Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 551. Sekte Bambu Giok


__ADS_3

Weng Lou terus mengikuti kelompok Sekte Bambu Giok yang dipimpin oleh Nuan menuju ke Sekte Bambu Giok.


Dia terus menjaga jarak hingga seratus sampai dua ratus meter dari mereka agar dirinya tidak bisa dilacak seratus persen. Meski orang yang mengawal Nuan itu hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa, namun dia tidak tau apakah orang tersebut memiliki beberapa kartu tersembunyi atau tidak.


Lebih baik dirinya berhati-hati, dari pada segala rencananya malah menjadi berantakan karena sedikit kecerobohannya.


Beberapa hari pun berlalu, kelompok Nuan kini memasuki sebuah wilayah hutan yang sangat lebat. Ada banyak binatang buas yang tinggal di dalam sini, namun kelompok mereka bisa terus masuk ke dalam hutan dengan sangat mudahnya. Padahal ada beberapa binatang buas dengan kekuatan di Pembersihan Jiwa yang terdeteksi oleh Weng Lou, namun mereka semua tidak ada yang berniat menyerang kelompok Nuan.


Weng Lou menduga, bahwa ada sebuah pusaka, atau barang khusus yang digunakan oleh mereka, sehingga tidak diserang oleh para binatang buas. Sementara itu, Weng Lou sendiri bisa terus masuk ke dalam hutan dengan cukup lancar. Dia sempat beberapa kali berpapasan dengan binatang buas, namun Weng Lou berhasil 'mengusir' mereka, agar tidak mengganggunya dengan satu pukulan di bokong mereka.


Butuh waktu satu hari satu malam untuk kelompok Nuan keluar dari dalam hutan, sementara Weng Lou hanya bisa mendecakkan lidahnya saat melihat waktu yang terbuang banyak sekali hanya untuk mereka melewati hutan ini. Menurutnya, mereka bisa keluar dalam waktu satu hari saja dari hutan ini, namun Nuan dan kelompoknya malah mengurangi kecepatan mereka di dalam hutan tersebut padahal mereka tidak diganggu oleh seekor binatang buas pun.


"Ini akan memakan waktu satu minggu penuh jika menuruti kecepatan mereka. Sebenarnya aku bisa saja pergi mendahului mereka, namun pasti akan menimbulkan kecurigaan ketika kelompok mereka melihatku di Sekte Bambu Giok padahal aku masih berada di pelabuhan ketika mereka masih berada di sana."


Weng Lou mau tak mau membuang rencananya itu untuk mendahului mereka dan tetap dengan sabar mengikuti mereka dari belakang.


Satu minggu pun berlaku begitu saja, dan kini kelompok Nuan sampai di sebuah gunung yang menjulang cukup tinggi dimana banyak sekali bambu yang berwarna hijau terang tumbuh dengan subur di seluruh gunung tersebut. Weng Lou yang diam-diam mengikuti mereka akhirnya mengangguk mengerti kenapa nama sekte ini diberi nama Sekte Bambu Giok.


Warna dari bambu-bambu yang tumbuh di gunung ini sekilas membuatnya tampak seperti giok. Jika orang yang melihatnya tidak teliti, mungkin dia akan benar-benar berpikir bahwa bambu-bambu ini terbuat dari giok sungguhan.


Namun meski penampilannya sangat indah, namun Weng Lou tau dengan pasti seberapa berbahaya nya bambu-bambu ini.


*Shu- SPLASH!* Seekor tupai kecil terlihat berlari kencang ke arah salah satu bambu dari luar gunung. Tupai kecil dan imut itu berniat memanjat ke bambu itu, akan tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi.


Bambu yang sedang dia datangi itu mendadak terangkat dan menusuknya hingga membuatnya mati begitu saja. Sebuah mulut pun muncul dari salah satu bambu di dekat bambu yang membunuh tupai itu. Tubuh tupai yang sudah tak bernyawa itu kemudian dibawa oleh bambu yang membunuhnya dan memasukkannya ke dalam mulut di bambu yang lainnya.


Kelompok Nuan hanya melihat kejadian itu sebentar sebelum kemudian mulai naik ke atas gunung, seolah-olah kejadian itu hanyalah sesuatu yang sudah biasa terjadi di tempat ini.


Sementara itu, Weng Lou yang menonton di kejauhan hanya bisa mendecakkan lidahnya menyaksikan itu. Dia tau makhluk apa yang baru saja membunuh tupai itu. Itu adalah sejenis serangga raksasa pemakan daging yang memiliki penampilan seperti pohon-pohon bambu diantara pohon-pohon bambu yang asli.


Mereka memiliki nama, Belalang Bambu, atau serangga bambu. Kekuatan mereka berada di Dasar Pondasi tingkat 9 hingga tingkat 12. Ada juga beberapa yang sanggup memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa.


Di Pulau Pasir Hitam, serangga ini sudah lama punah, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Weng Lou sempat melihat beberapa serangga di ini sebelumnya di Kepulauan Huwa dan jujur dia cukup terkejut dengan pengamatan sempurna yang dimiliki oleh serangga ini.


Untungnya, mereka tidak memakan manusia, dan hanya menyerang manusia jika manusia yang terlebih dulu melukai mereka. Bisa dibilang mereka tidak terlalu berbahaya asalkan tidak diserang terlebih dahulu.


Kali ini, Weng Lou memilih untuk tidak mengikuti kelompok Nuan naik ke atas gunung, dia justru menunggu di bawah gunung. Meski Weng Lou sangat yakin dengan kekuatan yang dia miliki, namun ini adalah wilayah orang lain yang memiliki kekuatan tempur setara dengan Sekte Langit Utara, pikirnya. Dirinya pasti akan langsung ditemukan jika melangkah masuk ke gunung di hadapannya ini.


"Aku akan menunggu di sini satu atau dua hari, setelah itu baru aku naik ke atas." Weng Lou segera berbalik dan pergi memasuki hutan di dekat gunung.

__ADS_1


Dia harus mencari tempat untuk bermalam, atau jika tidak dia akan menghabiskan malamnya bergulat dengan binatang buas.


***


Keesokan harinya, di sore hari.


Weng Lou kembali ke jalan menaiki gunung. Kali ini terlihat bahwa dia telah berganti pakaian. Baju yang menyembunyikan puluhan pisau miliknya kini sudah dia tidak pakai lagi, melainkan hanya mengenakan pakaian biasa sementara dua pedang 'usang' nya di genggamnya dengan erat.


Kemarin Weng Lou menemukan sebuah gua yang sangat tersembunyi dan menjadi sarang dari seekor ular berukuran sebesar manusia dewasa. Ular itu tidak terlalu kuat, namun memiliki kepintaran yang menyemai manusia dewasa. Weng Lou tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menundukkan nya, hanya sedikit menggerakkannya dengan menghancurkan sebuah pohon dalam satu kali pukul, ular itu langsung menundukkan kepalanya pada Weng Lou, tanda dia bersedia menjadi bawahannya.


Semua barang yang Weng Lou bawa dan memiliki risiko dicurigai telah Weng Lou simpan di gua tersebut dan ular tersebut Weng Lou perintahkan untuk menjaganya dengan baik.


*Fuu.....* "Haaah....." Weng Lou membuang napasnya dengan bebas sambil menatap gunung di depannya selama beberapa saat.


Setelah memantapkan hatinya, Weng Lou pun melangkah menaiki gunung tersebut. Ketika dia mulai memasuki gunung, bambu-bambu yang ada di sekitar jalan bergoyang seperti tertiup oleh angin. Namun Weng Lou mengetahui dengan jelas, bahwa Belalang Bambu yang menyebabkan keributan ini.


Dia secara samar mendengar suara langkah kaki yang seperti sedang mengikutinya ketika dia terus berjalan menelusuri jalanan menuju ke puncak gunung tersebut. Namun semua suara itu tidak membuatnya takut, justru sebaliknya. Dia merasa tenang dan aman karena mendengarkan suara langkah kaki yang terus mengikutinya.


Ada alasan mengapa dia memilih untuk mulai menaiki gunung pada waktu sore hari seperti ini. Yang pertama, karena dia bisa lebih muda mendeteksi musuh pada kondisi gelap dan tenang. Lalu yang kedua, tidak akan ada orangbatau anggota dari Sekte Bambu Giok yang melewati jalan ini ketika hari telah gelap, dan yang terakhir karena keberadaan Belalang Bambu di gunung ini.


Belalang Bambu yang telah ditempatkan di gunung ini merupakan binatang buas yang dipelihara oleh Sekte Bambu Giok dan digunakan sebagai pengamat sekaligus penjaga bagi para murid Sekte Bambu Giok yang melewati gunung ini.


Di sini, tidak hanya Belalang Bambu saja yang hidup, tetapi ada banyak binatang buas lainnya yang berkeliaran dan sengaja dipelihara oleh Sekte Bambu Giok.


Namun ada kalanya kemampuan mereka ini tidak bisa digunakan, yakni saat malam hari. Udara malam yang dingin secara aneh mengganggu sistem komunikasi para belalang ini.


Inilah alasan utama kenapa Weng Lou memilih untuk berjalan di saat seperti ini. Dia berjalan di sore seperti ini, pastinya kedatangan nya telah diketahui. Tapi hanya itu saja, pasalnya waktu telah berubah menjadi malam tepat ketika Weng Lou berjalan selama sepuluh menit menaiki gunung.


Para anggota Sekte Bambu Giok tidak akan mendapatkan informasi mengenai dirinya sekarang, dan hanya tau bahwa ada seorang pemuda yang telah datang ke gunung ini. Mereka hanya akan mendapatkan informasi lain mengenainya jika hari sudah pagi, atau jika ada yang turun ke sini dan memberikan mereka informasi sendiri.


"Hmm...udara ini....ini pasti karena banyaknya pohon bambu yang tumbu sehingga membuatnya berbeda. Ini memang bisa mengganggu komunikasi para belalang itu," ujar Weng Lou yang menghirup napas dalam-dalam dan merasakan perbedaan udara di tempat itu.


Weng Lou terus berjalan menaiki gunung hingga kemudian setengah jam berlalu, dan dia telah mencapai seperempat dari jalan mencapai puncak. Hal ini termasuk sangat lambat untuk ukuran orang yang memiliki kekuatan sebesar Weng Lou.


Dengan sengaja dia berjalan santai agar dia bisa tiba di puncak selambat mungkin. Jika bisa, dia ingin tiba ketika hari sudah pagi. Weng Lou tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk memeriksa tempat ini dengan mendapatkan banyak pertanyaan di puncak nantinya.


Akan lebih bagus jika dia sampai di pagi hari, dia pasti akan dibiarkan untuk beristirahat sedikit lebih dulu sebelum kemudian diajukan beberapa pertanyaan. Contohnya alasan mengapa dia datang ke sini, atau apakah dia merupakan mata-mata atau bukan.


Saat Weng Lou sedang larut dengan pikirannya, mendadak, suara langkah kaki yang mengikuti nya itu mulai menghilang secara perlahan dan membuat Weng Lou kembali memperhatikan sekitarnya sekali lagi. Dia menemukan bahwa tidak ada pohon bambu yang tumbuh di jalan yang dia lalui ini, sehingga membuatnya sedikit heran dan penasaran.

__ADS_1


Dia mengatur titik fokusnya pada kedua matanya, dan mengaktifkan Teknik Mata Elang. Seperti bisa melihat dimalam hari, Weng Lou mengerutkan keningnya saat tidak menemukan satu pun pohon bambu sejauh tiga ratus meter darinya.


Sebuah hawa dingin menerpa tubuhnya dan membuatnya merasa kedinginan. Alis Weng Lou terangkat. Merasa kedinginan?


Tubuh miliknya adalah tubuh yang sudah sangat terlatih dan merupakan tubuh terlatih yang tahan dalam banyak cuaca serta kondisi. Bahkan api biasa sudah tidak terasa panas lagi baginya, hanya sensasi hangat biasa yang akan dia rasakan saat terkena api biasa.


Tapi sekarang, dia merasa kedinginan? Yang benar saja! Dengan cepat Weng Lou menoleh ke satu arah dan tiba-tiba dia pun melompat ke samping menghindari sebuah tombak es yang melesat cepat ke arahnya.


*Hush! Praakk!!* Tombak es itu menembus tanah dimana Weng Lou berpijak sebelumnya hingga mencapai setengahnya. Tanah disekitar tombak itu menancap langsung membeku seketika dan mengeluarkan hawa dingin es yang sanggup membekukan apapun.


"Es abadi?! Apakah ada binatang buas berunsur es yang tinggal di sini?!" Weng Lou tertegun menatap tanah yang membeku itu, sementara tidak jauh darinya sesosok makhluk bertubuh sebesar anjing dewasa berjalan perlahan ke arah Weng Lou.


Telinga Weng Lou yang sensitif bisa mendengar suara langkah kaki makhluk itu, sehingga dia pun berbalik dan melihat seekor binatang aneh yang memiliki bulu seputih salju.


Bintang itu menyerupai seekor anjing, namun dengan satu mata besar berwarna biru terang di tengah kepalanya. Di punggung, terdapat sepasang sayap putih kecil yang bahkan tidak akan bisa menghasilkan angin saat dikepakkan. Tubuh binatang itu terus menerus mengeluarkan hawa dingin dari dalam tubuhnya sehingga membuat sekitarnya menjadi beku.


Ketika dia melangkah, tanah yang dia pihak akan langsung berubah menjadi es, sehingga menciptakan sebuah jalur es di belakangnya. Mata Weng Lou menampilkan keterkejutan data melihat binatang ini, dan dia tidak bisa untuk tidak mendecakkan lidahnya sambil berusngut dengan kesal.


"Bagaimana bisa ada seekor Pi Xiu di sini?!" Weng Lou tidak habis pikir menatap binatang yang dia panggil Pi Xiu itu.


Pi Xiu merupakan seekor mutasi dari Singa Bersayap yang telah menyerap energi Yin dan membuatnya memiliki kekuatan unsur Es Abadi. Namun hal ini membuatnya kehilangan kemampuan terbang dan besar tubuh yang dimilikinya.


Jika orang biasa melihatnya, mereka akan berpikir binatang putih ini adalah sesuatu yang imut, namun kenyataannya adalah sebaliknya. Binatang ini tidak lebih dari seekor monster penghancur masal yang akan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di lingkungan sekitarnya. Energi Yin pada tubuhnya, membuatnya memiliki sifat alami yang dingib dan kejam, hal ini menjadi penyebab mengapa dia akan mengamuk saat melihat sesuatu di hadapannya.


"Sial, sepertinya ini adalah wilayahnya. Pantas saja tidak ada satu pohon bambu pun di sekitar sini! Sepertinya monster kecil ini adalah penyebab utamanya!"


Tepat ketika Weng Lou berencana untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, Pi Xiu di hadapan Weng Lou kini telah membuka lebar mulutnya dan partikel-partikel energi berwarna biru pucat berkumpul di depan mulutnya dan membentuk sebuah tombak es berukuran jauh lebih besar dari sebelumnya.


!!!!


Tanda bahaya berbunyi dari tubuh Weng Lou. Dia pun dengan cepat menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan sepersekian detik kemudian, tombak tersebut melesat tepat melewati belakang punggungnya. Weng Lou dapat merasakan sensasi dingin saat tombak es itu bergerak melewatinya.


*Hush- SPRASSH!!*


Tombak besar itu menghantam tanah dan langsung hancur berkeping-keping menjadi serbuk es. Mata Weng Lou melebar melihat butiran-butiran kecil es tersebut yang begerak di udara dan terjatuh di tanah. Tanpa menunggu sama sekali, dia segera menendang tanah dan melesat menjauh dari lokasi dimana serbuk es tersebut tersebar.


*Tssss.....Phusshh!!!* Dengan secepat kilat, tanah dalam radius sepuluh meter langsung berubah menjadi es setelah semua butiran es itu mendarat di tanah.


*Glekk....*

__ADS_1


Weng Lou menelan ludahnya menyaksikan itu. Dia tau seberapa dinginnya Es Abadi itu. Bahkan dengan tubuhnya yang saat ini dia akan merasakan dingin yang mencapai tulangnya jika terkena sebuah serangan dari Es Abadi teesebut.


"Aku bahkan belum pernah mencoba menangkis serangan dari Saudari Ning, apalagi mencoba menangkis serangan Pi Xiu ini?! Yang ada aku malah akan berubah menjadi patung es dalam sekejap mata!"


__ADS_2