Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 525. Keluar


__ADS_3

Sementara semua orang sedang menyaksikan acara eksekusi Shengshi Huangdi di alun-alun kota, sosok seorang anak laki-laki yang terlihat berusia delapan tahun sedang sibuk berlatih memukul sebuah pohon besar di luar ibukota.


Sosoknya bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh mungilnya yang sudah mulai berotot. Tidak jauh darinya, sosok makhluk raksasa sedang berbaring dengan santai sambil mengamati bocah laki-laki itu yang sedang sibuk latihan.


Bocah yang tidak lain adalah Du Zhe itu saat ini sedang mempraktekkan sebuah teknik beladiri yang dia terima dari Weng Lou. Nama teknik itu adalah Pukulan Tangan Besi, yang mampu membuat tangan penggunanya menjadi sekuat dan sekeras besi. Ini adalah modifikasi yang diciptakan oleh Weng Lou agar Du Zhe bisa melatihnya dengan mudah, dan juga besar kekuatan yang dimiliki menjadi bertambah.


Akan tetapi, setelah terus berlatih selama sepuluh hari ini, Du Zhe tidak memperlihatkan perkembangan sedikitpun. Hal ini karena tidak ada bimbingan dari seorang ahli seperti Weng Lou atau seorang Praktisi Beladiri yang lebih senior darinya. Dia murni berlatih seorang diri, dan tanpa lelah memukul sebuah pohon yang dia jadikan bahan latihan.


*Sheesss...*


Udara masuk ke paru-paru Du Zhe dan membuat dadanya mengembang. Kedua kakinya segera memasang posisi kuda-kuda yang tampak serupa seperti pada Kitab Teknik Pukulan Tangan Besi yang sedang dia latih.


Tangan kanannya dikepalkan dengan keras, otot-otot pada seluruh tubuhnya tampak mengencang, dan kemudian dengan cepat tangan kanannya itu segera memukul pada pohon di hadapannya.


*Buk!* Pukulannya mendarat dengan keras pada pohon itu, tapi tidak menimbulkan bekas kerusakan sama sekali.


Menyaksikan itu, tubuh Du Zhe pun ambruk ke tanah dan dia menghela napas panjang dengan penuh kekecewaan. Dia telah berlatih selama kurang lebih 3 jam hari ini, tetapi masih belum bisa mempraktekkan Tinju Tangan Besi. Seluruh informasi yang ada pada Kitab Teknik Tinju Tangan Besi telah dibacanya dengan baik, dan bahkan telah dia simulasikan di kepalanya.


Namun tidak peduli seberapa keras dia berusaha, setiap kali dia mencoba mempraktekkannya, dia sama sekali tidak mendapatkan hasil. Biasanya, Du Zhe akan segera menyerah jika dihadapkan pada posisi menyedihkan seperti ini. Akan tetapi, sekarang dia adalah murid dari Weng Lou yang merupakan seorang Praktisi Beladiri yang sangat kuat!


Jika dia, sebagai murid nya malah membuat nama Weng Lou menjadi jelek karena tidak bisa mempraktekkan sebuah teknik beladiri yang 'gampang' seperti Tinju Tangan Besi, maka dia tidak layak menjadi murid Weng Lou.


Du Zhe menatap tangan kanannya yang mengepal keras. Tidak ada yang salah ketika dia mempraktekkan semua gerakan yang ada pada Kitab yang dia baca, tetapi kekuatan yang seharusnya muncul saat pukulan dilepaskan tidak muncul sama sekali. Hal ini yang membuat Du Zhe kebingungan.


Pada situasi tertentu, biasanya seorang Praktisi Beladiri yang akan mempraktekkan teknik beladiri baru, akan berkonsultasi pada Praktisi Beladiri lainnya yang juga menguasai teknik beladiri yang sama jika dia mengalami hambatan dalam mempraktekkan teknik beladiri tersebut. Tetapi teknik beladiri Tinju Tangan Besi adalah teknik ciptaaan Weng Lou, dan hanya Weng Lou serta beberapa orang yang bisa mempraktekkannya.


Jika tidak ada arahan dari orang yang ahli, mustahil Du Zhe bisa melakukan Tinju Tangan Besi, bahkan untuk bagian pertamanya saja!


"Menyerahlah dan tunggu saja guru mu itu, nak. Mustahil kau bisa mempraktekkan sesuatu yang bahkan kau belum pernah lihat sebelumnya." Kera Hitam Petarung yang menonton latihan Du Zhe berbicara dengan suara dalamnya.


Mendengar itu, Du Zhe hanya menggelengkan dan segera bangkit berdiri dan berniat memulai latihannya sekali lagi, "Aku tidak boleh begitu saja menyerah! Guru mungkin akan merasa kecewa seandainya aku bahkan tidak bisa menguasai satu teknik menyerang pun yang telah dia berikan padaku!"


Keringat mengucur deras dari dahinya, dan Du Zhe mengelap dengan kain yang sudah basah karena keringatnya selama latihan. Kera Hitam Petarung pun tidak berbicara lagi setelah mendengar keputusan dari Du Zhe. Dia merasa bahwa otak anak ini ada yang salah. Bagaimana bisa Weng Lou akan merasa kecewa pada muridnya sendiri karena dia tidak bisa mempraktekkan dengan benar teknik beladiri yang muridnya itu belum pernah lihat dengan mata kepalanya sendiri?


Bahkan di Pulau Pasir Hitam, mustahil ada anak sejenius itu. Weng Lou sekalipun berhasil mempelajari banyak teknik beladiri karena bantuan dari Kitab Keabadian dan Teknik Membersihkan Jiwa andalannya.


Jika memang Weng Lou mengharapkan muridnya bisa mempraktekkan teknik beladiri itu, dia seharusnya memberikan Du Zhe Teknik Membersihkan Jiwa, dibandingkan dengan teknik-teknik yang tidak jelas sama sekali.


"Oh ya, ngomong-ngomong, apa kau sudah memeriksa di wilayah selatan seperti yang aku minta kemarin?" Mendadak Du Zhe bertanya pada Kera Hitam Petarung itu.


Kera Hitam Petarung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lalu apa kau menemukan tanda-tanda Guru?"


"Tidak, tidak ada sama sekali. Gurumu itu, jejak Qi yang kita ikuti sebelumnya sepenuhnya berhenti di istana kekaisaran. Seperti hilang ditelan bumi, Guru mu itu entah menghilang kemana."


Wajah Du Zhe terlihat sedikit murung mendengarnya, namun ekspresi wajahnya segera kembali tegas, "Tidak, Guru pasti memiliki urusan yang sangat penting sehingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Aku yakin dia tidak ingin ada yang mengganggunya sehingga dia tidak memberikan petunjuk sama sekali pada ku."


Meski ucapan Du Zhe terdengar sangat menyakinkan, namun ekspresi nya terlihat jauh berbeda.


"Haahhh.... baiklah baiklah....biarkan aku sedikit memberimu saran. Dari apa yang telah aku lihat, kekuatan fisikmu itu belum cukup untuk mempraktekkan Tinju Tangan Besi itu. Jelas sekali bahwa itu adalah sebuah Teknik Beladiri yang tidak bisa dipelajari oleh Praktisi Beladiri yang berada di Dasar Pondasi tingkat 2." Kera Hitam Petarung berbicara untuk terakhir kalinya sebelum kemudian dia mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas.


"Kekuatan fisikku belum cukup?" Du Zhe terus menggumamkan kata-kata itu di dalam kepalanya, sebelum akhirnya mendapatkan ide hebat.


Dia segera pergi meninggalkan Kera Hitam Petarung itu dan mulai berlari mengitari ibukota tanpa ragu-ragu. Sebelah mata Kera Hitam Petarung terbuka dan melihat tindakan Du Zhe. Dia tertawa pelan lalu kembali memejamkan matanya, dan tidur lagi.


Sementara itu, Du Zhe yang saat ini sedang berlari memperlihat mata penuh tekadnya, "Benar! Jika kekuatan ku tidak cukup dalam mempraktekkan Teknik Pukulan Tangan Besi, maka tinggal tambahkan saja dengan latihan fisik!"


Dia benar-benar merasa seperti tercerahkan. Meski pemikiran memang sudah benar, namun apa yang dilakukannya saat ini telah jauh menyimpang dari bentuk latihan fisik. Panjang keliling ibukota Kekaisaran Fanrong mencapai delapan kilometer, dan bagi seorang Praktisi Beladiri yang berada di Dasar Pondasi tingkat 2 seperti Du Zhe itu bukanlah bentuk latihan fisik, tetapi latihan stamina.


Du Zhe benar-benar berlari tanpa mengurangi laju larinya, dan kini telah berlari sejauh satu kilometer dalam beberapa menit. Tapi saat ini, kondisi nya sudah terlihat menyedihkan. Napasnya tidak beraturan dan keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya, membuatnya tampak bermandikan keringat.


Para prajurit yang saat ini bertugas di dinding kota menatap Du Zhe dari kejauhan dan melihatnya seperti orang tidak waras. Orang gila mana yang mau berlari sejauh delapan kilometer tanpa henti?


Namun, ini semua dilakukan oleh Weng Lou. Tanpa mempedulikan dirinya sendiri, Du Zhe telah berlari mengelilingi kota dalam kurun waktu setengah jam. Jelas sekali dia harus beberapa kali berhenti berlari untuk mengisi kekuatannya.


"Hahaha....kau sedang menghancurkan dirimu sendiri, nak. Jika kau ingin bertambah kuat, latihan satu hari seperti orang gila bukanlah solusinya," ucap Kera Hitam Petarung yang kini telah bangkit berdiri dan memegang tubuh Du Zhe yang bisa tumbang kapan saja karena kelelahan.


"Tidak....masih belum....." Api semangat pada kata Du Zhe masih terlihat membara, dan Kera Hitam Petarung hanya menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak harus-"


*BUUMMMM!!!!* Saat Kera Hitam Petarung akan memberikan nasehatnya, sebuah ledakan besar menggema dari arah istana di tengah kota, dan menimbulkan keributan besar.


Bersamaan dengan itu, mata Kera Hitam Petarung itu menyipit lalu melirik ke arah Du Zhe.


"Selamat nak, sepertinya Guru mu baru saja kembali."


***

__ADS_1


Di dalam ruangan bawah tanah, sepuluh hari setelah Weng Lou terkunci.


*Bang!!! Bang!!! Bum!!!*


Suara-suara mengema di seluruh ruangan itu. Terlihat di depan pintu besar yang terbuat dari batu besar raksasa, sosok Weng Lou sedang berdiri dengan mantap dan tanpa henti memukul pintu dari batu besar di hadapannya.


*Bum!!!*


Pada saat ini, di pintu besar itu terlihat bekas pukulan dan retakan yang terjadi pada satu titik. Balas pukulan dan retakan itu di ciptakan oleh Weng Lou yang telah memberikan pukulannya selama 240 jam tanpa henti.


Meski begitu, Weng Lou harus membayar harga yang tidak sedikit. Pada kedua tangannya, luka dan darah bisa terlihat, dan bahkan ada bercak-bercak darah yang menempel pada pintu yang dipukulnya. Weng Lou tanpa mengenal rasa sakit terus-terusan memukul pintu besar itu dan terlihat seperti orang yang kesurupan.


Wajahnya tanpa ekspresi dan hanya menatap dengan fokus pada satu titik di pintu batu itu. Kantung mata besar bisa terlihat di bawah matanya. Dia selama sepuluh hari tidak tidur, dan terus-terusan memukul.


*Buk!!!! Buk!!!!! Buckk!!!!*


Tinjunya itu seperti tidak tau kapan harus berhenti, dan tak lama kemudian, sebuah retakan yang lebih besar tercipta dari bekas pukulannya. Bagai melihat sebuah harta yang amat berharga, tinju Weng Lou bergerak semakin cepat dan secara membabi buta memukuli pintu itu.


"Ayooo.......ayoooooo.....kau bajingan sialan .....aayooooo!!!!! HANCURLAAAAHHHH!!!!!"


*BAAAMMMM!!!!!*


Weng Lou melepaskan seluruh sisa tenaga dan kekuatan yang ada pada dirinya dalam satu pukulan terakhir, dan kemudian pintu batu yang telah mengunci dirinya selama sepuluh hari itu kini telah dipenuhi oleh retakan-retakan besar yang terus menjalar. Senyuman puas terlihat pada wajah Weng Lou, dan dengan satu gerakan terakhir, Weng Lou memasang kuda-kudanya dan menarik napas dalam.


*Sshuaa....* Asal putih keluar dari mulutnya, dan otot kaki kanannya mengencang sepenuhnya.


*Whuusshh- PRUAACKKK!!!!! BUUMMMM!!!*


Akhirnya, pintu besar itu pun hancur, pecahan batu berhamburan ke segala arah, namun Weng Lou tetap berdiri tegak dengan senyum lebarnya menatap tangga gelap yang mengarah ke atas.


"Aku....berhasil...." Weng Lou berusaha sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkan rasa senangnya itu, tapi senyum lebarnya membuatnya tidak bisa.


Pada akhirnya, Weng Lou mulai melangkah maju dan melewati bongkahan-bongkahan batu yang berserakan di tanah dan mulai menaiki satu persatu anak tangga yang mengarah ke atas itu. Kondisi yang gelap, membuat Weng Lou sangat waspada dengan setiap langkahnya.


Dia tidak mau setelah dirinya berhasil keluar dari pintu yang mengurungnya, dia malah berakhir mati konyol dengan terjatuh dari tingga sepanjang ratusan meter itu.


*Tap....tap....tap....*


Langkah kaki Weng Lou tampan mantap, tangan kanannya menyentuh dinding lorong tangga yang mengarah naik itu, dan merasakan getaran-getaran yang ada di atasnya. Meski Weng Lou telah kehilangan semua Praktik Beladiri nya, namun instingdan inderanya yang telah dia latih selama ini tetap dia miliki dan bisa merasakan langkah kaki banyak orang di ujung tangga yang dia naiki.


"Hahaha ...Zhi Juan. Meski tanpa Qi sekalipun, kekuatan fisikku sudah melebihi orang-orang di ranah Penyatuan Jiwa. Bahkan monster di ranah Penyatuan Jiwa tidak memiliki kekuatan fisik seperti diriku," ucap Weng Lou yang tampak menyedihkan.


Sementara Weng Lou mulai melangkah satu demi satu di lorong tangga bawah tanah, situasi di istana kekaisaran tampak sedang kacau karena suara ledakan yang terjadi sebelumnya. Liu Ning, dan yang lainnya yang baru saja kembali dari alun-alun kota segera diungsikan oleh para prajurit karena mengira mereka telah menerima serangan musuh.


"Apa-apaan?! Bukannya semua penjahat itu sudah kita tangkap?!" salah seorang prajurit berseragam lengkap berjalan masuk ke istana dengan beberapa prajurit lainnya menuju ke sumber suara.


Mereka semua tampak sedang dalam siaga penuh dan siap untuk berperang.


Li Min, yang mengenakan pelindung logam pada tubuhnya, berjalan masuk ke ruang takhta di dalam istana. Di belakangnya, para prajurit yang telah mengenakan seragam dan bersenjata lengkap ikut masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka semua memasang wajah serius, "Semuanya! Atur posisi siap bertempur!"


Li Min yang memimpin para prajuritnya berseru tegas. Para prajurit yang membawa perisa bersama mereka segera diposisikan di paling depan, lalu diikuti dengan para prajurit yang membawa senjata tombak, pedang dan senjata dekat lainnya. Dan di paling belakang barisan, sekelompok pemanah ditempatkan dan mereka sudah menarik busur mereka, siap menembak kapan saja.


Berada di paling depan, Li Min menghunuskan pedang di tangannya, dan berjalan selangkah demi selangkah ke arah takhta singgasana yang mana merupakan asal bunyi ledakan sebelumnya. Matanya tampak serius dan menatap takhta di hadapannya dalam diam.


Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari belakang takhta itu, dan membuat semua orang semakin waspada.


*Bam!*


Suara hantaman besar terdengar kembali, dan Li Min segera mengangkat tangan kanannya, memberi sinyal pada pasukannya agar jangan menyerang dulu.


*BAMM!!!! BRUACK!*


Suara hantaman sekali lagi terdengar, dan diikuti dengan suara seperti sesuatu yang hancur. Debu mengepul di udara, dan kemudian suara langkah kaki yang sebelumnya mereka dengar kini terdengar semakin jelas.


"Uhuk! Uhuk!!!! Ahhh.... perasaan ku debu-debu itu tidak sebanyak itu sebelumnya...."


Suara seseorang terdengar dari dalam kepulan debu itu, dan Li Min tetap mengangkat tangannya.


Ketika debu itu menghilang, sosok seorang pemuda yang sangat dikenalinya terlihat dari dalam kabut itu, dan Li Min pun seketika itu juga terkejut dan tanpa sengaja menurunkan tangan kanannya, yang berarti sinyal melepaskan tembakan panah kepada pasukannya.


*Shuu!*


"Hm?!"


Weng Lou, yang baru saja keluar dari dinding terakhir yang menghalanginya, segera disambut dengan hujan anak panah yang mengarah kepadanya.


"Apa-apaan?!" dia berseru kaget dan buru-buru melompat tinggi, menghindari semua anak panah itu.

__ADS_1


*Tak! Prak! Tsh!*


Semua anak panah itu menghantam lantai batu, dan tidak ada yang mengenai satu pun sasarannya. Sosok Weng Lou yang melompat sebelumnya kini mendarat dengan sempurna di hadapan para prajurit itu dan memperlihatkan tatapan tidak senangnya.


"Kalian ini.....apa kalian prajurit Shengshi Huangdi?" Weng Lou bertanya dengan suara dingin.


Kemunculan yang mendadak itu segera disambut dengan sebuah sayatan pedang oleh prajurit yang ada di depannya.


*Sring!* Dengan mudahnya Weng Lou menghindari serangan itu dan mendengus marah, "Aku anggap serangan itu sebagai jawaban iya."


Setelah mengetakan itu, kaki kiri Weng Lou segera diangkat tinggi, dan dengan kekuatan seperti layaknya binatang buas, kakinya itu menghantam tanah dengan keras dan menimbulkan getaran hebat yang mengacaukan formasi serangan para prajurit itu.


Karena kedua tangannya yang sedang terluka, Weng Lou memilih untuk menyerang menggunakan kedua kakinya yang masih tampak baik-baik saja. Kaki kanannya di tarik kebelakang, dan dengan keras menendang kepala salah satu prajurit.


*Bum!!!* Kepala prajurit itu menghantam tanah dengan keras, pelindung kepala yang dia kenakan sama sekali tidak melindunginya, dan membuatnya langsung terkapar di atas lantai. Darah keluar dari mulut dan telinganya.


Weng Lou tidak berhenti di situ, dia langsung melesat melancarkan teknik tendangan lainnya. Kali ini dia melompat mundur, dan kemudian menendang udara dan seketika itu juga sebuah bilah angin tajam tercipta dan mengenai lebih dari tiga orang prajurit dan langsung membunuh mereka begitu saja.


Sementara pertarungan antara para prajurit dengan Weng Lou telah pecah, Li Min yang sebelumnya sedang merasa terkejut kini telah mendapatkan kembali ketenangannya dan menyadari kekacauan yang telah terjadi.


"Tu-Tuan Pahlawan Lou! Hentikan!! Ini kami!!!" Li Min berteriak panik. Dia tau jika mereka memulai perang dengan Weng Lou maka mereka semua hanya akan terbantai tanpa bisa melakukan perlawanan. Jadi, sebelum peperangan itu benar-benar terjadi, lebih baik dia segera menghentikan kesalahpahaman ini secepatnya.


*Brack!!!*


Tendangan Weng Lou menendang dengan keras dada salah satu prajurit dan membuatnya memuntahkan darah dalam jumlah besar. Perhatian Weng Lou segera terarah pada Li Min. Dia menyipitkan matanya, dan akhirnya mengingat dirinya.


Akan tetapi, serangan dari para prajurit akan berhenti, dan kembali menyulut emosi Weng Lou yang baru saja tenang. Layaknya seekor monster bertubuh manusia, kaki kanan Weng Lou dihentakkan ke tanah, dan getaran yang jauh lebih besar dari sebelumnya tercipta dan, membuat semua prajurit yang ada di situ terjatuh ke atas tanah kecuali Li Min yang memang memiliki tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan para prajurit yang dia pimpin.


"Kalian semua hentikan!!!! Dia adalah Pahlawan Lou yang telah membebaskan semua orang dari Wilayah Kumuh!!! Siapa saja yang berani menyerang, maka akan aku penggal saat ini juga!!!"


Tenaga dalam milik Li Min segera menyapu ruangan itu dan membuat semua bawahannya menjadi terdiam di tempat mereka. Di sisi lain, Li Min segera berjalan mendekat ke arah Weng Lou dan membungkuk hormat kepadanya.


"Pahlawan Lou! Kami minta maaf sebesar-besarnya karena telah menyerang mu sebelumnya! Ini hanya kesalahpahaman kami! Kami harap anda bisa memaafkan kami!" Li Min berlutu di hadapan Weng Lou, meminta ampunan darinya.


Mata Weng Lou diam menatap Li Min sejenak, dan segera mengkontrol emosinya. Dia terbawa emosi sebelumnya, sehingga tanpa pikir panjang menyerang para prajurit, namun tetap saja mereka yang telah menyerangnya lebih dulu.


"Hm! Lain kali hal seperti ini terjadi, aku tidak akan menahan diri pada kalian semua," ucap Weng Lou dengan suara sedingin es.


*Glek!* Mereka semua menelan ludah saat mendengar ancaman Weng Lou.


Saat situasi masih dalam keadaan canggung seperti itu, mendadak dari arah pintu masuk, seorang anak laki-laki yang tidak lain adalah Du Zhe berlari masuk dan segera menuju ke arah Weng Lou dengan raut wajah bahagianya.


"Guru!!!! Kau akhirnya kembali!!!"


Du Zhe yang tidak bisa menahan diri akhirnya menangis haru dan memeluk erat tubuh Weng Lou tanpa menghiraukan kondisi sekitarnya. Weng Lou tidak menghindar dan membiarkan Du Zhe memeluknya. Anak ini pasti mengalami beberapa kesulitan saat dirinya tidak ada, pikir Weng Lou.


"Karena muridku ada di sini, aku akan melupakan semua masalah hari ini. Segera siapkan perjamuan besar untukku, dan sebaiknya jangan menahan diri dalam menghidangkan makanan, karena aku sangat lapar saat ini." Weng Lou melambaikan tangannya dan berjalan pergi bersama dengan Du Zhe keluar dari tempat itu, sementara Li Min diam di tempatnya dengan perasaan lega dalam hatinya.


Saat Weng Lou berjalan pergi, mata Li Min tanpa sengaja melihat darah yang terus menetes dari kedua tangan Weng Lou dan sedikit kebingungan. Pasalnya, Weng Lou menyerang para prajuritnya sebelumnya hanya menggunakan kedua kakinya saja, dan tidak dengan tangannya.


Dia kemudian memperhatikan lebih seksama dan akhirnya menemukan beberapa luka pada tangan Weng Lou yang terus mengeluarkan darah.


Melihat itu, Li Min tidak bisa menahan diri untuk berbicara kepada Weng Lou, "Pahlawan Lou! Maaf jika aku menyinggung mu, tapi sepertinya kedua tangan Anda terluka sangat parah saat ini. Jika anda tidak keberatan, biarkan kami untuk mengantarkan Anda ke ruangan khusus untuk Anda. Anda bisa membersihkan diri terlebih dahulu lalu mengobati luka Anda sambil menunggu pelayan menyiapkan perjamuan untuk anda!" Li Min dengan hormat berbicara kepada Weng Lou yang baru saja akan melewati pintu keluar dari ruangan tersebut.


Du Zhe yang bersama dengan Weng Lou terkejut mendengar hal itu dan segera melihat kedua tangan Weng Lou yang ternyata memang benar sedang terluka. Hanya dalam sekali lihat, dia bisa tau itu semua bukanlah luka ringan karena matanya menangkap beberapa tonjolan putih yang tidak lain adalah tulang di luka pada tangan Weng Lou.


Dengan luka separah itu, Weng Lou bisa mengontrol emosinya dengan baik dan menutupi rasa sakit yang dialaminya, seberapa kuat dan berpengalaman kah Gurunya ini? Du Zhe dalam hatinya tidak bisa berhenti memuji Guru yang telah mengubah nasibnya ini.


"Hmm....saranmu cukup bagus. Baiklah, aku akan menerima nya. Bawa aku dan murid ku ke ruangan kami!" ucap Weng Lou yang memperhatikan tatapan muridnya itu.


"Guru, aku sudah memiliki ruangan ku sendiri. Jika Guru mau, Guru bisa mengambilnya!" Du Zhe berbicara dengan terus terang.


"Oh? Benarkah? Kalau begitu berikan aku ruangan yang berada di samping ruangan muridku ini!"


"Tentu Tuan- maksudku Pahlawan Lou! Kami memiliki banyak ruangan yang masih kosong! Pelayan! Bawa Pahlawan Lou ke ruangan yang ada di samping ruangan Tuan Muda Du Zhe!" Li Min berseru, dan seorang pelayan dengan tubuh bergetar berjalan masuk dari arah luar. Sepetinya dia sudah bersiap-siap di tempat itu jika seandai-andai dirinya dibutuhkan.


Pelayan wanita itu menatap Li Min sejenak, sebelum mengangguk kepadanya dan segera membawa Weng Lou dan Du Zhe sesuai perintah dari Li Min.


***


**Words: 3217


Catatan Penulis:


Hmmm....menjawab beberapa komentar mengenai chapter sebelumnya. Ada beberapa yang mengatakan bahwa Weng Lou reset season, tapi nyatanya tidak. Dia hanya kehilangan Qi nya dan beberapa kemampuan yang memerlukan Qi untuk dipakai.


Pada kenyataannya, kekuatan fisik Weng Lou sebenarnya sudah jauh dari kata OP. Dan bahkan sebenernya saya sempat berencana menghilangkan kekuatan fisik ini, dan membiarkan Weng Lou dengan kekuatan garis darah keturunannya, namun dengan berbagai perhitungan, saya memilih untuk menghilangkan Qi nya saja.


Untuk kekuatan garis darah keturunan Weng Lou, itu masalahnya sama Zhi Juan, bukan author🗿**

__ADS_1


__ADS_2