Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 496,5. Mengambil Alih (III)


__ADS_3

"Argh!!"


"Urghh!"


"To-Tolong aku- ARG!"


Dalam sekejap, lebih dari dua ratus prajurit mati begitu saja terkena tusukan pedang Qi milik Weng Lou. Para budak yang menonton hanya bisa menarik napas dingin.


Mereka sama sekali tidak mengenal siapa Weng Lou, namun Weng Lou dengan santainya membantai seluruh prajurit yang telah lama menyiksa mereka di tempat ini. Meski mereka tidak tau apakah akan dibunuh juga nantinya, mereka tetap merasakan kebahagiaan untuk sejenak.


Terjadi keheningan, suasana di Kota 7 yang sebelumnya selalu ramai oleh teriakan, dan suara cambukan, kini telah menjadi kota yang hening.


Weng Lou dalam diam bergerak turun ke arah para budak yang telah berkumpul di tengah kota.


Dia menatap satu persatu para budak itu lalu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Yah...sambil menunggu para budak lain yang bekerja di luar kota bersama beberapa prajurit kembali, kalian semua kumpulkan seluruh tubuh para prajurit yang ada di kota menjadi satu.


Kalian bebas ingin mengambil apapun dari mereka, senjata, harta atau apapun itu. Tapi yang jelas jangan keluar dari kota ini. Jika ada yang berani keluar, aku maka akan kujamin nasibnya sama seperti para prajurit yang telah aku bunuh," jelas Weng Lou yang kemudian pergi kembali ke ruangan dimana Biantai saat ini berada.


Dia melihat Biantai yang saat ini merangkak di lantai dan baru saja akan keluar dari ruangannya.


Tubuhnya terpaku seketika saat melihat sosok Weng Lou, dan dia pun segera mundur dengan tubuh yang bergetar hebat.


"A-Apa lagi yang kau inginkan?! Aku...aku sudah memberikan semua yang aku tau padamu!" serunya yang seperti anak bayi yang merangkak mundur.


Meski kedua tangannya sedang terluka parah, namun dia tetap menggunakannya untuk merangkak menjauhi Weng Lou.


"Apa yang aku inginkan? Tentu saja aku menginginkan nyawamu." Weng Lou tersenyum padanya.


Pisau Pencabut Nyawa melayang di sampingnya, dan berputar-putar perlahan.


"Tapi aku sudah memberikan mu informasi yang kau inginkan! Apa kau ingin mengingkari janji mu?!" Biantai yang telah sampai di ujung ruangannya merengek kepada Weng Lou.


"Janji apa? Aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa aku akan melepaskan mu, bukan? Kau sendiri yang mengatakannya, bukan aku," cibir Weng Lou.

__ADS_1


????!!!


"Kau yang tidak mengatakan apapun sebelumnya, jadi kupikir kau-!!!!"


Belum selesai Biantai bebricara, Pisau Pencabut Nyawa segera melesat dan menembus kepalanya.


Buk....


Tubuh Biantai ambruk ke tanah dengan ekspresi wajah yang masih tidak percaya dengan kematiannya sendiri.


Darahnya pun mengalir keluar, dan menggenang di lantai Hinga menyentuh ujung kaki Weng Lou.


"Kau yakin dengan ini semua? Mengumpulkan terlalu banyak aura membunuh dapat membebani pikiranmu." Ye Lao mendadak bebricara kepada Weng Lou yang berjalan mendekati tubuh Biantai dan berjongkok di depannya.


"Jika teknik yang diketahui olehmu dan guru memang benar kuat dan hebat, maka aura pembunuh dengan jumlah seperti ini tidak akan membebani ku. Yang terpenting, sebelum Zhi Juan bisa merasakan kembali tempat aku berada saat ini, lebih baik memperkuat diriku dengan cara yang telah lama aku siapkan tapi tidak pernah bisa dilakukan sebelumnya." Weng Lou menjawabnya dengan cepat.


"Tapi kita belum tau apakah tubuhmu sudah siap atau belum dengan kekuatan garis darah keturunan milikmu. Cara ini benar-benar beresiko jika dilakukan pada usia mu ini." Qian Yu ikut berbicara.


Yang sedang mereka bicarakan adalah sebuah teknik yang memakai aura membunuh untuk menguraikan segel milik Zhi Juan yang sampai saat ini masih menyegel dengan kuat jantung milik Weng Lou agar kekuatan garis darah keturunannya tidak aktif kecuali dirinya berada dalam bahaya.


Weng Lou membutuhkan teknik ini untuk bisa memakai kekuatan garis darah keturunan nya, sehingga dia bisa belajar menggunakannya, meski sebenarnya Zhi Juan tidak mau Weng Lou sampai memakainya hingga dia memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk memakainya.


"Tenang saja guru, aku akan berhati-hati. Lagi pula, mereka yang aku bunuh tidak memiliki aura membunuh yang banyak. Bahkan jika seribu prajurit kubunuh, itu pasti masih belum cukup untuk menggunakan teknik tersebut."


Saat Weng Lou sibuk berbicara dengan Qian Yu dan Ye Lao, dari gerbang kota, beberapa budak dan prajurit yang sebelumnya keluar untuk menebang kayu kini telah kembali.


Dan ekspresi wajah mereka tampak sangat terkejut saat melihat apa yang terjadi pada Kota 7 yang saat ini dipenuhi dengan tubuh para prajurit yang telah tak bernyawa.


Terlihat beberapa orang yang seharusnya adalah budak sedang sibuk mengumpulkan tubuh-tubuh rekan mereka yang kini telah mati pada satu tempat yang sama, dan melucuti perlengkapan yang ada pada tubuh mereka.


"He-Hei?! Apa yang terjadi?!" ucap salah seorang prajurit dengan suara terkejut.


Tapi belum sempat dia mendapat jawaban, sebuah kapak meluncur ke arahnya, dan menancap tepat di dadanya.


Darah dimuntahkan dari mulut prajurit itu. Dia menatap kapak di dadanya, dan menoleh ke arah seorang pria yang merupakan mantan budak yang diganggu oleh Biantai sebelumnya di tempat pemotongan kayu.

__ADS_1


Buk....


Tubuh prajurit itu terjadi ke tanah dan mati. Melihat temannya yang terbunuh, para prajurit lain pun segera berlari ke arah budak itu dengan senjata yang ada di tangan mereka siap menyerang budak tersebut.


Namun, baru setengah jalan mereka melangkah, puluhan orang yang merupakan mantan budak yang telah bersenjata mengelilingi mereka semua dengan berbagai macam senjata di tangan mereka yang diayun-ayunkan.


"A-Apa yang ingin kalian lakukan?! Kalian itu hanya budak! Ketahui posisi kalian!" seru seorang prajurit.


Shu- TAH!


Sebuah anak panah melesat dan menancap pada kepala prajurit itu, dan dia pun mati seketika.


"Ka-Kalian?! Apa kalian tidak takut dengan hukuman dari kaisar?! Kalian semua akan dihukum mati jika membunuh kami!!"


"Hmp, sebelum dia bisa melakukannya, kami akan lebih dulu memenggal kepalanya."


Dari kerumunan, seorang perempuan berjalan keluar. Dia adalah perempuan yang sama dengan yang digoda oleh Biantai di dapur beberapa waktu yang lalu.


"Bunuh mereka semua," ucap perempuan itu yang kemudian puluhan orang yang mengelilingi beberapa prajurit itu pun segera menyerang mereka dengan brutal menggunakan senjata yang ada di tangan mereka.


Kemarahan, dan dendam semua mereka luapkan. Beberapa detik kemudian, semua prajurit yang tersisa pun telah mati, dan kini semua orang menatap pada satu arah dimana Weng Lou berada saat ini.


"Tuan Putri, sekarang apa yang harus kita lakukan?"


Pria yang sebelumnya melemparkan kapak pada salah satu prajurit berjalan ke arah perempuan itu.


Wajahnya yang ditutup oleh kumis dan jenggotnya membuat dirinya tampak menakutkan.


"Ah, Li Min!" sapa perempuan yang dipanggil sebagai Tuan Putri tersebut.


"Kita tidak boleh bertindak gegabah, orang yang tadi.....kita tidak tau dia rekan atau lawan kita. Aku takut jika kita terlalu mempercayai nya, dia mungkin akan memanfaatkan kita," ucap perempuan itu.


"Anda benar, tapi jika seandainya dia ingin melakukan itu, maka dia tidak perlu banyak usaha untuk melakukannya. Kekuatannya sendiri bahkan cukup untuk menggulingkan Kekaisaran Fanrong ini seorang diri," balas Li Min.


Kekuatan yang ditunjukkan oleh Weng Lou pada mereka semua bukan main-main, dan jelas sekali dia menunjukkannya pada mereka semua pastinya dengan maksud agar mereka tidak mencoba macam-macam dengannya.

__ADS_1


__ADS_2