Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 596. Mengambil Ingatan


__ADS_3

Di dalam penginapan, Du Zhe sedang bermeditasi dalam kamarnya ketika kemudian Li masuk ke dalam kamarnya itu dan menyuruhnya untuk buru-buru berkemas.


"Ada apa?" Du Zhe bertanya kebingungan. Untuk berbagai alasan, Li tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


"Kapten mengatakan kita harus pergi dari kota. Terjadi beberapa hal yang membuat kita bermusuhan dengan Keluarga Lin, jadi kita harus buru-buru pergi. Dan juga, kapal kita sudah dicuri, jadi mulai dari sekarang perjalanan kita akan lewat darat," jelas Li dengan buru-buru.


Belum sempat Du Zhe bertanya lebih jauh, Li sudah buru-buru pergi dari kamarnya, meninggalkan nya dalam kebingungan. Namun dia segera melakukan apa yang dikatakan Li padanya. Dia dengan cepat bangkit berdiri dan mengambil segala barang-barangnya, sebelum kemudian memasukkannya ke dalam sebuah tas berukuran sedang yang digantung di dinding kamar.


Barang-barangnya tidak terlalu banyak sehingga hanya perlu beberapa menit saja baginya untuk berkemas.


Setelah selesai berkemas, dia pun keluar dari kamar, lalu turun ke lantai satu penginapan dimana ternyata para awak kapal Weng Lou sudah selesai berkemas lebih dulu darinya, dan sedang menunggunya.


"Sudah semuanya?" Di dekat situ, Weng Ying Luan duduk dan melihat Du Zhe yang baru saja turun dari tangga.


Dia bangkit berdiri dan menatap Du Zhe serta yang lainnya sebelum kemudian mengangguk dan berjalan keluar dari penginapan. "Ikuti aku, kita akan pergi dari sini."


Mereka semua pun segera berjalan mengikutinya, termasuk Du Zhe yang sedang bertanya-tanya dimana keberadaan Weng Lou. Weng Ying Luan yang tau kalau anak itu sedang mencari gurunya itu, menjelaskan padanya secara singkat kalau Weng Lou sudah keluar dari kota lebih dulu dari mereka, dan menunggu mereka semua di satu lokasi yang sudah ditentukan.


Dalam perjalan mereka keluar dari kota, Du Zhe dan yang lainnya bisa melihat para prajurit yang sedang berlalu lalang menuju ke tengah kota yang bisa dilihat dengan jelas asap hitam dan kobaran api membubung tinggi.


"A-Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya salah satu awak kapal Weng Lou, dia merasa aneh pada situasi saat ini dimana terlihat beberapa prajurit Keluarga Lin terbaring tak sadarkan diri ketika mereka melintasi jalanan kota.


Akan tetapi, para prajurit lain yang baik-baik saja tampak tidak mempedulikan mereka dan hanya bergegas menuju ke tengah-tengah kota, seakan-akan rekan mereka itu tidaklah penting bagi mereka.


"Terus jalan, jika kau berhenti secara tiba-tiba, akan susah untuk membawa mu di keramaian ini," ucap Weng Ying Luan yang melihat langkah Li sedikit melambat saat mereka melewati seorang prajurit yang tak sadarkan diri di tangga dan kepalanya menghadap ke bawah.


"Ba-Baik!" Li menjawab dengan gugup.


Mereka semua terus berjalan dengan kecepatan stabil ke arah gerbang kota yang mana ternyata bukan mereka saja yang berniat keluar dari kota itu, tetapi banyak orang lain juga yang hendak melakukan hal yang sama.


Namun sedikit berbeda dengan kelompok merek, orang-orang ini adalah para pelaku kejahatan yang tersembunyi di seluruh Kota Tiesha. Mereka berusaha segera keluar dari kota agar segala kejahatan mereka tidak terdeteksi oleh para prajurit kota.


Pasalnya, pada situasi seperti sekarang ini, orang-orang yang akan dicurigai pertama kali sebagai pelakunya adalah mereka semua yang jelas-jelas adalah penjahat di kota itu. Mereka hanya menunggu waktu saja sampai kemudian mereka ditangkap satu persatu oleh prajurit kota jika mereka tetap di kota ini.


"Atas perintah Kapten Lin Hong, semua orang dilarang untuk keluar dari kota! Siapapun yang melawan akan kami tangkap dan dibawa menuju penjara kota!" Seorang prajurit yang mengenakan baju zirah lengkap di tubuhnya berseru nyaring dan menyebabkan keributan semakin menjadi-jadi di depan gerbang timur kota itu.


Kelompok Weng Ying Luan yang juga mendengar seruan dari prajurit tersebut pun mendecakkan lidahnya. Sudah dia duga para prajurit Kota Tiesha akan bergerak cepat menangani kejadian ini. Dia mulai berpikir, mungkin lebih baik dirinya membuat para prajurit ini pingsan ketika bertarung melawan ketujuh pengurus Kota Tiesha.


***


Di luar kota, di area Sungai Lava.


Weng Lou terlihat sedang mengelap kedua tangannya yang berlumuran darah, dan di dekatnya tampak sosok Lin Dan yang sedang dalam keadaan menyedihkan.


Semua jari tangannya telah dihancurkan, dan gigi ada yang hilang beberapa dari tempatnya. Kedua matanya tampak kosong, seperti sudah tidak memiliki semangat hidup apapun lagi. Bahkan ketika Weng Lou memasukkan sebuah pil kedalam mulutnya, dia tidak bereaksi apapun, sampai dia menelan pil itu dan luka-lukanya pun sembuh, kecuali beberapa giginya yang tetap hilang.

__ADS_1


"Kau tau aku bisa melakukan ini sepanjang hari, dan tidak ada yang akan menyelamatkan mu. Sebaiknya kau buka mulutmu dan katakan padaku dimana orang-orang dari Pasukan Pengejar itu membawa kapal ku."


Weng Lou berbicara tepat di depan wajah Lin Dan, akan tetapi pria yang terlihat berusia awal lima puluhan itu tidak menatapnya sama sekali. Dia seperti orang yang menggunakan obat-obatan dan kesadarannya tidak ada bersamanya.


"Haaa....aku karena kau tidak memberikan pilihan apapun padaku, maka sepertinya kematian yang kau inginkan. Baiklah, akan ku kabulkan keinginan mu itu," ucap Weng Lou yang kemudian mengeluarkan kedua pedang kembarnya dari dalam Kalung Spasial nya.


Mata Lin Dan sedikit bergerak ketika melihat kedua pedang itu. Dia mengkertakkan giginya yang masih ada dan menarik napas dalam. Dirinya siap mati demi keluarganya.


Namun, Weng Lou tidak kunjung juga memberikan serangannya walau dirinya sudah memantapkan hati untuk mati. Lin Dan pun menoleh dan melihat wajah pemuda di depannya itu sedang tersenyum mengerikan padanya.


"Samsara, kau bilang dirimu bisa membaca ingatan orang yang kau serap, bukan? Apa itu berarti kau bisa melihat semua ingatan orang itu?" tanya Weng Lou secara tiba-tiba.


Kekuatan Jiwa nya memasuki Samsara, dan wujud Samsara yang memakai sosok Chizi Ryuan pun muncul di sampingnya dengan wajah datarnya yang khas.


"Aku memang bisa membaca ingatan mereka, tapi hanya mereka yang kekuatannya di bawahmu saja yang bisa kubaca seluruhnya. Jika kekuatan orang yang kuserap jauh lebih kuat dari mu, maka aku hanya bisa melihat kepingan ingatan mereka saja, sama seperti kasus orang yang kupakai wujudnya ini," jelas Samsara dengan tenang.


Mendengar itu, wajah Weng Lou menjadi ikut tenang dan kemudian memasang senyum menyeramkan nya kembali.


"Hehehe....baguslah, aku tidak perlu lagi melakukan semua omong kosong ini."


Weng Lou dengan cepat mengayunkan tangannya yang kemudian menusuk tepat ke dada Lin Dan. Lin Dan memasang ekspresi tak percaya, dan kemudian memuntahkan darah dalam jumlah banyak. Pandangannya segera menjadi gelap dan dia pun akhirnya mati ketika Weng Lou menarik kembali tangannya dan menggenggam sesuatu yang tidak lain adalah jantungnya.


"Aku hanya membutuhkan kepalanya sebenarnya, tapi karena akan membuang-buang sumber daya, akan kuambil juga tubuhnya," ucap Samsara yang kemudian segera membuat sebuah bola energi transparan yang menutupi sekujur tubuh Lin Dan yang telah tak bernyawa.


Samsara memejamkan matanya, ingatan yang ada pada Lin Dan mulai memasuki kepalanya. Memerlukan beberapa waktu untuk menyerap semua ingatan itu. Weng Lou yang hanya diam melihat itu semua memilih untuk memasukkan jantung yang dia dapat dari Lin Dan ke dalam Kalung Spasial nya.


Mau bagaimanapun, kekuatan garis darah keturunan adalah sesuatu yang sangat berharga, terutama jika itu adalah garis darah Phoenix yang sangat terkenal akan daya hidupnya yang luar biasa. Sudah bukan rahasia lagi jika sumber dari kekuatan garis darah keturunan terletak pada jantung seseorang.


Karena jantung adalah tempat untuk memompa seluruh darah di dalam tubuh yang kemudian mengedarkannya secara teratur, maka jantung juga yang menjadi titik pusat dari kekuatan garis darah keturunan. Ketika seseorang meningkatkan garis darah keturunan nya agar menjadi lebih murni, sebenarnya yang dilakukannya hanyalah meningkatkan jantungnya saja.


Ketika jantung telah mengalami perubahan, maka secara otomatis darah akan ditingkatkan setiap kali masuk ke dalam jantung. Garis darah Ras Ilahi milik Weng Lou juga berpusat di jantungnya. Hal ini yang membuat Zhi Juan membuatkan segel untuknya yang terletak di jantung.


Ada beberapa rumor mengenai ritual pengambilan garis darah keturunan yang Weng Lou pernah dengar sebelumnya di Pulau Pasir Hitam.


Ritual ini bertujuan mengambil garis darah keturunan seseorang melalui jantung pemilik kekuatan garis darah keturunan yang akan dimurnikan dan diberikan pada orang biasa. Orang itu akan menerima kekuatan garis darah keturunan dari pemilik jantung tersebut dan membuatnya menjadi seorang pemilik garis darah keturunan juga.


Namun jelas orang yang memiliki jantung itu akan mati karena dia mengorbankan jantung nya sendiri. Oleh karena itu ritual ini dianggap sebagai ritual yang sangat jahat dan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang bekerja di kegelapan.


Weng Lou sendiri tidak peduli dengan pandangan orang lain mengenai hal-hal remeh seperti itu. Menurutnya selama jantung itu dia dapatkan dari musuhnya, maka dia akan menganggapnya sebagai hadiah kemenangannya.


Dia memiliki rencana tersendiri dengan jantung itu. Dan tentunya jantung itu bukan untuk dirinya sendiri. Senyum Weng Lou menjadi lebar ketika mengingat Du Zhe yang sedang berlatih beladiri kala itu dan juga kondisinya yang membuatnya harus merahasiakan bakat aslinya.


Weng Lou masih diam di tempatnya sampai kemudian Samsara membuat lamunannya terhenti.


"Aku sudah selesai menyerapnya, apakah kau mau menelusuri ingatannya? Sedikit peringatan kecil dariku, kau akan mengalami rasa sakit seperti dihantam palu latihan mu sendiri di dalam kepala mu, atau mungkin kau akan merasakan sebuah arus air yang sangat deras sedang mengoyak kepalamu." Samsara berbicara pada Weng Lou sambil menunjukkan sebuah bola cahaya emas kecil di telapak tangan kirinya.

__ADS_1


Tanpa berpikir dua kali, Weng Lou langsung meminta Samsara untuk mentransfer ingatan Lin Dan ke dalam kepalanya.


Bola cahaya emas di tangan Samsara pun bergerak masuk ke dalam kepala Weng Lou lewat keningnya. Awalnya dahi Weng Lou berkerut karena merasakan sensasi seperti sesuatu sedang masuk ke dalam kepalanya, sampai kemudian keringat dingin mulai muncul dan raut wajah Weng Lou berubah seratus delapan puluh derajat.


"Kegh!!! AGH!!!"


Weng Lou jatuh berlutut di atas tanah sambil memegangi kepalanya. Dia mengerang kesakitan namun tetap berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak. Tanah yang dia pijak retak ketika tanpa sengaja dirinya menghantamkan kepalanya ke tanah.


Di dalam kepalanya, berbagai ingatan milik Lin Dan mengalir masuk dengan deras seperti sebuah sungai yang memiliki arus deras. Tidak ada yang bisa dilakukan selain membiarkan ingatan-ingatan itu masuk ke kepalanya.


Kira-kira setengah jam kemudian, akhirnya Weng Lou berhenti mengerang kesakitan dan terbaring di atas tanah dengan napasnya yang tidak beraturan. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, membuatnya tampak seperti mandi keringat.


"Ha...ha...ha....." Weng Lou mengatur napasnya, sebelum kemudian menoleh ke arah Samsara yang sedang duduk tenang di sampingnya.


"Kau sepertinya sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti tadi," komentarnya pada Weng Lou.


"Tidak benar jika mengatakan bahwa aku terbiasa, tapi setidaknya aku sudah mengalami beberapa rasa sakit yang sama atau bahkan lebih menyakitkan dari itu," balas Weng Lou.


Dia mengelap wajahnya yang berkeringat sebelum akhirnya merubah posisinya menjadi duduk bersila dan mulai bermeditasi sambil menggunakan Teknik Pembersih Jiwa nya.


Ketika dia mulai kembali tenang, Weng Lou pun mulai memeriksa ingatan yang dia baru saja dapatkan itu. Perlu waktu yang cukup lama baginya untuk kemudian menemukan apa yang dia sedang cari. Dia menemukan sebuah ingatan tentang Wakil Kapten Pasukan Pengejar milik Keluarga Lin yang meminta izin pada para pengurus kota untuk memeriksa semua kapal di pelabuhan dan diizinkan.


Ingatan itu tidak berakhir di situ, Weng Lou bisa melihat kalau Lin Dan dan tiga orang pengurus Kota Tiesha juga ikut ambil bagian dalam pemeriksaan di pelabuhan. Hal ini karena merekalah yang bertanggung jawab atas pemberian informasi sebelumnya tentang pengkhianat Keluarga Lin pada Pasukan Pengejar, namun sayangnya pengkhianat itu berhasil lolos karena informasi yang terlambat diberikan.


Ingatan di kepala Weng Lou kemudian menunjukkan tampilan ketika sepuluh Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa mengepung kap uap milik Weng Lou karena tanpa sengaja menemukan tanda keberadaan Kera Hitam Petarung di dalam kapal dan dicurigai sebagai bagian dari rencana penyerangan kota.


Akhirnya, dengan kerjasama kesepuluh orang di ranah Penyatuan Jiwa tersebut, Kera Hitam Petarung berhasil ditangani dengan mudahnya dan segera dibawa menuju ke suatu tempat oleh para Pasukan Pengejar menggunakan kapal uap Weng Lou yang ditarik oleh seekor binatang buas lautan.


Setelah mencoba menemukan lokasi pasti dari Pasukan Pengejar itu, Weng Lou pun menghentikan meditasinya dan segera membuka matanya sambil menghela napas panjang.


"Akhirnya aku tau bagaimana cara mereka membawa kapal uap ku itu, ternyata mereka menggunakan bantuan seekor binatang buas lautan yang telah dijinakkan oleh para Pasukan Pengejar. Aku sempat berpikir ada seseorang yang tau cara menggunakan mesin uap pada kapal itu, tapi sepertinya kekhawatiran ku hanyalah sebuah kekhawatiran tanpa dasar."


Weng Lou pun bangkit berdiri, lalu berjalan menuju ke pinggir sebuah sungai lava yang terus mengalir dari atas gunung berapi.


"Akan sulit melewati rute disekitar Sungai Lava ini, sepertinya kami harus melewati rute lain yang memutar. Du Zhe dan yang lainnya tidak akan tahan dengan suhu panas di sekitar sini." Weng Lou berpikir dengan tenang.


Ketika dia masih menentukan apa yang harus dia lakukan, kelompok Weng Ying Luan terlihat di kejauhan sedang berjalan mendekat ke arah tempat Weng Lou berada. Namun kondisi mereka sangat berantakan, tubuh mereka ditutupi oleh debu dan kotoran, seakan-akan mereka baru saja melewati sebuah pertempuran yang sengit.


"Akhirnya mereka datang juga. Aku harus mendiskusikan ini pada Luan, sebelum kemudian memutuskan rute yang harus kami ambil."


**Catatan Penulis:


Mau ujian bukannya tugas dihentikan, malah dikasih makin banyak lagi. Hadeh🥴.


Buat pembaca semua, sebaiknya jangan tungguin tiap hari, karena author sendiri nggk jamin bakalan update tiap hari**.

__ADS_1


__ADS_2