Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 552. Tiba Di Puncak


__ADS_3

Mata Weng Lou memindai sekitarnya dan menemukan bahwa terdapat banyak sekali bekas serangan yang ada di tanah. Sudah jelas, Pi Xiu ini adalah yang menyebabakan bekas-bekas ini.


"Pantas saja orang-orang memilih untuk tetap jalan meski sudah akan sore hari, ternyata ini penyebab utamanya. Aku tidak menemukan informasi tentang Pi Xiu ini di Pulau Perbatasan ataupun di pelabuhan. Orang luar yang bukan bagian dari Sekte Bambu Giok pasti tidak mengetahui ini karena semuanya datang pada saat hari masih siang," cibir Weng Lou yang mulai memutar otaknya.


Kekuatan kebanyakan Pi Xiu adalah ranah Pembersihan Jiwa tahap 9. Ada beberapa yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, namun jumlahnya sangat sedikit. Untuk Pi Xiu yang ada di depan Weng Lou, kekuatannya hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 awal, namun kekuatan es abadi miliknya membuatnya sangat berbahaya.


Berbeda dengan binatang buas yang bergantung dari jumlah usia mereka untuk naik tingkat atau evolusi yang terjadi karena faktor luar, Pi Xiu murni menyerap energi Yin untuk bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Semakin banyak mereka menyerap energi Yin pada bulan, semakin kuat pula mereka.


Pada tingkat tertentu, tubuh mereka akan kembali besar seperti layaknya seekor Singa Bersayap, namun mereka akan tetap mempertahankan ciri khas mereka, yakni sayap kecil dan bulu putih mereka.


"Satu-satunya pilihan ku agar bisa terhindar dari hawa dingin yang dikeluarkannya adalah dengan menyerang dari jauh, tapi saat ini aku tidak membawa satupun anak panah, dan juga kedua pedang ku telah aku ubah sehingga akan langsung menampilkan wujud sebenarnya jika aku menggunakannya bertarung melawan Pi Xiu ini." Weng Lou menatap dengan tajam Pi Xiu itu dan kemudian melihatnya bergerak maju ke arahnya.


"Jika memang tidak memiliki pilihan sedikitpun, maka aku cukup lari saja!"


Tepat ketika Pi Xiu itu mengambil 1 langkah maju, Weng Lou segera berputar balik dengan sangat cepat dan menendang tanah sekuat tenaga.


*Prak!* Tanah yang dipijaknya hancur, dan sosoknya pun melesat cepat meninggalkan tempat itu. Hanya dalam satu detik penuh, Weng Lou sudah berada dua puluh meter dari tempatnya sebelumnya.


Pi Xiu yang melihat itu tidak mau melepaskan Weng Lou begitu saja, dia pun segera berlari dengan ganas ke arah Weng Lou. Mulutnya sekali lagi terbuka, dan energi-energi berwarna biru pucat berkumpul di depan mulutnya.


*Phu-!* Sebuah bola energi ditembakkan dan meluncur ke arah Weng Lou berada.


Weng Lou tidak perlu berbalik untuk melihat kedatangan bola energi itu. Dia segera mengambil langkah kuat lainnya, dan dia pun kembali melesat.


*Bum!* Bola energi yang di hindari oleh Weng Lou itu meledak di udara bahkan sebelum menyentuh tanah. Ledakannya segera menerbangkan serbuk-serbuk es sekecil debu yang langsung merubah tanah menjadi sebidang tanah yang di lapisi oleh es.


Pi Xiu itu tidak berhenti di situ, dia kembali menembakkan bola energi dari mulutnya, namun kali ini dia tidak berhenti ketika sudah menembakkan bola energinya. Segera dalam setiap detik sebuah bola energi dilepaskan olehnya dan bergerak ke arah Weng Lou.


Seperti memiliki mata di belakang kepalanya, Weng Lou dengan gesit melompat menghindari bola-bola energi tersebut. Setelah lima menit perjuangan menghindar dari serangan-serangan yang dianggap mengancamnya, Weng Lou pun sampai di wilayah yang ditumbuhi oleh bambu dan tumbuhan lainnya.


Dia tidak lagi berbalik untuk melihat apakah Pi Xiu itu terus mengejarnya, dia memilih untuk terus berlari masuk ke dalam gunung, sementara di tempat Pi Xiu itu berada sebuah tangan segera menangkap leher belakangnya dan mengangkat tubuhnya.


*Hu...buk....* Tubuh Pi Xiu tersebut berguling di tanah selama beberapa saat, sebelum akhirnya kembali berdiri tegak dan menatap sosok pemilik tangan yang telah melemparkannya.


Itu adalah seorang wanita yang mengenakan penutup wajah transparan dan memiliki wajah yang sangat cantik, namun tampak sangat dingin. Pi Xiu itu menatap diam sosok wanita itu dan seperti sedang mengatakan sesuatu sebelum akhirnya segera pergi dari situ dengan terburu-buru meninggal sosok wanita itu.


Wanita itu menatap Pi Xiu dengan matanya yang tajam sebelum menatap ke arah dimana Weng Lou telah pergi.

__ADS_1


"Anak itu, dia membuatku terkejut saat mengetahui bahwa dia berani seorang diri menaiki gunung ini, terlebih pada saat hari sudah akan gelap. Dia memiliki keberanian dan juga kelincahan yang luar biasa, seharusnya dia datang ke tempat ini untuk mendaftar masuk ke dalam sekte. Aku akan menilainya lebih jauh dan mencari tahu apakah dia adalah seorang mata-mata dari kelompok musuh," gumam wanita itu sebelum kemudian sosoknya berubah menjadi kelopak-kelopak mawar yang tertiup oleh angin malam dan bergerak ke arah dimana Weng Lou sedang pergi.


***


Malam hari, saat ini bulan hampir naik ke puncaknya dan Weng Lou telah melewati setengah jalan mendaki ke puncak gunung tempat Sekte Bambu Giok berada.


"Aku baru menyadarinya, jika dibandingkan dengan gunung dimana Sekte Langit Utara berada, gunung ini sedikit lebih rendah dan juga iklimnya sangat berbeda jauh. Ketika aku sedang mendaki kepuncak waktu itu, aku hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu jam, tapi saat ini aku sudah memakan waktu hingga lima jam lebih dan baru akan mencapai tiga perempat jalan."


Setelah dia melewati wilayah yang menjadi sarang Pi Xiu, Weng Lou kembali harus berpapasan dengan beberapa binatang buas lain yang membuatnya sedikit kerepotan.


Contohnya saja, setengah jam yang lalu dia harus memutari gunung hanya untuk kabur dari kejaran sekawanan Monyet Batu yang memiliki tubuh sebesar orang dewasa, namun memiliki tangan yang besarnya mencapai sebesar milik Weng Lou.


Ketika dikepalkan, tangan para monyet ini akan mengeras hingga menjadi sekuat sebuah batu. Tiap pukulan dari mereka akan sanggup mematahkan tulang seseorang begitu saja. Meski Weng Lou sebenarnya tidak akan terluka parah jika terkena pukulan mereka, namun ada tiga puluh lebih dari para monyet ini, dan mereka memiliki kemampuan memanjat yang hebat, serta tubuh yang benar-benar lincah layaknya seekor kucing.


Weng Lou cukup sabar menghadapi para monyet ini, dia memilih untuk memutari gunung sebelum kemudian beranjak dari wilayah mereka. Menurutnya, bermain kejar-kejaran dengan para monyet ini membantunya kembali memantapkan kemampuan fisik miliknya dalam menghindar, atau berlari.


"Tapi setelah merasakannya beberapa kali, pukulan dari monyet-monyet itu sebenarnya cukup enak juga. Aku merasa otot-otot pada punggung ku menjadi sedikit rileks setelah terkena pukulan beberapa kali," ucap Weng Lou dengan pelan sambil memutar-mutar bahunyanyang terasa ringan.


"Mungkin jika sudah selesai mengerjakan tujuanku memasuki sekte ini, aku akan menculik beberapa monyet itu. Akan lebih enak jika memiliki beberapa dari mereka ketika pergi dari Pulau Fenshu."


Ketika Weng Lou sedang berlari pelan, mendadak di depannya, seutas benang yang sangat transparan menampilkan kilaunya saat terkena cahaya bulan dan membuat Weng Lou berhenti sebelum benar-benar menabrak benang tipis tersebut.


*Sssttt.....* Sebuah bunyi terdengar ketika tangannya mengelus benang itu dan Weng Lou hanya diam mendengar nya.


Tidak jauh dari tempat Weng Lou, beberapa pasang mata berwarna merah terang menyala di antara pepohonan yang tak terkena cahaya. Mata-mata itu menatap seutas benang yang ada di dekatnya dan melihat sedikit getaran yang terdapat pada benang tersebut. Tak lama, sesosok makhluk hitam besar dengan delapan kaki panjang keluar, dan menampilkan sosok sesungguhnya pemilik beberapa pasang mata merah tersebut.


Itu adalah seekor laba-laba hitam yang sangat besar dan memiliki 2 taring yang sangat panjang di mulutnya. Weng Lou yang sedang berhenti itu segera menoleh saat mendengarkan getaran yang terjadi pada beberapa pohon dan sedang bergerak ke arahnya.


Mata Weng Lou bergerak ke kanan dan ke kiri saat merasakan getaran yang terjadi di dua titik secara bergantian. Pedang di tangannya pun segera di pegang nya dengan erat dan dia memasang kuda-kuda siap bertempur.


*Phuw-*


Mendadak, dari depan Weng Lou, sebuah bola cairan berwarna ungu gelap di tembakkan dan mengeluarkan asap keunguan.


Melihatnya, Weng Lou pun segera menutup kedua hidungnya sambil memiringkan kepalanya, menghindari bola dari cairan tersebut. Bola tersebut mendarat di sebuah pohon, dan langsung meleburkan batang pohon yang terkena bola itu hingga akhirnya pohon itu pun tumbang karena bagian bawahnya yang telah hilang.


*Bruck.....* Weng Lou tidak menoleh untuk melihat pohon itu, saat ini matanya terfokus pada seekor laba-laba besar yang beranjak keluar dari dalam pepohonan dan menatap dirinya dengan mata-matanya yang yang berwarna merah terang.

__ADS_1


"Yang benar saja, apa gunung ini adalah kebun binatang? Para binatang buas ini hampir tiada habisnya berdatangan," kutuk Weng Lou.


Dia kemudian mendadak melompat dari tempatnya berdiri, dan hampir pada saat yang sama, seutas benang transparan menembak keluar dari dalam tanah yang dia pijak. Sorot mata Weng Lou tampak suram melihat hal itu, dia kemudian melihat laba-laba besar itu telah menerjang ke arahnya ketika dia masih berada di udara.


"Cih, bertarung dengan serangga seperti mu tidak ada manfaatnya, jadi entah saja lah!" Tubuh Weng Lou berputar di udara, dan kedua pedang di tangannya diayunkan secara memutar.


*SRAATT!!* Kepala laba-laba itu terpenggal begitu saja, dan tubuhnya terjatuh ke tanah hingga menimbulkan bunyi debuman pelan.


Weng Lou mendarat di atas tubuh laba-laba tersebut, dan tanpa peringatan apapun dia menusukkan kedua pedangnya tepat di tengah-tengah tubuh laba-laba tersebut hingga membuatnya berhenti bergerak.


"Huh, laba-laba ini selain beracun, jaring yang dia punya juga sangat lentur, namun juga tajam pada saat yang bersamaan. Untungnya aku menyadari getaran pada benang itu sebelumnya, atau jika tidak aku pasti sudah menderita luka sayatan karenanya." Dengan santai Weng Lou membuka perut laba-laba itu, dan mengambil sesuatu dari dalamnya.


Yang pertama dia keluarkan adalah kantong seukuran tubuh anak kecil yang merupakan kantung racun milik laba-laba besar ini, lalu yang kedua dia mengambil sesuatu yang menyerupai gulungan tali berwarna putih yang tidak lain adalah jaring laba-laba tersebut.


Senyumnya sedikit timbul melihat keduanya, dan dia pun segera menyimpannya ke dalam sebuah karung yang dia simpan di balik bajunya.


Di atas langit, wanita cantik yang sebelumnya menghentikan Pi Xiu menonton pertarungan singkat Weng Lou dengan tatapan tanpa ekspresi sedikitpun. Namun jika dilihat dengan teliti, ada sedikit senyum yang terlihat dari wajahnya ketika menonton Weng Lou.


"Benar-benar menarik....kekuatan fisiknya sudah diluar akal, dan insting miliknya benar-benar sangat bagus. Akan sangat aneh jika dia bukan pembunuh tingkat tinggi yang dikirim oleh musuh. Tapi ada yang aneh, jika dia memang adalah pembunuh, seharusnya dia bisa memasuki gunung ini tanpa menimbulkan kebisingan sedikitpun, dan mungkin juga aku tidak akan menyadari kehadirannya.


Namun, fakta bahwa dia terang-terangan menunjukkan sosoknya sore tadi, pasti memiliki maksud bahwa dia datang bukan untuk membuat masalah. Aku akan terus menonton mu, nak. Jika kau bisa membuatku yakin bahwa kau tidak memiliki niat jahat, maka tidak ada lagi alasan untuk ku mencurigai mu lain kali." Dia berbicara dengan wajah serius sambil terus mengamati Weng Lou.


Sepertinya dia benar-benar berharap bahwa Weng Lou datang tidak memiliki niat yang jahat. Karena jika seandainya benar, dia mungkin akan mengambil Weng Lou sebagai muridnya.


Sementara itu, Weng Lou yang sudah selesai memutilasi tubuh laba-laba raksasa yang sebelumnya, kini telah melanjutkan lawannya. Kali ini dia tidak lagi berniat untuk lebih lama di tempat ini, dan dia melaju dengan sangat cepat menuju ke puncak gunung.


Tak lama, setengah jam kemudian, dia pun tiba di puncak gunung, dimana dia disambut oleh sebuah patung berukuran dua kali tubuh orang dewasa yang sedang berdiri menatap ke bawah gunung. Patung ini merupakan patung dari seorang pria paruh baya yang memiliki wajah tampan, namun memiliki kesan serius dari alis dan keningnya yang terlihat sedikit mengerut.


Di tangannya, sebuah gulungan kertas yang diukir sedemikian rupa dipegang dan terdapat sebuah lambang yang merupakan lambang Kekaisaran Ryuan pada segel gulungan kertas tersebut.


Weng Lou menatap dengan tenang patung itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia pun mulai melangkah maju dan tiba di depan patung tersebut. Secara tak terduga, dia memberikan hormatnya pada patung itu, sebelum akhirnya melangkah melewatinya


Wanita yang mengikuti Weng Lou mengangguk dengan puas ketika dia melihat sikap yang ditunjukkan oleh Weng Lou itu. Dari sudut pandangnya, Weng Lou memberikan hormat itu dengan penuh rasa hormat dan tulus, yang mana membuat penilaiannya terhadap Weng Lou semakin positif.


Dirinya tidak mengetahui, bahwa dalam hatinya saat ini Weng Lou sedang tertawa mengejek pada sosok yang sebenarnya dari patung tersebut.


"Menjadi kuat hanya untuk memerintah manusia biasa? Hahahaha.....tidak ada yang lebih lucu dari itu di dunia beladiri. Sudah sewajarnya bagi para Praktisi Beladiri untuk menjauhkan diri dari dunia manusia biasa. Namun seorang Praktisi Beladiri yang terkenal sangat kuat malah membentuk sebuah pemerintahan nya sendiri untuk menundukkan para Praktisi Beladiri sekaligus manusia biasa.

__ADS_1


Yang ada dalam diriku hanya lah ejekan dan hinaan bagimu, wahai Kaisar Agung Ryuan."


__ADS_2