
Malam hari di markas baru milik kelompok Weng Lou.
Weng Lou dan yang lainnya berkumpul di ruang bawah tanah yang telah selesai di perluas oleh Weng Lou, Weng Wan, dan Weng Ying Luan dalam waktu dua hari. Ketiganya melakukan itu dengan begitu hati-hati agar tanah di bagian atas tidak runtuh saat mereka menggali.
Mereka semua duduk bersama dengan beralaskan sebuah tikar anyaman milik Weng Wan yang di hampar di lantai yang masih dalam bentuk berupa tanah.
Malam ini rencananya mereka ingin membicarakan mengenai rencana mereka di Turnamen Beladiri Bebas besok.
Weng Lou, Weng Ying Luan, Weng Wan, Weng Hua, Weng Ning, Lin Mei, Man Yue, Shan Hu, Pang Baicha, dan Jiang Qiang, serta Baixue yang selama ini selalu berdiam di dalam Tas Tunggangan milik Lin Mei duduk melingkar saling berhadapan satu sama lain dengan wajah serius.
"Baiklah, sebelum kita mulai diskusi ini.... Paman Jiang, apa anda benar ingin ikut dalam diskusi kami ini? Aku tidak jamin rencana yang akan kami bahas dalam diskusi nanti akan membuat anda terkesan atau pun kagum."
Weng Lou berbicara sambil menatap Jian Qiang yang duduk sambil memejamkan kedua matanya.
Diskusi mereka ini sebenarnya hanya akan diikuti oleh Weng Lou dan teman-temannya saja, dengan tambahan Pang Baicha dan juga Shan Hu. Tapi Jian Qiang mendadak mengatakan dirinya juga ingin ikut dalam diskusi mereka ini.
Tentunya Weng Lou dan yang lainnya tidak bisa menolak sama sekali, lagi pula tidak ada salahnya bagi mereka jika Jian Qiang bergabung dalam diskusi. Hanya saja, mereka tidak yakin rencana mereka nantinya akan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Mereka semua kecuali Jian Qiang hanya berada di Ranah Pembersihan Jiwa, pastinya akan banyak taktik yang terkesan penakut dan pengecut yang akan mereka rencanakan. Kemungkinan Jian Qiang tidak akan suka dengan itu, pikir mereka.
"Tentu, lagi pula aku hanya akan menambahkan dan mengomentari mengenai rencana kalian yang akan dibahas nanti. Aku akan mengikuti rencana kalian nantinya, tentunya jika menurut ku itu sudah tanpa resiko sama sekali," balas Jian Qiang yang membuka kedua matanya dan menatap balik Weng Lou.
Weng Lou mengangguk. Itu akan sangat membantu mereka dalam diskusi nantinya.
Selama tiga minggu, dengan perkembangan mereka semua yang begitu pesat, Weng Lou cukup yakin mereka bisa memenangkan Turnamen Beladiri Bebas besok.
Dan tentu saja, dengan target Weng Lou lah yang akan memenangkannya, demi mendapatkan Pasir Jiwa Kehidupan dan Giok Emas Langit dari kakek tua pemilik penginapan.
"Lalu mari kita mulai saja diskusi ini. Yang pertama akan kita bahas adalah orang-orang yang akan berpartisipasi dalam Turnamen Beladiri Bebas besok.
Tiga minggu ini aku dan Ying Luan sudah mengumpulkan informasi mengenai para peserta yang akan kita dalam Turnamen Beladiri Bebas. Ada seratus empat puluh peserta yang berada di ranah Pembersihan Jiwa yang berasal dari seluruh Pulau Pasir Hitam. Yang tertinggi berada pada tingkat 4.
Sementara itu, peserta yang berada di ranah Pembersihan Jiwa ada lebih dari dua ribu peserta dengan tingkat praktik mulai dari tingkat 5 hingga tingkat 9.
Dari semua peserta, aku sudah menyusun sepuluh orang yang lumayan berbahaya dan kalau bisa kita hindari pertemuan dengan mereka di babak penyisihan besok."
Weng Lou mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam ruang penyimpanannya dan memberikannya pada semua orang masing-masing satu lembar.
__ADS_1
Pada lembar kertas itu, terdapat sepuluh nama yang telah ditulis oleh Weng Lou berdasarkan pengamatannya selama tiga minggu ini.
"Baik, kalian bisa membaca pada daftar pertama, seseorang yang dijuluki dengan Penghancur Karang, Ju Chui. Dia berada pada ranah Penyatuan Jiwa tingkat 3.
Dengan kekuatan fisik yang dia miliki, membuatnya sangat ditakuti dan selalu dihindari oleh banyak orang. Dengan bermodalkan kekuatan fisiknya, dia sanggup menghancurkan batu karang dengan sangat mudah.
Senjatanya adalah sebuah gada besar dan berduri yang terbuat dari logam. Gada miliknya adalah senjata tingkat 3 harta, sepertinya dia bukanlah seorang yang cukup kaya untuk memiliki sebuah senjata dengan kualitas lebih bagus lagi, tapi meski begitu, gada miliknya tetaplah sebuah ancaman jika mengenai tubuh kita secara langsung.
Dari informasi yang telah aku dapat Ju Chui memiliki Qi berunsur tanah yang mana dirinya mampu melapisi gada miliknya dengan Qi berunsur tanahnya, dan membuat kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Kalian bisa mengenalinya dengan melihat gaya rambutnya berduri," jelas Weng Lou dalam satu tarikan napas
"Apakah kau tidak memiliki gambar wajahnya, Lou? Aku yakin tidak hanya dia yang memiliki gaya rambut seperti itu dalam turnamen nanti."
Lin Mei langsung memberikan pertanyaannya.
Yang dia katakan memang benar, dari ribuan peserta Turnamen Beladiri Bebas, mustahil hanya ada satu orang yang memiliki gaya rambut seperti duri nantinya.
"Nah, aku tidak memiliki lukisan wajahnya sama sekali, sayang sekali. Tapi, ada satu hal lagi yang bisa kita paaki untui membedakan Ju Chui ini dengan para peserta lainnya. Gada miliknya berwarna kuning keemasan dengan gambar tengkorak pada bagian ujungnya."
Dari beberapa kisah yang Weng Lou dengar, Hi Chui ini berasal dari pesisir pantai di Wilayah Timur yang mana disana dia berprofesi sebagai seorang Bajak Laut yang pekerjaannya sebelas dua belas saja dengan bandit dan perampok.
"Oh, baiklah. Aku akan mengingat itu," ucap Lin Mei sambil mengangguk-angguk.
Weng Lou mulai menceritakan semua detail informasi yang dia dapatkan dari orang-orang yang ada dalan daftar sepuluh nama yang telah ia buat.
Dia melakukan ini semua agar merkea bisa membuat rencana yang matang dan sempurna. Informasi sekecil apapun tetap akan berguna dalam pertarungan, itulah yang dipercaya oleh Weng Lou selama ini.
Selang beberapa menit kemudian, Weng Lou telah menjelaskan informasi 7 orang lainnya yang ada di dalam daftar, yang membuat tinggal 3 orang lagi yang ada pada daftar yang belum ia jelaskan.
"Baiklah, sekarang kita masuk pada 3 orang yang aku anggap sebagai ancaman nyata pada Turnamen Beladiri Bebas besok dan sangat aku inginkan kita hindari.
Yang pertama, adalah seorang pria tua yang terlihat berusia seperti Tetua Fang. Pria tua ini dijuluki sebagai Kuku Iblis dari selatan, dia bernama Zhijia Mo. Dengan tingkat praktik berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2.
Jangan lihat dia dari fisiknya yang tua dan ringkih, dengan pemanfaatan Qi nya yang luar biasa, dia sendiri sanggup mengalahkan beberapa Praktisi Beladiri dengan tingkat praktik yang sama dengan dirinya.
Dia terkenal dengan teknik pemadatan Qi miliknya yang mampu membuat kuku-kukunya menjadi sangat tajam. Dengan bermodalkan kuku-kukunya yang telah dilapisi dengan Qi padat miliknya, dia sanggup menembus pertahanan dari pelindung dengan kualitas senjata tingkat 3 pusaka sekalipun dengan mudah," jelas Weng Lou dengan wajahnya yang serius.
Semua orang diam dan merenungkan penjelasan yang diberikan oleh Weng Lou. Selang beberapa detik kemudian, Weng Ying Luan pun membuka suara nya.
__ADS_1
"Apakah kau memiliki gambar wajahnya?" tanya Weng Ying Luan.
"Tentu saja, ini, ambillah. Itu adalah lukisan wajah dari tiga orang yang aku anggap sebagai ancaman besar bagi kita."
Weng Lou mengeluarkan kertas lainnya dari dalam ruang penyimpanannya dan memberikannya pada mereka semua satu persatu.
Mereka semua memandangi dengan sungguh-sungguh kertas yabg diberikan oleh Weng Lou. Terjadi hening sejenak, tapi itu tidak bertahan lama.
"Bagaimana dengan pertahanan miliknya? Apakah dia juga spesialis dalam pertahanan menggunakan Qi milik nya?" Weng Ying Kun bertanya lagi dengan penasaran.
"Sayangnya, ya, dia memiliki pertahanan tingkat tinggi berbekal pemadatan Qi miliknya," jawab Weng Lou dengan cepat.
"Tapi tenang saja, Tapak Purnama milikku akan menembus pertahanan itu. Yang penting adalah kalian jangan sampai melakukan kontak dengannya tanpa perhatian dariku dan Paman Jian," sambungnya.
"Kau yakin? Dia itu berada di ranah Penyatuan Jiwa, kau ingat? Meskipun kekuatan kita semua di sini sudah meningkat dengan fantastis, terutama kau Lou, tapi bukan berarti kita bisa menghadapi mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa dengan mudah," Weng Hua berkomentar.
Ucapannya ini bukan tanpa dasar apapun. Dia bisa melihat dengan jelas besar perbedaan kekuatan antara mereka yang berada di ranah Pembersihan Jiwa dengan yang berada di ranah Penyatuan Jiwa.
Apa lagi, Zhijia Mo ini berada di tingkat 2, membuat jumlah perbedaan kekuatan mereka semakin jauh.
"Jangan mencemaskan diriku, kau tau aku tidak akan membahayakan nyawaku sendiri jika aku tau tidak ada kesempatan untuk menang. Zhijia Mo ini meski kuat, akan tetapi dia tetap saja memiliki tubuh fisik yang rapuh, sekali dia menerima serangan fatal dari Tapak Purnama milikku, maka dia akan langsung tamat, tenang saja."
Weng Hua pun tidak berkata apapun lagi, ucapan Weng Lou cukup meyakinkan baginya.
"Oke, mari kita bahas orang yang kedua. Orang ini adalah yang paling aku cemaskan, dikenal sebagai Iblis Pembantai, dia telah melakukan banyak sekali penyerangan dan pembantaian di beberapa kota dan desa di Wilayah Tengah seorang diri.
Tanpa meninggalkan jejak, ratapan, dan tangisan, dia menghabisi target-targetnya tanpa ampun dan selalu membunuh dengan sangat sempurna. Dalam satu serangan, targetnya langsung mati. Para Praktisi Beladiri yang mengenalnya memanggilnya dengan sebutan Ratu Pembunuh, Lengxue.
Memiliki tingkat praktik di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 puncak. Kekuatan aslinya hanya menyamai mereka yang berada di tahap 2 awal, tapi kecepatan miliknya hampir menyamai mereka yang berada di tahap 4. Dia terkenal juga dengan berbagai macam senjata rahasianya yang berupa jarum-jarum kecil yang kasat mata di dalam kegelapan.
Selain kedua itu, Lengxue juga merupakan seorang pengguna racun. Ini yang membuat ku sangat cemas. Kita tidak tau racun jenis apa yang akan dia gunakan nantinya, sehingga kita akan sangat kesulitan menentukan pil penawar racun jenis apa yang akan kita gunakan juga nanti."
Setelah mendengar penjelasan dari Weng Lou, mereka kembali melihat kertas yang diberikan oleh Weng Lou pada mereka, yang mana terdapat lukisan wajah dari Lengxue yang dimaksud oleh Weng Lou.
Tapi tak lama kemudian, kening mereka segera mengerut dan langsung menatap Weng Lou. Menerima tatapan itu, Weng Lou pun hanya menghela napasnya karena tau kenapa dirinya ditatap seperti itu.
"Aku tidak mendapatkan gambar wajahnya. Lebih tepatnya tidak ada yang tau sama sekali. Yang jelas dia mengenakan penutup wajah pada wajahnya, sehingga menutup bagian hidungnya kebawah. Rambutnya berwarna ungu terang, dan kukunya berwarna sama. Kemungkinan itu karena racun miliknya. Karena itu, aku minta kalian semua agar selalu waspada besok."
__ADS_1
Setelah menjelaskan hal itu, Weng Lou pun melanjutkan dengan orang yang selanjutnya, yang ia anggap sebagai ancaman.
"Dan kita masuk pada orang terakhir, dia dikenal sebagai pemuda terkuat di seluruh Pulau Pasir Hitam, mengalahkan banyak remaja seusianya dengan tingkat praktik yang sama dengan mereka, dia belum pernah merasakan kekalahan dari bertarung melawan orang seusianya. Dia adalah Wudi Ge, pemuda yang memiliki garis darah keturunan dengan kemurnian lima puluh persen pada dirinya."