
Di sebuah tempat di Kepulauan Huwa.
Seorang gadis berusia delapan belas tahun sedang berdiri menatap ke arah lautan yang berjarak beberapa kilometer dari tempatnya saat ini.
Dia adalah gadis yang beberapa tahun yang lalu ditemui oleh Weng Lou di Perguruan Iblis Merah. Saat ini dia telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun, namun juga memiliki aura yang begitu dewasa, jauh berbeda dengan gadis lain yang seusianya.
Dia berdiri dalam diam di atas puncak Perguruan Iblis Merah di Kota Heishin.
Angin dari laut berhembus kencang dan menerpa wajahnya. Meski begitu dia tidak terganggu sedikitpun. Dia menatap jauh ke arah laut, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lainnya.
"Jadi kau masih memikirkan ku, yah? Aku pikir kau menjalani kehidupan mu dengan baik, tapi sepertinya masa lalu masih saja mengekang diri mu," ujar gadis itu dengan suara lembut.
Rambutnya tertiup oleh angin. Dia memperbaiki rambutnya dan kemudian menghela napasnya.
"Tidak kah menjalani kehidupan tanpa mengingat masa lalu kelam mu adalah keputusan yang jauh lebih baik? Lalu kenapa kau mensia-siakan semua kehidupan ku demi balas dendam? Aku tidak mengerti."
Setelah beberapa saat menatap ke arah lautan, gadis itu akhirnya turun dari tempatnya saat ini. Dia mendarat di lapangan latihan Perguruan Iblis Merah, dimana banyak anak-anak remaja sedang berlatih beladiri.
Rata-rata kekuatan mereka hanya berada di ranah Pembentukan Pondasi, yaitu Dasar Pondasi tingkat 1.
Ada beberapa yang berada di tingkat 2 dan 3, juga satu atau dua yang berada di tingkat 4.
Jika dibandingkan dengan anak-anak di Pulau Pasir Hitam, mereka begitu lemah seperti seekor kelinci yang menjadi buruan sehari-hari dari harimau.
"Kakak Senior? Apa yang anda lakukan di sini? Semua Senior yang lain sudah sejak tadi berkumpul di aula, Ketua Cabang hendak mengumumkan sesuatu. Sebaiknya Kakak Senior segera ke sana juga."
Seorang anak yang terlihat berusia sebelas tahun terlihat berlari kecil ke arah gadis itu dan berbicara kepadanya. Gadis itu mendengar perkataannya dan mengangguk mengerti, lalu segera pergi menuju aula yang dimaksud oleh anak itu.
Itu adalah sebuah aula yang dibangun tepat di ujung Perguruan Iblis Merah, dekat dengan lereng gunung.
Saat gadis itu sedang berjalan, dia melihat lima barisan yang terdiri dari anak-anak seusianya.
Beberapa anak itu segera berbalik melihat kedatangannya. Tidak ada yang berbicara ataupun bersuara saat gadis itu berjalan dan bergabung dalam salah satu barisan.
Di depan semua barisan itu, berdiri seorang pria paruh baya yang memiliki tubuh tinggi namun sedikit ramping. Rambutnya setengahnya telah memutih, sedang yang lainnya berwarna hitam.
__ADS_1
Pria itu menatap gadis yang baru saja memasuki salah satu barisan. Dia berdeham pelan saat kemudian mulai berbicara.
"Ehem...... sepertinya kalian semua telah berkumpul di sini. Baiklah, aku akan mulai mengumumkan sebuah hal yang sangat penting. Hal yang akan ku umumkan ini berkaitan dengan nasib Perguruan Iblis Merah di masa depan nantinya. Untuk itu, aku meminta kalian semua mendengarkan dengan baik."
Sebuah giok dikeluarkan dari balik bajunya. Giok itu adalah sebuah alat perekam gambar yang umum dimiliki oleh para Praktisi Beladiri. Entah itu di Pulau Pasir Hitam ataupun wilayah Daratan Utama.
Namun di tempat ini, giok seperti ini adalah sebuah harta yang sangat berharga. Orang-orang akan rela untuk melakukan pertarungan hidup dan mati hanya demi giok seperti ini, terutama bagi mereka di bawah ranah Pembersihan Jiwa.
Giok di tangan pria itu pada awalnya tampak biasa saja. Namun saat pria itu memasukkan Tenaga Dalam miliknya ke dalamnya, sebuah rekaman dari potongan kejadian dimunculkan di hadapan pria itu, dan dilihat oleh semua anak yang berbaris di depannya.
Itu adalah sebuah rekaman dimana terlihat sebuah ombak raksasa setinggi tidak kurang dari seratus meter bergerak cepat menuju daratan, yang tidak lain adalah salah satu pulau dari Kepulauan Huwa. Pulau itu tidak lain adalah Pulau Fanrong.
Ombak yang sangat besar itu bergerak sangat cepat. Jaraknya dengan Pulau Fanrong mungkin masih beberapa kilometer jauhnya, tapi kemunculannya sudah cukup untuk membuat para Praktisi Beladiri di Kepulauan Huwa menjadi panik.
Sebuah ombak setinggi seratus meter mungkin bukan apa-apa jika itu terjadi jauh di lautan. Namun ombak besar itu saat ini hanya berjarak beberapa kilometer saja dari Kepulauan Huwa. Dan juga, semakin dekat, ombak menjadi semakin besar dan tinggi, yang membuat ombak tampak lebih menakutkan.
Sebuah ombak sebesar itu, sudah cukup untuk meratakan setengah dari wilayah Pulau Fanrong dalam satu kali hantaman. Belum lagi dampak setelahnya. Bisa dipastikan seluruh Pulau Fanrong akan hancur. Pulau di Kepulauan Huwa lainnya juga akan terkena ombak besar itu, meski kerusakannya tidak akan separah yang diterima oleh Pulau Fanrong.
Tapi bukan itu inti dari rekaman yang ditunjukkan oleh pria itu saat ini.
Apa yang menjadi hal utama yang membuat pria itu sampai memanggil semua Murid Senior dari Perguruan Iblis Merah di Kota Heishin.
Juga, terlihat ombak lainnya yang tercipta namun mengarah ke dua arah yang berbeda dari ombak itu sebelumnya sedang tuju.
Di tengah-tengah ombak, terlihat sebuah bayangan samar yang melayang di udara. Bayangan itu menyerupai manusia, tapi sosoknya begitu gelap, seolah itu adalah bayangan. Di depannya, sebuah terdapat makhluk raksasa yang besarnya jauh berkali-kali lipat dibandingkan ombak sebelumnya.
Pemandangan itu membuat semua anak yang menonton menjadi terpana, mulut mereka menganga lebar seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Hanya gadis yang sebelumnya yang memiliki ekspresi biasa saja menonton potongan kejadian itu.
Rekaman kemudian berhenti. Akhirnya suara-suara mulai dikeluarkan oleh anak-anak itu. Mereka mendiskusikan bayangan apa yang berada di tengah-tengah kedua ombak itu, serta sosok makhluk raksasa di hadapannya.
Banyak anak yang menduga itu adalah binatang buas lautan yang memiliki besar tubuh raksasa dan merupakan penguasa dari lautan itu sendiri. Ada juga yang mengatakan bahwa sosok bayangan hitam adalah seorang Dewa sementara sosok makhluk raksasa adalah monster yang sedang bertarung dengannya.
Namun ada beberapa dari anak-anak itu yang mengatakan bahwa rekaman kejadian itu adalah palsu. Semua kejadian itu hanya hasil dari ilusi belaka yang bisa diciptakan lewat beberapa teknik sederhana.
"Apa yang kalian lihat, semuanya adalah nyata. Dan kejadian ini baru saja terjadi beberapa saat yang lalu," kata pria itu sebagai tanggapan terhadap anak-anak yang mengatakan bahwa rekaman kejadian itu adalah palsu dan hanya dibuat-buat.
__ADS_1
Pria itu menghela napasnya ketika dia kemudian menyimpan kembali giok itu ke dalam bajunya.
"Jauh di luar wilayah Kepulauan Huwa, terjadi sebuah pertarungan besar yang melibatkan beberapa sosok yang berada di luar imajinasi kita sebagai seorang Praktisi Beladiri biasa. Pertarungan itu telah menghancurkan semua pulau yang ada di sekitar lokasi pertarungan tersebut.
Sebelumnya ombak besar hampir saja sampai di wilayah Kepulauan Huwa dan meratakan seluruh Pulau Fanrong kita karena efek dari pertarungan tersebut. Untungnya ombak itu dihancurkan oleh salah satu sosok yang sedang bertarung itu. Sosok itu pasti mencegah agar Kepulauan Huwa terhindar dari dampak pertarungan mereka.
Sayangnya, masih ada beberapa ombak yang berukuran cukup besar yang memasuki wilayah Kepulauan Huwa dan menghantam pinggiran Pulau Fanrong. Untuk itu, aku ingin kalian semua mempersiapkan diri. Ketika matahari sudah menunjukkan waktu sore hari, kalian semua harus berkumpul di pantai bersama ku.
Kita akan membentuk sebuah formasi pertahanan yang akan menghadang beberapa ombak besar yang akan datang. Dengan kita semua bekerja sama, ombak-ombak itu tidak akan bisa mencapai pantai pulau kita ini." Pria itu menjelaskan.
Setelah itulah, dia pun membubarkan semua anak-anak yang dikumpulkannya. Semua anak berhamburan pergi menuju asrama mereka masing-masing dan mulai mengemasi barang-barang mereka.
Perjalanan dari tempat mereka menuju pantai lumayan jauh bagi Praktisi Beladiri rendahan seperti mereka.
Setidaknya akan memakan waktu beberapa jam untuk sampai ke sana. Untuk itu mereka harus bersiap-siap. Tidak ada yang tau apa yang akan mereka temui nantinya.
Setelah anak-anak pergi, kini aula hanya menyisakan pria tersebut dengan gadis yang sebelumnya.
Pria itu menatap gadis itu dalam diam selama beberapa saat sebelum kemudian menghela napas panjang, seolah pasrah dengan keadaan.
"Sebaiknya kau tetap tinggal di sini. Kau adalah penerus Perguruan Iblis Merah ini di masa depan, jika seandainya aku mati, maka perguruan ini tidak akan memiliki masa depan yang cerah," kata pria itu dengan suara yang seperti tertahan.
Gadis itu hanya diam, lalu kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan aula.
Tepat saat dia berada di luar aula, dia tiba-tiba berbalik dan menatap pria itu, lalu berbicara padanya, "Apa yang aku lakukan adalah urusan ku. Adapun masa depan bagi perguruan ini.......tidak ada masa depan baginya. Perguruan ini akan hancur, begitu juga dengan seluruh wilayah Kepulauan Huwa. Aku yakin kau sudah tau akan hal ini."
Dia pun melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan aula. Kini hanya pria itu seorang diri di dalam aula.
Dia terdiam seribu bahasa di tempatnya saat mendengar kata-kata gadis itu.
Dalam hatinya, tidak ada pertentangan apapun akan kata-kata gadis itu. Hal ini karena dia sendiri sudah tau akan hal yang dikatakan gadis itu, hanya saja dia masih mau mencoba melakukan sesuatu, daripada hanya berdiam diri menunggu kematiannya.
Sebenarnya, dia bisa saja pergi dari Pulau Fanrong jika dia mau. Tapi dia tidak mau melakukannya. Itu semua karena dia tau, tidak ada satupun tempat yang aman di Kepulauan Huwa.
Seluruh Kepulauan Huwa akan hancur! Itulah akhir dari wilayah tempatnya tinggal selama puluhan tahun ini.
__ADS_1
Meski Weng Lou sudah menghalangi Unknown God untuk tidak menyentuh wilayah Kepulauan Huwa, tapi siapa yang tau apakah dia akan benar-benar berhasil, meski telah dibantu oleh Zhi Juan sekalipun.
"Ah.........seharusnya aku menjalani hidupku selama beberapa tahun ini dengan baik. Tidak aku sangka, aku malah akan mati di pulau ini nantinya. Ku harap Dewa mengampuni semua dosa-dosa ku di masa lalu."