Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 522. Kalung Spasial (II)


__ADS_3

Kalung Spasial adalah sebuah benda penyimpanan yang merupakan benda dengan ruang penyimpanan terluas yang pernah diciptakan oleh manusia.


Kalung ini diciptakan dengan cara menggabungkan banyak benda penyimpanan berukuran sangat kecil berupa manik-manik logam yang kemudian saling menyatu dan membentuk sebuah kalung logam polos. Ruang penyimpanan tiap manik-manik kemudian disatukan dan menciptakan sebuah ruang penyimpanan yang sangat amat luas.


Ada dua macam Kalung Spasial yang tercatat di perpustakaan Sekte Langit Utara. Yang pertama adalah Kalung Spasial biasa, tersusun dari kurang lebih lima ratus manik-manik logam, yang tiap manik-manik nya memiliki luas sepuluh meter persegi. Jika digabungkan, maka Kalung Spasial biasa memiliki ruang penyimpanan dengan luas mencapai lima ribu meter persegi.


Yang kedua adalah Kalung Spasial Pusaka, yang tersusun mhlai dari enam ratus sampai dengan seribu manik-manik logam. Dan saat ini, Kalung Spasial yang ada di tangan Weng Lou merupakan Kalung Spasial Pusaka yang memiliki luas mencapai sepuluh ribu meter persegi di dalamnya.


Dengan luas seperti itu, tentunya seseorang bisa memasukkan sebuah desa hingga kota kecil ke dalamnya. Namun tentu saja harga dari satu kalung ini tidaklah murah dan tidak bisa dibeli dengan emas.


Weng Lou tidak tau pasti, tapi benda yang dipakai untuk membeli sesuatu seperti Kalung Spasial adalah benda yang berbeda dengan emas, dan di sebut dengan Kristal Jiwa yang hanya dimiliki oleh para Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penguasa Jiwa karena dibuat dari kekuatan jiwa yang telah dipadatkan.


Satu Kristal Jiwa ini diperkirakan setara dengan 100.000 koin emas, namun Weng Lou juga tidak terlalu tau karena belum pernah melihatnya sama sekali sebelumnya.


"Hari ini benar-benar hari keberuntungan ku! Hahaha! Dengan kalung ini, aku tidak perlu lagi memakai banyak cincin di jari-jari ku seperti orang gila!" Weng Lou berseru bahagia.


Dia melepaskan satu persatu cincin penyimpanan yang melingkar di jarinya dan mulai memilah barang-barang dan juga semua sumber daya yang berada di dalamnya.


Weng Lou mengatur semua barang, senjata dan buku-buku yang dimilikinya ditempatkan di dalam Kalung Spasial yang telah dia dapatkan, sementara untuk sumber daya dan obat-obatan, dia menyimpannya ke dalam ruang penyimpanan yang terdapat pada Kitab Keabadian nya. Setelah beberapa menit menyusun semua itu, Weng Lou kemudian menatap sepuluh cincin penyimpanan yang kini telah kosong tak berisi di tangannya.


*Kring.....*


Cincin-cincin itu dilemparkan nya ke udara dan dimainkannya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menjadikan kesepuluh cincin penyimpanan itu sebagai hiasan pada Kalung Spasial yang dia dapatkan itu.


Kalung itu tampak sedikit bermodel ketika menggantung di leher Weng Lou dengan kesepuluh cincin penyimpanan kini menjadi mata kalung dari Kalung Spasial tersebut.

__ADS_1


Tangan Weng Lou tanpa bosan memain-mainkan kalung itu dan membuat terus berbunyi. Weng Lou terus tersenyum melihat kalung yang dia pakai sendiri. Benda berharga seperti ini hanya pernah dia dengar sebelumnya, tapi sekarang tidak disangka dia malah akan memiliki untuk seorang diri!


"Hm.... Kalung Spasial ini sudah sangat amat berharga, sekarang kita lihat benda selanjutnya." Matanya segera memandang belati yang tersarung di dalam bungkusan.


Tangannya bergerak perlahan mengambil kalung itu dan kemudian memperhatikan secara seksama sarung pada belati itu yang terbuat dari sejenis kulit berwarna hitam gelap. Tekstur sarung itu terasa sedikit halus dan kenyal, serta tercium aroma kayu yang kuat darinya.


Tanpa berlama-lama, Weng Lou pun mengeluarkan belati dari sarungnya.


*Srrrttt.....*


Senyum lainnya kini muncul pada wajah Weng Lou memandang belati itu dan dia pun seger menyarungkan belati tersebut kembali, lalu menempatkannya di pinggangnya.


"Aku menemukan senjata yang cocok untuk Du Zhe. Akan kuberikan ini jika dia berhasil menguasai Teknik Mata Elang bagian dasarnya hari ini. Aku yakin dia akan berusaha keras," ucap Weng Lou dengan hati senang.


Sebelum pergi, Weng Lou sudah memberi beberapa Kitab Teknik Beladiri kepada Du Zhe yang menurut Weng Lou adalah teknik-teknik yang seharusnya mudah untuk dipelajari seorang diri, namun memiliki tingkat yang tinggi.


Weng Lou cukup yakin untuk Du Zhe bisa menguasainya.


Masalah satu-satunya adalah apaakah Du Zhe bisa mempraktekkannya dengan benar dalam situasi-situasi khusus.


***


Di luar istana, waktu yang sama dengan Weng Lou yang masih berada di bawah tanah.


Kondisi istana saat ini sedang porak poranda karena serangan dari Ye Lao dan juga Qian Yu. Keduanya merupakan malaikat maut yang tiap beberapa detik sekali akan menarik nyawa tiap prajurit yang ditemui oleh keduanya.

__ADS_1


Para prajurit yang merasa tidak bisa menang pun banyak yang sudah berusaha melarikan diri, namun mereka semua segera dibunuh oleh Ye Lao dan Qian Yu yang tanpa keraguan sana sekali membunuh mereka.


Pada saat ini, di bagian utara luar istana. Sosok Ye Lao menghabisi prajurit terakhir yang ada di bagian wilayah nya dan telah kehabisan orang untuk mempraktekkan teknik-teknik miliknya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari siapapun yang bisa dia pakai tapi tidak menemukannya.


Tak berapa lama kemudian, dia memasang senyum mengerikan dan segera berjalan masuk ke dalam istana.


Dengan santai dia membuka pintu dan langsung melihat beberapa prajurit yang sedang sibuk mengangkut tubuh-tubuh tak sadarkan dari para pekerja dan pelayan ke suatu arah. Para prajurit yang menyadari kehadiran Ye Lao tersebut segera menghentikan langkah kaki mereka dan diam tidak bergerak sedikitpun karena terkejut.


Mereka bisa merasakan napsu membunuh pada tubuh Ye Lao yang diarahkan pada mereka semua. Ye Lao memperhatikan apa yang mereka lakukan itu dan langsung bisa menarik sebuah kesimpulan.


"Bocah itu, dia benar-benar menggunakan mereka untuk mengerjakan pekerjaannya, aku yakin dia sedang berburu harta Karun saat ini," cibir Ye Lao dengan suara pelan.


"Kalian semua, letakkan orang-orang yang kalian bawa itu dan maju serang aku," ucapnya kepada semua prajurit itu.


Prajurit-prajurit itu hanya diam di tempat mereka, dan tidak berani melakukan sesuatu seperti yang diperintahkan oleh Ye Lao kepada mereka. Selama beberapa menit ini, mereka sudah menonton pembantaian yang dilakukan oleh Ye Lao dan juga Qian Yu dari dalam istana, dan jelas sekali kekuatan mereka tidak lebih lemah daripada Weng Lou. Menyerang Ye Lao sama berarti mencari mati.


Mereka sudah mendapatkan kesempatan untuk bisa hidup, lalu kenapa mereka harus membuang kesempatan itu?


Dengan keberanian yang luar biasa, salah satu prajurit memberanikan dirinya untuk berbicara, "Ma-Maafkan Tuan! Ta-Tapi kami memiliki tugas yang diberikan pada kami di sini! To-Tolong jangan membunuh kami...."


Melihat para prajurit yang tidak memiliki semangat bertarung itu, hanya membuat Ye Lao merasa jengkel dan langsung melangkah pergi meninggalkan mereka semua begitu saja.


"Cih, membuang-buang semangat bertarung ku saja. Pergilah kalian, aku tidak mau melihat wajah kalian lagi!" serunya sambil berjalan kembali keluar istana.


Para prajurit melihat kepergian Ye Lao dan tidak bisa menahan diri mereka sebelum kemudian terjatuh ke tanah dengan napas lega.

__ADS_1


Mereka telah lepas dari mulut harimau, dan hampis saja masuk ke mulut singa pada hari yang sama. Untungnya keberuntungan memihak pada mereka.


__ADS_2