Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 495. Mengambil Alih (II)


__ADS_3

Dengan perginya Weng Lou dengan cara terbang, membuat Wuyong, serta semua orang yang melihatnya terdiam tidak percaya.


Wuyong menggosok-gosok matanya, memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi saat ini, bahkan dia mencubit dirinya sendiri saking terkejutnya.


"Ouch!"


Itu terasa sakit! Dia benar-benar tidak salah lihat, Weng Lou benar-benar terbang!


"U-Untung saja aku tidak salah menyerah padanya, jika tidak aku pasti sudah mati di tangannya....jelas sekali dia tidak lagi berada di Dasar Pondasi, apakah dia berada pada ranah Pembersihan Jiwa yang legendaris itu?


Menurut sejarah, Praktisi Beladiri yang berada di ranah Pembersihan Jiwa mampu membelah lautan dan menghancurkan bukit dengan mudah. Terbang pastinya adalah hal yang sangat mudah bagi mereka," gumam Wuyong.


Setelah melihat Weng Lou yang telah menghilang di kejauhan, dia pun kembali masuk ke dalam ruangannya dan segera menyiapkan semua jenis berkas yang berisi semua informasi yang dimiliki oleh markas mereka.


Tidak ada niatan dirinya kabur lagi setelah melihat Weng Lou yang mampu terbang di udara. Dia yang hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 5, mau sejauh apapun dia kabur pasti akan ditemukan oleh Weng Lou dengan mudah.


Dia tidak perlu melakukan hal tersebut untuk membuktikan pemikirannya sendiri.


Begitu juga yang terjadi dengan para prajurit yang melihat Weng Lou terbang di udara. Mulut mereka terbuka lebar, dan setelah beberapa saat, mereka pun menelan ludah dengan berat, lalu melanjutkan pekerjaan mereka yang telah diperintahkan oleh Weng Lou pada mereka semua, untuk menggantikan para mantan budak.


***


Di daerah rawa wilayah kumuh.


Sebuah kota berdiri pada bagian tanah yang terletak di tengah-tengah rawa tersebut. Tembok setinggi 5 meter menjadi pembatas kota, sekaligus dengan rawa yang berlumpur dan digenangi oleh air.


Pada bagian dalam kota, terlihat para prajurit dengan cambuk di tangan, mencambuk beberapa budak yang sedang sibuk memotong potongan-potongan kayu, menjadi potongan yang lebih kecil.


Pada sisi lain kota, beberapa budak perempuan sibuk memasak untuk semua prajurit dan budak lain yang sedang bekerja.


Beberapa prajurit terlihat menggoda beberapa prajurit wanita yang masih terlihat muda dan cantik, namun tentunya para budak wanita yang digoda itu hanya bisa tidak mempedulikan mereka, tidak lebih. Jika mereka marah, atau melawan, maka mereka akan mendapatkan hukuman.


Itu adalah nasib mereka setelah menjadi seorang budak. Semua hak yang diterima manusia biasa sama sekali tidak berhak mereka terima.


"Hei! Potong kayu itu dengan benar! Jika kalian melakukan kesalahan seperti terakhir kali, aku akan memotong tangan kalian! Mengerti?! Kerjakan yang benar! Aku bosan mengulangi kata-kata yang sama tiap harinya! Bahkan anak kecil jauh lebih pintar dari kalian, budak sialan!"


Seorang prajurit yang terlihat memakai baju pelindung yang paling mencolok diantara para prajurit lain berjalan diantara para budak yang sedang sibuk memotong kayu.


Prajurit ini tidak lain adalah pemimpin dari para prajurit di kota ini. Dengan tatapan sombong dan penuh menghina, dia melihat para budak.


Dia kemudian berhenti di samping seorang budak, yang merupakan seorang pria yang memiliki kumis dan jenggot lebat yang menutupi setengah dari wajahnya.


Mata budak itu terlihat merah, mengayunkan kapak besar di tangannya, dan memotong kayu-kayu miliknya dalam satu kali ayunan kapak. Tubuhnya berotot dan cukup tinggi, sekitar 190 centimeter.


"Hm, kerja bagus Li Min. Hanya kau satu-satunya di sini yang masih bekerja dengan sangat baik meski kuberi makan bubur kayu tiap harinya, hahaha!"


Pemimpin prajurit itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk dengan keras punggung pria yang dipanggil Li Min itu.


Mendengarnya, pria itu pun berhenti mengayunkan kapaknya, dan menatap pemimpin prajurit yang ada di sampingnya dengan mata merahnya.


Melihat tatapan dari mata merah Li Min, si pemimpin prajurit tersentak kaget, dan buru-buru mundur dari tempatnya.


"A-Apa yang mau kau lakukan?! Jika kau ingin memukul ku, maka siap-siap saja hukuman yang akan menantimu!"


Dengan suara gugupnya, pemimpin prajurit itu bebricara dan menunjuk wajah Li Min yang bahkan tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun. Li Min segera kembali memusatkan perhatiannya pada pekerjaan nya, dan mengayunkan lagi kapak besarnya, sementara pemimpin prajurit yang melihatnya menghela napas panjang.


"Sial, apa-apaan tatapan matanya itu?! Tatapan mata itu seperti bisa membuatku mati kapan saja!"


Pemimpin prajurit itu pun pergi dari situ, dan menuju ke dapur kota, tempat para budak wanita memasak.


Ekspresi wajahnya yang ketakutan dan jengkel segera berhenti menjadi tatapan kata mesum saat melihat sosok seorang budak perempuan yang sibuk memotong-motong daging di atas meja.

__ADS_1


Budak perempuan ini memiliki wajah yang cukup cantik. Kulitnya yang putih dan bibir merah alaminya membuatnya menjadi pusat perhatian tersendiri bagi para prajurit yang bertugas.


Terutama bentuk matanya yang sedikit sipit, membuatnya terkesan sangat anggun meski sedang mengenakan pakaian yang tidak pantas saat ini.


"Liuliu! Kau sedang apa Liuliu??"


Si pemimpin prajurit, dengan jalan sedikit di lenggak-lenggok kan, mendekat ke arah budak tersebut sambil tersenyum mesum.


Dia berdiri di balik meja tempat perempuan tersebut sedang memotong daging dan tetap memasang senyumnya.


"Pergilah, aku mungkin akan tidak sengaja melepaskan pisau pemotong daging di tanganku ini dan mungkin akan mengenai mu," ucap perempuan tersebut tanpa memandang pemimpin prajurit itu sedikit pun.


Meski perempuan itu bebricara dengan nada sedikit mengancam, namun pemimpin prajurit tampak tidak menghiraukannya sama sekali. Dia menganggap ucapannya bagai angin lalu, dan melanjutkan godaannya pada budak perempuan tersebut.


"Jangan begitu Liuliu, kau ini kan adalah mantan Putri Kaisar terdahulu. Tidak sebaiknya kau bekerja sebagai budak di sini. Jika kau kau jadi istri ku, akan ku minta Kaisar untuk melepaskan status budakmu, bagaimana?" tanya pemimpin prajurit yang telah berpindah ke samping perempuan itu.


Perempuan itu segera mengayunkan pisau daging di tangannya ke meja, dan membuatnya mengeluarkan suara cukup besar hingga membuat pemimpin prajurit itu kaget, dan mundur dua langkah.


"Aku tidak peduli bekerja di sini sebagai budak dan melakukan pekerjaan kasar tiap harinya, dan sampai kapanpun aku tidak akan sudi menikahi bajingan seperti mu," ucapnya dengan dingin lalu kemudian pergi dari situ.


"Hmp! Aku ingin melihat kau mengatakan itu dua Minggu lagi setelah festival pengangkatan pangeran Pangeran Lu Pao menjadi Pangeran Mahkota," cibir pemimpin prajurit yang melihat perempuan itu pergi membawa potongan-potongan daging yang telah dia selesai potong.


***


Di kedalam hutan wilayah kumuh.


Sosok Weng Lou melayang di atas sebuah kota dengan tinggi hampir mencapai seratus meter yang seharusnya adalah Kota 7, tempat yang menjadi tujuannya.


Kota ini cukup tertata rapi menurut Weng Lou, meski semua bangunannya sangat sederhana. Mungkin jika bukan karena tembok pembatasnya, Weng Lou akan mengira ini adalah sebuah desa dibandingkan sebuah kota.


Lokasinya yang berada di tengah rawa juga membuatnya tidak cocok menjadi sebuah kota sama sekali.


Saat masih memandang kota itu, dari arah gerbang kota, terlihat beberapa kereta kuda bergerak masuk ke dalam kota sambil membawa beberapa kereta yang sepertinya membawa para budak baru.


Alis mata Weng Lou sedikit terangkat saat melihat bahwa yang keluar dari kereta adalah pria-pria yang bertubuh kekar, namun dirantai seperti para budak lain.


Jika dilihat-lihat, mereka tampak jauh lebih. layak dipanggil sebagai prajurit jika dibandingkan dengan para prajurit yang bertugas untuk mengawasi para budak. Baik itu di Kota 3, atau pun kota 7 ini.


"Hei nak, aku ingin memberitahu sesuatu."


Mendadak Ye Lao berbicara di dalam kepala Weng Lou, dan membuat perhatiannya pada para budak di kota terpecah begitu saja.


"Ada apa? Bicara biasa saja, kau membuat konsentrasi ku rusak dengan bebricara langsung di dalam kepala ku," ucap Weng Lou dengan sabar.


"Ha, terserah mu saja. Aku ingin beritahu, setelah aku memeriksa Kitab Keabadian dari semalam, sepertinya koneksi dengan Zhi Juan telah terputus. Aku sama sekali tidak bisa lagi mengirim pesan padanya," jelas Ye Lao.


Mendengar itu, Weng Lou pun berkedip beberapa kali, dan kemudian tersenyum lebar. Dia baru saja mendapatkan sebuah berita baik diantara berita buruk yang dia dapatkan semenjak tiba di Pulau Fanrong ini.


Ye Lao yang mendengar tawa Weng Lou hanya bisa diam. Dia sendiri tau dengan betul alasan mengapa Weng Lou saat ini tertawa seperti orang gila di atas langit.


Jika Zhi Juan tidak bisa mendeteksi keberadaan Weng Lou melalui Kitab Keabadian, maka peraturan pada Kitab Keabadian juga tidak akan bisa bekerja pada Weng Lou sampai Zhi Juan kembali terhubung dengan Kitab Keabadian.


"Jangan berpikir kau bisa dengan bebas melanggar semua peraturan Kitab Keabadian, aku sudah bisa memakai kemampuan untuk memberimu hukuman yang sama jika kau melanggar salah satu peraturan Kitab Keabadian, jadi jangan macam-macam," kata Ye Lao dengan cepat.


"Ha! Tidak perlu berbohong padaku, aku tau dengan jelas kau tidak bisa melakukan hal itu karena jika aku melemah, maka kekuatan mu juga akan melemah!" bantah Weng Lou dengan suara percaya dirinya.


Ye Lao sampai tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang dikatakan Weng Lou adalah kebenaran. Oleh sebab itu dia selalu mengingatkan pada Weng Lou untuk tidak melanggar satupun peraturan pada Kitab Keabadian, karena tiap kali Weng Lou melanggar, kekuatan Weng Lou akan berkurang, begitu juga dengan dirinya karena besar kekuatannya tergantung seberapa besar kekuatan Weng Lou.


Setelah perbincangan singkat mereka berdua, Weng Lou pun mengembalikan perhatiannya pada para budak yang ada di tengah Kota 7.


Para budak yang baru saja keluar dari kereta di susun berbaris dan menghadap ke arah seorang prajurit yang merupakan pemimpin para prajurit di Kota 7, Biantai.

__ADS_1


"Hmmm, aku cukup terkejut saat mendengar rencana pemberontakan kalian kepada kaisar, tapi sepertinya rencana kalian itu sudah lebih dulu berhasil diatasi oleh kaisar, huh? Hahaha!"


Biantai mengejek 20 budak pria itu. Tubuh mereka dipenuhi dengan luka lebam yang berasal dari siksaan yang mereka telah terima sebelum mereka datang ke kota ini.


Salah seorang pria yang berbaris paling depan meludahi wajah Biantai yang menertawai mereka, dan mendengus dingin.


"Hmp! Setidaknya kami bukanlah pengkhianat kaisar yang sesungguhnya. Kami berani untuk mengangkat pedang kami untuk menuntut balas dendam dari Kaisar yang telah kami layani selama bertahun-tahun, tidak seperti kalian yang bahkan langsung mengaku setia kepada bajingan itu hanya karena jumlah pasukannya yang lebih banyak dari pasukan kaisar," ujar pria itu dengan nada geram.


Biantai mengelap wajahnya perlahan, dan mengepalkan tangannya dengan keras.


Buck!!


Tinjunya segera melayang dan memukul keras perut pria itu hingga membuatnya bertekuk lutut di tanah dan terbatuk-batuk.


"Ck, jika bukan karena kaisar yang ingin agar kalian tidak dibunuh, sudah dari awal aku memenggal kepala kalian semua yang ada di sini! Tapi kalian malah menyia-nyiakan kebaikan ku. Mulai hari ini, kalian akan bekerja di tempat ini sebagai budak, hingga akhir hidup kalian!"


Biantai mengakhiri perkataannya dengan menendang wajah pria itu hingga membuatnya tersungkur ke tanah, lalu segera berbalik dan meninggalkannya.


"Segera bawa mereka ke tenda untuk bersiap, setelah itu tempatkan mereka pada Kelompok Penebang," ucap Biantai pada salah satu bawahnya yang kemudian diiyakan oleh bawahannya.


Bawahannya itu segera melakukan seperti apa yang dikatakan oleh pemimpin nya. Dia segera mengarahkan para budak yang baru saja tiba itu menuju ke tenda para budak di bagian sayap kiri, dan tak lama kemudian mereka semua pun dibawa keluar dari kota.


Di atas kota, Weng Lou mendengar semua pembicaraan Biantai dengan pria yang menjadi budka baru di kota itu, dan juga perkataannya pada bawahannya dengan sangat jelas.


Dia pun segera bergerak turun, dan mendarat dengan sempurna di salah satu gang yang terlihat sepi. Dengan satu ayunan tangannya, tubuhnya pun segera memakai baju pelindung yang sama dengan para prajurit.


Qi kemudian keluar dari tangannya, dan dia mulai mengusap-ngusap wajahnya secara perlahan. Selang beberapa saat kemudian, bentuk wajahnya pun berubah, dari yang pertama masih merupakan wajah seorang anak remaja yang sangat polos, kini berganti dengan wajah seorang pemuda berusia awal dua puluhan yang jauh berbeda. Ini adalah sebuah trik penggunaan Qi ciptaannya yang merubah bentuk wajahnya selama beberapa saat, dan benar-benar teknik terbaik sejauh ini yang telah dia ciptakan menurutnya.


Setelah memastikan bahwa penyamarannya sudah sempurna, Weng Lou pun berjalan keluar dari gang tersebut, dan membaur diantara para prajurit yang berlalu lalang.


Dia terus berjalan, hingga sampai di bangunan dimana Biantai sebelumnya berjalan masuk.


Tanpa berlama-lama, dia pun segera masuk ke dalamnya dengan hati-hati, dan tak perlu waktu lama dia telah sampai di depan ruangan yang sepertinya merupakan milik Biantai.


Ruangan itu penuh dengan barang-barang yang tidak berguna, seperi vas dari emas, patung harimau dari perak, dan juga beberapa hiasan dinding berupa kepala binatang buas yang diawetkan.


Mata Weng Lou bergerak dan menangkap sosok Biantai yang saat ini sedang duduk di pojok ruangan, dan menikmati seteko besar arak sendirian sambil mengeluhkan sesuatu seorang diri.


"Ck! Sialan! Aku sudah muak dengan semua ini! Harusnya aku menjadi salah seorang kapten prajurit kekaisaran, tapi kenapa aku harus berkahir di menjadi pemimpin di tempat terkutuk ini?! Kaisar apanya?! Dia berhasil melakukan kudeta hanya karena berkat bantuan dari Perguruan Iblis Merah! Jika bukan karena itu, dia tidak akan bisa naik menjadi kaisar saat ini!"


Prak!


Biantai membanting salah satu kursi yang ada di dekatnya, dan kembali meminum arak nya.


Weng Lou tidak bisa menyembunyikan senyumnya melihat tingkah Biantai yang mabuk di pagi hari seperti ini.


Tidak hanya dia melepas tanggung jawabnya sebagai pemimpin prajurit untuk mabuk-mabukan, tetapi dia juga malah memberikan Weng Lou informasi yang baru kali ini dia ketahui.


"Ohoho..... sepertinya keputusan ku datang ke sini sudah sangat tepat. Orang ini, sepertinya akan memberikan aku informasi yang banyak dan berguna," seringainya, lalu melangkah masuk ke ruangan Biantai.


Biantai yang sedang mabuk menoleh dan menatap Weng Lou dengan tatapan yang buram.


"Kenapa kau ke sini?! Apa tugasmu sudah selesai?!" Biantai membentak pada Weng Lou.


"Tugasku? Tidak tidak, yang benar itu adalah tugasmu."


Weng Lou melambaikan tangannya, dan tubuh Biantai yang sedang duduk langsung segera terhempas ke lantai.


"Berikan aku semua informasi mengenai kekaisaran ini yang kau punya, atau jika tidak aku akan memotong kedua tanganmu."


************************************************

__ADS_1


Words: 2258


__ADS_2