Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 411. Membagi Sumberdaya Latihan


__ADS_3

Kakek tua itu tertawa pelan mendengar apa yang baru dana dikatakan oleh Weng Lou.


Menurutnya Weng Lou mengatakan semua itu tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Tapi kemudian, saat dia menatap kedua bola matanya yang berwarna hitam, tawanya segera terhenti, dan dia hanya tersenyum kecil.


Meski dia masih menganggap Weng Lou tidak berpikir panjang sebelumnya, akan tetapi dia bisa melihat keseriusan hati Weng Lou dalam kata-katanya tersebut.


"Baiklah nak, kita sudah sepakat. Kuharap kau tidak mengecewakan ku nanti." Kakek tua itu kemudian berjalan keluar dan segera diikuti eh Weng Lou dari belakangnya.


Begitu keluar dari ruangan tadi, Weng Lou segera pergi kembali ke ruangan tempat teman-temannya berada, sementara kakek tua itu memandangi salah satu barang yang dijual oleh Weng Lou padanya.


Itu adalah sebuah gelang yang terbuat dari perak. Terdapat batu kristal berwarna merah terang yang rnrmpel pada bagian tas gelang itu sebagai penghiasnya.


"Gelang ini padahal sudah lama sekali aku menjualnya kepada seorang pedagang. Hehehe... aku jadi ingat aku harus menjual ini hanya karena ingin membeli sebuah pedang biasa yang bahkan bukan termasuk senjata tingkat 1 sekalipun, hahahaha....."


***


Di kamar Weng Lou.


Weng Lou meminta Weng Wan, Weng Hua, Weng Ning, dan Weng Ying Luan berkumpul di situ.


Dia mengeluarkan beberapa botol giok dark dalam ruang penyimpan miliknya lalu menyodorkannya pada Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning. Ketiganya tampak bingung melihat itu. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Weng Lou saat ini.


"Silahkan kalian bagi untuk kalian bertiga, aku tidak akan membagikannya karena menurut ku kalian bertiga sudah paham sendiri dengan kebutuhan kalian masing-masing," ucap Weng Lou pada mereka bertiga.


Weng Ying Luan yang ada di situ hanya diam saja dan melihat reaksi mereka bertiga.


"Kau menyuruh kami untuk membaginya satu sama lain, tapi kau tidak menjelaskan apa ini semua? Kau bercanda?" Weng Wan membuka suara.


"Tidakkah sudah sangat jelas apa saja isi dari botol-botol ini? Botol-botol itu berisikan pil penyembuh, peningkat tingkat praktik, dan juga ada beberapa pil pemulih Qi. Oh ya, ada satu botol berisi Pil Ginseng Darah tingkat 2 yang berjumlah 6 biji, kalian bisa membagi rata juga," jelas Weng Lou.


Mendengar itu semua, bukannya tampak senang, Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning malah tampak terkejut mendengar semua yang dikatakan oleh Weng Lou.


Mereka tidak terkejut dengan pil penyembuh, pil peningkat tingkat praktik, dan pil pemulih Qi. Yang membuat mereka terkejut adalah Pil Ginseng Darah tingkat 2 yang dikatakan oleh Weng Lou.

__ADS_1


Dulu, ketika mereka masih berada di ranah Dasar Pondasi, Ginseng Darah adalah sumber daya yang sangatlah berharga karena mampu membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa sumber daya latihan yang mereka pakai seperti pil atau obat-obatan lainnya.


Seperti namanya, Pil Ginseng Darah adalah Pil yang terbuat dari Ginseng Darah


Pil Ginseng Darah memiliki beberapa kualitas yang dibedakan menjadi tingkat 1 hingga tingkat 3.


Pil Ginseng Darah tingkat 2 yang Weng Lou katakan, dibuat menggunakan tanaman Ginseng Darah berusia paling muda 50 tahun dan harganya bisa mencapai ratusan koin emas perbutir pil nya.


Diberikan pil yang sangat berharga seperti ini, membuat Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning merasa tidak enak. Meski sering diberikan sumber daya latihan oleh Weng Lou ketika mereka masih bersama di Kota Bintang Putih, tetapi pil ini terlalu berharga bagi merkea bertiga.


"Ayolah, ambil saja tidak perlu ragu. Lagi pula ini ku beli menggunakan uang penjualan tubuh dari induk siluman Serigala Pengintai Malam yang dibunuh oleh Weng Wan, jadi tidak perlu memikirkan harga yang aku keluarkan untuk membelinya," ucap Weng Lou dengan enteng.


Dia kemudian kembali mengayunkan tangannya, dan kali ini sekantung uang muncul di udara dan mendarat dalam pangkuan Weng Wan.


Weng Wan berkedip beberapa kali sebelum kemudian mengambil kantung itu dan mengecek isinya yang berisikan ratusan koin emas.


"A-A...ini...?"


"Itu adalah sisa dari penjualan induk siluman Serigala Pengintai Malam yang telah aku pakai untuk membeli Pil Ginseng Darah tingkat 2. Tidak terlalu banyak, tapi setidaknya kau bisa memakainya dalam perjalanan pulang nantinya.


"Kenapa? Kau sudah membelikan kami begitu banyak sumber daya latihan, setidaknya kau berhak untuk mengambil uang ini." Weng Wan berusaha menolak uang yang diberikan oleh Weng Lou padanya, tapi kemudian Weng Lou segera menggelengkan kepalanya, tanda menolaknya.


"Tidak, itu uang mu, jadi kau yang harus mengambilnya, aku tidak menerima penolakan," balas Weng Lou dengan tegas.


Weng Wan yang mendengarnya hanya bisa menghela napasnya. Meski mereka berdua sudah tidak saling bertemu selama beberapa bulan terakhir, akan tetapi dia mengingat dengan jelas tingkah laku dari sahabatnya yang satu ini.


Sekali Weng Lou menetapkan sesuatu, maka dia akan menjadi sangat keras kepala. Bahkan kedua orang tua Weng Lou tidak bisa apa-apa akan sikap Weng Lou yang satu ini.


"Haaa....terserah mu saja, aku tidak peduli lagi." Dengn rasa terpaksa, Weng Wan pun menerima kantung uang berisi ratusan koin emas itu dan memasukkannya ke balik bajunya.


Saat itu lah, alis mata Weng Lou terangkat melihat yang dilakukan oleh Weng Wan.


"Apa kau tidak punya cincin penyimpanan? Akan lebih aman menyimpannya di dalam ruang penyimpanan," ucap Weng Lou dengan wajah santainya.

__ADS_1


"Tentu saja aku punya, kau pikir aku semiskin itu sampai tidak bisa memiliki benda paling dibutuhkan dalam dunia beladiri? Aku hanya memiliki satu cincin saja, tapi itu sudah penuh dengan semua barang-barang keperluan ku selama perjalanan ke kota ini, jadi aku harus menaruh kantung ini di balik baj-"


"Ambil ini, aku berikan untuk kalian satu orang satu."


Belum selesai Weng Wan berbicara, Weng Lou sudah melemparkan tiga buah cincin penyimpanan pada masing-masing untuk Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning.


"Hehehe....terima kasih banyak."


Tidak seperti sebelumnya, Weng Wan langsung menerima begitu saja cincin penyimpanan yang diberikan oleh Weng Lou padanya. Sementara itu Weng Hua dan Weng Ning diam menatap cincin penyimpanan di tangan mereka yang baru saja Weng Lou berikan pada keduanya.


"Lou...aku rasa ini sedikit berlebihan." Weng Hua mengangkat bicara.


"Aku sudah tidak bisa menerima ini, Lou. Kali ini adalah barang yang kau berikan benar-benar terlalu berharga untuk kau berikan begitu saja pada kami." Weng Ning ikut berbicara.


"Terima saja, kalian memerlukannya."


Pintu kamar Weng Lou terbuka, dan terlihat Lin Mei bersama dengan Man Yue berjalan masuk ke dalam kamar.


Lin Mei memasang senyumnya saat bertatapan dengan Weng Hua dan Weng Ning.


"Darimana saja kalian berdua?" tanya Weng Lou yang terlihat heran dengan kedatangan mereka berdua.


Lin Mei mengalihkan pandangannya pada Weng Lou dan mengembangkan kedua pipinya.


"Kenapa aku harus memberitahu mu? Kau saja pergi entah kemana seharian dan baru pulang malam hari, aku bebas mau kemana saja aku inginkan, benar bukan Yue?"


"Y-Ya..." Man Yue menjawab pertanyaan Lin Mei.


Weng Lou menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kelakukan Lin Mei. Ini kesekian kalinya dia melihatnya bersikap seperti ini.


Dia tidak bisa marah kepadanya karena memang Weng Lou juga salah, seperti yang dikatakan oleh Lin Mei.


**Catatan Penulis:

__ADS_1


Ekspresi Author setelah satu bulan lebih review kontrak karya nggk ada kabarnya sama


sekali:🗿**


__ADS_2