
Di tengah Pulau Fenshu, terdapat sebuah bangunan berbentuk seperti istana yang sangat megah.
Istana tersebut memiliki luas dua ratus kali lima ratus meter, dan memiliki tembok raksasa yang mengelilinginya. Terdapat dua lapangan besar yang berada di samping kiri dan kanan istana itu, dan di bagian depan istana terdapat sebuah taman yang indah dan ditanami oleh berbagai macam jenis tumbuhan.
Du Zhe membuka lebar mulutnya ketika dirinya dan Weng Lou sampai di atas istana itu dengan mengendari sebuah pedang terbang
Istana ini jauh lebih besar daripada istana di Kekaisaran Fanrong. Perbandingannya sama seperti sebuah rumah mewah dengan rumah sederhana. Kedua lapangan yang berada di samping kiri dan kanan istana memiliki luas yang sama besarnya dan terdapat banyak sekali tempat latihan para prajurit yang jauh lebih lengkap dibandingkan dengan yang pernah dia lihat.
Di taman depan istana, beberapa binatang terlihat berkeliaran bebas, seperti rusa, kuda, dan bahkan ada beberapa binatang buas yang tidak terlalu berbahaya di dalamnya. Du Zhe tidak bisa menahan rasa takjub nya melihat semua itu. Dia bagai dibawa menuju ke dalam mimpi indah oleh Weng Lou.
Weng Lou tersenyum melihat reaksi muridnya tersebut, dia mengendalikan pedangnya untuk membawa mereka turun.
Di depan pintu istana, terlihat beberapa orang telah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka. Para awak kapal Weng Lou juga sudah ada disitu, mereka sudah lebih dulu dibawa oleh Weng Lou, sementara Du Zhe masih asik berlatih bersama Kera Hitam Petarung.
"Du Zhe! Akhirnya kau datang juga!"
"Kami sudah menunggu mu!"
"Du Zhe!"
Mereka satu persatu mendekati Du Zhe, sementara Weng Lou membiarkan mereka dan memilih berjalan ke arah orang-orang yang ada di belakang mereka. Wajah mereka tampak asing bagi Weng Lou, namun dia bisa dengan cepat mengetahui bahwa semuanya adalah bawahan Chizi Ryuan yang kini telah terbebas dari kekangannya.
"Selamat sore, para Jenderal semua. Kuharap kalian tidak marah karena aku meminta kalian untuk datang dan mendengarkan beberapa kata dari ku," ucap Weng Lou sambil tersenyum lebar pada mereka semua.
Aura kekuatan yang mereka keluarkan semuanya telah berada di ranah Penyatuan Jiwa, yang paling lemah berada di tahap 3 dan yang paling kuat hampir berada di tahap 6. Namun Weng Lou sama sekali tidak merasa takut dengan aura yang mereka keluarkan, justru dia tersenyum lebar sebagai balasan pancaran yang mereka keluarkan.
Senyuman Weng Lou itu mengandung banyak sekali misteri dan rahasia bagi para Jenderal di depannya, mereka memilih diam dan dengan cepat membawa Weng Lou dan yang lainnya masuk ke dalam istana. Mereka berjalan menuju ke sebuah ruangan berukuran dua puluh kali sepuluh meter dengan sebuah meja panjang yang diletakkan di tengah ruangan.
Tanpa disuruh, Weng Lou sudah duduk di salah satu kursi, dan diikuti oleh para Jenderal lalu awak kapal Weng Lou dan Du Zhe yang terlihat ragu-ragu sejenak. Bagaimana tidak, kursi tempat mereka duduk dibuat dengan sebuah batu giok berwarna biru dan memancarkan hawa sejuk yang jelas harganya tidaklah murah sama sekali.
Ketika semuanya telah duduk, salah satu Jenderal yang terlihat paling tua bangkit berdiri dan menatap ke arah Weng Lou dengan tenang.
"Baiklah, kami semua sudah berkumpul di sini, sekarang bisakah kau memberitahu kami disini, apa yang ingin kau katakan?" tanyanya dengan suara yang juga tenang, seakan dia adalah sebuah pohon yang telah berusia ratusan tahun dan telah melalui banyak sekali siklus kehidupan.
Weng Lou tersenyum dan mengangkat bahunya. Dia mengeluarkan Samsara dari sarungnya, dan segera semua Jenderal yang ada di situ bangkit berdiri dan ikut mengeluarkan senjata mereka. Tampak wajah mereka serius dan siap bertarung dengan Weng Lou.
"Pfft- Bahahahaha......ada apa dengan kalian? Tidakkah kalian terlalu tegang? Aku tidak bisa berbicara dengan baik jika kalian menodongkan senjata seperti itu padaku." Weng Lou mengangkat kedua tangannya, tanda bahwa dia tidak berniat melakukan sesuatu yang dianggap sebagai ancaman oleh para Jenderal.
__ADS_1
Jenderal yang sebelumnya berbicara dengan Weng Lou memicingkan matanya. Setelah beberapa saat, dia pun menghela napasnya lalu segera memasukkan kembali sebuah pedang besar yang ada di tangan dan segera mengangkat tangan kirinya, memberikan tanda pada para Jenderal lain untuk menyimpan senjata mereka juga.
Setelah semuanya menyimpan kembali senjata mereka, Weng Lou pun meletakkan Samsara, pedang kembarnya ke atas meja.
"Hei, bisakah kau mengeluarkan beberapa sisa aura dari orang yang sebelumnya kau serap? Aku tau kau belum selesai mencernanya. Aku tidak akan meminta yang macam-macam, kau cukup menunjukkan auranya saja selama beberapa saat lalu serap lah kembali."
Saat ini, sosok Samsara muncul di sebelah Weng Lou. Dia kali ini tidak lagi mengenakan wujud tidak tetapnya, melainkan dia memakai rupa Chizi Ryuan yang telah separuh diserapnya. Samsara hanya diam dan berkedip sebelum kemudian melambaikan tangan kanannya, dan aura dari Chizi Ryuan segera dikeluarkan oleh kedua pedang kembar Weng Lou.
Aura itu langsung membuat semua orang yang ada di situ merasa terkejut, dan mereka kembali memasang posisi siaga, tapi tanpa mengeluarkan senjata mereka seperti sebelumnya. Justru, kali ini mereka memasang posisi seperti munculnya tuan mereka yang merupakan seorang penguasa yang telah menyebabkan trauma pada diri mereka semua.
Setelah beberapa saat, aura itu menghilang dan ketegangan yang terjadi pun menghilang perlahan.
Weng Lou menatap para Jenderal satu persatu sambil terkekeh. Tidak dia sangka orang-orang ini sangat menakuti pemimpin mereka sendiri seperti itu. Chizi Ryuan bagaiman seekor monster bagi mereka, dan Weng Lou bisa memakluminya. Dari pemikirannya, Chizi Ryuan pastinya mengatur setiap tindakan yang dilakukan oleh para bahwasannya, persis seperti seseorang yang mengendalikan boneka dengan benang-benang tipis.
"Seperti yang kalian dengarkan dari dua orang yang dikirim Chizi Ryuan untuk mencari keberadaan ku, akulah yang telah membunuh kaisar kalian itu. Dan aku disini untuk membuat kesepakatan dengan kalian. Chizi Ryuan tidak membawa harta berharga apapun bersamanya ketika melawan ku, jadi aku percaya dia pasti menyimpan harta nya itu di suatu tempat dan diantara kalian pastinya ada yang mengetahui lokasinya."
"Aku tidak akan berbasa-basi, aku menginginkan harta miliknya dan bersedia berbagi dengan kalian semua yang ada di sini. Pembagiannya adalah 60 : 40, dengan aku yang mengambil 60 dan kalian 40. Bagaimana? Kalian tertarik?"
Informasi mengenai Weng Lou yang telah membunuh Chizi Ryuan jelas telah didengar oleh mereka semua. Berita itu menyebar dengan sangat cepat bagai angin dan banyak yang tidak percaya bahwa Weng Lou lah yang telah membunuhnya.
Namun kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh Weng Lou dengan datang seorang diri beberapa jam yang lalu ke istana telah membuat semua orang menjadi percaya. Terlebih lagi, dia telah membunuh tangan kanan Chizi Ryuan, yaitu Kepala Pelayan istana yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 6 menengah. Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan disaksikan oleh beberapa prajurit serta pelayan yang ada di istana.
Tidak perlu pintar untuk mengetahui isi kepala dari para Jenderal di hadapan Weng Lou. Mata yang dipenuhi oleh keserakahan bisa terlihat dengan jelas oleh semua orang yang duduk di sekitar meja. Hanya satu orang Jenderal yang tetap mempertahankan ketenangannya, yang tidak lain adalah Jenderal yang berbicara dengan Weng Lou sebelumnya.
Dia merupakan yang paling lama mengabdi setelah kepala pelayan istana yang telah dibunuh oleh Weng Lou. Dia juga merupakan orang terlama yang telah menerima tato khusus dari Chizi Ryuan. Kehidupan nya telah sangat lama sekali terkekang, dia bahkan hampir lupa apa itu kebebasan dan selalu bertindak berdasarkan perintah sang Kaisar. Baginya, dibebaskan dari semua rantai yang mengikat dirinya merupakan hadiah yang jauh lebih berharga dibandingkan harta milik Chizi Ryuan yang tersembunyi entah dimana letaknya.
"Lima puluh, lima puluh. Kami tidak bisa memberikan lebih dari itu. Seperti yang kau tau, ketika berita kematian sang kaisar tersebar luas, kami harus menghadapi gelombang serangan para pemberontak yang berniat menduduki kekaisaran. Walau aku dulunya terkekang oleh Kaisar, tapi Kekaisaran Ryuan hanya bisa menerima Kaisar dari Keluarga Ryuan."
"Kami memerlukan sumber daya untuk kandidat yang layak menjadi Kaisar, dan juga untuk kami sendiri. Meski terdengar tidak tau malu, tapi aku memohon agar anda bisa mengerti situasinya. Kami tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan sumber daya yang cukup," ucap Jenderal itu dengan sedikit menunduk kan kepalanya.
Pernyataannya ini membuat Jenderal yang lain terkejut sekaligus merasa tidak senang. Merekalah yang layak menerima semua harta itu! Kenapa Weng Lou harus mendapatkan setengahnya seorang diri?!
Akan tetapi, sebelum mereka bisa memberikan protes, pemimpin mereka sudah mengeluarkan Kekuatan Jiwanya dan langsung membuat Jenderal yang lain terdiam. Ada perbedaan jauh antara tahap 4 dan 5 dalam ranah Penyatuan Jiwa. Jumlah Kekuatan Jiwa yang dimiliki orang di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 akan berkali-kali lipat dibandingkan dengan tahap 4, oleh sebab itu kekuatan pemimpin para Jenderal itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan Jenderal yang lain. Terlebih lagi dia tinggal sedikit saja naik ke tahap 6.
Weng Lou hanya tertawa sinis melihat tingkah para Jenderal di depannya ini. Jika saja Samsara tidak menghitung Karma lawan sebelum bisa digunakan, dia pasti sudah membunuh semua orang di istana dan mengambil semua hadiah untuk dirinya sendiri. Namun setelah Weng Lou pikirkan baik-baik, Chizi Ryuan lah yang telah menyebabkan masalah padanya, jadi tidak baik membunuh mereka yang tidak ada sangkut pautnya.
"Baiklah, aku setuju. Akan kita bagi setengah-setengah. Namun tetap aku akan memilih harta lebih dulu, kuharap kau tidak keberatan. Tenang saja, tidak terlalu membutuhkan sumber daya latihan, aku sudah punya cukup untuk diriku sendiri."
__ADS_1
"Sepakat."
Weng Lou dan para Jenderal pun segera bangkit berdiri dari tempat mereka dan bersama-sama berjalan kembali keluar, sementara Du Zhe dan yang lainnya masih diam di tempat duduk mereka.
"Pelayan! Siapkan para tamu kita makan malam mewah yang sering dilakukan ketika ada perayaan! Hidangkan semua menu terbaik kalian kepada mereka semua! Kami akan segera kembali sebentar lagi!"
Setelah memberikan beberapa arahan singkat, Weng Lou dan para Jenderal pun segera pergi keluar dari istana dan pergi menuju ke suatu tempat yang terletak di tengah hutan lebat, sekitar dua kilometer lebih dari tempat istana berada.
Terdapat sebuah ruangan bawah tanah rahasia di tempat itu, yang mengarah jauh ke bawah. Bersama-sama dengan para Jenderal itu, Weng Lou mulai menuruni anak tangga yang berada di lorong gelap tanpa pencahayaan sedikit pun. Untungnya Weng Lou sudah bisa menggunakan Kekuatan Jiwa nya kembali, sehingga hal ini tidak terlalu berarti baginya.
Mereka terus turun ke bawah, hingga kemudian sampai di anak tangga terakhir yang membawa mereka ke sebuah lorong dengan beberapa pintu di kedua sisinya. Lorong itu diterangi oleh sebuah obor yang berada di dalam mulut patung beruang yang menonjol di dinding.
"Ini adalah tempat meditasi milik Kaisar, kami semua yakin dia menyimpan hartanya di suatu tempat di sini. Kami sebelumnya tidak berani mencarinya karena tempat ini merupakan salah satu dari beberapa wilayah yang dia tandai khusus dengan Kekuatan Jiwanya. Dia mampu menjaga tempat ini sepanjang hari tanpa celah sedikitpun bagi penyusup untuk masuk," jelas seorang Jenderal yang memiliki tubuh kurus namun sangat tinggi. Sebenarnya, tingginya benar-benar tidak normal. Dia harus sambil membungkukkan tubuhnya agar kepalanya tidak membentur langit-langit.
Mereka semua kemudian berpencar dan mencari keseluruh lorong tersebut. Mereka mencari di tiap ruangan yang ada di balik pintu secara teliti dan tidak melewatkan apapun. Akan tetapi, setelah selesai mencari, raut wajah mereka tampak suram karena tidak menemukan petunjuk apapun.
Tiap ruangan yang ada di lorong itu hanya berisikan ruangan kosong dan polos yang memang hanya memiliki fungsi sebagai tempat bermeditasi.
"Kita tidak akan bisa menemukannya jika seperti ini, apa kalian tidak memiliki petunjuk sedikit pun?" tanya Weng Lou dengan dahi mengerut. Jelas dia sudah menggunakan semua kemampuannya agar bisa menemukan tempat Chizi Ryuan menyimpan hartanya, namun kemampuannya tidak bisa membantunya sama sekali.
Kaisar Kekaisaran Ryuan tersebut jelas merupakan seorang Penguasa Jiwa, kekuatannya adalah nyata, mereka yang hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa mustahil menemukan tempat dirinya menimbun harta karunnya.
"Sebenarnya....meski ada beberapa ruangan meditasi di tempat ini, namun hanya ada satu ruangan yang sering dipakai oleh Kaisar. Sisanya hanyalah ruangan cadangan yang sama sekali belum pernah dipakai olehnya."
Penjelasan itu membuat ekspresi Weng Lou berubah dan dia segera menanyakan dimana ruangan yang sering dipakai oleh Chizi. Mereka segera masuk ke salah satu ruangan meditasi sekali lagi. Kali ini, Weng Lou menempatkan seluruh konsentrasinya pada seluruh ruangan itu, dia bahkan menyebarkan Kekuatan Jiwanya dan mencoba menemukan celah sekecil apapun yang terdapat di ruangan itu. Mana tetapi, setelah lima menit mencari, dia tidak menemukan apapun.
"Samsara....bisakah kau mengeluarkan sekali lagi aura milik Chizi Ryuan?" Weng Lou berbicara kepada sosok mirip Chizi Ryuan di sampingnya.
Sosok itu hanya diam dan menjentikkan jarinya, sedikit aura milik Chizi Ryuan pun mengalir keluar dari dalam pedang kembar Weng Lou. Aura tersebut bagai sebuah pemantik yang segera membuat ruangan tempat mereka berada itu bergetar, dan seketika lantai ruangan pun runtuh dan membuat mereka semua terjun bebas.
Untungnya, mereka semua adalah Praktisi Beladiri ranah Penyatuan Jiwa, yang tentunya bisa terbang dengan bebas. Weng Lou sendiri memilik untuk berjalan di dinding dengan bantuan Kekuatan Jiwa dan bergerak menuruni lubang tersebut. Lubang itu mengarah sangat dalam ke bawah, bahkan tidak ada cahaya sedikitpun yang ada untuk menerangi lubang tersebut.
Setelah sepuluh menit turun secara perlahan, mereka akhirnya sampai di dasar lubang, yang mana terdapat banyak kristal-kristal tajam yang mengarah ke atas.
Para Jenderal yang melayang turun, berdiri dengan lembut di atas kristal itu dan menatap ke sebuah lorong gelap yang hanya memiliki lebar satu kali dua setengah meter saja. Sebuah cahaya kemerahan terlihat dari ujung lorong itu, dan mereka semua pun saling berpandangan satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk bersama, dan mulai berjalan masuk ke lorong sempit itu dengan dimulai oleh pemimpin para Jenderal, dan yang terakhir adalah Weng Lou.
**Catatan Singkat:
__ADS_1
Hiraukan judul chapter nya, author dah malas mikir judul🗿**