
Di dalam kamarnya, Weng Lou dan Weng Ying Luan sibuk mencerna khasiat dari pil yang beberapa saat lalu mereka telan.
Pil ini mampu membuat tingkat praktik mereka naik, namun tidak dalam kecepatan yang luar biasa seperti yang mereka makan ketika mereka berada di Kota Yulong.
Meski terkesan lambat, namun peningkatan yang diakibatkan oleh pil ini nyatanya membantu membuat stabil kekuatan milik mereka yang baru saja meningkat.
Keduanya tidak terburu-buru karena masih memiliki waktu tiga minggu lebih sampai Turnamen Beladiri Bebas dilaksanakan. Mereka akan sempat naik ke ranah Penyatuan Jiwa jika bisa terus teratur berlatih seperti saat ini.
Tapi apa memang naik ke ranah Penyatuan Jiwa itu semudah seperti yang keduanya pikirkan? Jawabannya adalah tidak.
Jiwa yang dimurnikan pada ranah Pembersihan Jiwa akan melakukan penyatuan dengan sendirinya dalam rentang waktu tertentu ketika seseorang telah berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 puncak.
Bisanya orang-orang akan memakan waktu paling lama setahun, serta yang paling singkat mungkin hanya beberapa hari saja. Hal ini disebabkan jiwa mereka tidak terlalu dibersihkan pada saat berada di ranah Pembersihan Jiwa.
Itu sebabnya ketika berada di ranah Pembersihan Jiwa, seorang Praktisi Beladiri haruslah serius dalam membersihkan jiwanya, jarang ada yang memakai cara dengan menggunakan pil seperti Weng Lou dan yang lainnya, karena hasil pembersihan jiwa yang didapatkan tidak selalu maksimal.
Selang hampir satu jam berlatih, Weng Lou pun membuka matanya dan bangkit berdiri, tak berapa lama Weng Ying Luan juga ikut membuka matanya dan berdiri dari tempatnya.
"Yaaa, hanya naik ke tahap 5 puncak....seperti perkiraan ku." Weng Lou berkata sambil merenggangkan tubuhnya.
Weng Ying Luan hanya diam mendengar itu dan berniat untuk keluar dari kamar, namun segera ditahan oleh Weng Lou.
"Jangan coba-coba pergi, katakan tingkat praktik mu," ucap Weng Lou yang sudah berdiri tegak kembali dan menatap Weng Ying Luan penuh makna.
Terdengar Weng Ying Luan yang mendecakan lidahnya begitu mendengar perkataan Weng Lou dan menghela napasnya.
__ADS_1
"Tahap 7 awal, sedikit lagi naik ke tahap 7 menengah," balasnya sambil membalik badannya kembali dan segera keluar dari kamar.
Begitu Weng Ying Luan pergi, Weng Lou hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Padahal sudah sangat bagus menurutnya Weng Ying Luan mampu naik ke ranah Pembersihan Jiwa tahap 7 awal secepat ini.
Tak mau ambil pusing, Weng Lou pun mengayunkan tangannya sekali dan mengeluarkan sepasang palu yang tampak tak asing. Itu adalah palu yang dipakai oleh Kun Ling untuk menempa senjata, yang memiliki berat sekitar beberapa puluh kali lebih berat dibandingkan palu yang diberikan padanya ketika masih berlatih menempa bersamanya.
Weng Lou merasa kekuatan fisiknya perlu ditingkatkan lebih jauh lagi karena ini merupakan salah satu keunggulannya ketika bertarung melawan mereka yang jauh lebih kuat darinya.
Dengan perlahan, dia mengangkat kedua palu itu masing-masing di tangan kanan dan kirinya dengan perlahan.
Menarik napas dalam, Weng Lou pun mulai mengayunkan palu di tangan kanannya dengan pelan, dan dilanjutkan dengan tangan kirinya. Sedikit demi sedikit ia naikkan tempo ayunannya dan tak terasa ayunan yang ia lakukan sudah seperti seorang penempa yang sedang menenempa sungguhan. Tanpa dirinya sadari, senyuman kecil menghiasi wajahnya dan terus melakukan ayunan demi ayunan secara bergantian.
Weng Lou terus mengayunkan kedua palunya hingga seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringatnya. Setengah jam kemudian, Weng Lou berhenti mengayunkan tangannya, dan kembali memasukkan kedua palunya kedalam ruang penyimpanannya.
Udara disekitarnya terasa sengat sejuk dan terkesan sedikit dingin. Weng Lou memejamkan kedua matanya dan kemudian menarik napas dalam. Dia merasakan sirkulasi udara yang terjadi pada tubuhnya dan mengingat-ngingat proses itu di dalam kepalanya lalu. Setelah menahan napas selama sepuluh detik, dia pun membuang napasnya laku kembali menarik napas dalam.
Dirinya terus melakukan itu hingga dia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sudah mendingin dan membuang napas panjang.
"Tubuhku terasa jauh lebih baik. Setidaknya kekuatan fisik ku mendekati mereka yang berada di tahap 8 puncak. Dengan bantuan penggunaan Qi ku yang handal, seharusnya orang yang berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 tidak akan terlalu membuat diriku dalam bahaya seperti ketika melawan dua pembunuh kemarin malam," ucapnya dengan suara pelan.
Satu-satunya alasan mengapa Weng Lou bisa sangat mudah mengalahkan Du Bishou dan Siwang Hua semalam adalah karena keduanya merupakan pembunuh, bukan petarung yang bertarung secara langsung.
Mereka berdua terlatih untuk membunuh secara instan dan menyelinap ke segala tempat dengan mudah. Pertarungan secara langsung hanya membuat kekurangan mereka terlihat sangat jelas.
Sebagai pembunuh, mereka dilatih untuk bisa bergerak cepat, bukan untuk bertarung secara langsung. Kekuatan fisik pembunuh selalu dibawah mereka yang merupakan seorang petarung pada tingkat praktik yang sama.
__ADS_1
Itu sebabnya Weng Lou cukup mengutamakan peningkatan fisiknya, karena ini termasuk salah satu kartu tersembunyi nya dalam melawan lawannya.
Setelah beberapa detik berdiam diri di dalam kamar, Weng Lou pun keluar dari sana dan melihat Weng Ying Luan yang sedang duduk di ruang makan sambil menatap suasana di luar yang berkabut tipis.
"Hei, mau berkeliling sebentar? Aku ingin melihat-lihat desa ini lebih jauh," ucap Weng Lou yang kemudian berjalan keluar dari bangunan penginapan.
Weng Ying Luan menatap Weng Lou selama beberapa saat. Dia menimbang-nimbang apakah harus ikut dengannya atau tidak.
Setelah berpikir bahwa dirinya tampak seperti orang bodoh yang hanya duduk dan menatap keluar jendela, Weng Ying Luan pun bangkit berdiri dari tempatnya dan pergi mengikuti Weng Lou.
Mereka berdua berhenti berjalan ketika berada tepat berada di luar pintu penginapan, dan menatap rumah-rumah penduduk satu persatu .
Menempatkan kedua tangannya di belakang kepalanya, Weng Lou pun mulai melangkahkan kakinya, dan berjalan pergi dari situ, dan disusul oleh Weng Ying Luan di belakangnya.
"Tempat ini benar-benar sepi, kabut-kabut disini hanya membuat suasana sepi di desa ini semakin jadi," komentar Weng Ying Luan yang memperhatikan tidak ada pergerakan sama sekali dari rumah-rumah yang ada di desa itu.
Weng Lou hanya diam mendengarnya dan memilih untuk terus berjalan. Dia memilih untuk bergerak menelusuri jalanan yang mengarah ke luar dari desa, lalu berbelok, dan memutari desa.
Di pinggiran desa, satu-satunya hal yang bisa diliat sebagai pemandangan adalah kabut dimana-mana. Jarak pandangan dari desa ini keluar hanya sejauh beberapa puluh meter saja, berbeda dengan jarak pandang dari luar ke desa, bahkan jarak lima ratus meter pun masih bisa terlihat.
Ketika sedang asik berjalan, mendadak langkah kaki Weng Ying Luan terhenti, dan membuat Weng Lou juga ikut menghentikan langkah kakinya.
Dia menoleh ke arah Weng Ying Luan melihat dan seketika keduanya matanya melebar, dan ekspresi wajahnya tampak terkejut.
Apa yang keduanya lihat adalah dua tubuh manusia yang sudah tak bernyawa dalam kondisi benar-benar mengenaskan. Yaitu dalam keadaan tercabik-cabik di seluruh tubuh yang sepertinya diakibatkan oleh ulah binatang buas.
__ADS_1