
Tidak ada kerusakan serius yang ditimbulkan dark pertarungan antara Weng Hua melawan Jian Qiang, sehingga Zu Zhang memilih untuk tidak memperbaiki arena yang terdapat di dalam kubah pembatasnya.
Dia pun kemudian menjentikkan jarinya, dan nama pasangan peserta terakhir yang bertarung pada pertarungan kesepuluh sekaligus pertarungan terakhir pada babak semifinal tahap pertama muncul di atas arena.
Weng Wan dan Ying She yang merupakan pemuda yang mengenakan pakaian dengan lambang lotus emas di punggungnya.
Keduanya berjalan masuk ke dalam kubah pembatas, dan segera mereka berdua pun mengambil tempat mereka masing-masing.
Dalam sekali pandang, Weng Wan bisa merasakan kekuatan dari Ying She yang berjarak sekitar lima puluh meter darinya. Satu kata yang bisa dia katakan dari apa yang dia rasakan adalah, mengerikan.
Kekuatan yang terpancar darinya saja sudah sangat kuat, terlebih kedua mata kuningnya yang menatapnya dengan tajam membuat dirinya merasa seperti sedang ditatap oleh binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja.
Sringg.....
Weng Wan mengeluarkan kedua golok kembar miliknya dari dalam ruang penyimpanannya, dan segera menempatkannya dalam posisi siap bertarung. Dia tidak mau lengah sedikit pun, sehingga lawan bisa mendaratkan serangannya pada tubuhnya.
Di luar Weng Lou dengan tajam menatap sosok Ying She, yang kemudian ditatap balik olehnya. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain selama beberapa, sampai kemudian Ying She segera mengalihkan pandangannya pada sosok Weng Wan yang berjarak tidak jauh darinya.
"Haaa....hanya lawan yang lemah, buang-buang waktu ku saja. Bahkan palingan dia tidak bisa membantuku memanaskan tubuhku," ucap Ying She yang menatap dari atas sampai ke bawah sosok Weng Wan.
Ditatap seperti itu, Weng Wan pun merasa tidak enak, meski dia tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh lawannya, namun dia yakin itu bukanlah niat baik.
Zu Zhang tidak segera memulai pertarungan antara Weng Wan melawan Ying She karena dia pada saat ini sedang terfokus menatap lambang lotus emas pada punggung Ying She.
"Berani juga mereka mengirimkan seorang anak kecil seorang diri untuk datang ke pulau ini. Aku yakin mereka masih mengingat dengan jelas perjanjian yang telah disepakati selama ratusan tahun ini." Zu Zhang berbicara dengan suara pelan.
Di atas arena, Yi Chen yang saat ini bersama dengan Hao Lang dan Feng Lang sama-sama menatap dengan serius Ying She di atas arena.
"Apa yang diinginkan anak itu datang ke Pulau Pasir Hitam?" tanya Feng Lang dengan bingung.
"Entahlah, namun sepertinya Keluarga Ying sebentar lagi akan mengkhianati perjanjian yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini," balas Hao Lang, saudaranya yang tidak lain adalah Raja Kerajaan Wilayah Tengah.
Di sisi lain, Yi Chen hanya diam menatap Ying She. Di tangannya, dia memegang dengan erat sebuah batu giok emas yang memiliki fungsi layaknya giok pengirim pesan yang berwarna hitam. Hanya saja giok ini memiliki kecepatan pengiriman sinyal yang jauh lebih cepat.
Giok emas yang ada ditangannya ini terhubung dengan Tetua Besar Ziao yang ada di Sekte Langit Utara saat ini.
Terlihat tangannya sedikit gemetar memegang giok tersebut. Jika tidak hati-hati, giok tersebut bisa pecah kapan saja.
__ADS_1
"Keluarga Ying....apakah mereka benar-benar ingin merusak perjanjian yang sudah kami semua jaga baik-baik selama ini? Kami sampai rela untuk tidak bisa pergi keluar dari Pulau Pasir Hitam demi berlangsungnya perjanjian tersebut. Jika mereka melanggarnya, maka salah satu keluarga penguasa akan dimusnahkan dalam hitungan beberapa hari saja.
Tidak....jika sampai kepala keluarga Keluarga Leluhur Weng dan Keluarga Nyala Api Phoenix, Keluarga Lin mengetahui kemunculan anak ini... kemungkinan besar kedua keluarga akan kembali bersatu seperti dulu dan sama-sama menduduki tahta yang telah kosong untuk seribu tahun lamanya...." pikir Yi Chen.
Dia pun segera membuang jauh-jauh pemikirannya saat ini, dan memfokuskan dirinya pada arena pertandingan.
Ying She yang ada di arena saat ini bisa merasakan tekanan yang sangat kuat pada kedua pundaknya, namun meski begitu dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menghiraukannya, terutama perasaan seperti ditatap oleh beberapa pasang mata dari Praktisi Beladiri yang memiliki kekuatan luar biasa seperti Yi Chen dan Hao Lang.
Zu Zhang yang diam sedari tadi akhirnya membuka mulutnya, dan menghela napas pelan.
"Baiklah semuanya! Kita telah masuk ke pertarungan terakhir kita pada tahap pertama babak semifinal hari ini! Pertarungan kesepuluh, Weng Wan melawan Ying She!"
Dia kemudian menatap ke arah para penonton sambil kedua matanya menelusuri satu persatu para penonton tersebut.
"Yi Chen, kau perhatikan semua orang yang berada pada tempat para penonton saat ini. Jika kau menemukan keganjilan atau masalah, aku akan memperbolehkan mu untuk langsung bertindak saat itu juga," ucap Zu Zhang lewat pikirannya.
"...." Yi Chen tidak menjawab. Dia memilih untuk langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Zu Zhang padanya.
"Dimulai!" Zu Zhang berseru memulai pertarungan antara Weng Wan dan Ying She.
Di dalam kubah pembatas, Weng Wan terlihat menyiapkan dirinya untuk bertahan dan bersiap dari segala segala serangan yang akan datang padanya, tapi kemudian sosok Ying She yang menjadi lawannya mendadak menghilang dari arena.
"Argh...!"
Fhuuushh-
BAMM!!!!
Tubuh Weng Wan melesat begitu saja, dan menabrak dinding kubah pembatas dengan kuat. Mulut dan mata Weng Wan terbuka lebar, dia tidak menyangka dirinya langsung menerima serangan telak begitu saja tanpa menyadarinya sama sekali.
Tepat ketika tubuhnya akan terjatuh ke tanah, Ying She kembali muncul di depan Weng Wan, dan kali ini menendang dirinya ke atas udara sekuat tenaga.
Buck!!!
Whuuuussshhhh!!!!!
Sosok Weng Wan terbang ke atas arena hingga mencapai pembatas kubah yang menutupi bagian atas tempat mereka bertarung.
__ADS_1
Di udara, mata Weng Wan bergerak cepat dan memindai sekitarnya, mencari-cari sosok Ying She. Tak berapa lama setelah dia mencapai batas dari bagian atas arena di dalam kubah, Ying She kembali muncul dengan kakinya yang sudah menendang tubuh Weng Wan ke bawah dengan sekuat tenaga.
Untungnya, kali ini Weng Wan sudah bersiap dengan penuh. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dan membuat tendangan dari Ying She tidak mengenai tubuhnya sama sekali.
BAAMMMM!!!! BRUAACKKK!!!!
Tubuh Weng Wan terlempar ke bagian tengah arena, dan menabrak dengan keras arena hingga menciptakan kawah besar dengan dia sebagai titik tengahnya.
"Bangun!!! Ayo!!! Aku harus bangun!!! Jika tidak aku akan kalah tanpa bisa melakukan perlawanan sama sekali!!!" Weng Wan berseru dalam hatinya.
Dia segera bangkit berdiri dari tempatnya, dan kemudian menarik napasnya. Dalam waktu yang sangat singkat, dia menggunakan teknik pernapasan, pernapasan kedua, yang diajarkan oleh Weng Lou padanya.
Seketika itu juga, dirinya bisa melihat kondisi sekitarnya jauh lebih baik. Matanya dengan cepat bergerak dan menatap sosok Ying She yang ternyata tinggal berjarak dua meter saja darinya.
Terlihat dia sudah mengepalkan tangan kanannya dan akan memberikan pukulan keras pada Weng Wan seperti sebelumnya.
Namun kali ini Weng Wan sudah bersiap, dan dia pun segera mengencangkan seluruh otot-otot tubuhnya, dan detik berikutnya dia pun menghentikan pernapasan kedua yang dipakainya.
Back!
Ying She pun segera mencapai dirinya dan melayangkan pukulan pada perut Weng Wan.
Tsssss-!!
Tidak seperti sebelumnya, Weng Wan kali ini hanya terdorong mundur beberapa langkah saja, dengan tubuhnya yang tampak tak bergeming sama sekali.
Ying She sedikit terkejut melihat itu, tapi dia segera kembali tenang dan melayangkan pukulan lainnya pada Weng Wan.
BUCK!!!! PACKKKK!!!
BAAKKKK!!!!
Tinju dari Ying She mengenai dengan keras tubuh Weng Wan, tapi sama sekali tidak membuat nya bergerak dari tempatnya saat ini.
Weng Wan yang menerima serangan dari Ying She, berdiri kokoh di tempatnya dan menatap dengan serius sosoknya yang ada di hadapannya.
"Kau....tidak akan bisa mengalahkan ku jika serangan mu hanya berupa serangan fisik belaka...." ucap Weng Wan dengan senyum mengejeknya pada Ying She.
__ADS_1
Entah hanya ilusi atau Weng Wan yang salah liat, tepat ketika dia mengatakan itu kedua mata Ying She pun tampak sedikit bercahaya, dan tatapannya pada Weng Wan pun berubah menjadi dingin.
"Ya, aku memang tidak berencana mengalahkan mu dengan serangan fisik saja."