Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 434. Sang Raja Pencuri, Gouwang Zie (I)


__ADS_3

Hari pun semakin malam, kelompok Weng Lou telah selesai merayakan pesta kecil mereka, dan pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Mereka harus bangun pagi besok untuk bersiap sebelum mengikuti babak semifinal.


Tapi tidak untuk Pang Baicha dan Jian Qiang. Keduanya saat ini sedang duduk bersama di ruangan tamu milik penginapan. Tidak ada rasa kantuk atau pun wajah kelelahan yang mereka tampilkan. Hanya ekspresi serius yang sibuk menunggu waktu terus berlalu.


Mereka berdua hanya duduk sambil menikmati teh hangat yang disediakan oleh pemilik penginapan pada mereka berdua. Pada saat ini, suasana malam hari di Kota Hundan telah berubah total.


Tidak ada lagi keramaian seperti sebelumnya, semua bangunan telah tertutup rapat dan tidak ada satupun orang yang terlihat berlalu lalang di jalanan. Kegelapan dan keheningan malam telah benar-benar merubah suasana Kota Hundan.


Selang beberapa puluh menit berlalu, akhirnya tengah malam pun tiba.


Bulan telah berada pada puncaknya, dan memancarkan cahaya yang cukup terang, membuat jalanan yang gelap terlihat kembali dengan jelas.


Jian Qiang dan Pang Baicha yang sebelumnya duduk bersama, secara serentak bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar penginapan.


Awan yang bergerak, menutupi bulan sehingga membuat gelap malam kembali menghiasi Kota Hundan.


Di depan penginapan Weng Lou dan yang lainnya, lebih dari 50 orang yang mengenakan pakaian hitam berdiri tepat di depan pintu masuk penginapan. Tak lama, terlihat Jian Qiang dan Pang Baicha berjalan keluar dari penginapan sambil memasang ekspresi cukup serius melihat ke 50 orang itu.


Mereka memasang ekspresi seperti itu bukan tanpa alasan, pasalnya ke 50 orang yang ada di depan mereka ini memiliki tatto bergambarkan ular pada leher mereka semua.


Gambar ular tersebut sama persis dengan yang dimiliki oleh pria bertubuh gempal yang sebelumnya telah menyerang Weng Wan sepulangnya mereka dari Arena Pertandingan.


Tidak perlu pintar untuk tau bahwa mereka berasal dari kelompok yang sama.


"Lihat, sudah kubilang kita tidak perlu membunuh pria gendut itu. Mereka datang dengan mudahnya berkat kita membiarkannya tetap hidup," ucap Jian Qiang pada Pang Baicha di sampingnya.


Wajah Pang Baicha yang tampak serius lama kelamaan mulai berubah, dan digantikan dengan senyuman lebar yang tampak mengerikan. Dia secara terang-terangan mengeluarkan napsu membunuhnya, tanpa menahannya sama sekali kepada lima puluh orang berpakaian hitam yang berdiri di hadapan mereka berdua.


Kelima puluh orang itu tampak terkejut melihat Pang Baicha yang tanpa basa-basi langsung mengarahkan napsu membunuhnya pada mereka semua, dan berpikir bahwa Pang Baicha adalah orang bodoh karena tidak takut dengan mereka semua.


"Jangan takut!! Kita Kelompok Ular Pencuri akan membantai siapa saja hang berani macam-macam dengan rekan-rekan kita!! Tunjukkan pada kedua orang itu, apa jadinya jika berani macam-macam dengan kelompok kita!!"


"Yaa!!!"


"Bunuh mereka berdua serta teman-teman mereka yang lain!!!"


"Haaa!!!"


Kelima puluh orang itu segera menarik senjata mereka masing-masing, dan kemudian segera menyerang ke arah Jian Qiang dan juga Pang Baicha.


"Biarkan aku sendiri yang mengatasi mereka, kaus diam saja disini dan perhatikan jika ada yang mencoba menyusup. Aku sangat gatal ingin melampiaskan kekesalan ku karena tidak lolos ke babak semifinal," ucap Pang Baicha yang segera melangkah maju dan meninggalkan Jian Qiang di belakang.


"Ya...terserah mu saja, aku akan berdiri di sini dan menonton mu." Jian Qiang pun melangkah mundur dan kemudian menyandarkan dirinya pada pintu masuk penginapan.


Track....


Pang Baicha mengepalkan tangannya dengan kuat, dan kemudian urat-urat pada kedua tangannya segera muncul. Otot-otot nya mulai mengeras, dan detik berikutnya, dia melepaskan dua buah pukulan ke udara kosong tanpa tambahan Qi sedikitpun.


BAM-!!!! Shuuu!!!!


Sebuah dentuman keras tercipta, saat pukulan dari kedua tangan Pang Baicha itu dilepaskan di udara dan membuat tiupan angin kencang yang kemudian menerpa kelima puluh orang dari Kelompok Ular Pencuri itu.


"Jangan takut!! Terus serang!!!"


Meski tiupan angin itu cukup kuat, namun tidak bisa membuat para anggota Kelompok Ular Pencuri itu terdorong mundur. Mereka justru menambah laju mereka dan menerjang melawan angin kencang tersebut.

__ADS_1


Pang Baicha yang melihatnya hanya bisa tersenyum semakin lebar dan mengerikan. Kedua tangannya yang sebelumnya dia pukul kan ke udara, kini kembali dia tarik dan siap melepaskan pukulan lainnya. Tapi kali ini dengan tambahan Qi padat yang telah dengan sempurna melapisi kedua kepalan tangannya dalam waktu dua detik.


"Khaa!!!"


BDAMM- FHUUUU!!!!!


Dia melepaskan tinjunya yang kemudian menimbulkan tiupan angin kencang seperti sebelumnya, namun kali ini dengan tekanan yang jauh lebih besar.


Tssssrrr.....


Krrrsss....


Satu demi satu kelima puluh orang itu mulai terdorong mundur karena tiupan angin itu, hingga kemudian beberapa orang akhirnya terlempar mundur dan menabrak dinding bangunan yang ada di seberang jalan.


"Aahhh-!!"


"Uaaa!!!"


"Kapteeenn!!!"


"Cih! Semuanya, atur formasi Bulan Sabit!" seru orang yang berdiri paling depan, dan berada paling dekat dengan Pang Baicha.


Orang-orang yang belum terlempar mundur segera menganggukkan kepala mereka, dan melakukan apa yang di kemudian melakukan apa yang dikatakan oleh orang itu.


Dengan jumlah yang masih empat puluh lebih, mereka mulai mengelilingi Pang Baicha dan mempersiapkan serangan mereka.


"Tim Pemanah! Tembak!"


Shu---Trak-!


Krack! PRACK!


Hujan panah pun segera dilesatkan pada Pang Baicha. Tiap anak panah yang mengarah padanya itu mengandung Qi yang ketika menghantam sesuatu, maka akan menyebabkan ledakan.


Tapi meski begitu, Pang Baicha yang menghadapi hujan anak panah itu tampak tidak panik sedikitpun. Malah, dia masih memasang senyuman menyeramkan nya.


"Biar ku tunjukkan, apa hasil dari latihan ku selama 3 minggu ini."


Dalam sekejap, kekuatan pada tubuh Pang Baicha meluap-luap, dan detik berikutnya kekuatannya naik sampai ke ranah Penyatuan Jiwa tahap menengah.


Dia melepaskan auranya yang kemudian menekan semua orang itu.


"Ugh!!"


"Khock!!"


"Ranah...Ranah Penyatuan Jiwa?!"


"Khaackk!!!"


Dalam sekejap, semua orang berpakaian hitam yang menyerang Pang Baicha langsung terjatuh ke tanah dan menatap Pang Baicha dengan ketakutan. Anak panah yang sedang mengarah pada Pang Baicha terus melesat dan kemudian meledak tepat di hadapannya. Akan tetapi sebuah pelindung Qi tercipta dan menghalangi ledakan itu mengenai Pang Baicha.


"Kau terlalu membuang-buang kekuatan jiwamu," komentar Jian Qiang yang masih bersandar lada pintu masuk penginapan.


"Tidak apa, aku masih memiliki lebih dari cukup kekuatan jiwa dan Qi untuk membunuh Gouwang Zie," balas Pang Baicha yang kemudian berjalan mendekat ke arah orang-orang berpakaian hitam itu.

__ADS_1


Dia berhenti di depan orang yang sebelumnya dipanggil dengan sebutan kapten oleh orang-orang berpakaian hitam lainnya. Orang itu mengenakan penutup kepala yang menutupi seluruh wajah dan juga rambutnya, membuat Pang Baicha tidak bisa mengetahui apakah dia pria atau wanita.


Tanpa basa-basi, Pang Baicha langsung membuka penutup kepala orang itu, dan ternyata dia adalah seorang wanita yang terlihat berusia sekitar 20 puluhan akhir.


Ekspresi Pang Baicha tidak berubah sama sekali, dia tidak peduli apakah orang yang dia hadapi adalah pria atau pun wanita, semua selalu dia perlakukan sama. Apalagi pada musuhnya.


"Beritahu aku dimana Gouwang Zie berada?" tanya Pang Baicha pada wanita itu dengan suara dingin.


Angin malam berhembus dan menerpa mereka semua dengan pelan, rambut wanita itu sedikit tergerak karena hembusan angin, dan memperlihatkan wajahnya seluruhnya.


"Phuih- Aku lebih baik mati dari pada memberitahu orang pengecut seperti mu yang menyembunyikan kekuatannya agar bisa menindas orang-orang lemah seperti kami!" Wanita itu meludah ke arah wajah Pang Baicha dan membuat senyumannya menghilang seketika.


Ekspresi Pang Baicha menjadi gelap, dan dia pun mengelap ludah wanita itu yang ada di wajahnya.


"Kau wanita yang cukup berani ternyata. Tapi jangan pikir aku tidak bisa mendapatkan jawaban yang aku inginkan meski kau tidak kau mengatakannya."


Pang Baicha kemudian berjalan ke arah orang berpakaian hitam lainnya, dan berjongkok di depannya. Dia adalah seorang pria botak dengan luka pada mata kanannya.


"Kau dengar yang diucapkan oleh kapten mu? Dia bilang dirinya memilih mati daripada memberitahu ku dimana lokasi bos mu berada," ucapnya sambil menunjuk wanita yang dia tanya sebelumnya.


"Hmp! Kami semua rela mati demi bos kami, bahkan jika kau menyiksa kami sekalipun, kau tidak akan mendapatkan jawaban yang kau inginkan!" Pria itu ikut meludah ke arah Pang Baicha.


Namun kali ini Pang Baicha sudah mengetahui ini akan terjadi, dan telah menciptakan pelindung Qi tipis di depannya, yang kemudian menghalangi ludah pria itu mengenai dirinya.


"Heh, kalian berlagak seperti orang kuat ternyata. Biar ku tunjukkan pada kalian seperti apa itu rasa sakit yang sebenarnya," ucap Pang Baicha yang kemudian melepaskan Qi miliknya dalam jumlah besar ke sekelilingnya.


Qi itu kemudian mulai mencapai semua orang dari Kelompok Ular Pencuri.


Mengepalkan tangannya, Qi miliknya itu pun mulai menekan tubuh semua orang dari Kelompok Ular Pencuri. Pada awalnya mereka semua tidak merasakan sesuatu yang aneh, namun lama kelamaan tubuh mereka mulai terasa seperti sedang ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Aura yang dilepaskan oleh Pang Baicha, membuat mereka tidak bisa bergerak dari tempat mereka, tapi itu sama sekali tidak melukai mereka. Berbeda dengan saat ini, tubuh mereka terasa sakit sedikit demi sedikit.


Organ dalam mereka semua terasa tertekan dan membuat mereka merasakan sakit yang luar biasa.


Jeritan dari mereka semua pun mulai terdengar dan membuat Pang Baicha kembali memasang senyum menyeramkan nya.


Sementara itu, Jian Qiang yang sedari tadi menonton telah membuat sebuah pelindung Qi yang menutupi seluruh tempat itu, agar suara jeritan mereka semua tidak ada yang terdengar oleh orang lain.


"Cepat beritahu aku dimana dia!"


"Ti-Tidak akan!!"


"Cih, kalian yang memaksa."


Tanpa berkedip sama sekali, Pang Baicha mulai memperkuat tekanan yang dia berikan pada mereka semua, dan akhirnya membuat beberapa orang yang tidak kuat menahan lebih jauh tekanan itu mati karena organ dalam mereka meledak.


Jeritan kesakitan dari mereka yang masih bertahan semakin menjadi-jadi, dan mata mereka pun memerah.


"Akan kuberi tau!! Akan kuberi tau!!!"


Salah satu dari orang-orang itu pun akhirnya membuka mulutnya dan seketika tekanan dari Pang Baicha menghilang.


Wanita yang merupakan pemimpin kelompok itu segera menoleh dan menatap anggota kelompoknya dengan tatapan tajam.


"Hehehe...kau lihat itu? Tidak semua orang-orang mu mau rela mati demi bajingan seperti Gouwang Zie," ejek Pang Baicha pada wanita itu.

__ADS_1


Rencana penangkapan Gouwang Zie, si Raja Pencuri telah dimulai.


__ADS_2