
Bersamaan dengan hancurnya Inti Ghoul, semua jejak Ghoul yang Weng Lou lawan sebelumnya kini telah menghilang. Cakar yang menembus dada Weng Lou juga sudah tidak ada lagi dan hanya meninggalkan bekas lubang di dadanya yang mulai menutup secara perlahan.
Energi negatif yang terdapat di sekitar tempat itu diserap oleh tubuh Weng Lou, dan secara samar meningkatkan kekuatannya.
"Garis Darah Ilahi ini memang luar biasa. Karena pecahan fragmen dimensi yang kumiliki adalah kegelapan, segala hal yang mengandung unsur Kegelapan akan diserap oleh tubuhku dan mengubahnya menjadi kekuatan. Pantas saja para Absolute sampai diperintahkan untuk membantai mereka semua sampai hanya tersisa diriku dan adikku saja," gumam Weng Lou yang mengepalkan tangannya dengan keras.
Tapi, perhatiannya lebih berfokus pada Kekuatan Jiwa miliknya yang kini bisa dia manipulasi dengan mudahnya tanpa perlu bersusah payah.
Setelah dia mendapatkan kembali Kekuatan Jiwa nya, Weng Lou bisa kembali merasakan tingkat praktik miliknya, namun sekarang dia hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 awal. Hal ini terjadi karena dia tidak memiliki Qi untuk menjadi penopang Kekuatan Jiwanya yang jumlahnya masih belum seberapa itu.
Namun karena hal tersebut, kecepatan praktiknya akan menjadi lebih cepat dibandingkan yang lain, karena dia bisa menyatukan tubuh dan Kekuatan Jiwanya tanpa dihambat oleh Qi miliknya.
Sementara Weng Lou yang masih berdiam diri di dekat pusat labirin, Patriak Sekte Bambu Giok yang berada di atas langit, menatap dirinya dengan tatapan tajam. Dirinya bisa dengan mudah merasakan lonjakan Kekuatan Jiwa dari dekat pusat labirin, yang mana Weng Lou sedang berada saat ini.
Namun gelombang Kekuatan Jiwa tersebut hanya berlangsung selama beberapa saat, dan segera menghilang seperti tidak pernah ada sebelumnya.
"Wei Lou....sudah kuduga dia pasti memiliki identitas yang lebih rumit dari perkiraan ku," gumam Patriak Sekte Bambu Giok itu.
Dia saat ini memilih tetap diam tanpa memberitahukan kejadian pada Tetua yang lain. Karena hanya berlangsung sebentar, dan terjadi di dalam labirin, hanya Patriak Sekte Bambu Giok yang sedikit lagi naik ke ranah Penguasaan Jiwa saja yang bisa merasakannya.
***
Sementara para anggota Sekte Bambu Giok sedang menonton berlangsung nya Ujian Labirin. Di bawah Gunung Bambu Giok, dua orang berpakaian serba hitam sedang berlutut di hadapan seorang pria yang memancarkan aura pemimpin yang berkarisma dari dirinya.
Kedua orang yang mengenakan pakaian hitam itu tidak berani mengangkat kepala sama sekali, dan menunggu pria di hadapan keduanya untuk mengizinkan mereka berbicara.
"Setelah dua bulan, akhirnya aku menemukan orang itu. Kerja bagus kalian berdua, karena telah menemukannya secepat ini," ucap pria itu dengan nada dingin.
Dia menatap ke puncak gunung, dan tidak menoleh sedikitpun ke arah dua orang di depannya itu.
Chizi Ryuan telah memberikan perintah kepada dua orang ini untuk mencari keberadaan Weng Lou ke seluruh wilayah Kekaisaran Ryuan, namun selama dua bulan, tidak ada hasil yang didapat oleh pencarian mereka
Pada akhirnya, dia harus ikut turun tangan dalam pencarian sebelum akhirnya mereka bisa menemukan keberadaan Weng Lou saat ini. Semua itu berkat informan Kaisar Ryuan yang memberitahukan bahwa terdapat seorang anak laki-laki misterius sebagai murid baru di Sekte Bambu Giok. Murid tersebut secara mengejutkan memiliki kekuatan fisik luar biasa yang mampu menandingi banyak sekali Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa.
Yang lebih hebatnya adalah bagian dimana Weng Lou bisa melakukan semua hal tersebut tanpa Qi sedikitpun karena dirinya sendiri tidak memiliki Dantian di dalam tubuhnya.
Chizi memiliki perasaan bahwa Weng Lou adalah orang yang selama dua bulan ini dia cari-cari. Akhirnya, dia pun berencana untuk melihat sendiri kekuatannya. Jika seandainya Weng Lou bukan orang yang dia cari, dia tetap akan merekrutnya untuk menjadi bawahannya.
Bakat seperti yang Weng Lou sangat amat langkah, dan jika dia bisa membesarkannya menjadi lebih matang, maka dia akan menjadi salah satu senjata besar miliknya.
"Kalian berdua pergi berjaga-jaga di sekitar gunung, aku tidak mau ada mata-mata yang datang ke sini dan mengincar anak itu selain aku. Jika kalian gagal lagi kali ini...."
*Glek!* Kedua orang itu segera mengangguk dan undur diri. Dengan cepat mereka terbang dan berkeliling di kaki gunung, berjaga-jaga dari kedatangan para mata-mata.
Chizi hanya diam melihat itu, dia memejamkan matanya sejenak, sebelum kemudian membukanya kembali dan menatap ke satu arah di bagian puncak gunung. Dia pun memilih untuk melesat terbang ke arah tersebut. Kecepatan terbangnya sangat mengerikan, dan hanya hitungan detik saja dia telah tiba di tempat tujuannya.
Di atas langit, tepatnya beberapa puluh meter dari lokasi Patriak Sekte Bambu Giok berada, sosok Chizi Ryuan berhenti terbang dan menatap ke arah dalam labirin.
Wajahnya menunjukkan senyuman lebar dan mengerikan ketika kedua matanya menatap seperti binatang buas ke arah Weng Lou.
Kedatangan Chizi Ryuan itu terlambat disadari oleh sang Patriak Sekte Bambu Giok. Dia baru menyadari kedatangan orang sekuat Chizi ketika pria tersebut melesat ke tempat Weng Lou berada saat ini.
__ADS_1
*BUMM!!!!*
Sosok Chizi Ryuan mendarat di tanah dengan keras, tepat di hadapan Weng Lou.
Weng Lou yang sedang memfokuskan diri untuk menekan gelombang Kekuatan Jiwa nya, berseru kaget karena terkejut dengan kedatangan Chizi Ryuan. Dia tidak bisa mendeteksi kedatangannya sama sekali, dan baru merasakan sosoknya ketika dia sudah tiba di depannya.
Kedua pedang Weng Lou segera dipegang erat, dia langsung menebas tanpa ragu ke arah Chizi Ryuan berdiri. Dia tidak mengenali pria di depannya sama sekali, tapi yang pasti dia merasakan bahwa akan terjadi bahaya sangat besar jika membiarkan pria ini mulai bergerak.
*Shuuuu-TAP!*
Kedua pedang kembar Weng Lou mendadak terhenti sebelum bisa menebas targetnya. Dua tangan sang Kaisar kini telah menangkap keduanya, dan segera mendorongnya kembali ke arah Weng Lou.
Sensasi seperti di dorong oleh monster raksasa dapat Weng Lou rasakan ketika pria itu mendorong pedangnya. Dia terdorong mundur hampir sepuluh meter sebelum kemudian berhenti.
Kedua mata Weng Lou menatap tajam ke arah Chizi Ryuan, gelombang Kekuatan Jiwa yang sangat besar segera menghampirinya ketika dia menatap kedua mata itu. Tubuhnya linglung sejenak, tapi segera pulih dengan cepat.
"Bagus! Kau jauh lebih hebat dari pemikiran ku! Bakat seperti mu lah yang aku butuhkan untuk menguasai semua bekas Kekaisaran lama!!" Chizi Ryuan berseru bersemangat sambil tersenyum kepada Weng Lou.
Namun senyumannya itu segera menghilang, ketika sosok Patriak Sekte Bambu Giok tiba di depannya dengan raut wajah tidak senang. Terlihat kemarahan di dalam matanya. Sepertinya dia tidak peduli sama sekali apakah pria di depannya ini adalah Kaisar atau bukan.
"Chizi Ryuan!!! Beraninya kau masuk ke dalam sekte ku dan bertindak seenaknya! Apa kau tidak menganggapku sebagai seorang Patriak, huh?!"
Sebuah lapisan Qi dan Kekuatan Jiwa segera menutup sekitar mereka, dan membuat sosok mereka tidak terlihat dari luar.
Chizi Ryuan hanya menatap sang Patriak Sekte Bambu Giok itu sejenak dan mendengus pelan. "Aku tidak peduli dengan hal seperti itu. Aku harus membawa anak ini pergi. Kami memiliki urusan penting yang harus kami bahas, jadi jangan ganggu aku, Kakek Tua. Hush...hussh..."
Urat-urat muncul di kepala sang Patriak, dia mengkertakkan giginya dan mengepalkan tangan dengan keras. Dia kemudian menoleh dan melihat ke arah Weng Lou yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Kondisi Weng Lou saat ini sedikit tidak baik. Kekuatan Jiwa di dalam tubuh nya yang sudah dia sembunyikan sebelumnya, kini mulai merembes keluar dari tubuhnya.
Mungkin ini adalah karma karena dia berbicara kasar kepada Nu Qianren beberapa saat yang lalu. Keringat dingin pun menetes dari dahinya.
Sebuah helaan napas terdengar, Patriak Sekte Bambu Giok kembali menatap ke arah Chizi Ryuan dan dia mendengus.
"Wei Lou adalah murid sekte ku, dia bukan milikmu yang bisa kau bawa seenaknya saja."
"Hm? Kau sepertinya tidak paham dengan kata-kata ku, dia adalah bawahan ku, dan aku harus membawanya kembali!"
Sebuah tekanan keluar besar dikeluarkan oleh Chizi Ryuan dan membuat sang Patriak Sekte Bambu Giok terhuyung selama beberapa saat, sebelum dia kembali memantapkan pijakan kakinya dan mempertahankan diri dari tekanan itu.
"Bawahan? Apakah itu benar, Wei Lou?!" Tatapan mata Patriak Sekte Bambu Giok segera kembali terarah pada Weng Lou, dan dengan cepat Weng Lou menggelengkan kepalanya.
Dia sadar bahwa Patriak tempat dia bersembunyi ini berusaha melindunginya, meski dia sendiri tidak mengerti apa alasannya. Tapi satu-satunya harapan agar dia bisa lolos dari Kaisar Ryuan adalah dengan menaruh seluruh harapannya pada Patriak Sekte Bambu Giok tersebut.
Senyum kecil terlihat di ujung bibir Patriak Sekte Bambu Giok, dan dia segera mengejek Chizi Ryuan yang dengan sombongnya mengatakan Weng Lou adalah bawahannya.
Akhirnya, raut wajah Chizi Ryuan berubah total, dan dia menatap dengan wajah gelap kepada Weng Lou.
"Siapa yang meminta pendapatmu? Kau adalah bawahan ku, dan itu yang akan terjadi. Ku tutup mulut mu dan jangan ikut campur."
"Kergh-! UARGHH!!!"
Weng Lou memuntahkan darah yang sangat banyak dari mulutnya, dan segera berlutut di tanah. Tekanan amat besar menimpa tubuhnya dan seperti sedang menghancurkan organ dalamnya. Baru pertama kali dia merasakan tekanan yang amat besar seperti ini, dia merasa bisa kehilangan kesadarannya kapan saja, jika dirinya kehilangan konsentrasi.
__ADS_1
"Hentikan itu!! Apa kau berniat membunuhnya?!" Patriak Sekte Bambu Giok segera mendekat ke arah Weng Lou dan menyelimutinya dengan Kekuatan Jiwa nya agar tekanan yang dirasakannya berkurang.
Fakta bahwa dia tidak bisa menghilangkan sepenuhnya tekanan itu, membuktikan seberapa kuatnya sang Kaisar Kekaisaran Ryuan tersebut.
"Pa-Patriak....." Weng Lou tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, dia kembali memuntahkan darah dari mulutnya.
Tekanan tadi telah menyebabkan luka cukup serius, dan kecepatan penyembuhan tubuhnya bekerja cukup lambat karena lukanya yang terlalu serius itu.
"Kau diam saja, aku yang akan menyelesaikan ini. Meski aku tidak tau siapa sebenarnya identitas mu, tapi setidaknya aku bisa sedikit lega karena kau bukan bawahan bajingan Kaisar di depan kita ini," ucap Patriak Sekte Bambu Giok.
Sebuah rantai berwarna emas muncul di tangannya. Rantai itu sangat panjang, dan membentuk sebuah gulungan yang sangat besar dan tinggi di sampingnya.
Rantai itu bergerak sendiri dengan pikiran sang Patriak. Rantai tersebut masuk ke dalam tanah, dan menyebabkan getaran hebat pada seluruh labirin diluar mereka. Seluruh dinding labirin mendadak masuk kembali ke dalam tanah, dan membuat para Peserta Tes yang sedang berusaha ke pusat labirin, menghentikan langkah dan memasang wajah keheranan.
"Apa yang terjadi?! Kenapa labirinnya kembali masuk ke tanah?! Ini bahkan belum sepuluh hari sampai ujian berakhir!" seru seorang peserta bertubuh gempal yang merupakan murid yang sempat mengejek Weng Lou sebelum ujian dimulai.
Qianren juga dengan heran menatap sekitarnya, dia mencoba mencari keberadaan Weng Lou namun tidak menemukannya. Entah mengapa hatinya menghiraukan semua perkataan kasar yang telah Weng Lou katakan padanya. Saat ini dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan buru-buru pergi ke tempat dimana seharusnya pusat lebirin berada, meninggalkan seniornya yang masih tak sadarkan diri sendirian. Ujian telah selesai, jadi tidak ada lagi yang perlu dia takutkan.
Reaksi yang sama dialami oleh para penonton ujian. Dari tempat duduk penonton, mereka mulai bertanya-tanya satu sama lain, terutama para Tetua Sekte yang saat ini tidak bisa menemukan keberadaan Patriak mereka.
Tetua Meigui di sisi lain lebih mengkhawatirkan sosok Weng Lou yang juga tidak ada di dalam labirin. Murid barunya itu telah memberikan kesan yang misterius kepadanya selama ini, jadi dia merasa bahwa situasi yang terjadi saat ini pasti berkaitan dengannya.
Ketika dia masih diam di tempat duduknya, sebuah suara yang tidak asing terdengar dari dalam kepalanya.
"Tetua Meigui, aku membutuhkan mu di sini! Kaisar bodoh itu mencoba membawa pergi murid baru mu!"
Butuh beberapa saat sebelum Tetua Meigui menyadari itu adalah suara Patriaknya. Dia pun segera bangkit berdiri dan menoleh ke segala arah, mencari sumber telepati tersebut. Tatapannya kemudian terkunci pada tengah lapangan tempat sebelumnya ujian labirin dilaksanakan.
Dia merasakan Kekuatan Jiwa yang samar-samar tertutupi oleh Qi dari tempat itu.
"Disitu!"
Dengan cepat, Tetua Meigui terbang dari tempatnya duduk saat ini. Dia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke tengah lapangan.
"Chizi! Sialan, apa yang ingin dia lakukan pada Wei Lou?!" Meigui merasa khawatir pada muridnya itu, dan segera menambah kecepatan terbangnya.
Hanya perlu waktu beberapa detik untuk dia terbang dan sampai di tengah lapangan. Suatu kekuatan penghisap segera membawanya masuk ke dalam sebuah pelindung tak terlihat, dan membuatnya bisa melihat keadaan yang sebenernya sedang terjadi.
"Tetua Meigui, untunglah kau bisa datang ke sini dengan cepat," ucap sang Patriak Sekte Bambu Giok dengan suara serak.
Pada saat ini, sekujur tubuhnya telah terluka dan mengeluarkan darah dalam jumlah tidak sedikit. Rantai miliknya telah berserakan di sekitarnya, sementara Chizi Ryuan sedang berdiri dengan acuh tak acuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dasar Kakek Tua menyebalkan, kenapa kau membawanya ke sini?" Chizi Ryuan menyipitkan matanya dan mengalihkan pandangannya pada Meigui yang telah tiba.
Akan tetapi, Meigui justru memberikan seluruh perhatiannya pada sosok Weng Lou yang kini telah terbaring di atas tanah dengan kondisi mengerikan. Tangan dan kakinya patah, dua buah pisau bercahaya emas menusuk kedua bahunya hingga menembus ke tanah, dan membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Lou!" Buru-buru Meigui berlari ke arah Weng Lou. Dengan kedua tangannya, dia mencabut dua pisau bercahaya emas itu dari bahu Weng Lou, lalu segera membantunya untuk duduk.
Wajah Weng Lou pucat pasi, dia kehilangan terlalu banyak darah, regenerasi tubuhnya sangat lambat dan bahkan membuat kedua mata Weng Lou memerah karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Jadi...karma itu benar-benar ada, huh?" umpat Weng Lou dalam hatinya.
__ADS_1