
Wilayah kumuh, Kota 7.
Setengah jam setelah kedatangan Weng Lou di tempat Biantai.
Weng Lou berjalan keluar dari ruangan Biantai sambil memegang sebuah gulungan yang berisikan informasi yang dia dapatkan dari Biantai. Terlihat di dalam ruangan, sosok Biantai terkapar di tanah dengan tubuh yang babak belur karena menerima beberapa siksaan dari Weng Lou selama kurang lebih setengah jam penuh.
Beberapa giginya parah, dan darah mengalir dari hidung serta mulutnya. Jari-jarinya juga patah semua, bahkan beberapa kukunya ada yang terlepas.
Bisa dibayangkan seberapa mengerikannya siksaan yang Weng Lou berikan padanya dalam setengah jam itu.
"Hmp, aku sampai membuang waktu selama itu hanya untuk mendapatkan informasi ini, benar-benar tidak berguna," ucap Weng Lou.
Dia pun menutup pintu ruangan Biantai, lalu pergi meninggalkan bangunan tempat dia berada. Dia melompat keluar dari jendela dan kemudian Pisau Pencabut Nyawa segera keluar dari balik bajunya, dan mendarat di bawah kakinya.
Weng Lou pun bergerak ke tengah kota, dan menyebabkan kegemparan karena kemunculan sosoknya.
Semua orang menatapnya dengan mulut terbuka dan menjatuhkan semua barang-barang bawaan mereka.
Dengan santainya Weng Lou melayang di atas suara, di tengah kota sambil menatap beberapa orang yang ada di tempat itu secara sekilas, sebelum kemudian berdeham pelan dan mulai mengalirkan Qi pada tenggorokannya.
"Ehm, kepada kalian semua, perkenalkan namaku adalah Lou Weng, orang yang akan mengambil alih tempat ini mulai hari ini." Weng Lou bebricara dengan bantuan Qi nya, sehingga suaranya mampu didengar oleh semua orang yang ada di kota 7.
Pernyataan nya menyebabkan orang-orang yang yang ada di tempat itu, dan melihatnya menjadi kebingungan.
Kemunculan Weng Lou yang tiba-tiba di tengah kota dan dengan cara yang aneh sekaligus mengejutkan sudah membuat orang-orang tidak bisa berkata-kata. Apa lagi saat mendengar perkataannya, membuat mereka semakin tidak percaya.
Sosok yang mampu terbang di seluruh Pulau Fanrong bisa dibilang dapat dihitung dengan satu tangan. Tapi mereka yang mampu terbang itu dan melayang di udara itu karena bantuan alat seperti pedang atau sejenisnya, namun Weng Lou yang berdiri di atas Pisau Pencabut Nyawa yang berukuran kecil membuat Weng Lou tampak seperti terbang tanpa bantuan alat sedikitpun.
"Si-Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dari kami?!" Seorang prajurit yang ketenangannya mulai sedikit pulih pun memberanikan diri untuk bertanya pada Weng Lou.
"Siapa aku? Bukankah sudah kuberi tahu? Sepertinya kau ini bodoh," ucap Weng Lou dengan tatapan sedikit mengejek.
Prajurit itu terlihat kesal, dan mengepalkan tangannya dengan keras. Jika bukan karena melihat sendiri Weng Lou melayang di atas udara, dia pasti sudah memaki Weng Lou.
__ADS_1
"Yaa... seperti yang aku katakan tadi, mulai sekarang aku yang akan mengambil alih Kota 7, jadi siapa saja yang tidak setuju...."
Tiba-tiba Weng Lou mengangkat tangannya ke udara, dan saat itu juga, di atas Kota 7 ratusan pedang dari Qi muncul dan siap terjatuh dan menghujani semua orang yang ada di kota tersebut.
"...silahkan maju dan hadapi aku."
Beberapa orang di kota terjatuh dalam posisi terduduk di tanah, dan menatap dengan ngeri ratusan pedang yang ada di atas mereka.
Keringat dingin pun mengucur deras dari seluruh tubuh mereka, sampai kemudian secara mengejutkan, sebuah kapak kayu terlihat terbang dan mengarah ke arah Weng Lou yang berada di atas kota.
Sudut mata Weng Lou menatap kapak itu, dan hanya mendengus pelan.
Tangannya yang lain pun segera diangkatnya, dan pelindung Qi pun muncul, lalu menghalangi kapak itu mengenainya.
Mata Weng Lou bergerak cepat, dan melihat sosok seorang prajurit yang dengan tatapan sombongnya menatap ke arah Weng Lou.
"Jangan takut, semuanya! Aku yakin itu semua hanyalah tipuan belaka! Dia pasti memiliki semacam trik untuk bisa menciptakan sebuah ilusi, sehingga kita melihatnya melayang di atas udara!
Siapkan panah kalian! Tembaki dia! Kita tunjukkan bahwa prajurit Kota 7 sekejam reputasinya!" seru prajurit itu, dan membuat tatapan orang-orang tertuju padanya.
"Itu benar! Mana mungkin ada yang bisa terbang di atas langit! Ini semua pasti ilusi! Pikiran kita sedang dipermainkan!"
"Ya! Cepat ambil busur! Tembak dan jatuhkan bajingan itu! Dia berani menakut-nakuti kita, huh?! Lihat saja apa yang akan kami lakukan padamu!"
Busur pun segera diambil, lalu di arahkan ke arah Weng Lou dan ditarik.
Puluhan anak panah ditembakkan ke arah Weng Lou, dan membuat Weng Lou sampai tak bisa berkata-kata melihat kebodohan para prajurit ini.
"Apa mereka lupa kalau anak panah itu meleset maka mereka yang akan kena?" tanya Ye Lao dadi dalam Kitab Keabadian.
"Ya, aku mulai meragukan kualitas para prajurit yang ada di pulau ini. Tidak hanya lemah, tapi kepintaran mereka juga sangat terbelakang. Bahkan anak seumuran ku seharusnya bisa berpikir kalau menembakkan panah ke atas langit adalah tindakan terbodoh di dunia," ucap Weng Lou menanggapi pertanyaan Ye Lao.
Puluhan anak panah yang bergerak ke arah Weng Lou pun mulai terhenti saat hampir mengenai dirinya karena pengaruh gravitasi, hanya beberapa saja yang sanggup mencapai tempatnya, tapi tentu saja sebelum bisa mengenainya panah-panah itu sudah mengenai terlebih dahulu pelindung Qi ciptaannya.
__ADS_1
Tack!
Panah yang bertabrakan dengan pelindung Qi Weng Lou pun terpantul, lalu bersama-sama dengan panah yang tidak bisa mencapai Weng Lou turun kembali ke bawah, ke arah para prajurit yang menembakkannya.
"Pergi berlindung! Cepat!"
Tepat ketika seruan itu terdengar, puluhan anak panah segera menghujani tengah kota, DNA mengenai siapa saja yang ada di situ.
Dengan tatapan santainya, Weng Lou melihat itu semua dan tertawa pelan. Cukup lucu melihat orang-orang bodoh yang menembakinya dengan panah malah terkena panahnya sendiri.
Selang beberapa saat, tempat itu pun menjadi hening, dengan beberapa tubuh tak bernyawa para prajurit atau pun budak terbaring di tanah dalam kondisi tubuh di penuhi oleh anak panah.
Weng Lou menghela napasnya.
Dia menjentikkan jarinya, dan semua pedang Qi yang ada di atas langit pun bergerak turun perlahan, lalu sampai di hadapan semua orang di Kota 7.
Kontrol Weng Lou pada pedang Qi nya bisa dibilang sudah sangat tinggi, dia secara samar bisa merasakan kehadiran di sekitar pedang yang dia ciptakan.
"Dengarkan aku, kalian semua. Bagi yang tidak ingin melakukan perlawanan seperti orang-orang bodoh beberapa saat yang lalu, angkat kedua tangan kalian, dan berkumpul di tengah kota."
Sekali lagi Weng Lou berbicara menggunakan Qi nya, dan segera lebih semua budak yang ada di Kota 7 mengangkat tangan, dan buru-buru ke tengah kota.
Mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini, jadi jika para prajurit tetap melawan dan tewas, mereka seharusnya akan tetap hidup.
Para prajurit yang melihat para budak itu mengikuti perkataan Weng Lou merasa marah karena menganggap bahwa mereka berkhianat terhadap kekaisaran dan segera mengangkat senjata mereka kembali.
Tapi kemudian, pedang Qi milik Weng Lou segera mencegah pergerakan mereka.
"Sepertinya hanya para budak yang menyerah. Kalau begitu aku akan membunuh para prajurit yang ada di sini." Weng Lou menghela napasnya.
Jumlah budak di tempat ini jauh lebih banyak dari jumlah di Kota 3, dan juga para budak di sini kebanyakan masih pada usia muda dan masih bisa melakukan pekerjaan berat, berbeda jauh dengan budak di kota 3 yang hampir semua budaknya telah berada pada usia lanjut.
Mungkin karena lingkungan di sini jauh lebih keras dan berat, oleh sebab itu mereka yang lanjut usia tidak ditempatkan di sini.
__ADS_1
Setelah semua budak yang menyerah berada di tengah kota, Weng Lou pun sekali lagi menjentikkan jarinya, dan ratusan pedang Qi nya pun mendadak bergerak dan menusuk para prajurit yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.