Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 564. Pertengahan


__ADS_3

Tiga hari kemudian berlalu setelah Weng Lou membereskan para Siluman Rubah Api.


Dia mendapatkan sebuah Logam Nadi Merah yang cukup besar dari rute khusus tersebut dan menyimpannya untuk dirinya sendiri karena dia yang menghabisi seorang diri para siluman itu. Qianren tidak protes sedikitpun, lagipula dia masih cukup senang dengan cincin permata yang Weng Lou berikan padanya.


Mereka menghabiskan dua hari untuk berkeliling seluruh wilayah terluar labirin dan membersihkan semua siluman, binatang buas, dan rute khusus yang ada. Sementara itu, para peserta lain telah sampai di pertengahan jalan menuju pusat labirin. Tidak ada yang menyadari sedikit pun, bahwa seluruh bagian terluar labirin telah rusak total dan dipenuhi dengan jalur-jalur baru yang diciptakan oleh Weng Lou dengan melubangi dinding-dinding labirin.


Saat ini, matahari yang berada tepat di atas kepala menunjukkan waktu sudah tengah hari dan banyak peserta yang memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Namun apakah mereka memang bisa melakukannya?


Kini mereka telah sampai di pertengahan jalan, dan jumlah para binatang buas serta siluman yang ada telah berkurang drastis, begitu juga dengan rute khusus yang ada. Namun berkurangnya jumlah tersebut tidak membuat sedikit pun rasa bahagia atau pun senang ada di dalam hati tiap peserta. Mereka justru merasa semakin tersiksa dan meratap karena kesulitan labirin semakin naik.


Setiap beberapa jam sekali mereka pasti akan berhadapan dengan binatang buas dan kekuatan mereka kini telah berada di atas Dasar Pondasi. Binatang buas terlemah akan berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 dasar dan itu juga yang terjadi dengan para siluman. Kekuatan mereka justru meningkat secara mengejutkan, kecerdasan mereka juga tidak bisa diremehkan lagi.


Meski memiliki waktu untuk beristirahat, namun para peserta ini tidak bisa melakukannya karena khawatir adanya penyergapan dari para binatang buas. Bahkan bayangan kematian selalu berada bersama mereka, dan mereka semua bisa merasakannya.


*BUM!!!*


Sebuah pukulan berat dilepaskan dan menghancurkan kepala seekor banteng merah yang memiliki tubuh sebesar sepuluh kali orang dewasa. Tubuh tanpa kepala banteng itu terhuyung selama beberapa saat sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.


Darah mengalir deras dari leher tanpa kepalanya itu, sementara Weng Lou berjalan melewati tubuhnya dan segera melepaskan serangan selanjutnya. Dia menghentakkan kakinya, dan tanah di depannya berguncang. Sekawanan banteng merah lain yang sedang menerjang ke arahnya kehilangan keseimbangan mereka dan berhenti menerjang ke arahnya.


Weng Lou memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Dia melangkah maju, lalu menangkap salah satu tanduk banteng yang berada paling dekat dengannya.


Dengan mudah Weng Lou mengangkat tubuh banteng tersebut, lalu memutarnya. Setelah merasa cukup, dia melemparkan tubuh banteng merah itu ke arah banteng-banteng yang lainnya.


"MOOOOO!!!"


*Bdebug!!* Tabrakan yang terjadi antara para banteng itu menyebabkan debu berterbangan ke segala arah. Tapi Weng Lou sepertinya tidak terganggu dengan hal itu.


"Akan kuserahkan padamu, Saudari Qian!" serunya dengan santai sambil melambaikan tangannya.


Qianren mengangguk dan melangkah melewati Weng Lou dengan tangan dan kaki yang telah terlapisi dengan Qi tipis. Dia dengan lincah bergerak ke arah para banteng yang masih linglung di tanah. Kaki kanannya menendang dagu salah satu banteng, lalu tangan kirinya yang jari-jarinya diluruskan segera menusuk tepat ke arah tenggorokan banteng tersebut.


Tangannya seperti menggenggam sesuatu ketika kemudian ditarik keluar kembali. Segera, darah menyembur deras seperti air mancur dari leher banteng itu, tapi Qianren tidak berhenti pada banteng itu saja. Kakinya bergerak lincah dan menghampiri satu persatu banteng-banteng itu.


Tangannya seperti sebuah tombak maut yang terus menusuk dan mencabut nyawa para banteng satu persatu. Tidak perlu lama untuk menghabisi semua banteng itu dan Qianren berhenti melakukan serangannya. Qianren mengusap darah di wajah dan tangannya dengan menggunakan pakaiannya lalu menyuruh Weng Lou berbalik untuk membiarkannya bisa mengganti pakaian.


Sementara Qianren berganti pakaian, Weng Lou memilih untuk memeriksa tubuh para banteng merah itu.


*Sringg....* Dia mengambil pedangnya, dan dengan mudah memotong salah satu tanduk banteng tersebut. Potongan tanduk di tangannya digenggam erat selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia mengangguk puas.


"Em, tanduk ini cukup keras. Aku bisa menggunakannya untuk membuat pisau-pisau kecil menggunakan ini," ucapnya lalu mengeluarkan sebuah karung yang dia punya dan segera memasukkan tanduk di tangannya ke dalam karung itu. Pedangnya kembali memotong tanduk lainnya dan juga memasukkannya.


Dia pun berjalan menghampiri banteng-banteng lain dan memotong tanduk mereka. Tepat ketika Qianren selesai mengganti pakaiannya, dia juga sudah selesai memotong semua tanduk kawanan banteng itu.


"Sudah selesai?" tanya Weng Lou yang melihat Qianren berjalan dari balik belokan lorong labirin dengan pakaian barunya.


Dia mengenakan sebuah pakaian terusan tanpa lengan yang pas dengan tubuhnya dan hanya setinggi pahanya saja. Meski terkesan terbuka, namun memang pakaian seperti itu yang cocok untuk seorang petarung tangan kosong seperti dirinya. Weng Lou sendiri juga mengenakan pakaian tanpa lengan, dan celana yang telah dipotong hingga setinggi lututnya saja.


Semakin sedikit pakaian yang menutupi anggota gerak, maka petarung tangan kosong bisa bergerak lebih leluasa.


Wajah Qianren sedikit merah saat Weng Lou menatapnya dari atas sampai bawah. Dia sebenarnya tidak mau mengenakan pakaian ini, tapi hanya pakaian seperti ini yang dia bawah Semua pakaian lain yang ada di cincin penyimpanan nya juga memiliki model serupa.

__ADS_1


"Jika kau berani melihatku dengan tatapan mesummu, aku tidak akan segan menusuk kedua matamu itu!" ancam Qianren sambil menarik turun pakaiannya agar tidak terlalu memperlihatkan bagian pahanya.


Weng Lou tersenyum mengejek dan tertawa pelan, "Tenang lah, aku bukanlah orang mesum yang suka melihat seperti itu. Lagipula tidak ada yang bisa kulihat darimu."


Mendengarkan perkataan Weng Lou, entah mengapa membuat hati Qianren menjadi sedikit sakit, tapi dia buru-buru pergi tanpa mempedulikan Weng Lou yang sedang mengamat-amati sebuah tanduk di tangannya.


***


Malam harinya. Dua sosok bayangan melesat cepat diantara lorong-lorong labirin yang gelap dan sunyi. Keduanya dengan lihai berbelok diantara tikungan lorong tanpa menabrak sedikitpun.


Sementara itu, dibelakang mereka, layaknya sebuah tsunami yang mengerikan, sekelompok Semut Jenderal yang memiliki tubuh seukuran manusia dewasa bergerak dan mengejar dua bayangan itu. Tubuh mereka merayap di Atang dan di dinding labirin tanpa masalah meski sedang saling berhimpitan. Target mereka ada tepat di depan mereka, dan tidak akan membiarkan keduanya lolos begitu saja.


Beberapa menit yang lalu....


Weng Lou dan Qianren menemukan sebuah sarang dari koloni semut raksasa yang terdapat di salah satu lorong buntu di labirin. Weng Lou menemukan bahwa sarang semut ini tidak termasuk dari rute khusus yang tertanda di peta miliknya dan hal ini membuatnya penasaran.


Untuk menghindari bahaya, dia memutuskan untuk mendekati sarang itu seorang diri dan mencoba memprovokasi koloni tersebut dengan cara membunuh seekor Semut Jenderal milik koloni mereka. Weng Lou berpikir bahwa jumlah semua semut yang ada di situ adalah jumlah keseluruhan mereka. Tapi tanpa di sangka, terdapat lubang masuk yang mengarah ke dalam dinding labirin yang menjadi lokasi sarang mereka sebenarnya dan bagian luar itu hanya ditempati oleh para semut pekerja.


Semut Jenderal yang dia bunuh ditugaskan untuk mengawasi kawanan Semut Pekerja.


Hingga situasinya pun berubah menjadi seperti saat ini. Puluhan Semut Jenderal dengan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 2 puncak mengejar-ngejar mereka dan berusaha membunuh dirinya serta Qianren.


"Kau idiot bodoh!!! Lakukan sesuatu! Semut-semut itu tidak akan melepaskan kita bahkan jika kita sampai di bagian pusat labirin!!!" Qianren berseru jengkel pada Weng Lou yang menjadi biang kerok dari masalah yang mereka hadapi saat ini.


Jika mereka berada di sebuah lapangan terbuka, Weng Lou akan senang hati menghadapi para semut itu, namun dengan kondisi mereka yang tertahan oleh dinding-dinding lorong labirin yang sempit, Weng Lou tidak bisa mengerahkan seratus persen kekuatannya. Dia bisa saja tanpa sengaja melukai Qianren atau para peserta lain di dalam labirin.


Dan jika situasi itu terjadi, dia yakin para Tetua akan menyadari identitas nya sebagai penyusup.


Qianren mengigit bibir bawahnya, dan mendecakkan lidahnya. Dia sadar Weng Lou memiliki kekuatan jauh di atas nya, dan doa hanya akan menjadi beban jika terus berada bersama Weng Lou. Tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin menghalangi Weng Lou dan dengan mengikuti perintah Weng Lou, dia pun berlari pergi.


Para Semut Jenderal yang mengejar keduanya pun segera mengurangi kecepatan saat melihat Weng Lou yang tidak lagi berlari. Mereka memilih untuk menghabisi Weng Lou terlebih dahulu sebelum kemudian mulai menargetkan Qianren.


"Fuuuhh.....haaaahhhh....hei semut-semut kecil, jangan membuat ekspetasi ku menurun yah.....salah kalian sendiri membuatku menjadi bersemangat seperti ini."


Tidak ada ekspresi takut pada wajah Weng Lou, yang ada hanya senyum lebar penuh semangat.


Dia mengeluarkan kedua pedang kembarnya dan memasang kuda-kuda nya. Untuk menghindari kerusakan dari penggunaan kekuatan fisiknya yang berlebih, dia memilih menggunakan senjatanya yang bisa menyelesaikan segala macam musuh yang di hadapi.


Gelombang Semut Jenderal itu sampai tepat di hadapannya, dan Weng Lou pun segera memutar kedua tangannya yang memegang pedang kembarnya itu.


"Aaaahhh!!!" Seruan kencang dari Weng Lou datang bersamaan dengan sebuah tiupan angin kencang yang langsung mendorong mundur tubuh para Semut Jenderal tersebut.


Weng Lou langsung menerjang masuk ke dalam gerombolan semut raksasa itu. Pedang nya terayun dan terus menebas para semut itu. Dia memulai dengan melakukan satu sayatan besar yang memotong antena mereka. Hal ini dia lakukan agar mereka tidak bisa saling berkomunikasi satu sama lain, dan memecah kerja sama mereka.


Serangan Weng Lou selanjutnya adalah, tidak ada. Dia memilih untuk menikmati pertarungan nya tanpa menggunakan pemikiran-pemikiran seperti strategi yang biasa dia gunakan.


***


Di sebuah lorong labirin, Qianren terlihat berlutut di tanah. Napasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi dirinya. Sudah setengah jam dia berlari meninggalkan Weng Lou sendirian dan dia kini telah berada di bagian lebih dalam labirin.


*Buk....*

__ADS_1


Dia merebahkan dirinya ke atas tanah dan termenung dalam diam. Di dalam kepalanya, dia terus memikirkan kata-kata yang dia ucapkan kepada Weng Lou terakhir kali. Perasaan menyesal menyelimutinya dan air matanya mulai menetes.


"Dasar pengecut! Pengecut sialan!! Mati saja kau! Kau gadis bodoh tak berguna! Kau hanya tau meminta perlindungan orang lain, dan bahkan mengorbankan orang lain demi keselamatan mu sendiri!"


Qianren mulai mengutuk dirinya sendiri, sementara teriakan dan tangisannya penyesalan nya itu mulai menarik perhatian para siluman dan binatang buas di sekitarnya.


*Tap.....tap.....tap....* Suara langkah kaki besar terdengar oleh telinga Qianren yang masih berada di atas tanah. Dia buru-buru bangkit dan menatap ke arah lorong yang ada di depannya sambil menyelimuti kedua tangannya dengan Qi miliknya.


Matanya menyipit dan fokus pada asal suara yang semakin mendekati dirinya. Beberapa saat kemudian, bayangan seseorang terlihat dari dinding labirin. Namun Qianren tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. Para siluman di labirin ini memiliki beberapa teknik aneh yang bisa menyamarkan diri menjadi manusia, akan berbahaya jika dia menurunkan kewaspadaannya.


*Tap....* Sosok asli dari pemilik bayang itu pun menampakkan dirinya dan memperlihatkan sosoknya yang ternyata adalah seorang Peserta Tes seperti dirinya.


Qianren mengenalinya, dan dia pun segera menurunkan kembali kedua tangannya yang sebelumnya siap memukul lawan.


"Qian? Kenapa kau ada di sini?" tanya Peserta Tes itu yang merupakan seorang pemuda yang mengenakan pakaian rapi dan memiliki rambut panjang yang diikat kebelakang.


Dia adalah Gaouji De, Saudara Senior dari Guru yang sama dengan yang mengajar Qianren. Gaouji satu tahun lebih dulu masuk ke dalam sekte dibandingkan Qianren dan memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 awal. Dia merupakan salah satu murid berbakat yang dimiliki oleh gurunya dan membawa harapan besar gurunya untuk menjadi Praktisi Beladiri yang melampauinya.


Umur Gaouji adalah dua puluh tahun, dan jelas itu merupakan suatu prestasi yang cukup menonjol di kalangan murid Sekte Bambu Giok. Dibandingkan dengan Gaouji De, Nu Qianren tidak ada apa-apa nya.


"Saudara Senior Gaouji." Qianren memberikan hormatnya pada pemuda itu dan hanya dibalas dengan tatapan mata menyelidiki oleh Gaouji. Tempat mereka berada merupakan jalur ujian miliknya, kehadiran Qianren di sini membuat Gaouji menjadi curiga dan waspada.


Sebutan 'Saudara' pada panggilan tiap-tiap murid tidak berarti mereka menganggap orang itu benar-benar saudaranya. Tidak sedikit para murid yang menyimpan dendam dan niat buruk pada senior mereka sendiri, dan dari sudut pandang Gaouji, Qianren memiliki dendam kepadanya karena suatu hal.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana caramu masuk ke dalam jalur milik ku?" tanya Gaouji menyelidik.


Nu Qianren terdiam, dia memikirkan alasan yang cukup masuk akal yang bisa diterima oleh seniornya itu, tapi tidak ada yang menurutnya bisa memuaskan seniornya tersebut. Ketika dia hendak memberikan jawaban, sebuah suara lebih dulu memotongnya dari belakangnya.


"Kupikir kau lari sangat jauh dan hendak meninggalkan ku sendirian di belakang, tapi ternyata tidak. Maaf sudah berburuk sangka. Hm? Siapa ini? Apa dia kenalanmu Saudari Qian?" Suara Weng Lou dengan sangat jelas terdengar di lorong itu.


Mendengar suaranya, Qianren langsung berbalik dan melihat sosok Weng Lou yang bermandikan darah sedang berjalan santai dengan kedua pedang kembar di kedua tangannya. Saat ini, seluruh bajunya terlah terkoyak sehingga membuat dia harus bertelanjang dada dan memperlihatkan bentuk tubuh sempurna nya itu pada Qianren dan Gaouji yang sedang menatapnya curiga.


"Saudara Lou...kau....mencariku?"


"Apa maksudmu? Tentu saja aku mencarimu. Aku sudah berjanji padamu untuk melindungi ku setelah setuju ikut bersama ku, apa kau lupa?" jawab Weng Lou dengan wajah keheranan.


Qianren tidak bisa berkata-kata. Dia telah meninggalkan Weng Lou dan membuat pemuda itu harus berjuang sendiri melawan sekawanan Semut Jenderal yang bahkan tidak bisa dia lawan salah satunya, namun pemuda itu masih memenuhi janjinya dan pergi mencarinya.


"Lou? Maksudmu Weng Lou si Cacat Berbakat itu? Jadi dia orang nya yang dikatakan sebagai Praktisi Beladiri palsu karena tidak memiliki Dantian. Hmp! Sampah memang akan selalu bergabung bersama sampah yang lainnya. Aku tidak peduli apa yang kalian berdua lakukan di sini, tapi harus ku beritahu, aku tidak senang diganggu. Jadi sebaiknya kalian pergi sebelum aku memutuskan untuk menghabisi kalian berdua." Gaouji De yang ada di situ berbicara kepada Weng Lou dan Qianren.


Dia tampak tidak senang hanya dengan melihat wajah Weng Lou, begitu juga dengan juniornya itu. Menurutnya mereka berdua hanya akan mendatangkan kesialan bagi dirinya.


Weng Lou menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan menatap ke arah Qianren sambil memberi kode, siapa pemuda tersebut yang berbicara dengannya.


"Ah, maafkan aku. Saudara Lou, dia adalah Senior ku dari Guru yang sama, Saudara Senior Gaouji De."


"Gaouji De? Ah! Dia adalah orang yang pingsan setelah nekat masuk terlalu dalam di kawah pelatihan fisik beberapa minggu yang lalu!" Weng Lou langsung ingat dengan cepat wajah Gaouji dan menunjuknya setelah melihat lebih jelas.


Mendengar perkataan Weng Lou, raut wajah Gaouji berubah gelap dan napsu membunuh langsung meledak dari dalam dirinya.


Mata merah penuh kebencian tersorot pada Weng Lou. "Apa yang barusan kau katakan? Kau cari mati huh?!"

__ADS_1


__ADS_2