pria tinggi itu terangkat melihat Weng Lou yang ingin menyerangnya. Senyum mengejek nya semakin lebar dan dia pun mendekatkan wajahnya dengan Weng Lou.


"Apa yang ingin kau lakukan nak? Memukulku? Bahkan dengan semua kekuatan mu, kau hanya akan berakhir menjadi sampah tak berguna!"


"Ah, benarkah? Lalu coba rasakan pukulan ku ini!!"


Tangan Weng Lou dengan cepat melesat dan memukul rahang bawah pria tinggi tersebut, dan membuatnya terlempar mundur beberapa langkah.


Namun dia tidak langsung terjatuh ke tanah. Dengan cepat dia menyeimbangkan kembali tubuhnya dan berdiri tegak. Dia menatap Weng Lou yang baru saja memukulnya dengan tatapan marah.


Rasa sakit bisa dia rasakan dari rahangnya yang baru saja dipukul oleh Weng Lou. Bohong jika dia mengatakan pukulan itu bukanlah apa-apa baginya.


"Bocah sialan! Berani kau memukul ku?!" Pria tinggi itu meraung marah.


Dia mengangkat tombak miliknya dan mengarahkannya pada Weng Lou. Melangkah maju, pria tinggi itu pun melancarkan serangan balasan pada Weng Lou.


"Kau tidak perlu repot-repot memberikanku serangan balasan. Akan ku pastikan kau tidak bisa berdiri lagi seumur hidup mu!!"


Weng Lou menapakkan kakinya ke tanah, dan melesat dengan cepat ke arah pria tinggi tersebut. Tangan kirinya terkepal, sedangkan tangan kanannya dia buka lebar dan diarahkannya ke depan.


Hap....


Weng Lou menangkap tombak pria itu dan kemudian tangan kirinya memukul dengan keras tombak sepanjang tiga meter tersebut.


Krack... 11 11 W WE W!!!


Tombak itu patah menjadi dua, membuat wajah pria tinggi itu membelalak karena terkejut.


"Ka-Kau!?"


"Makan ini!!"


"Argh!!! AAA!!!! AAAAA!!!!"


Satu menit berlalu, Weng Lou pun pergi meninggalkan bagian arena tersebut, bersama dengan pria tinggi yang menjadi lawannya yang telah terkapar di tanah dalam kondisi mengenaskan.


Terlihat seluruh tubuhnya mengalami luka lebam. Pada bagian punggungnya terdapat beberapa bekas pukulan yang berwarna biru keunguan, dan juga kedua kakinya mengalami patah tulang berat yang mana bahkan bergerak saja dia tidak sanggup.


Peserta lain yang baru saja datang pada bagian arena itu menatap pria tinggi tersebut dengan keheranan.


"He-Hei...kau tidak apa-apa?"


***


Sementara itu pada bagian arena lain dimana lokasi Weng Ying Luan berada.


"Ho? Aku tidak menduga kita berdua akan bertemu secepat ini."


Tepat di hadapan Weng Ying Luan, berdiri sosok Yang Guang yang tersenyum kepadanya dan dibalas balik oleh Weng Ying Luan.


"Kau, kalau tidak salah ingat namamu, Yang Guang bukan? Aku masih ingat dengan jelas kecepatan mu saat menghabisi para penjaga di restoran itu tiga minggu yang lalu," ucap Weng Ying Luan yang berjalan mendekat.


"Benarkah? Itu bagus, dengan begitu aku tidak perlu lagi repot-repot menampilkan contoh dari kekuatan ku padamu."


Mereka berdua tersenyum satu sama lain, dan detik berikutnya sosok keduanya pun menghilang dari tempat mereka berdiri sebelumnya.


BAMMM!!!!


Tepat di tengah bagian arena tempat mereka bertarung, sebuah ledakan terjadi dan sosok keduanya pun muncul di ujung bagian arena masing-masing.

__ADS_1


"Sepertinya besar kekuatan dari elemen cahaya mu itu tidak jauh lebih besar dari kekuatan Qi tanpa unsur milikku," ejek Weng Ying Luan


"Tapi sepertinya kecepatan dari elemen cahayaku jauh lebih cepat dari Qi tanpa unsur milik mu itu," balas Yang Guang dengan nada mengejek sama seperti Weng Ying Luan.


"Ha?! Apa kau bilang?!"


"Aku bilang elemen cahaya ku jauh lebih cepat darimu!"


Ekspresi Weng Ying Luan dan Yang Guang yang sebelumnya saling tersenyum satu sama lain mendadak berubah.


Mereka berdua saling memasang wajah kesal satu sama lain, sebelum kemudian mereka pun memasang posisi siap bertarung.


"Besar juga mulutmu, ha!"


"Coba kita liat siapa yang sebenarnya banyak omong!"


CK....


"Gelombang Penghancur!"


"Ledakan Cahaya!"


Psss-


Shhuuu-


BAMMM!!!!!


Ledakan kembali tecipta dan kemudian mereka berdua pun bergerak menyerang.


"Ha!"


Tssshhh-!!!


"Lambat!"


Buck...track!!


""HOAAA!!!""


Krack......BRUAACKKK!!!


Baik Weng Ying Luan, atau pun Yang Guang saling melesatkan serangan satu sama lain tanpa henti. Mereka terus beradu serangan hingga lima menit kemudian keduanya pun mengambil jarak satu sama lain.


"Prediksi ku ternyata benar, kau kuat. Tidak salah aku mengakui mu," ucap Yang Guang yang tersenyum lebar.


"Kau juga, sejak melihat mu menghabisi para penjaga waktu itu tanpa rasa takut, aku tau kalau kau pasti sangat kuat!" Weng Ying Luan ikut berbicara sambil tersenyum balik padanya.


Mereka berdua pun diam selama beberapa saat, sebelum akhirnya Weng Ying Luan merubah sikapnya yang siap bertarung menjadi berdiri santai menghadap Yang Guang.


"Namaku Ying Luan, menyenangkan bisa bertarung denganmu."


Yang Guang tertawa pelan melihat itu, dia pun merubah sikapnya sama seperti Weng Ying Luan dan berjalan mendekatinya.


"Aku juga, menyenangkan bisa bertarung melawan orang kuat seperti dirimu, Ying Luan. Karena kau sudah tau namaku, jadi aku tidak perlu memberitau mu lagi."


Keduanya saling bersalaman satu sama lain setah berkenalan.


"Aku rasa kita tidak perlu bertarung sekuat tenaga pada babak seleksi kedua ini, itu hanya akan merugikan kita berdua." Weng Ying Luan memberikan pendapatnya.


"Kau benar, tidak akan bagus jika kita bertarung habis-habisan pada babak seleksi ini, itu sama sekali tidak ada untungnya."


"Jadi, seperti yang kita berdua pikirkan..."

__ADS_1


"Ya...kita berdua...."


""Seri.""


__ADS_2