
Di dalam gua, Weng Lou sudah berjalan kurang lebih setengah jam dan kini dihadapkan dengan sebuah jalan bercabang.
Dahinya mengerut, dengan bantuan Kekuatan Jiwa, dia memindai kedua jalan itu, namun tepat pada satu titik, Kekuatan Jiwa nya langsung dibubarkan, seolah ada pembatas yang membuat Kekuatan Jiwa nya tidak bisa mencapai tempat tersebut. Dan perasaan ini dia rasakan dari kedua jalan, sehingga membuatnya menjadi kebingungan, jalan mana yang harus dia ambil.
"Pada saat seperti ini, jalan mana yang seharusnya ku ambil?" Weng Lou bergumam sambil berpikir sebentar.
Dia ingat kata-kata ayahnya untuk selalu mengambil jalan kanan jika dia tersesat di dalam hutan ketika dia masih kecil.
"Ya, tidak ada salahnya mencoba. Jika jalan yang kuambil buntu, aku tinggal putar balik dan mencoba yang lainnya." Dengan begitu dia mengambil jalan di sebelah kanan, lalu mulai menelusurinya.
Setelah sepuluh menit berjalan, dia sampai di percabangan jalan yang lain. Kali ini Weng Lou tanpa ragu mengambil jalan ke kiri. Berjalan cukup jauh lagi, jalan kembali bercabang dan Weng Lou mengambil jalan ke kanan.
Dia terus berganti mengambil jalur setiap menemui jalan bercabang. Dia tidak tau seberapa lama dirinya telah berjalan, namun dia bisa katakan pada dirinya sendiri bahwa saat ini dia sudah sangat dalam dan arah keluar gua sangat jauh di belakangnya.
Menemui jalur bercabang untuk kesekian kalinya, Weng Lou tanpa ragu mengambil jalan di sebelah kiri.
Kali ini, dia berjalan selama satu jam, namun belum menemukan jalan bercabang yang lain. Pikiran menjadi positif dan dia terus melangkahkan kakinya hingga kemudian, dia sampai di ujung jalan tersebut.
Itu adalah sebuah pintu, sebuah pintu yang terbuat dari dari logam seluruhnya. Sebagai seorang penempa senjata, Weng Lou memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai jenis logam dan percaya diri dengan kemampuannya dalam memindai dan menentukan nama dari sebuah logam.
Namun kemampuannya itu saat ini tidak berguna sama sekali dalam menentukan jenis logam apa yang membuat pintu ini.
Tepat di tengah pintu, terdapat sebuah simbol kunci yang cekung ke dalam pintu. Mata Weng Lou berkedip. Sekilas simbol kunci itu tampak biasa saja, namun setelah semakin lama dia lihat, dia merasakan sensasi aneh yang menariknya untuk menyentuhnya.
__ADS_1
Kali ini dia tidak bisa melawan sensasi tersebut, berbeda dengan semalam. Tubuhnya seperti bergerak dengan sendirinya, dan dia segera menyentuh simbol kunci dengan telapak tangannya.
Seketika itu juga, sebuah cahaya terang keluar dari simbol kunci tersebut, dan pintu logam di hadapan Weng Lou bergetar hebat. Tanah yang dipijaknya berguncang, bahkan tubuhnya ikut bergetar. Cahaya yang keluar dari dalam simbol kunci itu mulai menyelimutinya dan dia merasakan sebuah kekuatan tarikan yang sangat kuat, mencoba menariknya ke suatu tempat yang tidak dia ketahui.
Dalam momen tersebut, sebelum dia benar-benar tertarik masuk sepenuhnya, dia menggunakan momen tersebut untuk melepaskan semua Kekuatan Jiwa di dalam tubuhnya hingga keluar dari gua dan menuju ke luar tebing.
Dengan cepat Kekuatan Jiwa itu meluas ke beberapa kilometer di sekitar pinggiran danau yang menjadi lokasi Weng Lou berada saat ini. Weng Ying Luan dan Lin Bei sedang melesat terbang, ketika kemudian Weng Ying Luan berhenti di tempatnya dan segera menoleh ke belakang.
Kekuatan Jiwa milik Weng Lou menerpanya dan wajahnya segera berubah menjadi buruk. Suara yang dikenalnya mendadak terdengar di dalam kepalanya.
"Luan!!! Kau harus pergi membantu Mei tanpa ku! Jangan menunggu ku kembali! Aku akan berusaha mencari jalan pulang! Kau dengar aku?! Tidak perlu menunggu ku! Pergi saja! Pergi dan bantu Mei menyerang Keluarga Ying! Mereka harus mendapatkan hukuman karena sudah melanggar perjanjian yang dibuat Keluarga Weng!!!! Aku akan-" Sebelum suara itu selesai berbicara, Kekuatan Jiwa milik Weng Lou tiba-tiba lenyap begitu saja.
Wajah Weng Ying Luan segera berkelebat, dan di buru-buru memutar balik ke arah sumber Kekuatan Jiwa Weng Lou terpancar sebelumnya.
Dirinya menemukan sebuah lorong gua yang memili banyak sekali cabang yang terletak beberapa ratus meter di bawah tanah tempatnya berdiri.
Memutar kekuatan ranah Penyatuan Jiwa nya, dia mulai mencari pintu masuk gua dan akhirnya menemukannya di antara tebing yang cukup tersembunyi. Dia agak bingung kenapa tidak bisa menemukan pintu gua dan juga tebing tersebut sebelumnya. Namun karena tidak mau membuang waktu, dia bergegas masuk ke dalam gua.
Dengan kecepatan yang bisa dia pakai di dalam gua, Weng Ying Luan bergerak dan melewati banyak sekali percabangan jalan. Namun hal yang aneh adalah dia tidak perlu kesulitan memindai jalan menggunakan Kekuatan Jiwa atau pun Qi miliknya, tidak seperti Weng Lou yang Kekuatan Jiwa nya terhalang oleh sesuatu yang tidak dia ketahui.
Tak perlu waktu lama untuk Weng Ying Luan akhirnya sampai di lokasi dimana Kekuatan Jiwa Weng Lou sebelumnya terpancarkan.
Namun apa yang didapatkannya adalah jalan buntu. Tidak ada pintu logam seperti yang Weng Lou temukan. Tempat itu benar-benar jalan buntu.
__ADS_1
Akhirnya Weng Ying Luan berhenti di tempat dan mengepalkan tangannya. Dia tidak marah karena gagal menemukan Weng Lou, namun marah karena hal yang lain.
"Kau bodoh! Dasar tak berguna! Kenapa kau harus berkeliaran ke tempat seperti ini ketika aku masih bermeditasi?! Ka-Kau yang mengajak ku untuk pergi membantu Mei, dasar sialan! Argh! Aku tidak tau lagi, pergilah! Jangan kembali! Kau tidak membutuhkan mu!"
Weng Ying Luan mengutuk Weng Lou dengan perasaan frustasi. Akhirnya dia menatap ke arah dinding gua yang mana sebelumnya merupakan lokasi pintu logam berada. Dia bisa merasakan Kekuatan Jiwa Weng Lou bersumber di situ sebelumnya, namun dia telah memindai tanah sejauh beberapa ratus meter di balik di dinding, dan tidak bisa menemukan apapun selain tanah dan batu.
Diam selama beberapa, akhirnya Weng Ying Luan menghela napas panjang. Ini salahnya, tidak seharusnya dia berlama-lama bermeditasi. Jika saja dia merasa puas saat subuh tadi dan tidak menghabiskan semua racun di botolnya, dia tidak perlu membuat Weng Lou berkeliling seperti ini.
"Ck.....kau harus kembali, atau Du Zhe akan merasa sedih. Kau dengar? Aku akan menunggu mu, bahkan jika kami harus kembali ke Pulau Pasir Hitam dan kau belum muncul kembali, aku tetap menunggu, begitu juga yang lainnya." Setelah mengatakan itu, dia pun segera pergi dari gua itu. Lin Bei baru saja tiba ketika dia melihat Weng Ying Luan sudah berbalik untuk pergi.
"Mana dia?! Kenapa tidak ada apa-apa di sini?!" Lin Bei bertanya dengan terkejut.
Sebagai seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa, dia jelas bisa merasakan sumber Kekuatan Jiwa Weng Lou. Namun jumlah Kekuatan Jiwa nya terbatas, sehingga membuatnya agak sulit dalam menentukan tempatnya secara spesifik.
"Dia tidak ada di sini. Ayo kita pergi, dia tidak akan muncul bahkan jika kita menunggunya seperti orang bodoh di sini," balas Weng Ying Luan.
"Apa? Apa kau yakin? Bagaimana jika dia berada dalam bahaya?" tanya Lin Bei dengan nada khawatir. Mau bagaimana pun, dia adalah orang yang ditugaskan untuk mengantarkan Weng Lou dan Weng Ying Luan menuju ke Tembok Abadi milik Keluarga Wang.
Kepala Keluarga Lin sendiri yang memberikannya perintah tersebut. Jika peristiwa ini didengar oleh Lin Nushen, maka dia seratus persen akan mendapatkan hukuman berat dan bahkan mungkin kematian.
Weng Ying Luan mendengus jengkel mendengar pertanyaan Lin Bei. "Bocah itu kuat, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia bisa bertahan hidup dalam segala jenis bahaya apapun. Ayo, tidak perlu membuang-buang waktu di sini. Kota harus secepatnya sampai di Tembok Abadi. Waktu kita telah terbuang banyak di sini."
Dengan begitu dia segera pergi dari tempat itu. Sementara itu, Lin Bei tersenyum pahit di tempatnya.
__ADS_1
"Kaulah yang membuat semua ini terjadi, dasar bodoh!"