
"Aku kembali."
Ingatan kehidupan kelima puluh satunya mengalir dalam kepala Weng Lou.
Hutan Fu Lin tidak berubah sedikitpun meski telah ribuan tahun lamanya berlalu. Hal ini dikarenakan penduduk Desa Fenmu hanya menggunakan kekuatan mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka di dalam hutan.
Tidak ada satupun yang merusak pepohonan di dalam hutan.
Jika orang-orang desa ingin mencari kayu bakar, mereka akan mencari pohon yang memasang sudah berumur dan hanya dengan sedikit angin kencang.
Weng Lou menikmati pemandangan di depannya selama beberapa saat sebelum kemudian ekspresi wajahnya menjadi gelap.
Di ujung Hutan Fu Lin, ada sebuah gua yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari tempat Weng Lou berdiri.
Di depan pintu itu, terlihat seekor ular dengan sisik berwarna hitam legam sedang berusaha untuk melewati sebuah lapisan pelindung di pintu masuk gua. Panjang tubuh ular itu hanya beberapa meter saja, namun setiap kali dia menabrakkan dirinya pada lapisan pelindung, sebuah riak muncul di udara.
"Tidak menyangka dia sudah sampai di tempat ini. Dia cukup pintar untuk membuat tubuhnya sekecil mungkin sambil berusaha menerobos lapisan pelindung yang aku pasang. Untungnya, aku menaruh seratus lapisan pelindung di mulut gua untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ular itu juga tidak berani menggunakan kekuatannya lebih dari sepersepuluhnya karena tidak mau memancing diriku.
Sayangnya, aku mendapati kau secara terang-terangan mencoba memasuki gua tersebut. Kau tidak akan bisa lari lagi dariku setelah semua ini, nasibmu sudah diputuskan semenjak aku membawamu dari sarang indukmu kala itu."
Weng Lou tersenyum dingin dan segera melakukan teleportasi singkat di hadapan ular yang sedang menghantamkan kepalanya pada mulut gua di ujung Hutan Fu Lin.
Ular itu terlempar beraksi terhadap kedatangan Weng Lou. Ketika dia sedang menghantamkan kepalanya, dia menabrak tepat pada dada Weng Lou.
Getaran menjalari tubuh Weng Lou. Namun dia tidak bereaksi sedikitpun. Malah, ular itu tampak kesakitan setelah menghantam dadanya.
Senyuman pada wajah Weng Lou tampak semakin dingin karena hal itu. Dengan cepat tangannya bergerak dan menangkap ular itu, tepat di bawah kepalanya.
"Kau ular sialan. Tidakkah kau merindukan Tuan mu? Beraninya kau menyerang ku setelah aku repot-repot datang kemari demi dirimu," ujar Weng Lou dengan suara sama dinginnya dengan senyumannya.
Ular itu berusaha memberontak dan lepas dari genggaman Weng Lou. Akan tetapi usahanya sia-sia saja karena Weng Lou bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
Melihat usahanya tidak membuahkan hasil apapun, ular itu tidak menyerah begitu saja. Tubuhnya segera membesar, dua kali lipat dari sebelumnya. Sayangnya, Weng Lou masih tidak bergerak ataupun bereaksi. Genggaman pada ular itu juga menjadi lebih erat karena tubuhnya yang membesar, sedang Weng Lou tidak mengendorkan genggamannya.
"Bajingan!!! Lepaskan aku!!!! Kau sialan tidak tau malu!! Mau sampai kapan kau terus menyiksaku?!" Akhirnya, ular itu berhenti melawan saat menemukan usaha terakhirnya tetap tidak membuahkan hasil sedikitpun.
__ADS_1
Weng Lou membalas kata-kata ular itu dengan wajah yang lebih gelap dari sebelumnya. Senyuman dingin pada wajahnya tiba-tiba menghilang dan dia mendecakkan lidahnya.
"Kau cacing kecil tidak tau diri. Beraninya kau berbicara seperti itu pada Tuan mu. Sepertinya kepergian diriku selama beberapa ratus tahun ini membuatmu lupa pada setiap latihan yang kuberikan padamu. Okelah kalau begitu. Aku punya sedikit waktu untuk mendisiplinkan mu sebelum aku pergi menemui kepingan jiwa ku di tempat ini. Mari kita sedikit bersenang-senang."
Ular dalam genggaman Weng Lou segera mendapatkan firasat buruk begitu mendengarkan kata-kata Weng Lou. Dia mendesis nyaring saat kemudian Weng Lou segera membanting keras tubuh ular itu ke atas tanah.
Ular itu tidak menjerit kesakitan atau sejenisnya, malahan, dia memanfaatkan kesempatan dar Weng Lou yang melepaskan genggamannya. Tanpa berlama-lama, dia segera melesat pergi secepat kilat ke dalam hutan, meninggalkan Weng Lou di belakangnya.
Hanya dalam waktu sepuluh detik, dia sudah mencapai batu tempat Weng Lou berdiri sebelumnya.
Sebelum sempat dia memanjat naik, sosok Weng Lou sudah muncul tepat di sampingnya dan tangannya bergerak santai untuk menangkap kembali ular itu.
Dengan segenap kekuatan dan kegesitannya, ular itu menghindari tangan Weng Lou dan langsung meluncur naik ke atas batu dengan kecepatan penuh.
"Kau sepertinya telah belajar sesuatu saat aku tidak ada. Tapi sayangnya, usaha yang kau lakukan sia-sia."
Tangan Weng Lou melakukan gerakan menggenggam dan gerakan ular itu langsung terhenti di udara, seolah-olah ada sesuatu yang memeganginya namun tidak bisa terlihat oleh mata. Weng Lou tertawa dingin dan dia langsung melemparkan ular itu kembali ke dalam hutan.
Pohon-pohon langsung hancur karena ditabrak oleh tubuh ular tersebut.
Pada dasarnya, ular itu sudah membenci Weng Lou sejak dirinya pertama kali melihat dunia ini. Kebenciannya akan Weng Lou sudah berada dalam tingkat yang tak bisa disebutkan lagi. Kebencian yang dia rasakan sudah seperti mendarah daging.
"Apapun yang terjadi, aku harus bisa kabur dari tempat ini! Aku sudah tidak peduli lagi pada kekuatan ku yang disegelnya! Selama aku bisa pergi darinya, aku rela melakukan apapun!!" seru ular itu dengan suara geram.
Kenangannya saat bersama dengan Weng Lou hanya bisa dideskripsikan dengan satu kata, kekejaman!
Weng Lou akan selalu memukulnya, bahkan jika dia tidak melakukan kesalahan apapun. Hal ini yang sering membuatnya jengkel. Pukulan yang diberikan oleh Weng Lou mungkin tidak cukup kuat untuk melukainya, tapi itu membuatnya merasa terhina.
Dia merasa Weng Lou memperlakukannya sama seperti hewan setingkat kuda yang harus menerima beberapa cambukan untuk membuatnya lari ke arah yang tepat.
"Persetan dengan semua kekuatan itu! Hidup tanpa orang itu jauh lebih penting daripada memiliki kekuatan ku kembali!!"
Tubuh ular itu melesat gesit di antara pepohonan. Seiring pohon yang dia lewati, besar tubuhnya terus menyusut kecil. Dari yang sebelumnya belasan meter, mulai berkurang hingga hanya sembilan meter dan terus berkurang hingga akhirnya mencapai dua meter saja.
Meski begitu, kecepatan ular tersebut tidak berkurang sama sekali, malah menjadi semakin cepat. Dia seperti sebuah anak panah yang ditembakkan.
__ADS_1
"Usaha yang sia-sia lainnya. Sepertinya kau tidak belajar apapun selama ratusan tahun ini. Sejak kapan seekor cacing di ranah Deva awal berpikir dirinya bisa kabur dari seorang ranah Absolute? Jangan membuatku tertawa. Kembali ke sini, kau cacing kecil." Dengan satu gerakan tangan lainnya, ular itu terhenti di tempatnya yang telah sampai di ujung Hutan Fu Lin.
Dia meraung marah ketika tubuhnya tertarik mundur dan kemudian sampai di hadapan Weng Lou begitu saja. Semua usaha yang dia lakukan pada akhirnya berakhir sia-sia, sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Tidak.....aku tidak akan menyerah begitu saja!!!"
Ular Kegelapan sudah bertekad untuk lepas dari Weng Lou. Dia rela membayar harga mahal demi hak tersebut tercapai.
Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat ketika kemudian besar tubuhnya mulai membesar kembali. Namun kali ini tidak hanya belasan meter saja, melainkan hingga puluhan meter, bahkan ratusan meter!
Karena besarnya, tubuhnya mulai menghancurkan pohon-pohon di dalam Hutan Fu Lin.
Melihat ini, Weng Lou segera melempar tubuh Ular Kegelapan ke udara, mengindari hancurnya lebih banyak pohon. Meski pohon-pohon itu tidak terlalu berarti, tapi kenangan di dalamnya sangat Weng Lou hargai karena dia besar di dalam hutan ini di kehidupannya yang lain.
Ketika terlempar di udara, Ular Kegelapan tidak membuang-buang kesempatan itu dan membesarkan tubuhnya hingga ke ukuran aslinya yang langsung menutupi seluruh Hutan Fu Lin dengan mudahnya.
Alih-alih menjatuhkan diri dan menghantam Hutan Fu Lin, Ular Kegelapan justru melesat pergi keluar dari Hutan Fu Lin.
Menyaksikan ini, Weng Lou langsung melakukan gerakan menggenggam lainnya. Benar saja, tubuh Ular Kegelapan yang begitu besarnya langsung terhenti begitu saja di tempatnya.
"Aku menikmati usaha yang kau kerahkan, tapi cukup sampai di situ saja. Aku bukanlah seorang perundung yang senang menyiksa hewan tunggangannya, aku tidak sekejam itu. Tapi karena kau ingin lari dariku, kau harus diberi sedikit pelajaran."
Berbeda dari sebelumnya, Weng Lou tidak melepaskan genggamannya. Sedikit berjongkok, dia kemudian melesat ke arah Ular Kegelapan. Tangan kirinya terkepal erat. Dengan satu ayunan tangan, dia memukul perut Ular Kegelapan.
Tidak hanya satu pukulan, sembilan pukulan lain segera dilepaskan Weng Lou dan membuat Ular Kegelapan menggila karena kesakitan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Weng Lou kemudian menendang punggung Ular Kegelapan hingga membuatnya hampir kehilangan kesadarannya begitu saja.
Untungnya karena genggaman tangan Weng Lou, tubuh Ular Kegelapan tidak bergerak sedikitpun. Dia melayang di udara tanpa terangkat atau terturun oleh pukulan dan tendangan Weng Lou.
Setelah setengah jam kemudian, Weng Lou berhenti menyerang Ular Kegelapan. Ular itu sudah benar-benar kehilangan kesadarannya karena tidak kuat menerima pukulan dan tendangan Weng Lou. Tubuhnya yang begitu besar tidak berarti apapun di hadapan serangan Weng Lou. Dia seperti selembar kertas lebar dan tipis yang menerima tusukan pisau tajam, lemah tak berdaya.
"Hm? Kenapa kau begitu lemah? Ini bahkan belum setengah hukuman yang aku putuskan untuk kuberikan padamu. Ckckck.......dasar cacing kecil, segini saja kau tidak kuat menahannya. Ya sudahlah, akan kubiarkan kau kali ini. Tapi tunggu saja begitu kau bangun, kita akan mulai dari awal hukuman mu."
Weng Lou menggunakan kekuatannya dan membuat tubuh besar Ular Kegelapan menghilang begitu saja. Tidak ada yang tau kemana Weng Lou memindahkan dirinya. Satu-satunya yang pasti, dia akan merasakan siksaan yang sama seperti terkahir kali dia bersama-sama dengan Weng Lou.
__ADS_1