
Alkisah, terdapat sebuah pulau yang luas di Dimensi Asal Mula. Pulau itu terkenal akan kesuburan tanahnya, dan segala macam sumber daya alam yang dapat ditemukan di dalamnya.
Orang-orang pun berbondong-bondong untuk datang dan mencoba peruntungan dengan menjual sumber daya alam yang dihasilkan oleh pulau ini. Waktu demi waktu kemudian, semakin banyak yang datang kepulau tersebut dan berebut sumber daya dan kekayaan yang ada di pulau itu, hingga akhirnya terjadi pertempuran yang mengetikan dan membuat ratusan ribu nyawa melayang.
Singkat cerita, ada dua orang Praktisi Beladiri tingkat tinggi yang juga memperebutkan sumber daya yang ada di pulau itu, dan mereka berdua pun saling bertarung satu sama lain. Pertarungan keduanya berlangsung selama lima hari lima malam, dan berkahir dengan tidak ada yang memenangkan pertarungan tersebut.
Dampak dari pertarungan keduanya adalah, hancurnya pulau besar itu dan terbagi menjadi enam buah pulau yang terpisahkan oleh lautan. Masing-masing pulau menyimpan sumber daya dan kekayaan yang berbeda.
Setelah pertarungan besar itu, orang-orang yang sebelumnya saling bertarung pun mulai memilih untuk tinggal di salah satu dari keenam pulau sesuai dengan sumber daya apa yang mereka inginkan. Pertempuran pun mereda, dan kisah mengenai pertumpahan darah itu mulai dilupakan oleh seirin berjalannya waktu.
Tidak ada yang tau, pulau mana yang dipilih oleh kedua Praktisi Beladiri tingkat tinggi itu, tapi yang pasti nama, serta wajah mereka, tidak ada yang mengetahuinya.
Semua cerita ini terjadi jauh sebelum Kekaisaran Raksasa ada dan memerintah puluhan pulau.
"Cerita itu seperti omong kosong, kau tau? Bahkan seorang Penguasa Jiwa sekalipun tidak bisa menghancurkan sebuah pulau, dan kau ingin mengatakan bahwa dua orang yang bertarung sanggup menghancurkan sebuah pulau besar dan membuatnya hancur menjadi enam pulau yang lebih kecil? Dongeng mu itu hanya akan dipercaya oleh anak kecil," cibir Weng Lou saat mendengarkan cerita Hong Mugui tentang asal mula terciptanya Kepulauan Huwa.
Weng Lou berbeda dengan Praktisi Beladiri yang sudah terbiasa tinggal di Kepulauan Huwa, dia telah melihat kekuatan seorang Praktisi Beladiri di ranah Penguasaan Jiwa, yang merupakan Kaisar Jiwa. Jelas sekali kekuatan mereka tidak bisa menghancurkan sebuah pulau. Lalu bagaimana dengan mereka yang berada di ranah yang lebih tinggi dari Penguasaan Jiwa?
Jangankan Weng Lou, bahkan mantan Ketua Sekte Langit Utara sekalipun belum pernah melihatnya secara nyata dengan mata kepalanya sendiri. Meski begitu, masih tetap ada kemungkinan orang yang memiliki kekuatan diatas ranah Penguasaan Jiwa bisa menghancurkan sebuah pulau.
Namun tetap saja, untuk berpikir ada dua orang yang memiliki kekuatan sebesar itu di Kepulauan Huwa dulunya, Weng Lou hanya bisa membantahnya.
Hong Mugui tersenyum kecut mendengar cibiran Weng Lou. Apa yang diceritakannya merupakan kisah umum yang diketahui semua orang di Kepulauan Huwa. Bahkan semua Praktisi Beladiri yang tinggal di Kepulauan Huwa juga mempercayai kisah tersebut.
"Tapi Guru, apakah memang tidak ada orang yang memiliki kekuatan sebesar itu? Maksud ku, bukannya waktu jaman kuno penghuni dunia kita ini adalah mereka yang bisa mengendalikan laut dan langit?" Du Zhe yang tampak penasaran bertanya kepada Weng Lou sambil menyantap makan malamnya.
Mendengar itu, Weng Lou seketika itu juga teringat tentang Zhi Juan dan dirinya sebelum bereinkarnasi. Weng Lou telah melihat pertempuran di dimensi milik Ras Ilahi yang melibatkan para Absolute dan anggota Ras Ilahi.
Kekuatan penghancur yang dia lihat, benar-benar membuatnya terdiam, akan tetapi karena kekuatan dari dimensi Ras Ilahi yang sangat kokoh, membuat dampak dari kekuatan itu tidak berarti apa-apa.
"Du Zhe, apa Guru mu ini terlihat berusia setua itu bagimu?" Weng Lou bertanya sambil menaikkan alisnya sebelah.
Du Zhe pun tertawa pelan, itu adalah logika yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Meski keberadaan orang-orang sekuat itu memang ada dahulu, namun sekarang hampir tidak ada orang yang tau akan keberadaan orang-orang ini.
"Perhatian semua penumpang! Kita sebentar lagi akan memasuki badai laut, para penumpang sekalian diharapkan untuk masuk dan berdiam di kamar masing-masing. Kita akan menghadapi guncangan besar yang saya jamin kalian tidak akan mau mengalaminya di ruang makan," seru seorang pria berjenggot lebat di ruang makan tempat para penumpang saat ini sedang sibuk menyantap makanan mereka.
Kelompok Weng Lou pun segera menyelesaikan makan mereka, dan menuju ke kamar mereka. Di dalam kamar, Du Zhe dengan kaki kecilnya berlari cepat ke arah jendela, dan melihat sebuah ombak yang menabrak kapal dari samping dan menyebabkan guncangan pada kapal.
"Oh! Itu benar-benar sebuah badai yang besar! Guru! Apa menurut mu kapal ini bisa bertahan menghadapi badai sebesar itu?" Jari telunjuknya menunjuk pada awan hitam tebal yang berjarak beberapa ratus meter dari mereka.
Petir menyambar, dan suara guntur menggelegar di langit. Cahaya terang dari petir yang menyambar membuat langit malam tampak seternag siang hari. Mulut Du Zhe terbuka lebar menyaksikan itu dan semakin bersemangat.
"Anda tenang saja, Tuan. Kapal ini, meski bagian luarnya terbuat dari kayu, namun sebenarnya pada kerangka dalamnya terbuat dari sebuah logam yang sangat kokoh dan tangguh yang bahkan menyamai sebuah baja." Hong Mugui memberi jawaba pada Du Zhe.
Jawaban dari Hong Mugui membuat hati Du Zhe merasa lega. Dia sempat membayangkan, bagaimana jika badai yang akan mereka lalui ini menyebabkan kapal yang mereka naiki menjadi rusak atau tenggelam di tengah lautan.
Jelas sekali dia tidak akan bisa melakukan apapun jika hal itu terjadi, dan hanya bisa berharap pada Weng Lou dan Hong Mugui yang bersama dirinya saat ini.
"Badai seperti ini tidak terlalu berbahaya. Hanya saja angin kencang yang berhembus dari samping yang membuat keadaan ini sedikit beresiko. Tiang layar bisa saja patah karena tidak kuat menahan kekuatan angin, atau mungkin kapal menjadi terbalik karena tertiup angin dari samping. Tapi untungnya, kapten kapal ini bukanlah kapten biasa. Dia sudah sering melalui keadaan seperti ini, bahkan dia pernah menghadapi badai yang lebih besar lagi dan tetap bisa melaluinya dengan selamat," jelas Hong Mugui yang malah membuat Du Zhe kembali khawatir.
"Itu bukan apa-apa, Du Zhe. Kau tidak perlu memikirkan itu, sekarang lebih baik kau berisitirahat. Perjalanan kita masih panjang." Weng Lou membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya sementara Du Zhe dan Hong Mugui menatapnya dalam diam.
"Aku akan melihat sedikit lebih lama lagi, baru aku tidur Guru. Apa tidak apa?"
__ADS_1
"En, terserah mu saja. Tapi jangan sampai kemalaman, udara dingin malam hari tidak baik untuk tubuh."
"Baiklah Guru! Terima kasih!"
Mata Weng Lou kemudian menatap ke arah Hong Mugui, "Jika terjadi apa-apa dan kau tidak bisa mengatasi nya, bangunkan saja aku."
"Tentu, Tuan." Hong Mugui menunduk lalu mengangguk.
"Oke selamat malam." Weng Lou kemudian memejamkan matanya dan mulai tertidur.
Du Zhe kembali menempatkan perhatiannya pada keadaan di luar kapal lewat jendela. Matanya terkagum-kagum saat menyaksikan kilatan cahaya di langit, sementara Hong Mugui memilih untuk duduk di tempat tidurnya dan berlatih.
Dalam satu hari ini, sudah telalu banyak peristiwa yang dialaminya, dia perlu memproses semua kejadian itu di kepalanya.
***
Tengah malam di lautan lepas.
Kapal yang dinaiki oleh Weng Lou telah lama melewati badai, dan saat ini dengan tenang melaju ditiup oleh angin malam.
Suasana tenang dan tiupan angin dingin membuat para penumpang semuanya sudah tertidur lelap, begitu juga dengan beberapa awak kapal.
Di ruangan kapten, pria paruh baya dengan kumis dan jenggot yang menutupi setengah dari wajahnya duduk dengan santai menikmati suatu minuman hangat yang berwarna hitam di cangkir besarnya.
*Sruppp....* Dia menyeruput minumannya, lalu dengan santai menikmati langit malam penuh bintang. Cahaya bintang dan bulan menyinari malam, dan membuat siapa saja yang menyaksikannya menjadi terkagum-kagum dengan keindahan itu.
Ketika pria itu sedang mengalihkan pandangannya pada sebuah peta di meja di dekatnya, mendadak sesuatu menghantam bagian bawah kapal, dan membuat kapal berguncang. Para penumpang dan awak kapal yang sebelumnya sedang tertidur pulas, kini mulai bangun satu persatu.
Pria paruh baya itu segera meninggalkan ruangannya dan menuju ke dek kapal, mencoba melihat apa yang baru saja menabrak mereka.
Matanya terus menatap gelembung-gelembung itu, sebelum kemudian kapal kembali ditabrak oleh sesuatu dan kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.
*Bum!!* Pria itu langsung terjatuh ke lantai kapal dengan keras. Tapi dengan segera, dia bangkit berdiri dan memeriksa laut di bawah mereka sekali lagi.
Akan tetapi, apa yang dilihatnya segera membuat sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dan nyawanya seperti keluar dari tubuhnya.
Pria itu tampak linglung, tapi kemudian dia buru-buru menggelengkan kepalany dan pergi dari tempatnya itu dan membunyikan bel kapal.
*TRANG!!!! TRANGG!!!! TRANGGG!!!!*
Suara bel itu menggema di seluruh kapal, dan kali ini telah membangunkan semua orang. Weng Lou, Du Zhe dan Hong Mugui yang berada di kamar mereka dengan cepat keluar ke dek dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Gu-Guru!!!!"
Du Zhe yang tiba di pinggir kapal lebih dulu dan menatap ke bawah kapal. Di berseru dengan panik begitu dia melihat sepasang mata merah raksasa bercahaya yang bercahaya dan tampak seperti iblis yang menatapnya dari neraka.
Sekujur tubuh Du Zhe langsung bergidik ketakutan dan terjatuh ke lantai, sementara Weng Lou dan Hong Mugui juga telah sampai dan ikut melihat ke bawah kapal.
Mulut Hong Mugui segera terbuka lebar dan perasaan ketakutan muncul pada dirinya. Sementara Weng Lou, dia mengerutkan keningnya, dan keringat mulai mengucur pada keningnya itu.
"I-Ini.... binatang buas lautan!" Weng Lou berseru kaget.
Dari sekian banyak binatang buas yang hidup di daratan, ada beberapa yang memiliki kekuatan yang setara dengan Praktisi Beladiri yang berada di ranah Pembersihan Jiwa dan Penyatuan Jiwa, tidak jarang ada yang mencapai kekuatan setara Penguasaan Jiwa. Namu jumlah mereka masih bisa dihitung dengan jari, dan kesempatan untuk bisa memiliki kekuatan di atas ranah Pembersihan Jiwa sangatlah kecil bagi mereka.
__ADS_1
Namun hal yang sama tidak berlaku bagi mereka yang tinggal di perairan, terutama di dalam lautan yang luas. Jumlah para binatang buas yang hidup di lautan bisa dibilang 5 kali lebih banyak daripada yang tinggal di daratan, dan kekuatan mereka jauh melebihi binatang buas yang tinggal di daratan.
Karena luasnya lautan, membuat perkembangan dari binatang yang tinggal di dalamnya tidak terhambat sama sekali, dan jarang terjadinya perebutan wilayah yang mengarah pada aksi saling membunuh. Di lautan, semua jenis binatang bisa tumbuh dengan bebas. Dan karena lautan juga tidak tersentuh oleh manusia, membuat perkembangan mereka semakin cepat tanpa ada masalah, dan mereka bisa memiliki umur yang panjang.
Para binatang buas lautan biasanya tidak akan mencari masalah pada manusia jika tidak ada sesuatu yang memancing mereka terlebih dahulu. Namun saat ini, seekor binatang buas lautan yang memiliki ukuran tubuh luar biasa besarnya sedang berenang tepat di bawah kapal yang dinaiki oleh kelompok Weng Lou, dan mereka tidak tau penyebab dari kedatangan binatang buas ini.
"Grroooaaaa.........." Suara yang sangat dalam, menggema dari dalam lautan dan membuat buku kuduk semua yang mendengar nya menjadi merinding bukan main.
"Sial, kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 puncak!" Weng Lou tampak terkejut merasakan gelombang kekuatan yang dilepaskan oleh makhluk yang saat ini berada di bawah mereka.
Yang terlihat dari binatang buas ini hanyalah sepasang bola mata merah nya dan bayangan gelap yang sangat samar yang kemungkinan adalah tubuhnya.
"Oi, ada masalah besar!" Dari pikiran Weng Lou suara Kera Hitam Petarung terdengar jelas.
Kera Hitam Petarung sebelumnya telah Weng Lou minta untuk mau ditaruh di dalam sebuah krurungan besar agar tidak menarik perhatian, sehingga dia saat ini berada di ruang penyimpanan kapal.
"Ada apa?! Kami juga memiliki masalah besar disini!" Weng Lou mengerutkan keningnya.
"Binatang buas lautan itu datang karena terpancing oleh gelombang kekuatan ku! Dengan kata lain, dia datang kesini karena mencari ku! Ini pasti wilayah kekuasaannya, dan kehadiran ku telah membuatnya merasa terprovokasi!" ucap Kera Hitam Petarung yang seketika membuat Weng Lou menelan ludah berat.
Weng Lou tidak pernah takut melawan mereka yang 2 atau 3 tingkat kekuatannya di atasnya, namun saat ini kondisi tubuhnya sedang tidak memungkinkannya untuk melakukan pertarungan di lautan. Tidak hanya dia tidak memiliki Qi, namun dia juga sudah tidak bisa mengendalikan Tenaga Dalam Alam di sekitarnya karena kehilangan Dantian.
Jika dia nekat, maka dia yang akan mati.
"Jadi apa yang akan kita lakukan? Melakukan pertarungan di atas kapal ini, sama saja dengan cari mati. Kita sudah terlalu jauh dari daratan, dan juga mustahil kabur dari binatang buas ini." Weng Lou berbicara dengan nada serius.
"Aku memiliki ide, kau sebaiknya mencoba untuk berbicara dengannya dan mengatakan bahwa aku hanyalah bawaan mu saja, dan bukan datang untuk memprovokasi nya. Binatang buas lautan sangat sensitif tentang wilayah kekuasaan, kau bisa memanfaatkan hal itu," jelas Kera Hitam Petarung di dalam kepala Weng Lou.
Mendengar itu, Weng Lou segera mengigit bibirnya dan mulai berpikir keras, mempertimbangkan kemungkinan keberhasilan dari rencana tersebut.
"Baiklah, untuk sekarang, kau cobalah untuk mengurangi gelombang kekuatan pada tubuhmu itu, aku akan berbicara dengan binatang buas ini." Weng Lou mengangguk mengerti lalu mulai berjalan mendekati pinggir kapal sekali lagi.
Kali ini, seperti mendapat sebuah sinyal, mata binatang buas yang ada di bawah kapal mulai mulai terpejam, lalu arus di dalam air mulai membuat kapal itu sedikit berguncang selama beberapa saat. Ketika orang-orang berpikir bahwa masalah telah selesai, sesosok bayangan makhluk dengan tubuh yang hampir sepuluh kali lebih besar dari Kera Hitam Petarung mulai muncul di samping kapal. Karena gelapnya malam, hanya kedua mata dan bayang-bayang dari tubuh makhluk yang bisa terlihat oleh orang-orang.
Semua yang melihat ini membuka mulut mereka lebar, dan seperti sedang melihat kemunculan sosok hantu.
"Siapa bajingan yang berani memprovokasi ku di wilayah ku ini?????"
Suara besar yang menggema dari sosok bayangan besar itu terdengar sangat dingin dan dalam, seperti berada di dalam samudra tak berdasar. Weng Lou tanpa berbasa-basi langsung melangkah maju ke depan dan membungkukkan badannya pada sosok bayangan itu.
"Salam, sang Penguasa Laut! Saya adalah seorang pengembara yang kebetulan lewat, nama saya adalah Wei Lu. Orang yang tidak sengaja menarik perhatian anda adalah seekor Kera Hitam yang telah saya taklukan sebelumnya. Sepertinya kekuatannya tanpa sengaja dirasakan oleh anda, saya minta maaf sebesar-besarnya karena kecerobohan saya ini!" Weng Lou berbicara dengan lancar, dan menunjukkan rasa hormatnya yang sangat terlihat alami.
Sosok bayangan itu diam sebentar, dan kemudian secara mendadak, sosoknya perlahan mendekat ke kapal, dan menunjukkan penampilannya yang sebenarnya.
Sosok itu tampil sebagai seekor belut raksasa yang memiliki panjang tubuh mencapai lebih dari lima ratus meter dengan kulit berwarna hitam kecolatan dan mata yang benar-benar berwarna merah terang. Gigi-gigi yang panjang dan runcing teekuhat dari seluruh mulut belut raksasa super besar itu. Rasa haus darah yang sebelumnya keluar darinya perlahan mulai ditariknya kembali saat dia menatap sosok Weng Lou dengan kedua mata merah cerahnya.
"Hmmmm......kau pikir aku akan mendengarkan manusia rendahan seperti mu? Biar ku beritahu, hanya ada satu akhir bagi siapa saja yang telah memprovokasi ku, dan itu adalah kematian!"
***
**Words: 2402
Catatan Penulis:
__ADS_1
Author lagi nggk enak badan, jadi cuma bisa sampe 2k kata doang. Mohon maaf🙏**