
Keesokan harinya. Siang hari di Kota Tiesha, Weng Lou berjalan sendiri di antara jalanan kota yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang juga orang-orang yang berdagang di pinggir jalan.
Suara orang yang sedang tawar menawar bisa terdengar di mana saja, membuat Weng Lou teringat pada Kota Bintang Putih. Kota kecil itu tidak sebesar dan seramai Kota Tiesha, namun suasananya sama persis seperti di ingatan nya.
"Baiklah, pertama aku harus mencari tempat menjual bahan-bahan mineral. Dari informasi yang kudapat, harusnya toko seperti itu banyak ditemukan di Kota Tiesha dan sulit mengatakan mana yang memiliki harga bagus dengan kualitas terjamin. Ah, kalau begitu aku akan menelusuri satu persatu semua toko di kota ini, daripada mengandalkan omongan orang, lebih baik melihat nya sendiri."
Langkah kaki Weng Lou membawanya menuju ke sudut kota, yaitu pada gerbang depan menuju dermaga. Dia berjalan keluar dari kota setelah memperlihatkan Tablet Identitas nya pada penjaga, lalu pergi ke pasar di dermaga.
Meski di Kota Tiesha ada banyak orang yang berjualan, namun di dermaga ini juga tidak kalah banyaknya. Orang-orang pendatang memanfaatkan dermaga sebagai tempat untuk berjualan karena wilayah di Kota Tiesha yang sudah terlalu ramai dan padat. Akan sulit bagi mereka bersaing dengan para pemilik toko tetap di dalam kota. Lebih mudah membuka warung dalam skala kecil di pasar dermaga.
Para pembeli bisa melihat langsung barang yang dijual sang pedagang, dan bisa dengan mudah melakukan tawar menawar dengan pembeli. Bisa dibilang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.
Keluarga Lin juga mendapatkan uang dari pajak yang ditempatkan di lokasi pasar berdiri, membuat semuanya mendapatkan keuntungan. Hanya saja ada satu masalah serius. Karena pasar ini tidak berada di dalam kota, pengamanannya sangatlah minim dan kerap kali terjadi aksi kejahatan seperti pencurian dan perkelahian sesama pendatang.
"Hei anak muda, apa yang kau cari?" Seorang pedagang yang duduk tendanya menatap Weng Lou yang sedang melihat barang-barang yang ia jajakan di depan tenda.
Itu semua adalah logam-logam langka yang berharga dan kebanyakan adalah bahan pembuatan senjata beladiri. Pedagang itu juga memiliki tubuh kekar berotot, kemungkinan dia adalah pandai besi.
"Aku butuh logam hitam atau sesuatu seperti itu, tapi sepertinya kau hanya memilikinya dalam jumlah kecil," jawab Weng Lou sambil menunjuk beberapa logam berwarna hitam dan disusun berdekatan.
Alis pedagang itu terangkat. Logam hitam adalah sebutan untuk beberapa jenis logam berbeda yang memiliki komposisi dan mengandung energi kegelapan. Biasanya dibuat untuk menjadi senjata dengan kutukan roh jahat di dalamnya. Cukup aneh mendengar anak seperti Weng Lou menginginkan logam seperti itu.
"Jika kau ingin membuat sebuah senjata, harusnya logam-logam di situ sudah lebih dari cukup. Memangnya apa yang mau kau buat? Bahkan sebuah meriam harusnya masih bisa dibuat dengan semua logam kegelapan di situ."
Weng Lou dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak, aku membutuhkannya untuk tambahan bahan penguat di bagian bawah kapal. Aku mendengar logam kegelapan cukup efektif untuk mengusir beberapa binatang buas lautan yang hidup di bagian permukaan laut."
Kali ini ekspresi wajah pedagang itu berubah mendengarkan penjelasan Weng Lou sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak dan menjadi pusat perhatian para pedagang dan orang-orang yang sedang berjalan di sekitar situ.
Dia mengusap wajahnya lalu menatap Weng Lou dengan tatapan tertarik. "Aku tidak tau siapa yang menyarankan mu untuk membeli logam-logam ini, tapi sepertinya kau telah dibodohi. Logam kegelapan memang efektif untuk mengusir beberapa jenis binatang buas lautan, akan tetapi pada saat yang sama logam ini juga menarik perhatian para binatang buas lautan yang tinggal di bagian dalam lautan yang gelap."
"Mereka suka dengan kegelapan, dan menyerap energi kegelapan untuk memperkuat diri mereka. Menaruh logam kegelapan di bawah kapal hanya akan membuat kapalnya terbalik karena dihantam oleh binatang buas lautan seperti mereka. Aku lebih menyarankan untuk mu memakai binatang buas lautan dengan kekuatan yang cukup kuat untuk melarikan diri dari binatang buas lautan dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa," jelasnya pada Weng Lou.
Weng Lou berkedip. Pedagang ini memiliki pengetahuan yang luar biasa dan tidak terpikirkan olehnya. Pantas saja rata-rata kapal pedagang memakai binatang buas lautan untuk menakuti binatang buas lautan yang lain, bukan memakai logam yang mengandung unsur kegelapan.
"Tapi binatang buas lautan tidak akan bisa dipakai untuk perjalanan selama satu bulan penuh, aku benar bukan?"Weng Lou bertanya setelah berpikir sejenak.
Pedagang itu mencibir dan menggelengkan kepalanya pada Weng Lou.
"Orang bodoh macam apa yang akan berlayar sebulan penuh di lautan? Setidaknya mereka harus berlabuh ke daratan sekali dalam sebulan atau jika tidak binatang buas dan para awak akan mati karena kelelahan! Jika kau memang ingin melakukan perjalanan yang jauh, gunakan saja layar-layar besar, mereka akan lebih berguna di lautan luas! Sana pergilah, kupikir aku berbicara dengan seorang anak yang cerdas. Ckckck!"
__ADS_1
Mendengar ucapan pedagang itu, Weng Lou hanya bisa tersenyum pahit. Dia juga belum pernah melakukan pelayaran selama satu bulan penuh, jadi dia tidak tau apapun. Tapi pedagang di depannya ini benar-benar berwawasan luas, jauh lebih luas dibandingkan semua pedagang yang dia kunjungi sejauh ini di Kota Tiesha.
"Hei Paman, kau seperti nya seorang pelaut yang sangat berpengalaman, berapa lama kau telah mengarungi lautan?"
"Hm? Aku? Kurang lebih tiga puluh tahun, aku sudah menjadi pelaut di lautan bebas saat usiaku baru 6 tahun. Meski bukan seorang Praktisi Beladiri, namun aku sangat tau tentang lautan. Bagaimana cuacanya, apakah akan turun badai, anomali aneh yang kerap terjadi, aku tau semuanya. Sekarang pergilah, kau menghalangi orang-orang yang ingin membeli di tempat ku." Pedagang itu pun mengayunkan tangan nya, mengusir Weng Lou seperti dia adalah seekor kucing.
"Ah, bagaimana bisa kau mengusir calon pembeli mu seperti ini?" protes Weng Lou sambil dengan nada main-main.
"Pembeli apanya? Kau hanya bertanya tanpa membeli apapun, dasar bocah nakal!"
Weng Lou pun segera berlari pergi ketika pedagang itu hendak melempar dirinya dengan sebuah bongkahan logam jualannya. Pedagang itu menggeleng heran melihat Weng Lou yang telah pergi, entah bagaimana anak seperti dia malah mendatanginya.
"Ya, padahal sebenarnya tidak ada pembeli lain sih.....tapi jika aku tidak mengusirnya, para pedagang lain malah akan mengira aku tidak ada kerjaan sama sekali." Menghela napasnya, pedagang itu pun menempatkan kembali logam di tangannya lalu kembali duduk dengan tenang di dalam tendanya.
Sementara itu, Weng Lou yang sebelumnya berlari kecil, mulai berjalan biasa setelah meninggalkan tenda pedagang tadi. Dia pun mulai mengunjungi satu persatu para pedagang di tempat itu dan menanyakan mengenai bahan-bahan material yang dia butuhkan.
Membutuhkan waktu tiga jam hanya untuk menanyakan semua yang dia perlukan di pasar dermaga itu dan dia berhasil mendapatkan kisaran harga umum bahan-bahan yang dia butuhkan untuk memperkuat kapal uapnya. Sekarang, dia tinggal mensurvey harga di dalam Kota Tiesha lalu memutuskan akan kembali di mana.
Jika barang yang dia beli ini dalam jumlah kecil, dia mana mungkin mau melakukan pekerjaan yang merepotkan seperti ini. Namun harus membeli dalam jumlah besar, sedikit saja perbedaan harga maka itu akan membuat segalanya menjadi berantakan.
Weng Lou mungkin memiliki kekayaan yang luar biasa setelah mendapatkan harta Chizi Ryuan dan juga hadiah dari Sekte Bambu Giok dan beberapa kelompok lainnya. Tapi perlu diingat, harga di Kota Tiesha sangat jauh berbeda dengan harga di Pulau Fenshu, Kepulauan Huwa, atau bahkan Pulau Pasir Hitam.
Jika sebuah bakpao daging biasa di Pulau Pasir Hitam seharga 10 koin perunggu, maka di Kota Tiesha harganya bisa mencapai 1 koin perak atau bahkan lebih. Nilai mata uang di sini sangat rendah, sampai-sampai sebuah baju kusam akan dihargai seratus koin perunggu.
"Ck! Setidaknya aku akan membutuhkan uang yang sangat banyak hanya untuk memperkuat bagian bawah kapal, belum lagi bagian dek, kabin, dan juga mesin kapal. Ah, sialan. Sepertinya aku harus memikirkan cara mencari uang nantinya. Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan ini semua."
Tanpa terjadi masalah apapun, Weng Lou kembali ke Kota Tiesha dan mulai memeriksa setiap toko yang menjual bahan-bahan material. Dia hanya perlu memeriksa sepuluh toko, sebelum kemudian mengetahui bahwa memang harga di tiap toko di dalam kota sangat bervariasi dan dia tidak akan bisa memutuskan membeli dimana jika tidak memeriksakan semuanya.
"Haaah....ini akan melelahkan."
Luas Kota Tiesha bisa dibilang puluhan kali lebih besar dari Kota Bintang Putih. Hanya mengelilingi bagian luar kota saja sudah akan membuat seseorang merasa kelelahan, apalagi harus berkeliling ke segala sudut kota.
Tanpa mempedulikan teriknya matahari di langit, Weng Lou berjalan ke satu toko ke toko yang lain. Dia melakukan ini semua demi bisa menghemat uangnya. Mencari uang di kota besar seperti Kota Tiesha pasti cukup merepotkan, pikirnya.
***
Keluarga Lin di Daratan Utama memiliki kesamaan dengan Keluarga Lin di Pulau Pasir Hitam, mereka sama-sama merupakan keluarga yang mewarisi Kekuatan Garis Darah Keturunan seekor Phoenix.
Posisi para anggota keluarga Keluarga Lin ditetapkan berdasarkan kemurnian garis darah Phoenix yang mengalir di dalam tubuh mereka. Semakin murni garis darahnya, maka semakin tinggi juga pangkat atau posisi yang dimiliki.
__ADS_1
Akan tetapi, secara aneh perempuan dari Keluarga Lin memiliki garis darah Phoenix yang lebih murni dibandingkan rata-rata laki-laki nya. Di keluarga inti yang memang memiliki garis darah jauh lebih murni dari keluarga bagian luar juga berlaku hal ini, sehingga pemimpin Keluarga Lin adalah seorang perempuan
Nasib laki-laki di Keluarga Lin bisa dibilang cukup mengenaskan karena merekalah yang harus mengerjakan semua pekerjaan keluarga, sedangkan wanitanya diprioritaskan untuk hanya memurnikan garis darah Phoenix mereka juga meningkatkan tingkat praktik mereka.
Nasib ini juga dialami oleh Lin Bei, seorang pemuda dari Keluarga Lin yang sebenarnya merupakan bagian dari keluarga dalam. Hanya karena dia laki-laki, dia selalu diperintahkan untuk pergi melakukan pekerjaan keluarga yang dia emban, yakni pemimpin Pasukan Pengejar yang adalah pasukan khusus Keluarga Lin.
Saat ini dia ditugaskan di Kota Tiesha untuk mencari jejak seorang pengkhianat di keluarga mereka. Menurut informasi yang dia dapat, pengkhianat ini membawa kabur sebuah benda berharga milik keluarga mereka yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur mereka hingga sekarang.
Ada kemungkinan pengkhianat tersebut hendak kabur menaiki kapal di dermaga Kota Tiesha, namun sampai sekarang Lin Bei dan anggota kelompoknya yang semuanya adalah laki-laki tidak menemukan apapun mengenai tanda-tanda sang pengkhianat.
"Kemungkinan dia telah berhasil kabur menaiki sebuah kapal, Kapten. Informasi tentang dia yang kita dapat dari mata-mata kita, dia ada di kota ini empat hari yang lalu. Banyak yang bisa terjadi dan empat hari, mustahil dia akan diam di kota ini sampai kita datang dan menangkapnya." Seorang pria yang mengenakan pakaian kulit berwarna kemerahan gelap berbicara dengan hormat pada sosok pemuda di depannya.
Lin Bei mengkertakkan giginya. Para Tetua keluarga nya pasti akan memarahinya karena hal ini jika memang pengkhianat itu sudah kabur sebelum mereka sempat datang ke kota ini.
*Prak!* Dia menendang dengan keras pembatas dermaga yang terbuat dari batuan yang sangat keras. Pembatas itu langsung hancur berkeping-keping, dan bongkahannya berjatuhan ke laut. Para pekerja yang ada di sekitar situ segera menjauhi mereka, takut kalau-kalau mereka yang menjadi bahan pelampiasan amarah selanjutnya.
Menghela napas. Lin Bei pun menatap sejenak anggota pasukannya yang berdiri dengan gagah di belakangnya.
"Ayo kembali ke kota, misi ini sudah bukan bagian dari tugas kita lagi. Aku akan memberitahukan perwakilan Tetua di kota, kalian beristirahat saja, aku yang bertanggung jawab," ucap Lin Bei pada mereka semua.
Meski umurnya masih dua puluh tahun dan merupakan yang termuda dari semua anggota Pasukan Pengejar, namun Lin Bei adalah pemimpin terbaik yang pernah dimiliki oleh pasukan itu. Di usianya yang sangat muda, dia memiliki kekuatan untuk berdiri kokoh, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pasukannya.
Hal ini membuat semua anggotanya sangat menyukainya dan menghormatinya lebih dari para Tetua di keluarga mereka.
"Ayo, cepat pergi! Apa yang kalian tunggu?! Dasar sialan, cepat pergi cari penginapan! Akan ku gantung terbalik kalian jika malam ini kita harus tidur di bar!"
Melihat para anggota pasukannya yang seperti akan menangis itu, membuat Lin Bei menjadi kesal dan dia pun membentak mereka semua. Akhirnya mereka pun segera pergi dari situ, sementara Lin Bei masih diam berdiri di pinggir dermaga menatap laut biru dan burung-burung yang berterbangan menangkap ikan.
"Haaah.... pengkhianat itu, dia membuat aku berada dalam masalah serius," ucap Lin Bei sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam kota.
Satu jam kemudian, di lokasi yang sama di dermaga. Lin Bei kembali, dan dengan wajah yang tampak datar tanpa ekspresi.
Dia menarik napas dalam, lalu kemudian dengan kencang berteriak ke laut. Burung-burung yang bertengger di kapal langsung berterbangan karena kaget, para pekerja dan bahkan pengunjung yang baru turun dari kapal sampai melompat kaget mendengar teriakannya.
"HAAAAH!!!!! DASAR KELUARGA SIALAN!!!! PEREMPUAN-PEREMPUAN TERKUTUK!!!!! KENAPA AKU YANG KALIAN SALAHKAN???!!!!! KENAPA?!!! JIKA KALIAN MENJAGA BAIK-BAIK HARTA ITU, MANA MUNGKIN BISA DICURI!!!! BAJINGAAANNN!!!! KALIAN MALAH MEMBERIKAN AKU HUKUMAN, PADAHAL KALIAN YANG SALAH, APA-APAAN?! MATI SAJA KALIAN SEMUA!!!!"
Lin Bei membuang semua rasa kesalnya selama kurang lebih lima menit, sampai akhirnya dia berhenti berteriak dan menatap ke arah langit. Terlihat langit yang gelap dan berwarna abu-abu karena abu vulkanik panas dari gunung di dekat kota. Seringkali gunung itu meletus dalam skala kecil dan memuntahkan abu vulkanik seperti saat ini.
Setelah menghabiskan beberapa menit lainnya menatap langit, Lin Bei pun sekali lagi masuk ke kota.
__ADS_1
Tapi kali ini dia tidak akan kembali ke tempat para pasukannya, melainkan pergi ke suatu tempat yang bisa menjadi tempat dimana dia melepaskan kemarahannya sepuas hatinya. Dia tau tempat apa yang sangat cocok untuk itu.
Arena Pertarungan.