
Tandukan dari Kambing Petapa tampak seperti sebuah gunung yang sedang menghantam ke arah seekor semut.
Tubuh Kambing Petapa tak kurang dari seratus meter, sedangkan panjang tubuhnya dua ratus meter lebih. Walau besar tubuhnya sedikit dibawah rata-rata dibandingkan dengan sesama binatang buas yang memiliki kekuatan seorang Penguasa Jiwa, namun tidak akan ada yang meragukan kekuatannya. Dengan tubuh sebesar itu, dia bisa meruntuhkan sebuah gunung yang sebenernya dengan sangat mudah.
Meskipun tubuhnya tidak terlalu besar, namun kedua tanduknya sanggup menghancurkan apa saja yang dihantamnya.
Sebenarnya, pertumbuhan dari Kambing Petapa lebih dari separuhnya diberikan kepada kedua tanduknya, sehingga tubuhnya terlihat lebih kecil dibandingkan kedua tanduknya jika digabungkan. Kedua tanduknya ini bisa dengan mudah menyaingi Senjata Spiritual tingkat tertinggi. Dari segi kekuatan serta daya tahan, hampir tidak ada yang bisa menghancurkannya.
"Hancurlah!!!!"
*Mbeeekkkk.....!!!!!!*
Secara mengejutkan, sebuah cahaya keemasan melapisi tanduk sang Kambing Petapa. Mata Weng Ying Luan bercahaya saat melihatnya. Itu adalah gabungan antara Qi dan Kekuatan Jiwa yang dipadatkan, dan membentuk lapisan pada tanduk kambing sehingga menjadi jauh lebih tajam dan merusak ketika mengenai targetnya.
Lapisan itu membentuk sebuah tanduk yang menyatukan dua tanduk Kambing Petapa. Ujung tanduk itu mengarah tepat kepada Weng Ying Luan.
Kedua telapak tangan Weng Ying Luan terbuka. Dia mengarahkan telapak tangannya pada tanduk besar itu. Dan kemudian cahaya keperakan terlihat di kedua telapak tangannya.
Cahaya perak itu menimbulkan sebuah tekanan besar yang mempengaruhi udara di sekitar Weng Ying Luan. Tekanan itu tidak seperti tekanan pada umumnya yang membuat massa suatu benda menjadi bertambah dan membuatnya tertarik ke satu titik.
Tekanan ini, secara aneh malah mengeluarkan kekuatan penolakan yang sanggup menghiraukan lapisan pertahanan apapun yang mengenainya.
"Lou, karena kau tidak ada di sini, maka aku akan meminjam teknik milikmu yang telah kau sempurnakan ini."
Weng Ying Luan memfokuskan Qi miliknya di kedua telapak tangannya, sebuah pusaran bisa terlihat dengan jelas. Pusaran itu jika di lihat sekilas tampak bergerak lambat, namun jika dilihat dari dekat dan seksama, pusaran itu nyatanya berputar dengan sangat cepat. Dan masing-masing pusaran di telapak tangannya berputar ke arah yang berbeda.
"Huufffttt.......Tapak Purnama Baru, Kelahiran Purnama Baru!"
Saat kedua telapak tangan Weng Ying Luan dan tanduk Kambing Petapa saling mengenai satu sama lain, secara mengejutkan tubuh besar Kambing Petapa terhenti di tempatnya. Sosok Weng Ying Luan tetap berdiri melayang di udara, dia juga berhenti bergerak seperti Kambing Petapa.
__ADS_1
Kaki Kambing Petapa yang terbenam di dalam tanah mendadak seperti terseret mundur dan akhirnya tubuhnya terdorong perlahan sejauh sepuluh meter.
Sepuluh meter bukanlah jarak yang begitu besar bagi tubuh Kambing Petapa yang mencapai ratusan meter. Namun sepuluh meter itu tetap membuat jantung Kambing Petapa terasa seperti berhenti berdetak.
Dia terdorong mundur!! Terlebih, oleh seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa yang sepele!!!!
Mata Kambing Petapa menjadi merah karena menahan marah dan malu pada dirinya sendiri. Tidak dia sangka anak semuda Weng Ying Luan sanggup mendorongnya mundur hanya dari pertemuan kedua serangan mereka.
Saat berpikir Weng Ying Luan sudah selesai dengan tekniknya. Kambing Petapa segera di buat terdiam di tempatnya saat dia melihat sosok Weng Ying Luan telah menarik kedua telapak tangan nya yang memancarkan cahaya perak jauh lebih terang dari yang sebelumnya.
"Teknik Tapak Purnama pada awalnya hanya salah satu teknik tingkat tinggi yang bisa dipakai oleh orang-orang di ranah Pembentukan Pondasi. Namun secara mengejutkan, Lou telah memodifikasinya sehingga bisa dipakai bahkan oleh mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa. Kau beruntung karena tadi hanya menerima teknik pertama dari Tapak Purnama Baru. Saatnya kau mencoba teknik kedua Tapak Purnama Baru."
Tekanan penolakan yang sangat besar dikeluarkan oleh kedua telapak tangan Weng Ying Luan.
Tekanan itu membuat Kambing Petapa menyipitkan matanya dan berfokus pada kedua telapak tangan Weng Ying Luan. Dia menarik napas dan mendengus pelan.
Tanduknya yang bersatu dalam lapisan sebelumnya kini kembali menjadi dua. Lapisan itu kini melapisi kedua tanduk dan membuatnya menjadi sepasang tanduk yang sangat tajam dan kokoh.
Kambing Petapa menarik kepalanya ke belakang hingga tubuhnya tampak seperti sebuah busur.
Saat para binatang buas melihat Kambing Petapa membuat pose aneh itu, mereka semua terkejut bukan main dan langsung buru-buru pergi sejauh mungkin dari tempat pertarungan Weng Ying Luan dan Kambing Petapa.
"Cepat, cepat!! Pergi sejauh mungkin!!!! Tandukan Busur Kematian Tuan Kambing Petapa sanggup menciptakan gelombang kekuatan yang akan meluluhlantakkan semuanya yang ada di sekitarnya!!!!"
Dengan cepat pada binatang buas di reruntuhan kota buru-buru pergi dari tempat mereka.
Dia atas langit, Lin Mei menyaksikan semuanya dengan terkejut. Dia bukan terkejut karena perginya pasukan binatang buas dari bekas kota, melainkan karena melihat tindakan sang Kambing Petapa.
"Phoenix Agung!! Kita harus pergi sejauh mungkin!!! Gelombang kekuatan dari tandukan itu sangat berbahaya! Semuanya tanpa terkecuali akan hancur akibat tandukan itu!" Elang tunggangan Lin Mei memberitahu Lin Mei.
__ADS_1
Lin Mei diam untuk sesaat. Dia telah melihat kedatangan Weng Ying Luan dan hendak mendatanginya, namun kedua binatang buas Penguasa Jiwa sudah lebih dulu menghampirinya. Akhirnya dia memutuskan untuk menonton dan berjaga-jaga jika Weng Ying Luan dalam bahaya.
Siapa yang sangka Weng Ying Luan ternyata sangat kuat hingga bahkan dapat beradu kekuatan dengan Kambing Petapa.
"Ayo menjauh seminimal mungkin, aku ingin melihat siapa diantara keduanya yang akan kalah dalam adu kekuatan ini," ujar Lin Mei.
Mendengarnya, elang raksasa itu memekik dan segera melaksanakan perintah Lin Mei. Dia mundur sejauh beberapa ratus meter sebelum kemudian berhenti dan menatap ke arah Weng Ying Luan dan Kambing Petapa yang sepertinya sudah selesai dengan persiapannya masing-masing.
"Manusia rendahan, aku akan mengakui kekuatan mu jika kau sanggup bertahan setelah menerima serangan ku ini!!! Tandukan Busur Kematian!!!!" Kambing Petapa yang kepalanya ditarik ke belakang, segera mendorong kepalanya ke depan dan menanduk dengan kecepatan yang sedemikian rupa hingga bayangannya sebelum menanduk bisa terlihat.
Napas Weng Ying Luan menjadi berat. Telapak tangannya yang memancarkan cahaya perak segera bergabung, lalu dia membuka telapak tangannya dan dengan satu dorongan segera mengenai tanduk sang Kambing Petapa.
"Tapak Purnama Baru, Puncak Purnama Baru!"
*PUFFTTT! FHUUUUU!!!!*
Ledakan bergema, gelombang kejut tercipta dari kedua serangan mereka dan menerjang ke segala arah dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya.
Kota yang sebelumnya sudah hampir hancur sepenuhnya oleh serangan binatang buas, kini benar-benar hancur setelah diterpa gelombang kejut. Bahkan bekas-bekas bangunan seperti dinding langsung hancur menjadi debu.
Darah mengalir keluar dari sudut bibir Weng Ying Luan. Tangan kanannya sedikit bergetar. Baru kali ini dia berhadapan dengan binatang buas dengan kekuatan Penguasa Jiwa. Kekuatan yang dia rasakan dari tandukan Kambing Petapa jauh, jauh lebih besar dibandingkan ketika dia berhadapan dengan seorang Penguasa Jiwa manusia, yang tidak lain adalah anggota Keluarga Lin
"KGHH!!!!! MUSTAHIL!!!!!" Kambing Petapa nyaris memuntahkan seteguk darah ketika dia melihat Weng Ying Luan yang tampak bisa bertahan dari serangan Tandukan Busur Kematian andalannya. Dia telah menggunakan tandukan ini selama waktu yang tak terhitung jumlahnya.
Tidak pernah ada yang bisa bertahan tanpa mengalami luka berat setelah menerima tandukannya seperti yang dilakukan oleh Weng Ying Luan saat ini.
"Huh.....jadi ini serangan terkuat mu? Kalau begitu sayang sekali, kau akan kalah dari ku!!" Weng Ying Luan berseru dan kemudian mengangkat telapak tangan kirinya yang tidak dia pakai sebelumnya.
Cahaya perak muncul sekali lagi di telapak tangan kirinya. Namun kali ini, ada beberapa untaian cahaya keemasan yang masuk ke dalam cahaya perak, menyebabkan tekanan yang sebelumnya mengeluarkan pancaran ganas dan tekanan penolakan, kini berubah menjadi lembut seperti layaknya rembulan di malam hari.
__ADS_1
"Tapak Purnama Baru, Rembulan Penghancuran!!"