Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 376. Sebuah Palu


__ADS_3

Sore harinya, semua penduduk yang ada di desa itu menyiapkan segala yang dibutuhkan.


Para pria menyiapkan barang-barang seperti meja, kursi dan pembakaran untuk memasak, sedangkan para wanita sibuk menyiapkan segala macam bumbu dan apa saja yang akan dimasak.


Weng Lou sedikit menyadari bahwa jika para penduduk ini menggunakan persediaan milik mereka untuk dimasak, maka kemungkinan mereka akan sulit lagi untuk mengisinya, oleh sebab itu Weng Lou memburukan mereka beberapa binatang buas di dekat desa, seperti kelinci, dan juga rusa yang berkeliaran di luar Hutan Kabut sebagai bahan masakan mereka.


Malam harinya.


Suasana kebahagian terlihat jelas di desa tersebut.


Berbagai macam lampion dipasang, dan hiasan cantik lainnya digantung tinggi membuat pemandangan malam yang berkabut tetap terlihat indah.


Anak-anak bermain, berlari kesana-kemari sambil tertawa bahagia, sementara para orang dewasa sibuk menyiapkan makanan yang telah siap dimasak di atas meja yang telah mereka susun berbaris di tengah-tengah desa.


Butuh waktu beberapa menit untuk menyusun semua makanan itu, tapi itu semua tidak penting, karena kebahagian dan kebersamaan semua orang yang ada di situ yang membuatnya terasa indah.


Setelah semua makanan telah disusun rapi, Weng Lou dan kelompok mereka pun di persilahkan untuk duduk di meja yang diletakkan di depan dan menghadap meja lainnya.


Meja di depan kelompok mereka di isi oleh Weng Wan dan kelompoknya, sisanya diduduki oleh para penduduk yang tinggal di desa itu.


Ting! Ting! Ting!


Suara gelas yang dipukulkan oleh logam menggema dan membuat perhatian semua orang langsung terarah pada asal suara itu yang tidak lain ada Kepala Desa.


Dia tampak tersenyum tipis, lalu berdeham pelan.


"Perhatian semuanya! Malam ini, kita berpesta dan merayakan kebebasan kita dari teror para siluman serigala yang telah membuat kita semua sampai harus meringkuk ketakutan di dalam rumah dua hari lebih.


Semua ini dapat kita raih karena jasa besar dari pahlawan gagah kita, Tuan Weng Lou yang perkasa! Bersulang untuk Pahlawan kita, Tuan Weng Lou!!" Kepala Desa berseru dengan rasa bersemangat besar.


""Bersulang!!""


Semua orang langsung mengangkat gelas mereka ke atas, dan berseru bersama.


Tampak kebahagian di wajah semua orang, kecuali untuk Weng Tie dan rekan-rekannya yang menyerang Weng Ying Luan. Wajah mereka tampak canggung.


Sementara itu, Weng Baohu Zhe menatap diam-diam Jian Qiang dalam rasa takut. Jika dia salah bersikap sedikit saja, maka dia akan mati. Oleh sebab itu, dia berusaha semaksimal untuk tetap tampak tenang tanpa masalah sama sekali, padahal hatinya terus berdegup kencang tak karuan.


"Hei, Lou. Apa menurutmu orang-orang di sini akan baik-baik saja nanti ketika kita meninggalkan mereka?" Weng Ying Luan yang duduk di samping Weng Lou berbisik kepadanya sambil melirik para penduduk yang tampak sangat bahagia.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Kau tau jelas para siluman serigala ini pastinya memiliki induk, bukan? Dalam Pertarungan kita melawan mereka semua sebelumnya, tidak ada induk dari para siluman serigala ini sama sekali," jelas Weng Ying Luan.


Gerakan sumpit Weng Lou langsung terhenti, dan dia menatap Weng Ying Luan dengan serius.


Itu benar, mereka tidak menemukan satupun tanda dari sang induk dari para siluman ini.


Kekuatan dari induk para siluman serigala ini haruslah paling tidak berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 puncak paling rendah, dan paling tinggi berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 menengah.


Kekuatan binatang buas yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 berarti mereka sanggup bertarung melawan tahap 2 puncak hingga tahap 3 awal.


"Tenang saja, besok masalah itu sudah akan langsung teratasi," ucap Weng Lou sambil menepuk pundak Weng Ying Luan.


Weng Ying Luan berkedip beberapa kali, dia dibuat kebingungan oleh Weng Wan, tidak biasanya dia setenang ini.


Biasanya dia juga akan ikut panik sepertinya, atau paling tidak dia akan sedikit serius membahas masalah ini bersamanya. Namun nyatanya Weng Lou menganggap permasalahan ini seperti angin lalu saja baginya.


Dia akui kelompok mereka bisa mengalahkan induk siluman itu dengan sangat mudah, namun belum tentu induk siluman itu akan muncul kepada mereka, mungkin saja dia malah akan menyerang desa ini begitu kelompok mereka sudah melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Hundan yang tinggal berjarak 20 kilometer saja dari sini.


"Sudahlah, lupakan masalah itu. Bagaimana dengan taruhan kita sebelumnya. Kau mengatakan yang paling sedikit membunuh harus menyerahkan kue miliknya pada pemenang."


"Kita seri, sialan!" makinya kepada Weng Lou.


"Benarkah? Terserah mu saja. Lagi pula aku tidak tertarik dengan kue yang telah aku berikan."


Keduanya pun menikmati kembali makanan mereka dan melupakan permasalahan dafi induk siluman serigala ini.


Waktu pun berlalu.


Tak terasa sudah tengah malam dan semua penduduk yang lain sudah selesai membersihkan semua peralatan dan perabotan yang dipakai untuk berpesta beberapa saat yang lalu.


Beberapa saat kemudian, semuanya telah dibereskan, dan semua penduduk pun beristirahat di dalam rumah mereka masing-masing.


Kelompok Weng Wan dan para murid dari Keluarga Leluhur Weng yang lain memilih membangun tenda di tengah desa.


Karena pertarungan siang tadi, mereka semua pun langsung beristirahat kecuali Weng Wan, dan Weng Baohu Zhe.


Weng Lou, dan Weng Wan sedang duduk di atas atap bangunan penginapan.

__ADS_1


Sementara Weng Baohu Zhe memilih untuk berjalan berkeliling desa.


Dia sedikit tidak enak jika harus berada di dekat Jian Qiang, meskipun sebenarnya dia tetap berada di dalam pengawasan Jian Qiang meski sosoknya tidak terlihat.


"Bagaimana caramu bisa mendapatkan kekuatan fisik sebesar itu? Bahkan diriku yang terus berlatih setiap hari tidak bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu." Weng Wan berbicara kepada Weng Lou yang bersamanya.


"Apa kau pernah dengar tentang Penempa?"


"Hm? Orang-orang yang membuat senjata, bukan?"


"Ya, itu benar. Para Penempa mampu membuat senjata yang berasal dari berbagai macam jenis logam dan batu mulia, semua itu dapat dilakukan karena Penempa memiliki kekuatan fisik yang paling tinggi.


Mereka mendapatkan kekuatan ini dari latihan mengayunkan palu setiap hari. Bukan dari satu dua ayunan, tapi dari ribuan, bahkan puluhan ribu. Aku memiliki kekuatan fisik yang besar karena latihan ini.


Tapi, menjadi seorang Penempa bukanlah hal yang mudah, diperlukan yang namanya bakat alami. Meski kau rajin berlatih sekalipun, jika kau tidak berbakat maka percuma," jelas Weng Lou.


"Lalu kenapa kau memberitahukan hal itu jika sudah bisa menduga aku tidak berbakat dalam menempa?" Weng Wan mengerutkan dahinya.


Fakta bahwa Weng Lou mengatakan seseorang memerlukan bakat dalam menempa, itu berarti dirinya tidak memiliki bakat dalam hal itu.


Dia sudah paham setiap perkataan dari Weng Lou, sahabat bukanlah sekedar nama saja bagi mereka.


"Baguslah jika kau langsung mengerti. Aku mengatakan ini bukan karena ingin mengejekmu, tapi justru sebaliknya.


Aku tidak mengatakan kau harus belajar dalam menempa, kau hanya harus berlatih mengayunkan palu saja, tidak perlu belajar menempa sama sekali," ucap Weng Lou sambil tersenyum kecil.


Mulut Weng Wan pun terbuka mendengarnya. Itu benar! Dia tidak perlu harus belajar menempa untuk bisa mengayunkan palu!


"Sebagai hadiah pertemuan kita....ini, hadiah mu."


Weng Lou mengayunkan tangannya, dan sebuah palu yang sama yang ia pakai siang tadi untuk berlatih keluar dari dalam ruang penyimpanannya.


Dia tidak membiarkan palu tersebut mengenai atap dan langsung menangkapnya, lalu menyerahkannya pada Weng Wan.


Menatap palu tersebut selama beberapa saat, Weng Wan pun memutuskan untuk mengambil palu itu dari tangan Weng Lou.


Tapi kemudian, sebuah bobot yang sangat berat dia rasakan dari palu tersebut, dan nyaris membuatnya tertarik ke bawah. Buru-buru ia mengedarkan semua kekuatan pada tangan kanannya yang memegang palu tersebut.


Dengan tangan bergetar, dia mengangkat palu tersebut di depan dadanya dan mengkertakan giginya.

__ADS_1


"Apa-apaan palu ini?!"


__ADS_2