Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 497. Permintaan Liu Ning


__ADS_3

Weng Lou yang berada di dalam ruangan Biantai, sibuk menyusun rencananya dengan Ye Lao dan Qian Yu, saat kemudian seorang pria yang merupakan mantan budak, mengetuk pintu ruangan tersebut dengan perlahan.


Mata Weng Lou bergerak, dan melihat sosok seorang perempuan dan laki-laki yang tidak lain adalah Li Min dan perempuan yang dipanggil sebagai Tuan Putri oleh Li Min.


Terlihat Weng Lou tidak terkejut dengan kedatangan mereka berdua, karena telah merasakan hawa keberadaan mereka bahkan sebelum mereka masuk ke bangunan dia berada saat ini.


"Permisi Tuan," ucap keduanya sambil membungkuk hormat pada Weng Lou.


Weng Lou hanya melirik pada mereka selama beberapa saat, sebelum kemudian mengalihkan perhatiannya pada Kitab Keabadian, dan berbincang dengan Ye Lao dan Qian Yu di dalam pikirannya.


"Katakan apa yang kalian inginkan dengan datang padaku," ucap Weng Lou tanpa memberikan perhatiannya pada mereka berdua.


Li Min dan perempuan yang datang bersamanya saling menatap satu sama lain. Perempuan itu mengangguk pada Li Min, lalu berjalan maju ke arah Weng Lou sambil tetap sedikit membungkukkan badannya.


Ketika dia sedang berjalan, matanya menangkap sosok tubuh tak bernyawa Biantai yang tergeletak di tanah. Dia menarik napas dingin, lalu membuangnya dengan perlahan.


Kematian Biantai sepertinya sangat tidak mudah dan penuh dengan penyiksaan. Ini membuat rasa takut yang ada di hatinya mulai berubah menjadi sedikit rasa kagum pada Weng Lou.


Dirinya telah lama menyimpan dendam pada Biantai karena perlakuan yang dia berikan padanya setiap kali dia datang menemuinya. Melihat Biantai yang sudah mati dan menerima siksaan berat dari Weng Lou sebelumnya, membuat rasa dendamnya mulai terangkat dan hatinya sedikit merasakan kelegaan.


"Sebelumnya, biarkan aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Liu Ning, Putri dari kaisar sebelumnya," ucapnya namun sepertinya itu sama sekali tidak menarik perhatian Weng Lou sama sekali.


Liu Ning sendiri sudah menduga hal ini, melihat dari besarnya kekuatan milik Weng Lou, mustahil dia akan menaruh minatnya pada Kekaisaran Fanrong ini.


"Aku memiliki sebuah permintaan untuk Anda, Tuan. Jika Anda mau menerimanya, maka aku akan memberikan hadiah berupa seratus ribu koin emas-"

__ADS_1


"Apa kau memiliki nya sekarang?"


Weng Lou memotong Liu Ning dan bertanya padanya. Liu Ning pun terdiam begitu mendengar pertanyaan Weng Lou. Tangannya terkepal, dan dia menggigit bibir bawahnya. Jelas sekali dia tidak memiliki seratus ribu koin emas itu saat ini.


"Maka jangan meminta apapun dariku. Membebaskan kalian dari para prajurit itu sudah membuatku berhak menerima hadiah dari kalian, tapi sekarang kau ingin memintaku melakukan sesuatu bahkan tanpa memberikanku hadiah apapun karena sudah membebaskan kalian. Jangan bercanda, keluar dari sini, aku memiliki banyak kerjaan yang harus ku lakukan."


Weng Lou mengusir Liu Ning dengan gerakan tangannya yang seperti mengusir seekor binatang pengganggu.


Liu Ning diam selama beberapa saat, tangannya yang terlalu keras dikepalkannya mulai berdarah, dan dia pun berbalik pergi keluar dari ruangan itu setelah memberi hormat pada Weng Lou.


Sementara itu, Li Min yang datang bersama dengannya masih tetap berada di dalam ruangan, dan menatap ke arah Weng Lou dengan tatapan rumit.


Tap....bek...


Dia mendadak berlutut di tanah, lalu membenturkan kepalanya pada lantai dengan keras.


Liu Ning yang baru saja keluar dari ruangan terkejut atas tindakan Li Min, dan buru-buru menariknya untuk kembali berdiri.


"Li Min?! Apa yang kau lakukan?! Ayo kita pergi dari sini. Kita sama sekali tidak berhak untuk meminta sesuatu padanya, kita lah yang berhutang pada dia!"


"Tidak, Tuan Putri! Kita tidak bisa mundur sekarang. Ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk bisa merebut kembali kekaisaran dari tangan Shengshi Huangdi yang telah naik menjadi kaisar setelah melakukan kudeta kepada kaisar terdahulu, yaitu ayah anda sendiri, Liu Wang," ujar Li Min dengan suara serius.


Dia kemudian menolehkan kepalanya dan menatap sosok Weng Lou yang belum menoleh sedikitpun padanya bahkan setelah menceritakan mengenai cara Shengshi Huangdi dapat naik menjadi kaisar dan mengenai kaisar sebelumnya yang merupakan ayah Liu Ning.


"Tuan, kami mungkin belum memiliki uang sebanyak yang Putri katakan sebelumnya, tapi jika anda selesai melakukan permintaan kami, maka kami dapat langsung membayar Anda! Tolong, pertimbangkan Tuan!"

__ADS_1


Setelah penjelasan dari Li Min, Weng Lou pun menghela napasnya. Kehadiran mereka sangat mengganggu perbincangannya dengan Ye Lao dan Qian Yu saat ini, sehingga membuatnya tidak bisa melanjutkannya lebih jauh.


"Haa....kalian pikir aku bodoh? Seratus ribu koin emas yang kalian maksud itu pasti ada di istana kaisar bukan? Bahkan tanpa harus menerima permintaan kalian, aku bisa seorang diri pergi dan mengambilnya jika aku mau. Tapi kalian malah ingin memanfaatkan aku yang telah membantu kalian, tidak kah itu sama saja dengan tidak tau berterima kasih?


Apakah begitu cara ayahmu, kaisar sebelumnya mengajari mu, Putri Liu Ning? Pantas saja kekuasaannya berhasil digulingkan oleh lawannya. Dengan pengajaran seperti itu, memang layak dia untuk digantikan oleh kaisar yang baru."


Weng Lou bebricara sambil menatap sosok Liu Ning dan mendengus pelan. Mendengar perkataan dari Weng Lou, membuat Liu Ning menjadi marah karena dia telah menjelek-jelekkan ayahnya yang sangat dia hormati selama ini.


Tapi meski begitu, dia tetap diam di tempatnya dan mengkertakan giginya. Matanya tampak berkaca-kaca, siap menangis kapan saja.


Li Min yang disampingnya tidak terima dengan perkataan dari Weng Lou. Dia adalah pengawal pribadi kaisar sebelumnya yang kini telah ditugaskan untuk menjaga sang Putri. Mendengar Weng Lou yang mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang Tuannya, Li Min pun bangkit berdiri dan bergegas ke arah Weng Lou dengan tangannya yang telah terkepal.


"Hentikan, Li Min!!" seru Liu Ning dari tempatnya.


Langkah kaki Li Min terhenti, dan dia menatap Liu Ning yang air matanya sudah mengalir deras.


"Hentikan....sudah cukup, ayo kita pergi...." ucapnya yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak terisak sedikit pun sambil menarik tangan kiri Li Min.


Mulut Li Min terbuka, tidak ada kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya melihat sang Putri, Liu Ning. Dia pun hanya bisa menahan emosinya, lalu pergi keluar dari dalam ruangan tersebut bersamanya.


Weng Lou menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keduanya yang telah pergi, dia tidak tau harus menanggapi seperti apa sikap mereka itu. Secara umur dan status, Weng Lou yang harus menghormati keduanya, namun dunia ini hanya menghormati mereka yang kuat, dan Weng Lou telah mengikuti hukum itu sejak dulu.


"Kau yakin tidak mau menolong mereka?" tanya Ye Lao.


"Tidak, itu pasti merepotkan. Lebih baik aku melakukan semua rencana ku dengan cepat, sehingga mampu menggunakan kekuatan garis darah keturunan milikku sebelum Zhi Juan terhubung kembali dengan Kitab Keabadian," balas Weng Lou dengan cepat.

__ADS_1


Fokus utamanya saat ini adalah secepat mungkin mengumpulkan aura membunuh dalam jumlah besar, agar dia bisa mengikis segel ciptaan milik Zhi Juan, sehingga dia bisa menggunakan kekuatan garis darah keturunan miliknya.


Meski begitu, ada yang tidak disadari oleh Weng Lou, Ye Lao, dan Qian Yu saat ini. Yaitu segel pada jantung Weng Lou sebenarnya sudah mulai mengalami kerusakan semenjak dia terlempar ke pulau ini.


__ADS_2