
Setelah mendengarkan semua yang di katakan oleh ketiga wanita yang dilumpuhkan oleh Shan Hu, Weng Lou memberikan ketiganya masing-masing satu butir pil penyembuh untuk menyembuhkan patah tulang yang mereka alami, lalu dengan cepat membuat ketiganya tidak sadarkan diri.
"Seharusnya ada ruang bawah tanah di bangunan ini, coba kau cari lalu letakkan ketiganya di sana. Jangan lupa ikat kedua tangan dan kaki mereka bersama. Meskipun tidak berguna, setidaknya mereka tidak akan bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan dari ruang bawah tanah itu," ucap Weng Lou kepada Shan Hu begitu selesai memukul leher belakang ketiganya hingga pingsan.
Shan Hu hanya mengiyakan saja perkataan Weng Lou tanpa banyak tanya karena tidak terlalu mengerti kenapa Weng Lou menyuruhnya melakukan hal itu.
Mengangkat tubuh ketiga gadis itu, Shan Hu pun keluar dari ruangan tersebut lalu kemudian berjalan masuk ke sebuah ruangan lainnya yang berada tidak jauh dark ruangan tempat Weng Lou berada.
Tap....
Weng Lou menutup bukunya dan kemudian menghela napasnya. Ketiga wanita itu hanya memberikannya sedikit informasi saja karena mereka hanyalah anggota biasa. Justru anggota yang memiliki posisi penting di Kelompok Darah mereka adalah para pria yang dibunuh oleh Weng Lou dan Weng Ying Luan di luar markas mereka sebelumnya.
Jika dia tau akan seperti ini lebih baik dia tidak membunuh orang-orang itu semuanya.
"Haaaa..." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Weng Lou kemudian meletakkan buku di tangannya ke lemari tempat buku itu berasal.
Kali ini Weng Lou tak mengambil buku lainnya melainkan memilih untuk berjalan ke lemari kayu lainnya yang ada di dekat lemari berisi buku-buku yang ia baca.
Lemari ini berisikan gulungan-gulungan kertas yang terlihat masih baru. Bahkan ada beberapa gulungan yang masih tersegel dengan kertas berpola, yang menandakan bahwa ini bukan gulungan-gulungan kertas biasa.
Tanpa ragu Weng Lou mengambil salah satu gulungan yang terlihat masih baru itu dan kemudian melepaskan segel kertas yang menutupnya.
Ssssttt....
Gulungan itu dibuka olehnya dan memperlihatkan selusin baris kalimat yang mana masih terlihat baru saja ditulis.
Kerutan terlihat pada kening Weng Lou begitu membaca semua kalimat yang ada pada gulungan kertas itu. Dia pun mengambil gulungan lainnya, membukanya, lalu kemudian membacanya.
Sama seperti sebelumnya, kerutan di keningnya masih tetap ada, bahkan tampak kerutan itu semakin jelas selesai membaca gulungan kedua.
Weng Lou terus lanjut membaca dengan cepat dan setelah semua gulungan selesai ia baca wajah Weng Lou pun tampak sedikit berbeda seperti biasanya.
"Gulungan-gulungan ini....semuanya berisikan apa saja yang sudah dilakukan oleh para bajingan ini. Tapi bagaimana bisa mereka melakukan semua itu dengan jumlah seperti sesedikit ini?"
Isi dari setiap gulungan yang dibaca oleh Weng Lou adalah informasi akan hasil jarahan mereka dari pembantaian-pembantaian yang mereka lakukan di beberapa desa di Wilayah Tengah.
__ADS_1
Tiap barangnya diberikan rincian asalnya sehingga Weng Lou bisa dengan mudah tau apa yang dilakukan oleh kelompok ini.
"Kelompok ini sepertinya bukanlah kelompok kecil biasa nak. Aku curiga mereka hanya seperti sebuah cabang saja di Kota Hundan ini." Ye Lao berbicara di dalam kepala Weng Lou.
"Aku juga berpikir seperti itu. Jika benar seperti itu, maka orang-orang yang sama dengan kelompok ini bisa datang kapan saja ketempat ini," balas Weng Lou.
Ketika Weng Lou masih berpikir dan berbicara bersama dengan Ye Lao, pintu ruangan tempat Weng Lou berada mendadak terbuka dan terdorong dengan kuat.
Kepala Weng Lou langsung menoleh dan menatap sosok Shan Hu yang saat ini terlihat seperti habis melihat hantu.
"Tuan, anda harus melihat ini."
Beberapa saat yang lalu.
Ketika Shan Hu membawa ketiga wanita yang ia lumpuhkan, dia berhasil menemukan tangga yang membawanya ke sebuah ruang bawah tanah, sama seperti yang dikatakan oleh Weng Lou padanya.
Dia pun menelusuri ruangan bawah tanah dan kemudian meletakkan tiga wanita itu, lalu mengikat kedua kaki dan tangan mereka bersama sama seperti perintah yang diberikan padanya.
Ruangan bawah tanah itu dipenuhi dengan barang berharga dan memenuhi ruangan bawah tanah itu. Karena penasaran dengan barang-barang itu, Shan Hu pun memeriksanya satu persatu, hitung-hitung sebagai bahan laporannya kepada Weng Lou.
Tapi, ketika dia sedang memeriksa sebuah barang yang mana merupakan sebuah pedang besar yang memiliki sarung sangat indah, dia berhenti bernapas karena melihat potongan tangan yang masih memegang erat pegangan pedang itu.
Orang gila mana yang mau menyimpan harta beserta potongan tubuh sekaligus?
Potongan tangan itu terlihat sudah mengering dan tidak membusuk sama sekali yang menandakan tangan itu adalah milik seorang praktisi beladiri yang berada di ranah Pembersihan Jiwa.
Tidak sampai disitu. Shan Hu kemudian memeriksa barang-barang lain, dan dia menemukan setidaknya setiap barang yang ada di situ terdapat bercak darahnya.
Sebagai mantan pemimpin bandit, Shan Hu bisa langsung mengetahui asal dari barang-barang ini semua.
Ya, ini adalah hasil dari jarahan para kelompok ini, yang mana sepertinya semuanya berasal dari pembantaian sepihak.
Shan Hu meskipun dulunya seorang bandit, tapi tidak pernah sampai melakukan pembantaian.
Ketika dia masih termangu menatap barang-barang itu, sorot matanya menangkap sebuah benjolan aneh yang ada pada dinding ruangan bawah tanah itu.
__ADS_1
Penasaran dengan itu, dia pun memeriksanya.
Tengg....tengg....
Dia mengetuk-ngetuk benjolan itu dan terdengar suara seperti logam.
Meraba-raba sekitarnya, Shan Hu kemudian menepukkan benjolan lainnya yang berada beberapa puluh centimeter dari benjolan pertama, dan jauh lebih kecil dari benjolan pertama.
Srrrrccc......
Shan Hu menekan benjolan itu, dan kemudian dinding itu bergetar hebat.
Benjolan pada dinding itu kemudian bergerak, lalu membuka dan memperlihatkan sebuah lorong yang gelap dan mengarah masuk sangat dalam kebawah tanah. Shan Hu menduga ini adalah sebuah lorong yang mengarah ke luar dari Kota Hundan.
Karena menurutnya ini adalah informasi yang penting, dia pun bergegas pergi dari situ dan segera melaporkannya pada Weng Lou.
***
Beberapa saat setelah Shan Hu memberitahu Weng Lou.
Weng Lou langsung pergi bersama dengan Shan Hu ke ruang bawah tanah dan menemukan lorong yabg dimaksud oleh Shan Hu sebelumnya.
Mengaliei Qi pada kedua matanya, Weng Lou bisa melihat lorong gelap itu dengan cukup jelas, namun tetap tidak bisa melihat ujungnya.
"Aku penasaran dengan ujungnya," ucap Weng Lou yang kemudian menciptakan sebuah bola berukuran setengah badannya di depannya yang terbuat dari Qi dan bercahaya terang.
"Ayo kita lihat, sejauh mana lorong ini."
Shuuuu.....
Weng Lou menembakkan bola Qi itu yang kemudian bergerak masuk dengan cepat ke dalam lorong tersebut.
Sepuluh detik kemudian, bola cahaya itu masih terus bergerak di kejauhan dan masih belum ada tanda-tanda dari ujung lorong tersebut.
Bola itu terus bergerak hingga mencapai kejauhan satu setengah kilometer sebelum kemudian lenyap, menghilang karena sudah terlalu jauh dari batas kontrol mlik Weng Lou. Sayangnya ujung lorong itu masih belum terlihat dan membuat Weng Lou semakin penasaran.
__ADS_1
"Percuma jika kita hanya melihat dari sini, ayo kita masuk saja."
Setelah mengatakan itu, Weng Lou pun melangkahkan kakinya, dan berjalab masuk ke lorong gelap tersebut yang kemudian diikuti oleh Shan Hu dari bakangnya.