Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 503. Perguruan Iblis Merah (II)


__ADS_3

Di atas langit, Weng Lou menatap beberapakali sosok yang sedang berlari diantara bangunan-bangunan yang ada di dalam kota.


Dia tersenyum kecil melihat seberapa besarnya tekad untuk bertahan hidup dari sisa-sisa anggota Perguruan Iblis Merah yang sebelumnya bersiap untuk melawannya.


"Bagaimana menurut mu, Ye Lao? Apakah aku cukup dengan Perguruan Iblis Merah, atau meneruskan semua ini?" tanya Weng Lou dengan nada santainya.


"Kau mulai menanyakan pendapat ku, huh? Tidak seperti dirimu yang biasanya," komentar Ye Lao dari dalam Kitab Keabadian.


"Ayolah, aku sedang mencoba akrab denganmu tanpa harus mengandalkan peraturan Kitab Keabadian, kau seharusnya mendukung ku." Weng Lou tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Yahh....aku sebenarnya tidak pernah membencimu. Jika ada yang ku benci darimu saat ini, mungkin itu adalah sifat menyebalkan mu yang terkadang suka seenak hati mengambil keputusan. Tapi lebih dari itu sebenarnya aku tidak mempermasalahkan apa yang kau lakukan," balas Ye Lao.


"Hei kau tau, jika kita sering berbicara seperti ini mungkin kita tidak akan memperdebatkan hal-hal tidak penting seperti dulu, kau tau?"


"Coba hentikan mereka semua sebelum salah satu dari mereka sampai di markas Perguruan Iblis Merah. Jika kau berhasil kita lanjutkan pembicaraan ini," tutup Ye Lao.


Weng Lou diam sejenak dan kembali tertawa.


"Mereka tidak akan..... pastinya...."


Mengalihkan pandangannya, Weng Lou pun menatap sebuah bangunan besar dan megah yang berdiri di pinggir kota.


Bangunan itu terpisah dari antara bangunan lainnya dengan sebuah pagar besar membatasi siapapun yang ingin masuk dalam kawasan bangunan tersebut.


Terdapat beberapa orang yang terlihat sedang berlatih beladiri di lapangan yang berada di sekitar bangunan itu. Mulai dari remaja hingga orang dewasa.


Hal ini membuat Weng Lou sedikit mengingat saat-saat dirinya masih berlatih di Kota Bintang Putih, tepatnya ketika dia masih merupakan seorang murid luar di Keluarga Utama Weng.


Dirinya harus bekerja keras untuk bisa terus berada di dalam keluarga. Semua usaha keras nya terbayar saat dia menemukan Kitab Keabadian dan mendapatkan berbagai macam teknik beladiri. Semua bimbingan dari Ye Lao juga merupakan faktor utama dia bisa berkembang sampai sejauh ini.


Dia selalu ingin berbicara dengan akrab tanpa perdebatan sedikit pun dengan Ye Lao, tapi entah kenapa setiap mendengar nada mengejek dari Ye Lao selalu membuat dirinya tersulut oleh emosi yang bahkan tidak dia pahami.


"Itu harus menjadi tempat Perguruan Iblis Merah di kota ini," ucap Weng Lou.


Dia pun melesat terbang ke arah bangunan tersebut dan mendarat tepat di atas pagarnya.


Dirinya yang muncul dan mendarat di atas gerbang membuat orang-orang yang sedang berlatih menghentikan gerakan mereka dan menatap Weng Lou dengan waspada.


Semua orang di Kota Heishin tau ini adalah wilayah milik Perguruan Iblis Merah. Tidak ada yang berani mencari keributan dengan mereka karena sadar bahwa Perguruan Iblis Merah adalah kekuatan yang besar.


Bahkan kaisar akan tunduk pada Pemimpin Perguruan Iblis Merah sekalipun. Hal ini yang membuat Perguruan Iblis Merah sangat disegani di seluruh Pulau Fanrong, bahkan meski mereka hanyalah cabang dari Perguruan Iblis Merah sekalipun.


"Hei?! Siapa kau?! Turun dari sana sebelum kau mendapatkan masalah!"


Seorang pria tua yang sepertinya merupakan petugas kebersihan, terlihat dari sapu yang dia bawa, berjalan ke arah Weng Lou yang berada di atas gerbang.


Weng Lou tidak mempedulikannya sama sekali. Dia berdiri kokoh dengan kedua tangannya terlipat di depan dada dan menatap ke arah kota. Dia saat ini sedang menunggu kedatangan para anggota Perguruan Iblis Merah yang sebelumnya berlari darinya.


"Apa kau mendengar ku, anak muda?! Turun dari situ kataku! Kau akan mendapat masalah besar jika salah satu anggota inti perguruan melihat mu berdiri di atas gerbang masuk!" seru pria tua itu sekali lagi.


Tanpa berbalik Weng Lou melemparkan sekantong koin perak pada pria itu.


"Ambillah, anggap kau tidak pernah melihat ku sebelumnya." Weng Lou berbicara dengan santai. Kedua matanya masih fokus mengamati jalanan kota, mencari keberadaan orang-orang yang lari darinya.


"Kau pikir aku apa?! Aku tidak perlu uangmu, nak! Turun dari situ sebelum aku yang memaksamu untuk turun!"


Pria tua itu melemparkan kantong uang pemberian Weng Lou ke tanah dan membuat koin-koin perak yang ada di dalamnya terhambur semua ke tanah.


Mulut pria tua itu terbuka lebar, saat melihat bahwa koin-koin yang sebelumnya berada di dalam kantong uang itu adalah koin perak. Dan jumlahnya bahkan lebih dari seratus koin!


Dia seperti bermimpi. Dengan cepat dia kembali memunguti koin-koin itu kembali dan memasukkannya ke dalam kantung uang. Tanpa berlama-lama dia pun segera pergi dari tempat itu dengan senyum lebar di wajahnya.


"Manusia itu makhluk yang unik, bukan?"


Terdengar suara seseorang dari bawah Weng Lou. Dari suaranya dia adalah perempuan.

__ADS_1


Weng Lou menolehkan kepalanya, dan melihat seorang gadis yang berumur kurang lebih tiga belas tahun, dan sedang duduk menyandar pada dinding di dalam kawasan Perguruan Iblis Merah.


Sebelah alis mata Weng Lou terangkat mendengarnya.


"Umurmu bahkan belum tujuh belas dan kau berbicara seperti sudah pernah melihat semua jenis manusia, huh?" ucap Weng Lou sambil tersenyum kecil.


"Aku tidak perlu bertemu dengan semua manusia yang ada untuk mengatakan sesuatu seperti itu. Manusia adalah makhluk hidup yang paling susah ditebak, itu adalah perkataan beberapa orang yang merasa sangat pintar, tapi nyatanya semua manusia itu memiliki kesamaan.


Mereka akan mengutamakan kepentingan diri mereka sendiri, itu lah sifat asli manusia. Bahkan orang yang sangat baik terhadap semua orang, jauh di dalam dirinya terdapat sifat asli manusia ini. Hanya memerlukan sedikit dorongan, dan sifat itu akan muncul.


Seperti pak tua tadi, dia sebenarnya adalah seorang petugas kebersihan yang baik dan selalu bertanggung jawab dengan tugas yang dia miliki. Namun lihat apa yang terjadi setelah kau memberinya uang dan melihat seberapa banyak jumlah uang tersebut, sifat aslinya muncul dan menguasainya.


Tidak pernah bosan melihat orang-orang seperti nya yang memperlihatkan sifat asli mereka tanpa tahu malu sama sekali," jelas gadis itu.


"Itu penjelasan yang cukup berat untuk seorang gadis seperti mu mengetahuinya," komentar Weng Lou.


"Bagaimana denganmu? Kau hanya lebih tua dariku paling maksimal dua tahun, tidak ada perbedaan besar dari itu. Tapi jelas sifatmu lebih dewasa dariku." Gadis itu mengangkat kedua bahunya.


Dia pun bangkit berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan Weng Lou.


"Gadis yang menarik," ucap Ye Lao.


"Semua gadis selalu memiliki ketertarikan tersendiri. Hanya saja jarang ada yang memiliki pemikiran seperti gadis itu. Dia seperti sudah menjalani kehidupan yang begitu lama di dunia ini hingga mengetahui mengenai sifat manusia." Qian Yu ikut berbicara di dalam kepalanya.


"Yah, cukup aneh melihat gadis sepertinya malah masuk ke Perguruan Iblis Merah." Weng Lou memberikan pendapatnya.


"Apanya yang aneh? Tidak ada perkumpulan para Praktisi Beladiri lain selain Perguruan Iblis Merah di Pulau Fanrong. Kuperhatikan dari cara geraknya, dia seharusnya sudah menjadi Praktisi Beladiri. Kemungkinan dia berada di Dasar Pondasi tingkat 4 hingga 5 paling tinggi," bantah Ye Lao.


"Hei, kau ingat pembicaraan kita tadi? Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu, oke?"


"Sudah kubilang, hentikan dulu orang-orang itu, lalu kita membicarakannya lagi."


Weng Lou pun menoleh kembali ke depan, dan melihat sekelompok orang yang sebelumnya dia kejar sedang mengambil jalan memutar unruk dapat masuk ke bangunan Perguruan Iblis Merah.


"Baru kali ini aku melihat lelucon seperti ini. Mereka layak mendapatkan medali karena kepintaran mereka," kata Weng Lou.


"Berpikir bahwa ketiga orang itu berusaha bersembunyi dari seorang Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi," sambung Ye Lao.


Weng Lou tetap berdiri di tempatnya, dan tidak mengejar tiga orang itu. Pisau Pencabut Nyawa nya lah yang telah bergerak dan melesat ke arah tiga orang tersebut.


Shu-


PSHHH!!!


Bagai angin yang menerpa tubuh, Pisau Pencabut Nyawa menembus kaki ketiga orang itu dan seketika membuat mereka terjatuh ke tanah.


"AGHH!!!"


Salah seorang dari mereka merintih kesakitan, sementara yang lainnya tampak kebingungan dan menoleh ke sekitarnya, mencari penyebab mereka bisa terjatuh ke tanah. Sedangkan orang yang menjadi pemimpin kelompok mereka, telah melanjutkan bergerak ke kawasan Perguruan Iblis Merah menggunakan kedua tangannya.


Kegigihannya patut diberi sebuah hadiah, dan Weng Lou akan memberikannya.


Pisau Pencabut Nyawa sekali lagi melesat, dan menembus kedua tangan orang itu, membuatnya tersungkur dan mencium tanah.


"AAARGGGHH!!!"


Tidak di sangka oleh Weng Lou, orang itu tetap tidak menyerah dan terus berusaha bergerak. Dia menggunakan kepalanya untuk menggeliat di tanah. Kedua rekannya yang sebelumnya, melihatnya dengan napas menggebu.


Akhirnya kedua orang itu berusaha untuk bangkit berdiri dan lanjut melangkahkan kaki mereka meski sedang terluka sekalipun. Tapi kemudian nasib yang sama menimpa keduanya.


Mereka tersungkur ke tanah begitu Pisau Pencabut Nyawa menembus kaki mereka sekali lagi, serta kedua tangan mereka.


Namun mereka melakukan hal yang sama dengan orang yang pertama, mereka mulai menggeliat dengan kepala mereka.


"Ck, merepotkan saja," ucap Weng Lou.

__ADS_1


Pisau Pencabut Nyawa kemudian mulai bergerak terbalik, lalu membentur ke kepala ketiga orang itu, dan membuat mereka tak sadarkan diri.


Tak lama, beberapa orang lainnya muncul dan melesat sekuat tenaga menuju Perguruan Iblis Merah. Mereka juga bagian dari kelompok yang Weng Lou kejar.


"Jika bukan karena aku membutuhkan kalian, aku tidak akan melakukan hal yang merepotkan seperti ini." Weng Lou mendecakan lidahnya.


Pisau Pencabut Nyawa pun kembali membentur kepala mereka semua dan membuat mereka terjatuh ke tanah tak sadarkan diri.


Selang beberapa menit kemudian, beberapa orang lagi berniat masuk ke kawasan Perguruan Iblis Merah. Namun Weng Lou segera menghentikan mereka dengan cara yang sama.


Saat ini, di depan pintu gerbang Perguruan Iblis Merah.


Weng Lou sedang berdiri di depan sembilan orang anggota Perguruan Iblis Merah yang berlari darinya. Mereka semua dalam keadaan tak sadarkan diri karena benturan dari Pisau Pencabut Nyawa milik Weng Lou.


Saat Weng Lou sedang menatap satu persatu dari orang-orang itu. Sosok seorang pria mengenakan pakaian yang sama dengan orang-orang itu berjalan keluar dari gerbang, dan berhenti di samping Weng Lou.


"Siapa kau, dan beritahu apa yang kau inginkan dari kami," ucap pria itu dengan wajah serius.


Beberapa saat yang lalu dia mendapatkan kabar bahwa ada seseorang yang berdiri di atas gerbang masuk perguruan mereka. Dia tidak terlalu mempermasalahkan itu dan menyuruh seseorang untuk menyuruh orang itu turun. Tapi kemudian hingga beberapa menit berlalu tidak ada kabar lagi tentang orang itu, sehingga dia berpikir masalah sudah selesai.


Tapi kemudian, dia kembali mendapatkan kabar bahwa orang itu masih berada di atas gerbang mereka, dan entah bagaimana caranya dia telah melumpuhkan sembilan anggota elit mereka yang sebelumnya ditugaskan untuk menjaga keamanan di gerbang depan Kota Heishin karena adanya serangan binatang buas.


Dia pun memutuskan untuk langsung turun tangan begitu mendengar hal tersebut.


Dirinya adalah pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah yang ada di Pulau Fanrong. Sebagai orang yang dipercaya oleh ketua mereka, dia harus bisa membuktikan bahwa dia memang layak untuk mengemban tugas yang diberikan padanya.


Namun saat ini, ketika dia melihat semua anggotanya yang dia kenal telah tak berdaya hanya karena seorang anak kecil, hatinya merasakan sedikit rasa takut.


Sosok Weng Lou, yang ada di hadapannya saat ini sangat tenang layaknya seekor monster yang bisa mencabik-cabik dirinya kapan saja. Dia mampu merasakan aura membunuh yang sangat mencekam dari Weng Lou.


Tapi dia tidak bisa menunjukkan ekspresi nya yang seperti itu pada lawannya.


"Aku menginginkan semua informasi milik Perguruan Iblis Merah yang ada di kota ini. Tidak tanpa terkecuali. Dan setelah itu, aku akan mengambil alih kota ini, begitu juga semua orang yang tinggal di dalamnya.


Kalian, para anggota Perguruan Iblis Merah harus tunduk padaku, dan mendengarkan apa yang aku katakan. Para prajurit di kota ini juga akan bernasib sama. Ah ya, dan juga aku akan melepaskan semua status budak yang ada di Kota Heishin. Mereka layak mendapatkan nya," jelas Weng Lou dengan santai.


"Kau!! Itu sama saja kau ingin kami menyerahkan semua yang kami punya!" seru pria itu terkejut.


Baru kali ini dia lihat orang setamak Weng Lou. Bahkan ketua mereka, tidak sampai seserakah ini dan selalu melepaskan beberapa hal yang tidak bisa dia dapatkan!


"Tidak ada diskusi. Satu-satunya alasan ku tidka membunuh orang-orang ini adalah agar kalian mau bekerja sama tanpa harus aku bunuh satu persatu. Cepatlah buat keputusan mu, aku bukanlah orang yang memiliki waktu banyak untuk menunggu jawaban mu," cibir Weng Lou.


Dia bersiul sekali, dan Pisau Pencabut Nyawa sudah melayang di sampingnya. Kerutan terlihat pada wajah pria itu menyaksikan Pisau Pencabut Nyawa yang melayang di udara.


"Kau berada di ranah Pembersihan Jiwa...." ucap pria itu dalam.


Weng Lou tidak menjawabnya. Tebakan pria itu salah, jadi tidak ada kewajibannya untuk menjawab.


"Aku hitung sampai 3, kau tidak menjawab, aku akan melakukan ini dengan cara kasar."


"He-Hei! Tolong pikirkanlah kembali! Ketua kami akan membunuh kami semua jika melakukan yang kau katakan itu!"


"Satu....."


"Tolong! Dengarkan aku! Kami semua akan dibunuh olehnya!!"


"Aku tidak peduli dengan kalian sama sekali. Dua...."


"Kau!!!"


"Tiiii-"


"Baik! Baik!!! Akan aku lakukan! Akan aku lakukan! Oke?"


"Keputusan yang bijak," sekarang bawa aku masuk. Aku perlu mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari Perguruan Iblis Merah ini."

__ADS_1


__ADS_2