Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 569. Membalas Budi


__ADS_3

Dari banyaknya kemungkinan buruk yang Weng Lou pikirkan, situasi yang terjadi sekarang jauh melebihi semuanya itu.


Dia tidak tau harus senang atau merasa sedih karena sang Patriak Sekte Bambu Giok yang mau membantunya. Namun Kaisar Kekaisaran Ryuan bukanlah sembarangan Praktisi Beladiri. Dia adalah seorang Penguasa! Orang yang bisa memimpin sebuah wilayah yang amat luasnya dengan kekuatan dan kepemimpinannya sendiri!


Dia tidak butuh izin untuk pergi kemanapun yang dia mau di seluruh Kekaisaran Ryuan, karena dialah yang berkuasa. Dihadapkan dengan orang sepertinya, Patriak Sekte Bambu Giok bukanlah tandingannya sama sekali.


Tapi, bagaimana jika ada bantuan lain yang lebih mampu mendukungnya?


Tetua Meigui, Guru Weng Lou di Sekte Bambu Giok tersebut memiliki sebuah hubungan dengan sang Kaisar. Selama dua bulan mencari informasi, dia tidak terlalu banyak menemukan informasi penting selain Meigui yang dulunya adalah calon tunangan Chizi Ryuan, sang Kaisar Kekaisaran Ryuan.


Namun karena masalah latar belakang yang dimiliki oleh Meigui, keduanya tidak bisa melangkah ke jenjang pernikahan dan terpaksa harus berpisah. Itu semua atas keputusan Chizi sendiri, dan Meigui menghormatinya. Mau bagaimanapun, keduanya tidak mungkin bisa bersama.


Latar belakang sang Tetua tidak bisa ditemukan oleh Weng Lou, mau seberapa keras pun dia berusaha mencarinya, seakan-akan ada seseorang yang berusaha menutupinya rapat-rapat agar tidak ada orang luar sepertinya yang mengetahui hal tersebut.


Dia pada akhirnya dia hampir menyerah mencari lebih jauh mengenai latar belakang gurunya, dan memilih mencari informasi yang lebih berguna, sampai kemudian dia mengetahui nama lengkap sang Guru dan dia pun mengerti alasan Gurunya dan Chizi Ryuan tidak bisa bersama.


Itu karena Meigui sebenarnya berasal dari sebuah keluarga yang telah ada semenjak masa Kekaisaran lama. Keluarganya memiliki daerah sendiri di luar wilayah Kekaisaran Ryuan, dan hal ini penyebab utamanya.


Chizi Ryuan, ingin menyatukan semua bekas wilayah Kekaisaran lama menjadi satu dalam pemerintahannya di Kekaisaran Ryuan, namun keluarga Tetua Meigui hanya mau memberikan wilayahnya jika Chizi Ryuan mengganti nama keluarganya dengan nama keluarga Tetua Meigui, dan hal ini jelas ditolak mentah-mentah oleh sang Kaisar.


Sejak dari jaman Kakeknya, Keluarga Ryuan telah berdiri sendiri tanpa topangan dari organisasi atau keluarga lainnya. Mereka menaklukan banyak wilayah dan membuat sebuah pemerintahan baru yaitu Kekaisaran Ryuan. Kakeknya sudah memperjuangkan banyak hal untuk menaklukan tanah ini dengan nama keluarganya, mana mungkin Chizi Ryuan mau mengganti nama keluarganya hanya demi seorang perempuan, secinta apapun dia pada Tetua Meigui, dia tidak akan melakukannya.


Untuk menghormati cinta pertamanya itu, Chizi Ryuan berjanji pada Meigui bahwa dia tidak akan menyerang wilayah keluarganya, terlepas dari ambisinya yang ingin menyatukan wilayah Kekaisaran lama.


***


Saat ini, di dalam kubah pelindung yang dibuat Patriak Sekte Bambu Giok, Meigui membantu Weng Lou menyembuhkan luka-lukanya dengan bantuan Qi miliknya.


Qi masuk dan merangsang tubuh Weng Lou untuk menyembuhkan lebih cepat. Luka-luka pada organ dalamnya mulai pulih dan luka pada kedua bahunya perlahan menutup dengan kecepatan yang bisa diikuti oleh mata.


Tetua Meigui sedikit terkejut menyaksikan hal ini. Weng Lou seperti seekor binatang buas yang telah berusia ratusan tahun dan mampu menyembuhkan luka mereka sekejap mata. Namun Weng Lou jelas bukanlah binatang buas, dia adalah muridnya, murid yang dia pilih sendiri untuk berada di bawah bimbingannya.


"Lou? Apa kau bisa mendengar suara ku?" Meigui menepuk-nepuk pipi Weng Lou dan perhatian muridnya itu segera terarah padanya.


"Ah, iya guru. Maafkan aku, terima kasih sudah membantu," ucap Weng Lou dengan cepat lalu bangkit berdiri. Dia merasa lukanya sudah cukup diobati, dan masih ada yang harus dia selesaikan di sini.


"Haah...baguslah kau sudah sedikit pulih. Sekarang beritahu aku apa yang terjadi pada mu? Kenapa orang itu datang ke sini mencarimu?" Tetua Meigui segera mengajukan pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui semenjak kedatangannya di tempat itu.


Baginya, Chizi Ryuan dan dirinya sudah tidak memiliki hubungan lagi, dan dia memilih kehidupan tenangnya di dalam Sekte Bambu Giok yang merupakan pihak netral di dalam Kekaisaran Ryuan.


Kehadiran Chizi Ryuan yang datang ke sini ingin membawa Weng Lou, murid barunya itu membuat dia tidak bisa memikirkan alasan yang cukup masuk akal.


"Guru, sebenarnya itu-"


"Meigui! Kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Aku akan pergi sekarang juga dari sini, tapi aku akan membawa murid mu itu. Dia tidak berasal dari Kekaisaran Ryuan, jadi ini merupakan urusan ku sebagai seorang Kaisar!" seru Chizi Ryuan yang memotong Weng Lou terlebih dahulu sebelum bisa berbicara lebih jauh.


Meigui berkedip, tidak berasal dari Kekaisaran Ryuan? Apa maksudnya itu? Dia adalah punyusup dari kekaisaran lain atau apa? Meigui kebingungan dengan perkataan Chizi barusan.


"Apa maksudmu dia adalah mata-mata?" tanya Meigui kepada Chizi sambil melihat ke arah Weng Lou yang dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Meski Weng Lou masuk ke dalam Kekaisaran Ryuan ini secara diam-diam, dia lebih suka dipanggil dengan sebutan penyusup dibandingkan dengan mata-mata. Meski masuk secara diam-diam, dia bukanlah orang yang datang dengan sengaja untuk menyusup dan mencari kelemahan atau informasi rahasia yang kemudian diberikan pada atasannya. Dia adalah seseorang yang bebas dan tidak terikat dengan apapun.


"Mata-mata, huh? Aku tidak tau dia dikirim siapa, tapi yang jelas dia berasal dari Kepulauan Huwa yang terletak diseberang Lautan Mati. Anak ini telah berhasil melewati daerah terkutuk itu dan berhasil tetap selamat dengan utuh. Aku tidak yakin dia bawahan siapa, namun aku menginginkan dirinya. Kau tau jika kejahatan seperti menyusup ke daerah Kekaisaran memiliki hukuman yang berat, bukan? Jadi jangan ikut campur, kembali saja ke tempat duduk mu," ucap Chizi dengan datar dan segera berjalan mendekati Weng Lou.

__ADS_1


Dia melambaikan tangannya, dan tubuh Patriak Sekte Bambu Giok segera menghantam ke atas tanah dengan keras. Sekujur tubuhnya kaku tanpa bisa digerakkan sedikitpun.


"Bajingan sialan! Chizi!!!! Begini perlakuan mu kepada mantan Gurumu?!?!!" Patriak Sekte Bambu Giok berseru marah sambil berusaha mengangkat tubuhnya untuk bangkit berdiri.


Suara tulang yang terus berderak dari tubuhnya bisa terdengar, dan beberapa bunyi retakan mulai muncul. Wajah tua sang Patriak mulai memerah dan darah keluar dari lubang hidungnya. Namun dia tetap berusaha bangkit, tanpa peduli dengan semua luka di tubuhnya yang telah kembali mengalirkan darah dalam jumlah besar.


"Sudah kubilang tutup mulutmu itu, Kakek. Aku benci mendengarkan omelanmu semenjak mendapatkan arahan darimu. Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa diriku yang dulu tidak menaruh dendam apapun pada mu karena pengajaranmu yang sangat bodoh dan tak masuk akal itu."


Tekanan yang menimpa tubuh sang Patriak semakin kuat, dan sebuah suara tulang yang patah pun terdengar dari lengan atasnya. Suara seperti ranting patah itu benar-benar menghentikan usaha sia-sia Patriak Sekte Bambu Giok.


"Tidak! Hentikan, sudah cukup! Tolong hentikan! Kau bisa membunuhnya!" Tetua Meigui mengeluarkan Qi miliknya dan berusaha menolong pemimpin nya tersebut, namun tekanan tersebut malah ikut menimpa dirinya dan membuatnya tersungkur ke tanah, menyisakan Weng Lou yang masih berdiri seorang diri.


"Nah....nak, ayo ikut dengan ku!"


Tangan kanan Chizi menggenggam erat kepala Weng Lou, lalu dengan mudahnya mengangkat tubuhnya. Weng Lou memberontak, dan dengan kekuatan otot-otot nya yang mengerikan, dia memukul ke arah dada pria itu. Namun kekuatan pukulannya seperti memukul sebuah gunung raksasa yang bahkan tidak bergerak sedikitpun setelah menerima pukulannya yang sanggup menumbangkan seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 puncak sekalipun.


"Hm? Itu pukulan yang bagus. Pantas saja kau bisa menumbangkan bawahan ku dengan mudahnya. Kau layak mendapatkan yang seharusnya kau dapatkan. Dengan kekuatan fisik mu saja ini sudah bisa berada di posisi Jenderal, apalagi dengan tambahan Kekuatan Jiwa murni mu yang tidak tercemar oleh Qi itu, kau mungkin akan menempati posisi tangan kiri ku! Bagaimana? Apa kau mulai tertarik untuk menjadi bawahan ku?"


Chizi menempatkan wajah Weng Lou tepat di depan wajahnya dan hanya berjarak satu jengkal saja. Weng Lou dapat merasakan tatapan matanya yang menunjukkan seberapa besar dia menginginkan Weng Lou untuk menjadi bawahannya. Tapi apa Weng Lou peduli dengan hal itu? Dia hanya ingin pulang ke rumah nya di Pulau Pasir Hitam dan bertemu kembali dengan semua anggota keluarganya.


Ayah dan ibunya, serta kedua adik angkatnya, Lingling dan Bingbing. Teman-temannya, serta semua anggota Sekte Langit Utara. Dia ingin bertemu dengan mereka lagi, jadi dia tidak akan menjadi bawahan Chizi Ryuan dan menetap di tempat ini.


Melihat dari cara Weng Lou menatapnya balik, Chizi bisa tau jawaban Weng Lou. Dia pun menghela napasnya, dan aura membunuh sedikit merembes keluar dari tubuhnya.


"Hei....apa kau tau seberapa banyaknya orang yang ingin berada di posisimu? Taukah kau berapa jumlah orang yang berebut dan berlomba-lomba untuk memiliki kesempatan menjadi bawahan ku? Kau bajingan kecil yang entah datang dari mana, berani sekali menolak ku. Tapi tidak apa, aku bukanlah orang jahat yang suka menindas orang lemah. Namun kau tetap harus bertanggung jawab atas semua kejahatan yang kau perbuat."


"Membunuh salah satu Komandan Pasukan ku, menghabisi para prajurit ku di Pulau Perbatasan, dan yang terakhir dan paling serius, menerobos masuk serta menyusup ke wilayah ku. Dengan semua kejahatan mu ini kau akan menerima hukuman yang sepadan, yaitu kematian."


"Kaaaghhhh!!!! Aaaaa!!!!" Weng Lou sudah tidak tahan lagi, dia berteriak kencang dan melepaskan semua kekuatannya.


Kedua tangannya mengalirkan Kekuatan Jiwa nya dan menambah kekuatan pada kedua tangannya tersebut. Namun semua itu masih belum cukup, Chizi Ryuan juga menambah kekuatan genggamannya, yang semakin membuat Weng Lou merasa bahwa kepalanya bisa pecah kapan saja.


"AAAAA!!!! KHAAA!!!!!" Aura Membunuh dikeluarkan dan kali ini sesuatu yang berbeda telah terjadi.


Weng Lou perlahan membuka satu demi satu jari Chizi, dan akhirnya dia pun lolos dari genggamannya. Dengan cepat dia mengedarkan Aura Membunuhnya dan menyelimuti seluruh area disekitarnya. Tekanan yang didapat oleh Tetua Meigui dan Patriak Sekte Bambu Giok. menjadi berkurang, kedua nya bisa sedikit bernapas lega dan perlahan bangkit berdiri.


Mereka berdua kini berdiri di samping Weng Lou dan menatap sang Kaisar tersebut dengan tatapan permusuhan yang terlihat jelas.


"Apa? Kalian benar-benar ingin melawanku? Aku peringatkan, jika kalian melawan ku sekarang, maka akan ku anggap kalian bahwa kalian membela penjahat yang telah membunuh warga Kekaisaran Ryuan dan ikut menjadi penjahat dengan besar hukuman yang sama." Chizi mengancam mereka berdua, namun sepertinya Tetua Meigui dan Patriak Sekte Bambu Giok sama sekali tidak peduli mengenai hal ini.


Mereka mengeluarkan kedua senjata mereka dan bersiap bertarung, begitu juga dengan Weng Lou. Dia memanfaatkan Kekuatan Jiwa nya dan mengambil pedang kembarnya.


"Hmp! Aku tak peduli dengan yang kalian lakukan, tapi kalian hanya membuatku jengkel! Entahlah!"


Kekuatan Jiwa berkumpul di tangan Chizi Ryuan dan membentuk sebuah tangan raksasa yang kemudian langsung bergerak ke arah kelompok Weng Lou. Patriak Sekte Bambu Giok mendengus, dia mengangkat tangannya, dan tangan besar dari Kekuatan Jiwa juga muncul dan menghalangi tangan Kekuatan Jiwa milik Chizi.


Sementara itu, Tetua Meigui menggenggam lembut sebuah kuas di tangannya. Dia mengayunkannya ke udara, dan senar-senar tipis dari Qi terbentuk, lalu menghancurkan seutuhnya tangan besar tersebut.


Weng Lou berniat bergabung bersama mereka berdua untuk bertarung melawan Chizi Ryuan, namun kedua pedang di tangannya mendadak mengeluarkan hawa yang sangat panas dan membuat dahi Weng Lou mengerut.


Lapisan kedua pedangnya mengalami perubahan setelah dialirkan oleh Kekuatan Jiwanya. Permukaannya menjadi kembali halus dan mulus seperti sebelum Weng Lou merubah penampilannya. Garis-garis bercahaya keemasan juga terlihat menghiasai kedua pedangnya tersebut.


Weng Lou belum memberi nama kedua pedangnya ini secara resmi karena tidak memiliki Qi ataupun Kekuatan Jiwa sebelumnya, dengan Kekuatan Jiwanya yang sekarang, dia bisa membuat ritual pemanggilan Roh Senjata dan membuat senjatanya naik tingkat menjadi Senjata Spiritual tingkat tinggi.

__ADS_1


Sensasi seperti energi kegelapan yang ada di udara dapat Weng Lou rasakan ketika kedua pedangnya memerah karena suhunya yang semakin panas seiring waktu.


"Sial, ini bukan saat yang tepat! Apa yang terjadi dengan kedua pedang ini?!" umpat Weng Lou.


Dia hendak meninggalkan kedua pedangnya itu di tanah dan memilih bertarung dengan tangan kosong, akan tetapi mendadak sesuatu mulai terjadi. Kedua telapak tangannya yang memegang pedang kembarnya itu mulai terluka, dan darah yang keluar diserap oleh pedangnya.


Akhirnya Weng Lou pun sadar akan situasi ini. Dia terlalu banyak menggunakan pedangnya untuk bertarung dan membunuh. Banyak darah korban yang sudah diserapnya dan bahkan beberapa Roh Jahat dan Roh Pendendam banyak dihabisinya.


Jika sebuah senjata terlalu banyak digunakan, maka dia akan mengalami perubahan, tapi itu jika sudah menjadi senjata pribadi yang diberikan nama, namun kedua pedang Weng Lou ini belum.


"Apa maksudmu kau ingin memulai ritual penamaan di saat seperti ini?! Yang benar saja!" Weng Lou mengumpat dengan kesal, akan tetapi darahnya semakin banyak diserapnya.


Energi kegelapan dan hawa kematian mulai bergerak di sekitarnya, membuat Weng Lou merasakan keanehan. Dia berpikir keras, dan dia mendapatkan ide bagus.


Dia memfokuskan pikirannya dan mengendalikan Kekuatan Jiwa miliknya untuk membentuk beberapa pola aneh pada sisi-sisi di kedua pedangnya. Ketika pola-pola bercahaya emas itu mulai menempel pada sisi pedangnya, energi kegelapan pun mulai diserap oleh kedua pedangnya.


Bahkan, aura membunuh juga ikut terserap ke dalam pedangnya. Pedangnya itu terus memancarkan cahaya seiring semakin banyaknya pola yang dibuat oleh Weng Lou. Pola-pola ini adalah pola yang dia lihat ketika dirinya sedang membuat Pedang Naga Malam.


Dia mengangkat kedua pedangnya yang sedang bercahaya itu, dan tanpa peringatan, dia pun menusukkan kedua pedangnya ke tubuhnya.


"Hm?!"


"A-Apa yang kau lakukan Lou?!"


"!!"


Ketiga orang yang sedang bertarung itu tampak terkejut dengan tindakan Weng Lou. Mereka berpikir bahwa Weng Lou pasti sudah tidak waras, atau kepalanya mungkin sudah terluka karena genggaman tangan Chizi sebelumnya.


"Aku memanggil mu dari Dimensi Kematian!!"


****


Di suatu ruangan, tempat dimana Zhi Juan membawa Ye Lao dan Qian Yu, sosok orang tua yang mirip dengan Weng Lou sedang duduk tenang menatap layar dimana menunjukkan sosok Weng Lou yang menusuk tubuhnya sendiri dengan kedua pedangnya.


Dia tersenyum kecut melihat itu, tanpa perintah dari Zhi Juan, jiwa-jiwa yang berada di Dimensi Kematian tidak akan mau menanggapi panggilannya, sehingga ritual pemanggilan Jiwa Senjata mustahil dilakukan.


Akan tetapi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Di dalam Dimensi Kematian, sebuah portal yang dipakai untuk mengirimkan para jiwa menyala dan di depannya, beberapa jiwa sedang berkumpul bersama dan berhadapan dengan sang Penguasa Dimensi Kematian.


"Kalian....jika kalian melakukan ini, kalian tidak akan bisa bereinkarnasi, apa kalian yakin?" tanya sang Penguasa Dimensi Kematian tersebut pada para jiwa di depannya.


Mereka semua adalah jiwa yang telah diselamatkan oleh Weng Lou dari dendam mereka sebagai Roh Jahat. Kadal yang sebelumnya dibantu oleh Weng Lou juga ada di situ. Mereka semua ingin menanggapi panggilan Weng Lou dan menjadi roh senjatanya, namun tanpa perintah dari Zhi Juan.


Hal ini jelas melanggar hukum yang ditetapkan oleh sang Absolute Author tersebut, namun mereka tampaknya tidak peduli sedikitpun. Mereka ingin membalas kebaikan yang sudah Weng Lou lakukan pada mereka semua.


Melihat keinginan mereka ini, Penguasa Dimensi Kematian pun hanya bisa menghela napasnya dan mengizinkan mereka semua untuk pergi.


"Tapi ingat ini! Karena jumlah kalian melebihi kapasitas yang diperbolehkan, jiwa kalian akan dilebur dan menjadi satu jiwa baru yang memiliki kepribadian yang baru, semua ingatan kalian akan dilebur dan menghilang juga, apa kalian masih mau melakukannya?"


"""Iya!!!"""


"Haaah....sudah aku duga, kalau begitu aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal."


Semua jiwa itu pun memasuki portal dan dalam perjalanan melewati portal ruang dan waktu itu, jiwa-jiwa tersebut mulai lebur dan hancur, namun kemudian bergabung menjadi satu jiwa yang jauh lebih kuat, satu jiwa yang lebih murni dan tanpa memandang kejahatan dan kebaikan.

__ADS_1


__ADS_2