
Kabar kembalinya Weng Lou segera menggemparkan seluruh istana, bahkan mencapai ibukota hanya dalam waktu beberapa jam.
Weng Lou, seorang pahlawan yang telah dengan gagah berani membebaskan Kekaisaran Fanrong dari kekuasaan Kaisar Shengshi Huangdi yang kejam dan juga tanpa ampun menghukum para pengikutnya. Nama Weng Lou telah sangat terkenal di seluruh Pulau Fanrong, bahkan di desa-desa terpencil sekalipun. Tiap orang yang mendengar namanya akan mengagung-agungkan namanya, terutama mereka yang telah Weng Lou bebaskan dari perbudakan di Wilayah Kumuh.
Dengan munculnya berita tentang kemunculannya kembali, membuat seluruh ibukota gempar, dan banyak orang berkumpul di depan gerbang masuk istana saat dan memaksa masuk untuk bisa bertemu dengannya.
Sementara itu, di dalam ruang takhta yang kini telah kosong. Liu Ning dan Li Min sedang berdiri di belakang kursi takhta tempat sebelumnya Weng Lou muncul. Namun tidak ada apapun di situ selain sebuah relief kuno yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh Kekaisaran Fanrong. Sebelumnya relief itu sudah hancur berkeping-keping karena ulah Weng Lou, tapi sekarang relief itu telah kembali seperti semula sama seperti ketika Weng Lou menuruni lorong bawah tanah di baliknya. Liu Ning yang tampak tidak percaya, berkali-kali bertanya kepada Li Min, mengenai yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, Li Min sendiri yang ada di ruangan tersebut waktu itu hanya bisa mengatakan apa yang sudah dia katakan sebelumnya kepada Liu Ning.
"Bagai-Bagaimana bisa dia muncul di ruang takta? Itu omong kosong! Puluhan prajurit berpatroli di luar ruangan takhta, dan dia muncul begitu saja? Kau mau aku percaya dengan informasi itu?" Liu Ning mengerutkan keningnya.
"Putr- Maksudku Kaisar, saya mengatakan yang sebenarnya. Pahlawan Lou muncul setelah sebuah ledakan besar terdengar dari dalam ruang takhta ini. Jika anda tidak mempercayai saya, anda bisa memenggal saya saat ini juga." Li Min dengan hormat bertekuk lutut di hadapan Liu Ning dan memberikan pedangnya kepada perempuan di hadapannya.
Melihat itu, kerutan pada dahi Liu Ning semakin terlihat jelas, "Apa yang kau katakan? Singkirkan pedang mu itu! Mau bagaimana pun kau adalah pengawal nomor 1 ku. Aku tidak akan menghukum mu karena masalah seperti itu! Cepat berdiri!"
Dengan cepat Li Min menyarungkan pedang di tangannya, dan bangkit berdiri.
"Lupakan saja masalah ini, ada masalah yang lebih penting. Apa semua makanan sudah selesai dimasak dan siap dihidangkan?" Liu Ning membalik badannya dan bertanya dengan serius.
Li Min mengangguk dan berkata, "Sudah, para pelayan saat ini tinggal membawanya ke meja makan. Anda dan Ibu Anda bisa segera datang ke ruang perjamuan, saya akan memberitahu Pahlawan Lou dan muridnya."
"En! Bagus! Kalau begitu ayo pergi. Jangan biarkan Pahlawan Lou merasa persiapan yang kita buat terlalu lama"
Liu Ning dan Li Min pun berjalan keluar dari situ, sementara prajurit yang berjaga di depan pintu masuk ruangan tersebut, segera menutup pintu rapat-rapat.
Di ruangan tempat Weng Lou berada saat ini.
Weng Lou yang telah selesai membersihkan diri, sedang sibuk mengoleskan obat-obatan di kedua tangannya dengan terampil tanpa satu orang pun yang ada di situ membantunya.
Karena terbiasa seorang diri, Weng Lou hanya meminta beberapa tanaman herbal kepada Li Min dan memintanya untuk membawakannya bersama dengan alat untuk menghaluskan tanaman-tanaman herbal yang dia minta.
Meski Kitab Keabadian telah diambil, namun pengetahuan yang dimiliki oleh Weng Lou tetap berada di dalam kepalanya. Dia bisa dengan mudah menentukan tanaman yang memiliki efektivitas yang tinggi dalam mengobati luka-lukanya. Weng Lou beruntung karena semua tanaman yang dia minta kepada Li Min ada di Pulau Fanrong, jika tidak dia harus mengandalkan tanaman herbal lainnya yang memiliki efektivitas lebih rendah.
Dengan hati-hati, Weng Lou mengoleskan sebuah salep buatannya sendiri pada luka di tangan kanannya. Baru saat ini, Weng Lou menyadari bahwa luka pada kedua tangannya sangat lah serius. Sebelumnya dia hampir tidak bisa merasakan apa-apa dari kedua tangannya ini karena telah mengayunkan nya selama sepuluh hari tanpa henti.
Rasa perih yang sangat menyengat bisa dirasakannya, namun ekspresi wajahnya tetap tenang dan terus mengolesi salepnya. Selesai mengolesi seluruh luka pada tangannya, dia dengan cekatan menutup semua lukanya menggunakan perban yang diberikan oleh Li Min tanpa kesulitan sedikitpun.
Selesai mengobati tangannya, Weng Lou langsung membiarkan tubuhnya ambruk ke atas tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya. Dia tidak tidur hanya sedang mengistirahatkan kedua matanya dan memulihkan tenaga pada tubuhnya.
*Tok! Tok!* Suara ketukan pintu terdengar, dan mata Weng Lou langsung kembali terbuka, dan dia menoleh ke arah pintu ruangannya.
"Pahlawan Lou, semua makanan telah selesai dimasak. Anda bisa datang ke ruangan perjamuan sekarang. Saya akan mengantarkan anda dan murid anda." Suara Li Min terdengar dari balik pintu.
Weng Lou tidak menjawab. Bangkit dari tempat tidurnya, dia langsung berjalan dan membuka pintu, memperlihatkan sosok Li Min yang berdiri tegak di depan pintu. Mata Weng Lou menatap sosoknya, dan kemudian menoleh melihat Du Zhe yang ada di belakang pria itu.
Melambaikan tangannya, Du Zhe tampak senang melihat Weng Lou, "Guru!"
"En! Ayo pergi." Pintu segera di tutup dan mereka pun berjalan pergi ke ruangan perjamuan, dimana perjamuan akan diadakan.
Di ruang perjamuan.
Li Min dengan tenang membuka pintu ruangan dan berjalan masuk. Di dibelakangnya terlihat sosok Weng Lou dan Du Zhe mengikutinya.
Li Min segera mempersilahkan Weng Lou dan Du Zhe untuk duduk di kursi yang telah disiapkan untuk mereka berdua.
Tak berapa lama, Liu Ning bersama dengan seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya berjalan masuk ke ruangan itu dan melihat Weng Lou dan Du Zhe yang telah lebih dulu datang.
"Pahlawan Lou! Senang sekali bisa melihat mu lagi!" Liu Ning memberi hormat nya kepada Weng Lou dengan hati yang tulus.
"Pahlawan Lou, perkenalkan aku adalah ibu anak ini. Sebagai seorang ibu, aku berterima kasih sebesar-besarnya karena telah menyelamatkannya dari penderitaan, dan sebagai istri dari kaisar terdahulu, aku juga mengucapkan terima kasih karena telah membebaskan kami dari Shengshi Huangdi, si penjahat yang tidak tau malu yang telah mengakibatkan penderitaan di seluruh Pulau Fanrong."
Wanita paruh baya itu mendadak berlutut ke tanah, dan menyentuhkan kepalanya ke lantai. Alis mata Weng Lou terangkat melihat itu, "Hm? Anda tidak perlu berbuat seperti itu. Sudah sewajarnya aku melakukan hal yang benar dan menghukum para penjahat itu! Apa lagi murid ku telah menderita karena perbudakan yang dilakukannya."
Ibu Liu Ning segera mengangkat kepalanya dan sekali lagi berterima kasih. Mereka berdua pun segera duduk di meja makan bersama Weng Lou dan Du Zhe.
Setelah mereka semua ada di situ, makanan dan minuman segera dihidangkan di hadapan mereka. Daging, sayur, dan buah-buahan segar telah tersaji di meja makan itu.
Weng Lou tanpa ragu segera mengambil daging bakar dan menyantapnya, sementara Du Zhe juga ikut menyantap makanan yang dihidangkan itu. Selama sepuluh hari terakhir, dia telah makan di tempat ini bersama-sama dengan Liu Ning dan ibunya. Meski saat pertama kali dia masih merasa agak canggung, namun setelah beberapa hari dia mulai terbiasa.
Liu Ning dan ibunya juga ikut makan, sementara Li Min berdiri dengan tegak di dekat pintu masuk, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Setengah jam kemudian, mereka semua telah selesai makan, dan Weng Lou segera undur diri untuk segera beristirahat dan Liu Ning mempersilahkan nya. Du Zhe juga tidak menanyakan apapun pada gurunya itu, dan membiarkannya beristirahat dengan tenang.
Kembali di kamarnya, tubuh Weng Lou segera terjatuh ke atas tempat tidur dan dia langsung tertidur begitu saja. Segala lelah dan penat yang dia tahan selama sepuluh hari ini akhirnya bisa dia lepaskan dan dia pun beristirahat dengan tenang.
Karena Weng Lou memilih untuk beristirahat, Du Zhe memutuskan untuk melanjutkan latihannya. Dia berlari keluar istana dan terus berlari hingga keluar dari ibukota. Dia pun sampai di lokasi dimana merupakan tempat dia berlatih sebelumnya, terlihat sosok Kera Hitam Petarung masih berada di tempat itu dan sedang duduk dengan tenang menatap Du Zhe yang baru saja datang.
"Hm? Kau cepat juga kembali. Apa kau sudah meminta saran dari guru mu itu?" tanya Kera Hitam Petarung dan langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Du Zhe.
"Tidak, guru terlihat sangat lelah. Aku tidak ingin mengganggu nya, dan membiarkan nya untuk beristirahat. Dia terlihat seperti baru saja pulang dari pertempuran sengit selama berhari-hari tanpa henti." Du Zhe mengingat saat dia melihat luka-luka pada kedua tangan Weng Lou sebelumnya dan juga kantung mata yang besar di bawah matanya.
__ADS_1
Dia tidak bisa menebak, kapan terakhir kali Weng Lou beristirahat hingga menghasilkan sebuah kantong mata sebesar itu.
"Hm....aku bisa merasakan bahwa Qi dan kekuatan jiwa miliknya telah menghilang entah kemana, aku yakin kekuatan miliknya telah berkurang lebih dari setengahnya," gumam Kera Hitam Petarung.
Du Zhe yang tidak bisa mendengar dengan jelas gumaman Kera Hitam Petarung itu memilih untuk menghiraukannya dan mulai berlatih.
Tidak seperti sebelumnya, Du Zhe kali ini memutuskan untuk tidak berlari mengelilingi ibukota. Dia telah sadar apa yang dia lakukan adalah hal bodoh dan dia malu dengan dirinya sendiri karena telah melakukan hal itu.
Dia memulai dengan melakukan beberapa peregangan, sebelum kemudian dia mulai melatih otot tangannya dengan push up, dan melatih otot perutnya dengan **** up. Terakhir, dia mengikatkan tali pada kedua kakinya yang kemudian disambungkan dengan batu berukuran sebesar tubuhnya dan mulai menariknya hingga seratus meter untuk melatih kekuatan kakinya.
*Buk....* Tubuh Du Zhe terjatuh dengan lemas di rerumputan. Napasnya tidak beraturan dan dia memandang ke langit sore yang mulai gelap.
"Walau sebenarnya yang kau lakukan masih termasuk berlebihan untuk porsi latihan 1 hari, tapi kau tidak terlalu buruk juga," Kera Hitam Petarung memberikan komentarnya pada Du Zhe.
"Hahahaha.....ini masih belum cukup. Otot-otot ku hanya luarnya saja terlihat bagus, tapi nyatanya kekuatan yang kumiliki tidak seberapa." Du Zhe menolak pujian itu dengan melambai pada Kera Hitam Petarung.
Keduanya pun diam dan menatap matahari sore selama beberapa saat dan kemudian Kera Hitam Petarung itu bangkit berdiri lalu diikuti oleh Du Zhe.
"Kembali lah, ini sudah gelap," ucap Kera Hitam Petarung yang kemudian berjalan masuk ke bagian hutan yang lebih dalam.
"Ah, baiklah! Kau hati-hatilah! Kaga dirimu baik-baik!"
Du Zhe kemudian pergi kembali ke istana dan segera disambut oleh para prajurit yang saat itu sedang berpatroli, "Tuan Muda, anda kembali."
"Ya, beritahu Kaisar aku tidak akan ikut makan malam bersama mereka."
"Baiklah," para prajurit itu pun segera melanjutkan patroli mereka dan meninggalkan Du Zhe yang telah pergi masuk ke dalam istana.
Du Zhe berjalan melewati lorong-lorong istana dengan santai seperti itu adalah rumahnya sendiri. Dia dengan cepat sampai di kamarnya dan masuk ke dalam.
Dengan satu gerakan, dia membuka semua pakaiannya dan segera membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru. Setelah itu dia pun berbaring di tempat tidur dan mulai tertidur.
***
Di kaki perbukitan, sawah membentang luas dan ditanami oleh padi-padi yang masih hijau dan muda.
Seorang pemuda dengan ikat kepala yang memiliki lambang keluarga Weng sedang bersenandung indah dan sibuk menanami padi pada lahan sawah yang masih kosong.
Tidak ada gelombang Tenaga Dalam, Qi, atau pun Kekuatan Jiwa dari tubuh pemuda itu, yang menandakan dia adalah seorang manusia biasa, bukan seorang Praktisi Beladiri. Namun otot-otot yang menonjol dari kedua tangannya dan tubuh besarnya mengatakan hal yang lain.
Biasanya, Praktisi Beladiri yang berada di Dasar Pondasi tingkat 1 sampai 2 tidak memiliki Tenaga Dalam sama sekali pada diri mereka, namun tetap ada Tenaga Dalam pada Dantian mereka tanpa mereka sadari. Akan tetapi pemuda dengan senyum hangat di wajahnya ini tidak memiliki gelombang Tenaga Dalam sedikit pun.
Dari pinggir sawah, seorang wanita muda berseru memanggil pemuda itu dan melambai-lambaikan tangannya. Pemuda itu segera menoleh, dan menatap dengan tatapan serius pada wanita muda tersebut.
"Apa?! Bukannya sarang mereka telah pindah ke sisi pegunungan yang lain?! Bagaimana bisa ada yang muncul di sini?!" Pemuda itu berseru dengan tak percaya. Namun dia segera melepaskan gerabah di punggungnya yang berisi bibit padi yang hendak dia tanam dan meletakkannya di tanah.
Kaki kanannya mengencang, dan dia pun melompat tinggi lalu mendarat di depan wanita muda yang memanggilnya.
Wanita itu tidak terkejut sedikitpun dan segera menjawab pertanyaan pemuda tersebut, "Salah seorang pemburu menemukan sarang Tarantula Berwajah Manusia yang berada tidak jauh dari desa dan mengambil sesuatu dari dalam sarang tersebut. Pemburu itu mengira bahwa sarang itu sudah tidak ditinggali, sehingga membuat Tarantula Berwajah Manusia marah dan menyerang desa!"
Jawaban dari wanita itu segera membuat dahi pemuda itu berkerut. Dia pun mengangguk mengerti, lalu segera memeluk wanita itu erat-erat di pinggangnya.
"Berpegangan, aku akan membawa kita ke desa dengan cepat," ucapnya dengan serius.
*Bum!!!*
Seperti sebuah peluru yang melesat dengan cepat, pemuda itu berlari menyusuri jalan pinggiran sawah, dan kemudian dalam waktu satu menit mereka segera sampai di desa yang berjarak kurang lebih 4 kilometer dari tempat pemuda itu sebelumnya.
Pemuda itu berhenti berlari, dan sampai di desa yang saat ini sedang dalam keadaan porak-poranda. Warga-warga berhamburan dan berlari menyelamatkan nyawa masing-masing, sedangkan di tengah-tengah desa, seekor laba-laba raksasa sedang berdiri dan menyantap seorang pria paruh baya yang tubuhnya tinggal setengah karena dimakan oleh laba-laba besar itu.
"Kepala Desa!!" Wanita yang bersama pemuda itu menjerit histeris dan segera memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat lebih lama kejadian itu.
"Kau tunggu di sini, dan tetap perhatikan sekitar. Aku khawatir jika ada lebih dari satu Tarantula Berwajah Manusia di sekitar sini," ucap pemuda itu dan mulai melangkah maju.
Tarantula Berwajah Manusia yang berada di tengah-tengah desa itu mendesis ke arah pemuda itu dan memancarkan kekuatan jiwa yang menakutkan. Dari pancaran pada tubuhnya, kekuatan Tarantula itu tidak kurang dari Penyatuan Jiwa tahap 3 puncak.
"Kau sudah salah memilih tempat, laba-laba berengsek. Ini adalah desa ku, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, jika ada seorangpun yanh berani macam-macam di sini, maka dia akan menerima akibatnya!" Pemuda itu berseru dengan marah dan melepas ikat kepalanya yang menutupi seluruh dahinya sebelumnya.
Kini wajahnya tampak lebih jelas, dan wajah itu adalah wajah Weng Lou. Bukan mirip, tetapi sama persis hanya berbeda usia.
Pemuda itu segera melompat dan menerjang ke arah Tarantula Berwajah Manusia dan segera disambut dengan salah satu kaki besar tarantula tersebut.
*Shuu!!!*
Kaki besar dan kokoh itu menampilkan sudut yang runcing dan menyerupai benda tajam ke arah tubuh pemuda itu. Akan tetapi, sebelum keduanya bertemu, pemuda itu telah mengepalkan tangannya dengan keras, dan meninju kaki tarantula itu hingga membuatnya oleng sejenak.
"SHAAAAHHH!!!"
Desisan marah dari tarantula itu menggema nyaring. Dia membuka mulutnya dan memuntahkan sebuah bola cairan yang mengeluarkan bau yang sangat menyengat ke arah datangnya pemuda itu.
__ADS_1
"Hm! Tindakan yang sia-sia!"
Dengan sangat cepat, pemuda itu melakukan gerakan memotong, dan bilang angin raksasa segera membuat bola cairan itu terbelah dan membuat pemuda itu bisa melewatinya tanpa masalah. Pemuda itu pun kini telah sampai di depan kepala tarantula itu, dan kaki kanannya segera menendang kepalanya dari samping.
*PAK! PSSSHHH!!!!*
Tubuh Tarantula Berwajah Manusia itu terlempar ke samping sejauh kurang lebih lima puluh meter, dan membuat rumah-rumah yang dilewatinya menjadi hancur tak bersisa. Tubuh Tarantula itu terbalik dan memperlihatkan sebuah wajah manusia yang mengerikan di bagian bawah perut tarantula tersebut.
Wajah manusia itu seperti tampak sangat kesakitan dan menderita Di bagian pinggirnya terdapat empat buah lipatan yang menandakan umurnya yang sudah berusia empat ratus tahun.
Sebelum bisa melakukan serangan balasan, pemuda itu sudah kembali melesat dan kemudian meninju dengan sekuat tenaga kepala tarantula itu dan membuatnya hancur dan darah berwarna ungu segera terciprat ke segala arah. Tubuh tanpa kepala tarantula itu menggeliat dan terus memberontak. Kerusakan yang terjadi pada desa semakin bertambah, dan menyaksikan itu, pemuda itu pun segera melakukan tindakan.
Dia mulai mencabuti kedelapan kaki tarantula itu, dan membuatnya akhirnya mati sepenuhnya.
Para warga yang sebelumnya berlari ketakutan menyelamatkan diri, kini berhenti dan melihat Tarantula Berwajah Manusia yang kini sudah mati di tangan pemuda itu.
"Itu Lou! Lou sudah membunuh Tarantula Berwajah Manusia itu!!!" seorang pemuda yang berisi sama dengan pemuda yang membunuh Tarantula Berwajah Manusia itu menunjuknya dan berseru bahagia.
Warga-warga yang lain pun segera berjalan mendekat dan mengucapkan syukur dan terimakasih kepada pemuda yang dipanggil Lou itu.
Di kejauhan, sosok seorang pemuda yang tidak lain adalah Weng Lou menyaksikan semua peristiwa itu dalam diam dan memasang ekspresi wajah serius. Kekuatan yang ditunjukkan oleh pemuda yang dipanggil oleh Lou itu jauh diatas kekuatan yang dimiliki olehnya, dan dia berhasil membunuh seekor Tarantula Berwajah Manusia yang memiliki kekuatan setara dengan Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 puncak!
Weng Lou tidak bisa tidak menghela napasnya setelah melihat itu.
Pemuda itu jelas adalah Weng Lou, tetapi Weng Lou yang ada di kehidupan sebelumnya. Weng Lou tidak tau persis dia adalah kehidupan keberapanya, namun yang jelas dia yang ini hanyalah seorang manusia biasa yang terlahir tanpa Dantian.
"Jika tanpa Dantian sudah bisa mendapatkan kekuatan sehebat itu, latihan keras macam apa yang dilalui olehnya?" Weng Lou merasa kepalanya mulai sakit saat ini.
Untuk bisa mendapatkan kekuatan besar yang Weng Lou miliki sekarang, dia harus berlatih menempa dan mengayunkan palu khusus yang dibuat oleh Kun Ling menggunakan bantuan dari Tenaga Dalamnya. Namun dirinya yang ini telah mendapatkan kekuatan besar tanpa Dantian sejak lahir, yang berarti dia telah berlatih jauh lebih lama dan keras darinya yang sekarang.
Weng Lou mulai mengerti kenapa dia bisa melihat potongan ingatan kehidupannya, "Aku tidak tau ini ulah Zhi Juan atau apa, tapi yang jelas dengan melihat potongan ingatan ini aku bisa mengetahui bahwa tanpa Dantian sekalipun aku tetap bisa bertambah kuat meski tanpa Qi sekalipun. Yahh......kurasa Zhi Juan memang ingin melihat ku menderita seperti ini. Tapi bagus juga, aku bisa mulai memfokuskan diriku pada latihan penguatan tubuh. Aku ingin melihat, sejauh mana batas tubuh manusia bisa mendapatkan kekuatan fisik alaminya."
Weng Lou mengangguk-angguk sambil mengusap dagunya. Tak lama, pandangan sekitarnya menjadi buram dan gelap. Dia mulai merasakan tubuhnya menjadi berat dan suara-suara samar bisa didengarnya.
!!!!
Kedua mata Weng Lou terbuka dan menatap langit-langit kamar yang tampak gelap. Dahi Weng Lou mengerut dan dia menatap sekitarnya yang ternyata berada di kamarnya.
"Ah, ini di kamar, bukan?" Dia bangkit dari tempatnya dan mulai duduk.
Matanya menatap kedua tangannya yang masih tergulung perban. Tidak ada rasa sakit lagi yang dirasakannya, dan seluruh tubuhnya terasa mengandung kekuatan besar, dan juga staminanya telah pulih seutuhnya.
"Hmm....tidak buruk. Aku baru menyadarinya setelah kehilangan semua Qi ku, ternyata penyembuhan alami tubuh ku jauh melebihi manusia biasa." Perban di tangannya segera terbuka dan memperlihatkan kedua tangannya yang tampak tidak memiliki bekas luka sedikitpun.
Dia mengepalkan tangannya dengan keras dan tersenyum kecil.
*BAMM!!!* Mendadak, sebuah suara ledakan terdengar dari luar ruangan Weng Lou dan Weng Lou segera dengan cepat keluar dari ruangannya dan buru-buru mencari sumber dari suara ledakan itu.
Di atas gerbang istana saat ini.
Sosok seorang pria tua berjanggut sedang melayang di atas sebuah pedang yang tampak sangat indah. Pria itu menatap dengan tajam ke arah para prajurit yang ada di bawahnya.
"Panggil keluar Kaisar baru kalian ke sini! Katakan padanya, Ketua Perguruan Iblis Merah datang untuk mengambil Kota Heishin dan tambang Logam Nadi Putih di kota itu!" Suara pria itu menggema dan membuat gentar para prajurit yang bersiaga di bawahnya.
Para prajurit menelan ludah ketika mengetahui identitas dari pria tua itu.
Perguruan Iblis Merah adalah kekuatan utama yang menjadi pendukung dari Shengshi Huangdi yang membuatnya bisa melakukan kudeta dan menjadi kaisar. Kekuatan dari Perguruan Iblis Merah sudah cukup untuk membuat para prajurit Kekaisaran Fanrong tampak seperti anak kecil di mata orang lain, dan saat ini ketua mereka yang merupakan orang terkuat Perguruan Iblis Merah kini telah muncul di depan mereka semua.
Melihat tidak ada respon dari para prajurit, pria itu berpikir bahwa mereka telah meremehkannya dan dia pun mulai mendengus marah.
Dari tangannya, sebuah pedang lainnya muncul dan digenggamnya erat. Pedang itu mulai mengeluarkan cahaya keemasan pudar, dan kemudian pria tua itu pun mengayunkan pedang tersebut ke arah para prajurit di bawahnya.
*Shuaaa!!!* Sebuah serangan energi segera tercipta dan melesat menghantam para prajurit itu.
*BAMM!!!* Ledakan tercipta, para prajurit yang terkena serangan itu langsung mati seketika dan tubuh mereka tercerai-berai ke segala arah.
"Hmp! Ku hitung sampai sepuluh! Jika Kaisar kalian tidak keluar, maka aku akan melakukan pembantaian di tempat ini!" Dia mendengus marah dan aura membunuh segera keluar dari tubuhnya, menimpa tubuh para prajurit dan membuat mereka semua sesak napas.
"Ah....akhirnya pemimpin nya muncul juga. Aku sempat berpikir bagaimana caraku agar bisa keluar dari Pulau Fanrong tanpa menggunakan Qi, tapi sepertinya permasalahan itu bisa aku atasi sekarang."
Dari pintu masuk istana yang telah hancur karena serangan pria tua itu sebelumnya, sosok Weng Lou berjalan keluar dan memasang senyumnya saat melihat sosok pria tua yang melayang dia atas gerbang istana.
Pria tua itu menatap Weng Lou dengan tatapan serius, tapi dia tidak menemukan sesuatu dari tubuhnya. Dari apa yang dia lihat, Weng Lou hanya manusia biasa, tapi bagaimana bisa dia berbicara tanpa sopan santun kepadanya?
"Siapa kau? Dan dimana Kaisar Liu Ning?" tanyanya dengan suara dingin.
"Hm? Siapa aku? Ahahahaha.....aku adalah majikan mu yang baru."
***
__ADS_1
Words: 3443