
Weng Lou menatap dengan datar pada kakinya yang terpotong.
Dia kemudian menatap iblis hati yang sepertinya tidak akan berhenti hanya dengan memotong satu kaki miliknya. Kedua tombak kapak di tangannya sudah kembali diayunkan.
Kali ini kedua tombak tersebut diayunkan secara vertikal.
Mata Weng Lou menyipit saat melihat kedua tombak tersebut.
Menarik napas dalam. Kaki Weng Lou tumbuh kembali, sama seperti tangan dan bagian bawah tubuh iblis hati yang dipotong oleh Weng Lou sebelumnya.
Pedang Kehampaan berubah menjadi dua dan dipegang oleh kedua tangan Weng Lou masing-masing satu.
"HHAAAAHHH!!!!!"
Untuk pertama kalinya, Weng Lou berteriak nyaring dan bersamaan dengan teriakannya itu, wujudnya berubah menjadi kehidupan kelima puluh namun dengan usia yang jauh lebih mudah.
*TRANGGG!!! KLANG!*
Pedang Kehampaan diayunkan. Pedang dan tombak saling beradu dengan kecepatan yang luar biasa.
Perlahan namun pasti, Weng Lou berubah dari posisi bertahan menjadi menyerang. Dia mulai mendorong iblis hati mundur sedikit demi sedikit.
Weng Lou dalam wujud kehidupan kelima puluh nya segera berada di atas angin. Iblis hati tidak bisa mengimbangi tiap serangan dari Weng Lou. Perubahan tiba-tiba ini membuatnya merasa terkejut.
"Kau dan sembilan puluh sembilan kehidupan terdahulu mu! Sungguh menjengkelkan!!" Dia meraung marah.
Namun meski begitu dia tetap dipaksa untuk mundur saat kedua pedang Weng Lou terus menerus menekannya. Nyatanya, kedua tombaknya telah mengalami keretakan berkali-kali setiap beradu dengan pedang Weng Lou, namun dia dengan cepat memulihkannya kembali seperti semula.
Tak berapa lama, iblis hati menemukan bahwa dia sudah didorong mundur hingga mencapai ujung bidang tanah.
Situasi dimana Weng Lou yang mengalaminya sebelumnya, kini dialami oleh iblis hati. Hal ini membuatnya merasa jengkel sekaligus tertekan. Dia ingin keluar dari situasi ini, tapi Weng Lou tidak memberikannya celah untuk pergi merubah posisi.
Ini sama seperti yang dia lakukan pada Weng Lou sebelumnya, hanya saja posisi mereka berdua kini tertukar.
"Bajingan sialan!!!! Aku tidak akan menerima ini!!!"
Dari punggung iblis hati, sepasang tangan lainnya mendadak muncul. Keduanya memegang perisai berbentuk heksagon yang tiap sisinya sama panjang.
Tanpa menunda sedikitpun, iblis hati langsung mendorong perisai di kedua tangannya yang baru saja tumbuh dari punggungnya pada Weng Lou.
Dahi Weng Lou mengerut melihat ini.
Kedua Pedang Kehampaan segera menghilang dari kedua tangannya yang kemudian digantikan dengan dua buah cambuk hitam yang dipenuhi duri hitam.
Bersamaan dengan itu, wujud Weng Lou kembali berubah menjadi kehidupan ketujuh puluh tiga.
Kedua cambuk diayunkan, kedua ujungnya membentur keras pada kedua perisai iblis hati, membuatnya tergeser.
Iblis hati dengan cepat menusukkan kedua tombak kapak nya, akan tetapi cambuk Weng Lou itu seperti hidup dan meliuk melilit kedua tombak tersebut.
Otot-otot Weng Lou membesar. Dia menarik sekuat tenaga dan kedua tombak langsung hancur berkeping-keping. Sebelum sempat untuk menciptakan kedua tombak kembali, cambuk sudah lebih dulu menghantam kepala iblis hati dan menghancurkannya seperti balon yang rapuh.
Cambuk lainnya menghantam dadanya, merobek tubuhnya hingga hampir terbelah dua.
Dalam keadaan normal, semua makhluk hidup seharusnya sudah mati jika kepala mereka mati, namun sayangnya iblis hati bukanlah makhluk hidup, sehingga serangan mematikan yang menghancurkan kepalanya sekalipun tidak akan membunuhnya.
__ADS_1
Tapi tentu saja, kepalanya yang hancur itu membuatnya hampir gila dalam rasa sakit.
Keempat tangannya secara bersama bergerak dan menangkap kedua cambuk Weng Lou. Dalam satu tarikan, dia menarik tubuh Weng Lou.
Sayangnya Weng Lou bukanlah orang bodoh tanpa pengalaman sedikitpun. Dia segera melepaskan genggamannya pada cambuknya dan membiarkan iblis hati menarik udara kosong.
Iblis hati menyadari hal ini saat tidak merasakan perlawanan apapun ketika menarik kedua cambuk tersebut. Sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan, dia menumbuhkan kembali kepalanya serta menyatukan luka di dadanya yang hampir terbelah karena cambuk Weng Lou.
Kedua mata iblis hati tidak lagi berwarna hitam. Itu telah berubah menjadi merah, merah terang. Warna yang dipenuhi dengan rasa amarah, dendam, dan juga rasa hina yang tertumpuk bersama.
"Jika aku tidak bisa menang melawan mu, maka kau juga tidak akan bisa membunuh ku!" seru iblis hati yang sudah dipenuhi dengan amarah.
Kedua cambuk di tangannya segera berubah menjadi cambuk yang berkali-kali lebih besar yang kemudian diayunkan ke belakang dan dengan stau tarikan kencang, dilecutkan menuju bidang tanah.
Bidang tanah itu terguncang hebat karena hentakan pada cambuk.
Sebuah lubang yang cukup dalam tercipta dari dampak serangan cambuk iblis hati.
Wajah Weng Lou menjadi gelap melihat hal itu. Dia tau apa yang hendak dilakukan oleh iblis hati. Karena dia tau, dia tidak akan membiarkannya melakukannya.
"Dia tau tidak bisa mengalahkan mu, maka dari itu dia berpikir untuk kabur dan bersembunyi dari mu. Itu adalah pilihan terbaik baginya jika tidak mau dihancurkan untuk kesekian kalinya. Langkah cerdas, tapi juga bodoh pada saat yang sama. Jika iblis hati menyerah untuk bertarung, itu sama saja dia menyatakan diri bahwa dirinya kalah. Dan hanya ada satu hal yang terjadi pada iblis hati yang menyerah, itu adalah kematian. Jadi dia menggali kuburannya sendiri tanpa disadarinya," ujar Kong Lou yang selama ini menonton dari pinggiran bidang tanah dalam diam.
Iblis hati tidak mendengar perkataannya dan dengan cepat merubah dirinya menjadi berkali-kali lebih kecil dan buru-buru masuk ke dalam lubang dalam bidang tanah.
Lubang itu dengan cepat menutup kembali. Weng Lou di tempatnya hendak menghentikannya untuk kabur, tapi setelah mendengar perkataan Kong Lou, dia tidak jadi melakukannya dan memilih untuk menonton dalam diam bersama dengan Kong Lou yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Sementara itu, di dalam bidang tanah, iblis hati yang merasa dirinya sudah berhasil kabur dari Weng Lou mendengus jengkel. Dia merasa malu pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengalahkan dan membunuh Weng Lou.
Tapi pada saat yang sama, dia lega Weng Lou tidak bisa membunuhnya, dengan begitu dia bisa tetap hidup. Dia akan mengumpulkan kekuatan yang lebih besar lagi sampai kemudian dia siap untuk bertarung lagi dengan Weng Lou dan membunuhnya, lalu mengambil alih tubuhnya.
Yang dilakukan iblis hati sebelumnya adalah tindakan terpaksa. Untungnya dia menggunakan cambuk yang tercipta dari asap hitam, sehingga ketika cambuk kembali menjadi asap hitam, lubang bisa diperbaiki dan menutup sempurna kembali.
"Hmp! Di masa depan, aku pasti membalaskan semua penghinaan yang kau berikan ini! Tunggu saja, Kong Lou!"
Pada saat itulah, ekspresi iblis hati tiba-tiba berubah menjadi buruk saat dia melihat ujung tangannya yang ternyata telah berubah menjadi asal hitam yang kemudian bergabung dengan bidang tanah.
Dia bisa merasakan kesadarannya pada asap hitam tersebut menghilang begitu saja.
Tak berapa lama, seluruh tangannya telah berubah menjadi asap hitam, yang kemudian dilanjutkan dengan kedua kakinya.
"Ti-Tidak! Aku tidak mengaku menyerah!!! Sialan!!!! Hentikan!!! Kau adalah aku! Kenapa kau melakukan ini?! Kita ada Dunia Asal Mula, kau merupakan bagian dariku!!!"
Iblis hati benar-benar ketakutan begitu tubuhnya ikut berubah menjadi asap hitam yang menyatu dengan bidang tanah.
Perlahan, lehernya berubah menjadi asap hitam dan sampai pada lehernya.
"Aaghhhh!!!!! Kong Lou!!!!! Aku tidak mengakui ini!!!!! Aku tidak mengakui in-"
Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, iblis hati telah sepenuhnya berubah menjadi asap hitam yang menyatu sepenuhnya dengan bidang tanah. Ruang tempat dia berada sebelumnya kini benar-benar tertutup, tanpa ada ruang yang tersisa.
Di permukaan bidang tanah, Weng Lou bisa merasakan iblis hati yang telah mati dan menyatu dengan bidang tanah.
Setelah kematiannya, kini bidang tanah telah kehilangan kehendak dari Dunia Asal Mula, yang berarti itu adalah milik Weng Lou sepenuhnya sekarang, tanpa ada kekuatan yang mengganggunya sebagai pemilik satu-satunya.
Dan dengan tidak adanya kehendak dari bidang tanah Dunia Asal Mula, artinya Weng Lou bisa lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu menyatukan diri dengan bidang tanah.
__ADS_1
"Bagaimana menurut mu? Apakah kepala mu masih mendengarkan suara-suara berisik itu?" tanya Kong Lou pada Weng Lou yang kini telah berdiri di sebelahnya..
Weng Lou terdiam. Dia tidak segera menjawab, melainkan merenung selama beberapa saat sebelum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah tidak mendengarkannya lagi, rasanya aku begitu bebas dan kepala ku terasa ringan. Hati ku yang sebelumnya sering merasakan beberapa perasaan aneh, kini terasa begitu lega. Rasanya segala beban pada dirimu kini telah menghilang," ujar Weng Lou.
Kong Lou mengangguk mengerti. "Aku juga dulu merasa seperti itulah. Kau tau, saat aku mengambil bidang tanah ini, aku mendengarkan ocehan dari kesadaran yang tercipta oleh kehendak Dunia Asal Mula setiap harinya. Dia terus-terusan mengutukku dan mengatakan bahwa aku adalah kesalahan yang diciptakannya. Hahahaha......dia benar-benar berisik. Yang bisa kulakukan hanyalah menempatkan bidang tanah ini di suatu tempat setelah mendapatkan mendapatkan kekuatan kehampaan tanpa bantuan bidang tanah ini.
Rasanya sangat lega waktu itu. Telinga ku tidak lagi mendengar suaranya pada saat itu, sehingga aku membiarkan semua rencana yang dia buat. Pada akhirnya aku melemparkan bidang tanah di ke dalam Gunung Kongxu untuk menjadi salah satu bagian bidang tanah yang bisa dipakai oleh orang-orang ku ketika ada yang cocok untuk memilikinya."
Setelah Kong Lou mengatakan hal tersebut, dia tidak berbicara lagi selama beberapa saat, begitu juga dengan Weng Lou.
Sepuluh menit kemudian, Weng Lou baru berbicara. "Sekarang, sepertinya aku sudah siap untuk menyatu dengan bidang tanah ini. Apakah kau mau membantuku?"
Senyuman muncul pada wajah Kong Lou saat dia menjawab, "Sepertinya kau sudah membuat keputusan mu. Hahahaha.....aku dengan senang hati akan membantu mu."
"Terima kasih. Ah, benar juga. Apa yang akan terjadi padamu setelah aku menyatu dengan bidang tanah ini? Bukankah butiran jiwa mu ada dalam bidang tanah ini?"
"Tidak perlu khawatir. Aku akan memindahkan butiran jiwaku dalam jiwa mu. Sampai aku berhasil memulihkan lebih banyak jiwa ku, aku akan tetap bersama dengan mu, tidak apa kan?"
"Tentu saja. Aku tidak keberatan. Justru aku berterima kasih padamu. Aku terlahir dari jiwa nya yang tertidur sehingga membuat kita berdua memiliki kesadaran masing-masing. Tapi kau tidak memaksa untuk mengambil alih kesadaran ku, seperti yang hendak di lakukan iblis hati. Terima kasih banyak."
Kong Lou tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengangguk dan kemudian menempat tangannya di atas kepala Weng Lou.
"Kau akan kembali sadar dan menemukan dirimu berada di lorong yang sama yang kau masuki sebelumnya. Tidak ada lagi kegelapan di tempat itu, hanya lorong gua biasa. Aku akan memberikan arahan padamu nanti saat kau sudah sadar. Sekarang, kembalilah."
Dengan satu hentakan pada kepalanya, Weng Lou merasakan kehampaan yang sama seperti sebelumnya yang membuat semua indranya menghilang. Namun ada perbedaan besar saat ini. Dia tidak lagi merasa tidak nyaman, dia kini seolah telah terbiasa dengannya. Ini ada pengaruh dengan terbunuhnya iblis hati yang adalah kehendak dari Dunia Asal Mula.
Meski dia belum menyatu dengan bidang tanah Dunia Asal Mula, namun kekuatan Kehampaan telah terukir dalam tubuhnya.
Tak berapa lama kemudian, dia mulai merasakan kembali indra perabanya yang kemudian diikuti dengan semua indra lainnya.
Yang terjadi berikutnya, pandanganya menjadi kabur. Kegelapan yang dia lihat berubah dan dia kini menatap sebuah gundukan tanah yang ada di depannya.
Berkedip. Weng Lou menemukan dirinya terbaring di atas tanah. Dia segera merubah posisinya menjadi duduk dan menatap sekitarnya. Kepalanya terasa sedikit pusing selama beberapa saat. Setelah beberapa waktu, dia akhirnya merasa pulih seutuhnya.
"Huuuu......sungguh pengalaman yang luar biasa," gumamnya.
Weng Lou bangkit berdiri dan menyusuri lorong tempat dia berada saat ini, hingga akhirnya dia tiba di ujung lorong, yang mengarah pada sebuah taman kecil yang ternyata masih berada dalam gua.
Terdapat lubang di atas langit-langit yang tembus hingga keluar, sehingga cahaya matahari bisa masuk dan menyinari taman kecil tersebut.
Sebuah senyum kecil muncul di wajah Weng Lou saat melihat sebuah batu nisan di tengah-tengah taman kecil itu.
Dia segera berjalan memasuki taman yang ditutupi oleh rerumputan setinggi lututnya itu. Dengan langkah pasti dia mendekati batu nisan di tengah-tengah taman dan menemukan sebuah gundukan di bawahnya.
Pada batu nisan, tertulis nama seorang yang begitu dicintai oleh Weng Lou selain keluarganya sendiri dan juga beberapa baris kalimat.
'Di sini terbaring istriku tercinta, Lin Mei. Dia telah memasuki tidur abadinya dan di kuburkan di tempat ini. Dia mati karena ku, karena aku yang tidak bisa menjaga dan melindunginya. Segala penyesalan itu ada pada ku, suaminya, orang yang seharusnya selalu bersama-sama dengannya. Kini dia beristirahat dengan tenang di tempat ini, semoga di kehidupan selanjutnya dia bisa menjalani kehidupan yang damai.'
Weng Lou menarik napas dalam membaca tiap kalimat itu.
Dengan lembut dia berlutut di atas tanah sebelum kemudian menundukkan kepalanya, tepat di atas gundukan tanah.
"Maaf karena lama tidak mengunjungi mu."
__ADS_1