
Weng Lou tetap tersenyum dan mengangguk mendengar namanya disebut oleh Weng Hua.
Tubuh Weng Hua bergetar hebat, dia dengan air matanya yang mengalir berjalan pelan ke arah Weng Lou, lalu memeluknya dengan erat.
Weng Ning tetap berdiri dalam diam, dan menatap wajah Weng Lou dalam-dalam, dia juga ingin memeluk tubuh Weng Lou dengan erat, tanpa ingin melepaskannya sama sekali seperti yang dilakukan oleh Weng Hua saat ini, namun entah kenapa dia sedikit enggan karena melihat Weng Hua.
Akan tetapi, Weng Lou menatapnya dan menunjukkan senyumnya, sebuah senyum yang sudah lama tidak ia lihat. Tanpa ia sadari, kakinya mulai melangkah dan kemudian dirinya pun ikut memeluk tubuh Weng Lou.
Hanya Weng Wan saja yang saat ini masih diam di tempatnya, tak menunjukkan pergerakan sama sekali.
"Kau sialan.....kau sudah mengenali kami semua, tapi kau masih menghajar ku?!"
Weng Wan melompat dan langsung bangkit berdiri. Dia menunjuk wajah Weng Lou dengan raut wajah sangat kesal. Sementara Weng Lou hanya mengangkat bahu melihat ekspresinya itu.
"Kau memukulku dengan menggunakan Qi dan seluruh tenaga mu, tapi aku membalas memukulmu tanpa menggunakan Qi sama sekali, aku bahkan menahan diri dalam bertarung tadi. Sekarang siapa yang menghajar siapa aku tanya?"
Mendengar itu langsung membuat Weng Wan terdiam, itu benar selama pertarungan jika saja Weng Lou sudah serius tidak perlu waktu lama bagi Weng Wan dan yang lain mengaku kalah. Jika saja Weng Lou tidak menahan diri dalam menyerang, mungkin Weng Wan akan berakhir dengan banyak patah tulang hari ini.
"Kau sialan....jadi aku masih sangat jauh untuk mengejar mu, yah?" Weng Wan berbicara dengan suara pasrah.
Dia menghela napasnya, dan duduk di tanah. Tidak ada tenaga lagi yang dimiliki oleh tubuhnya untuk bergerak. Semua itu sudah dia habiskan untuk melakukan permainan bodoh yang dilakukan oleh Weng Lou kepada mereka bertiga.
Dapat dirasakannya memar pada sekujur tubuhnya, berkat dari hantaman dirinya saat menabrak pepohonan.
"Tidak perlu menjadikan diriku sebagai patokan mu, Wan. Kau itu sudah kuat. Jika kau ingin menjadikan seseorang sebagai patokan, maka jadikanlah orang terkuat yang pernah kau temui atau ketahui sebagai patokan mu itu. Dengan begitu kau akan bisa membangkitkan lebih banyak kemampuan terpendam yang ada pada dirimu."
Weng Wan tersenyum mendengarnya, dan tertawa pelan. Weng Lou sebagai patokannya saja dia tidak dapat mengejarnya, bagaimana bisa dia menjadikan orang lain yang jauh lebih kuat sebagai patokannya dalam berlatih?
Siapa orang terkuat yang pernah ia lihat? Itu adalah sosok pria berusia sekitar awal tiga puluhan di istana Keluarga Leluhur Weng.
Dia tidak sengaja melihat sosok itu, namun sekujur tubuhnya langsung menggigil ngeri hanya dengan melihatnya saja, dia yakin bahwa orang itu adalah orang terkuat yang pernah ia lihat dalam hidupnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Weng Hua dan Weng Ning pun melepaskan pelukan mereka dan menatap Weng Lou dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Banyak sekali perubahan pada dirinya, mulai dari tubuhnya yang jauh lebih kekar dari terakhir mereka melihatnya, hingga tingginya yang bahkan sudah jauh lebih tinggi dari mereka bertiga. Wajar jika mereka tidak bisa mengenalinya, terutama wajah Weng Lou saat ini juga tertutupi oleh darah siluman, hal itu yang membuat mereka bertiga semakin tidak mengenalinya.
Tapi satu yang paling membekas di dalam ingatan mereka adalah senyuman dari Weng Lou yang sangat khas, itu adalah sebuah senyum yang hanya jika dilakukannya secara tulus kepada orang yang ia berikan senyum itu.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sekarang menjadi bagian dari Sekte Langit Utara?" tanya Weng Hua sambil mengelap air matanya.
Mendengar itu, Weng Lou pun mulai menceritakan semua yang terjadi setelah mereka bertiga menjadi bagian dari Keluarga Leluhur Weng.
Dia bercerita tentang alasan mengapa dirinya sedang berada di Wilayah Tengah saat ini yaitu menjalankan misi yang diperintahkan oleh Patriak Besar mereka. Dirinya tidak bercerita secara rinci misi seperti apa itu, karena merasa akan berbahaya jika tanpa sengaja Weng Wan dan dua lainnya bercerita kepada murid dari Keluarga Leluhur Weng yang lain.
Setelah bercerita selama beberapa menit, Weng Lou pun berhenti dan melihat reaksi dari ketiganya.
Weng Hua termangu dalam diam dan mencerna semua yang diceritakan oleh Weng Lou kepadanya, begitu pun dengan Weng Ning. Hanya Weng Wan saja yang tampak tidak peduli dengan semua itu.
"Kau mengatakan bahwa kau datang ke sini bersama si sialan itu, jangan bilang orang yang menghentikan serangan gabungan dari rekan-rekan kami adalah-"
Bukannya mendapatkan reaksi terkejut atau kecewa, mereka justru tersenyum lebar.
"Bukankah itu berarti peningkatan kekuatannya tidak terlalu bagus selama ini? Atau kita yang memang terlalu berbakat sampai hampir membalapnya?!" Weng Hua berbicara dengan suara gembira.
Melihat itu Weng Lou pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia yakin Weng Ying Luan tidak suka mendengar hal itu.
"Jangan besar kepala kalian bertiga! Setelah Turnamen Beladiri Bebas nanti, kalian sama sekali tidak akan memiliki harapan untuk bisa membalap ku sama sekali!"
Tiba-tiba dari belakang mereka, sosok Weng Ying Luan, yang berjalan bersama dengan Lin Mei dan Man Yue berseru lantang.
Weng Hua, Weng Ning, dan Weng Wan langsung berbalik dan menatap sosoknya dengan terkejut.
Terpancar jelas dari tubuh Weng Ying Luan, bahwa Qi pada tubuhnya sudah hampir pulih seutuhnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
__ADS_1
"Weng Hua, Weng Wan, Weng Ning, kalian mengenal orang-orang ini?" Tak lama setelah kedatangan Weng Ying Luan dan yang lainnya, Weng Baohu Zhe juga datang bersama dengan murid-murid Keluarga Leluhur Weng yang melawan Weng Ying Luan sebelumnya.
Dia tampak sangat terkejut mengetahui bahwa tiga murid yang bersamanya mengenal Weng Lou dan anggota kelompoknya.
"Ya Tetua, kami mengenalnya. Dia adalah sahabat kami, Weng Lou dan Weng Ying Luan." Weng Hua menjawab pertanyaan dari Weng Baohu Zhe itu dengan cepat.
Sahabat? Bagaimana bisa? Tida, dia bilang siapa namanya? Weng? Mungkinkah mereka berdua ini.....
"Mereka adalah anggota Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih, dan merupakan anggota dari Sekte Langit Utara," sambung Weng Hua seakan tau pemikiran dari Weng Baohu Zhe.
Sekte Langit Utara!!! Pantas saja kekuatan mereka benar-benar jauh dari murid-murid yang aku bawa ini. Hanya anggota Sekte Langit Utara saja yang memiliki murid monster seperti keduanya ini, pikir Weng Baohu Zhe.
Dia kemudian berdeham pelan dan berbicara, "Bisakah aku bertanya kepadamu Weng Ying Luan, kenapa kau berusaha membunuh Weng Tie dan yang lainnya menggunakan serangan mematikan seperti pilar cahaya sebelumnya."
Weng Ying Luan berkedip beberapa kali, dia lupa bahwa dirinya hampir saja membunuh Weng Tie dan murid dari Keluarga Leluhur Weng yang lain menggunakan teknik barunya.
"Ah, Tetua...aku hanya membela diri saja..." Weng Ying Luan menjawab dengan canggung.
"Tetap saja, serangan mu sebelumnya itu benar-benar berniat untuk membunuh mereka semua," bantah Weng Baohu Zhe.
"Lalu bagaimana dengan murid-murid yang bersama denganmu itu? Bukankah mereka sudah lebih dari satu kali berniat membunuh Weng Ying Luan dan teman-temannya?"
Mendadak sosok Jian Qiang muncul tepat di depan Weng Baohu Zhe dan membuatnya terdesak napasnya sendiri.
Yang dia takutkan ternyata benar-benar terjadi... ada orang yang melindungi Weng Lou dan yang lain dari kejauhan, dan itu adalah Jian Qiang.
Weng Baohu Zhe sampai kehabisan kata-kata menatap sosok Jian Qiang di depannya.
Aura yang ia keluarkan sepuluh kali lebih kuat dari miliknya, yang menunjukkan bahwa Jian Qiang berada satu tahap diatasnya, yaitu tahap 3 dalam ranah Penyatuan Jiwa.
Habislah mereka, pikirnya.
__ADS_1