Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 399. Kematian Adalah Hukuman Paling Ringan Bagi Kalian!!!


__ADS_3

Beberapa ratus meter dari lokasi Kastil milik Kelompok Darah.


Terlihat sosok Shan Hu menggelantung di atas pohon lebat. Kesadarannya tampak sedikit kabur selama beberapa detik, sebelum kemudian kesadarannya pulih kembali.


Beberapa saat yang lalu, tepat ketika dia masih berada di atas udara, dan akan segera mendarat, ledakan besar terjadi di halaman kastil milik Kelompok Darah.


Itu adalah Shou, si pria bertubuh kurus yang telah ia lawan hingga membuatnya hampir mati seketika karena serangannya. Ledakan yang ditimbulkan olehnya telah menghancurkan apapun yang berada dalam radius seratus meter di sekitarnya.


Itu termasuk kurang dari setengah bangunan kastil Kelompok Darah, dan juga wilayah Hutan Kabut yang ada di depan bangunan kastil tersebut.


Meski begitu, daya kejut dari ledakan itu tetap masih ada hingga jarak dua ratus meter dari ledakan tersebut.


Tubuh Shan Hu sampai ikut terlempar beberapa puluh meter karena daya kejut dari ledakan itu. Kesadarannya juga ikut terpengaruh karenanya, dan dia pun berakhir tergantung di atas sebuah pohon, seperti seekor monyet yang sedang bergelantungan.


"Uhuk...uhuk...."


Shan Hu terbatuk pelan, dan melihat ada noda darah di tangannya.


Sepertinya daya kejut dari ledakan itu telah ikut melukai organ dalamnya.


Menghela napasnya, Shan Hu pun memilih untuk melihat-lihat sekitarnya yang ternyata berada di dalam Hutan Kabut. Dia bisa tau hal itu karena tempatnya yang sudah tertutupi oleh kabut-kabut putih tipis yang sedikit mengganggu penglihatannya.


"Haa....aku harus kembali, Tuan akan mencariku jika aku tidak berada di kastil itu. Mungkin aku juga bisa mencari beberapa barang jarahan dari kastil kelompok ini," ucap Shan Hu yang kemudian mengeluarkan sebutir pil dari balik bajunya.


Pil ini adalah pemberian dari Weng Lou ketika mereka dalam perjalanan ke Kastil milik Kelompok Darah ini. Pil ini untuk berjaga-jaga jika seandainya mereka berdua terpisah, entah itu disengaja atau tidak nantinya.


Hal ini dikarenakan menurut cerita dari Shan Hu kepada Weng Lou, Shan Hu sedikit kesulitan untuk menyembuhkan dirinya sendiri yang dikarenakan unsur Qi miliknya adalah tanah, yang mana memang merupakan salah satu dari unsur Qi yang buruk dalam menyembuhkan diri pemiliknya.


Sehingga Weng Lou pun memberikannya pil penyembuh agar Shan Hu bisa memulihkan dirinya dengan baik jika tidak bersamanya.


Glek....


Menelan pil itu, Shan Hu pun melompat turun dari pohon tempat ia berada dan memilih untuk duduk bersila di tanah untuk menyerap khasiat dari pil yang ia telan selama kurang lebih dua menit, sebelum kemudian dia memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu, menuju ke kastil milik Kelompok Darah, atau apapun yang tersisa dari nya setelah menerima ledakan bunuh diri dari Shou si pria bertubuh kurus.


Lima ratus meter dari teman Shan Hu berada, terlihat sosok Baohan yang terbarinh diam menatap langit di sebuah tanah lapang yang dikelilingi oleh semak-semak tinggi dan lebat.


Dirinya hanya diam menatapi awan-awan yang terus bergerak tak berhenti. Dia memejamkan matanya dan mengingat baik-baik kejadian yahg terjadi beberapa saat yang lalu.


Pertarungan antara dirinya dan rekannya, Shou melawan Shan Hu benar-benar berakhir dengan kekalahan telak dengan meninggalnya Shou.


Dirinya juga mengalami luka-luka setelah pertarungan itu, meski bukan luka serius, tapi itu adalah luka-luka yang membuat staminanya terkuras habis seiring waktu.


Luka-luka tusuk di beberapa bagian tubuhnya kesulitan untuk ditutup diakibatkan efek dari penyerapan Qi pada duri-duri tanah milik Shan Hu sebelumnya. Memerlukan waktu cukup lama agar proses penyembuhan tumbuhnya giaa kembali normal seperti sedia kala.


"Ini adalah misi yang sia-sia saja..... meskipun kami berdua sudah bekerja sama, tapi Shou tetap juga mati. Aku ini benar-benar tak berguna. Sebentar lagi kapten pasti akan datang setelah menyadari kematian Shou," ucap Baohan yang kemudian menghela napas panjang.


Dia tidak menggerakkan sedikit pun tubuhnya agar darahnya tidak terus mengalir keluar dari bekas-bekas tusukan yang ada di tubuhnya.


"Pria itu.....dia hanya menggunakan kami berdua hanya untuk menguji teknik beladirinya saja. Dia menganggap kami aku dan Shou sebagai bahan latihannya saja....sial..... SIIAALL!!!!

__ADS_1


Ini adalah salahku....seandainya aku sudah serius bertarung sejak awal, tidak akan terjadi seperti ini." Baohan terus berbicara sendiri dan terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang baru saja terjadi.


Memang jika keduanya serius sejak awal, mustahil Shan Hu bisa menang melawan mereka berdua. Bahkan Shan Hu tidak akan bisa melakukan perlawanan berarti jika seandainya mereka sudah serius, dan dapat mengalahkannya dalam beberapa detik saja.


Baohan memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan kemudian mengeluarkan sebuah giok hitam. Dia langsung memecahkannya begitu dia mengeluarkannya.


Setelah memecahkan giok hitam itu, Baohan pun diam berbaring di atas rerumputan dintanah lapang itu, tanpa mempedulikan suara-suara samar yang terus terdengar dari sekitarnya.


***


Di dalam lorong bawah tanah, di waktu yang sama ketika Shan Hu masih bertarung melawan Shou dan Baohan.


Weng Lou yang baru saja menghabisi setengah dari para penjaga yang kabur bersama Sha Shou memperlihatkan tatapan dinginnya kepada para penjaga lain yang tidak terkena tusukan duri-duri Qi miliknya.


"Pemimpin kalian adalah seorang Praktisi Beladiri paling pengecut yang aku tau, dia bahkan tidak segan meninggalkan anak buahnya untuk mati melindunginya." Weng Lou berbicara dengan suara sedikit mengejek.


Para penjaga mengkertakan gigi mereka mendengarkan perkataan dari Weng Lou.


Jika mereka bisa memilih, mereka juga tidak mau mati demi pria segois Sha Shou, tapi mereka mengerti dengan baik bahwa mereka sama sekali tidak akan bisa kabur dari Weng Lou.


Saat ini Weng Lou telah melepaskan batasan kekuatan miliknya, sehingga para penjaga yang ada di lorong itu bisa mengetahui Weng Lou berada di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 puncak, 2 tingkat lebih tinggi dari rata-rata para penjaga yang ada di situ.


Weng Lou tak akan kesulitan membunuh mereka sama sekali.


"Kalian semua.....kalian tau dengan benar sebanyak apa kejahatan yang telah kita lakukan selama ini. Mulai dari pencurian, pembunuhan, bahkan pembantaian, itu semua telah kita lakukan dalam kelompok ini.


Aku bukanlah orang baik, aku mengetahui itu dengan baik. Kalian semua juga, kalian tidak dapat menyangkal itu semua. Mungkin setelah kita mati nanti kita akan menerima hukuman yang diberikan oleh dewa kepada kita atas semua kejahatan yang telah kita lakukan selama ini.


Itu saja permintaan dariku, ini bukan perintah, terserah kalian ingin melakukannya atau tidak. Aku hanya ingin kalian bisa menikmati kehidupan tanpa harus ada darah, tanpa harus ada nyawa yang dikorbankan demi menikmati kehidupan kalian itu."


Kapten yang merupakan pemimpin para penjaga itu berbicara sambil tersenyum kecil kepada para penjaga yang masih hidup bersamanya.


Dia ingin memberikan perintah kepada mereka, tapi sadar bahwa dirinya sudah terlalu banyak memberikan perintah kepada mereka semua, perintah yang selalu melibatkan nyawa seseorang.


Dia bukanlah seorang yang takut kepada Tuhan, atau dewa. Tapi setidaknya dia percaya dengan keberadaan mereka. Dia tidak menyesal telah melakukan banyak kejahatan di kehidupannya ini karena tau bahwa dirinya tidak akan bisa kembali kejalan yang benar.


Tapi berbeda dengan para bawahannya yang bersamanya saat ini.


Dia yang melatih mereka selama ini, sehingga dia tau dengan betul setiap kelebihan dan kekurangan dari mereka semua.


"Kapten, jangan mengatakan sesuatu yang menyedihkan seperti itu. Kita semua akan bertemu lagi nantinya setelah mati sekalipun, jadi tidak perlu ada yang di takutkan." Salah satu penjaga berbicara dan mengkritik perkataan kapten mereka itu.


"Benar kapten, jangan mengatakan seolah-olah kita ini akan berpisah saja."


"Kita adalah kelompok penjahat kapten, sekali penjahat tetap lah penjahat. Itu adalah kita, di kehidupan ini. Maka jika benar ada kehidupan selanjutnya, bagaimana jika kita mencoba mencari kelompok orang baik saja kapten?"


"Hahahaha...dasar bodoh, orang seperti mu bagaimana bisa menjadi orang baik? Yang ada kau malah akan menjadi pembunuh bayaran lagi dikehidupan selanjutnya."


Kapten penjaga itu terdiam mendengarkan tanggapan para bawahannya yang tetap bisa tertawa pada keadaan ini. Dia pun ikut tertawa pelan lalu kemudian menatap ke arah Weng Lou.

__ADS_1


Dia mengangkat senjatanya yang merupakan sepasang pedang di kedua tangannya dan mulai mengalirkan Qi pada keduanya.


"Kalau begitu, mari kita tunjukan kepadanya, bahwa kita, Kelompok Darah, bukanlah orang-orang yang lemah!!" seru kapten penjaga itu.


""SIIIAAPP!!!!!""


Para penjaga menjawab serentak, dan sedetik kemudian mereka semua maju menyerang ke arah Weng Lou meski dalam keadaan desak-desakan.


"Kalian ini hanya penjahat keji, yang telah banyak membunuh banyak orang-orang tak bersalah. Berani mengatakan sesuatu seperti kehidupan selanjutnya? Kalian pasti bercanda. Bahkan aku yang sudah lumayan banyak melakukan kejahatan sekalipun sebenarnya tidak mengharapkan sesuatu seperti itu." Weng Lou mencibir.


Dia telah membaca semua kejahatan yang dilakukan oleh mereka semua, dan menurutnya kematian adalah sesuatu yang bahkan terlalu ringan bagi mereka.


Weng Lou mengangkat tangan kanannya, yang kemudian menciptakan sebuah pedang dari Qi miliknya dan menggenggamnya erat di tangan kanannya itu.


"Kalian ingin ke kehidupan selanjutnya, bukan? Tidak akan kubiarkan kalian mencapainya dengan mudah," ucap Weng Lou yang kemudian melangkahkan kakinya dengan ringan.


Dia tampak seperti berjalan dengan pelan, tapi sebenarnya dirinya bergerak dengan cepat dan lincah ke arah para penjaga yang mengarah ke arahnya.


Shaashh!!!


Srraatt!!!


Pssshh-!! Srringgg-!!!!


"Aahhhh!!!!"


"Aaa!!! Aaa!! Telingaku!!!"


"Hidungku!!!! Aaaghhh!!!"


"A-Aku tidak bisa melihat!!!"


"Tolong!!! Siapa saja!!!! Aku tidak bisa merasakan kaki dan tangan ku sama sekali!!!!"


Dalam satu gerakan cepat, Weng Lou melewati para penjaga yang menyerangnya, dan menebaskan pedang Qi nya pada mereka semua.


Sesuai dengan perkataannya, dia tidak membiarkan mereka semua mati begitu saja.


Dia memotong tangan dan kaki mereka, serta beberapa bagian tubuh mereka yang lain.


Ada yang dia potong kedua daun telinganya, ada juga yang dia potong batang hidungnya, dan ada juga yang dia buat buta kedua matanya.


Yang paling parah adalah si kapten para penjaga, dia dengan rapi memotong rahang bawahnya tanpa membunuhnya sama sekali beserta kedua tangan dan kakinya.


"Aahhhh!!!! BUNUH AKUUU!!!"


"Kumohon!!!! Bunuh saja akuu!!!"


Jeritan dan tatapan menyedihkan dapat terdengar dari mereka semua, terkecuali kapten mereka yang telah Weng Lou Porong rahang bawah mulutnya, yang mana secara otomatis membuatnya tidak bisa berbicara sama sekali sekarang.

__ADS_1


"Sudah kubilang, kalian itu adalah penjahat yang sangat keji. Kematian adalah hukuman paling ringan bagi kalian semua. Apa aku terlihat seperti orang baik bagi kalian? Tidak, aku juga adalah orang jahat seperti kalian, jadi tidak akan kuberikan kalian kematian yang mudah kepada kalian semua."


Selesai mengatakan itu, Weng Lou pun beranjak pergi dari situ dan pergi kembali mengejar sosok Sha Shou yang sudah cukup jauh pergi masuk ke dalam lorong bawah tanah.


__ADS_2