
Di pertigaan jalan di luar Hutan Kabut, Weng Lou dan Weng Ying Luan telah selesai menghabisi semua siluman serigala yang menyerang ketiganya namun mereka berdua masih terus berlatih.
Tubuh semua siluman memenuhi seluruh jalanan. Warna hijau rerumputan kini tergantikan dengan merah darah.
Terlihat beberapa burung raksasa berterbangan di atas langit, mengincar tubuh-tubuh siluman serigala itu begitu Weng Lou dan Weng Ying Luan lengah.
Saat ini kekuatan Weng Lou telah mencapai ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 puncak dan sedikit lagi mencapai tahap tujuh, sedangkan Weng Ying Luan sudah berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 awal.
Mereka berdua tampak tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam beberapa waktu kedepan.
Sementara itu, di atas langit Hutan Kabut.
Alis Jian Qiang mengerut melihat beberapa tubuh binatang buas yang sudah tak bernyawa. Dari yang ia lihat, binatang-binatang mati terkena serangan fisik murni tanpa ada Qi atau tenaga dalam pun yang terpancarkan dari tubuh mereka.
Menoleh ke satu arah, dia kemudian menelusuri jalan, dan melihat sebelas orang yang sedang berjalan keluar dari Hutan Kabut, menuju ke arah tempat Weng Lou dan Weng Ying Luan berada saat ini.
Dia bisa merasakan bahwa salah satu dari mereka berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap dua, yang berarti hanya satu tahap dibawahnya saja.
"Sepuluh anak-anak itu dan juga pria yang bersama mereka.....pakaian mereka memakai lambang yang sama....lambang itu sedikit tidak asing...." gumam Jian Qiang yang kemudian terbang lebih tinggi agar keberadaan nya tidak diketahui oleh mereka.
Menatap mereka selama beberapa saat, dia pun memilih untuk kembali ke lokasi dimana Weng Lou dan Weng Ying Luan berada.
Dia tidak terlalu mengenal orang-orang ini, jika seandainya kelompok mereka mendadak menyerang Weng Lou dan Weng Ying Luan, maka dia harus ada di sana untuk menahan mereka.
Kondisi Weng Lou dan Weng Ying Luan saat ini sangatlah rentan terhadap serangan karena harus bisa fokus meningkatkan tingkat praktik mereka.
***
Di penginapan.
Lin Mei dan Man Yue yang merasa cukup beristirahat memilih untuk keluar dari penginapan dan berjalan jalan di sekitar desa.
Rencananya mereka berdua ingin mencari keberadaan dari Weng Lou dan Weng Ying Luan, akan tetapi mereka tidak berhasil menemukan keduanya di mana pun, meski sudah mencari selama beberapa menit.
"Apa kau yakin mereka hanya berkeliling desa?" tanya Man Yue kepada Lin Mei.
__ADS_1
"Tentu saja, dua idiot itu berbicara dengan suara keras, hanya orang tuli yang tidak mendengar suara nyaring mereka berdua," ucap Lin Mei.
Man Yue tidak mendengar Weng Lou dan Weng Ying Luan karena dia sebelumnya sedang tidur. Dia ingin meluruskan badannya setelah tidur di tanah berbatu.
Keduanya terus menelusuri seluruh desa, hingga keduanya sampai di tempat dimana Weng Lou dan Weng Ying Luan sebelumnya dikepung oleh puluhan siluman serigala.
"Ini adalah jejak kaki mereka berdua.......tapi jejak kaki yang lain...."
"Jejak kaki serigala."
Memeriksa sekitar, mereka pun menemukan tubuh yang juga ditemukan oleh Weng Lou dan Weng Ying Luan sebelumnya. Mereka mengerutkan dahi, lalu melihat kebarah mana jejak kaki serigala itu mengarah.
"Apa kita ikuti saja?" tanya Man Yue.
"Hmmmm.....ayo. Keduanya pasti sedang dalam masalah besar. Mereka berdua itu selalu ceroboh dalam setiap hal," ucap Lin Mei.
Mereka pun pergi mengikuti arah jejak kaki serigala yang ada di tanah, hingga mereka pun sampai di dekat pertigaan jalan dan menghentikan langkah kaki mereka.
Wajah mereka berdua tampak sangat terkejut menyaksikan hal yang ada di depan mereka.
Tepat di pertigaan jalan, terlihat sosok Weng Lou dan Weng Ying Luan sedang duduk bersila di tanah sambil memejamkan mata mereka.
Lin Mei tampak bimbang sejenak, apakah dia harus pergi ke tempat mereka berdua, atau diam saja di tempatnya.
Ketika dirinya masih berpikir apa yang harus dilakukan, sosok Man Yue yang ada di sampingnya sudah lebih dulu melesat ke arah Weng Lou dan Weng Ying Luan berada.
Lin Mei terkejut melihatnya, dan tanpa pikir panjang langsung buru-buru mengikutinya dari belakang.
Begitu Man Yue dan dirinya sampai, Weng Lou dan Weng Ying Luan selesai menyerap energi yang dilepaskan oleh Kitab Keabadian dan membuka kedua mata mereka.
Sosok Lin Mei dan Man Yue tepat berada di depan mereka, dan membuat keduanya keheranan.
"Kalian berdua? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Weng Lou dengan suara heran
"Hm? Kami di sini karena mencari kalian berdua, bodoh! Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa banyak sekali darah dimana-mana?" Lin Mei balas bertanya kepada Weng Lou.
__ADS_1
Weng Lou tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Di sisi lain, Weng Ying Luan sendiri sedang termenung dan memeriksa kekuatannya saat ini.
Biasanya jika dirinya memakai pil atau obat-obatan untuk meningkatkan tingkat praktiknya, kekuatan miliknya akan sedikit tidak stabil, dan butuh waktu beberapa menit atau jam sebelum akhirnya bisa stabil. Tapi pada saat ini, kekuatan miliknya sangat stabil dan tidak ada gejolak sama sekali dari dalam tubuhnya.
Ini benar-benar jauh berbeda dengan dirinya ketika memakai pil. Dia masih bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Weng Lou sebelumnya sehingga bisa membuat dirinya naik tingkat dengan mudah dan sangat aman seperti ini.
"*Hei, bocah. Kekuatan ku ketika masuk kedalam tubuhmu sekarang maksimal berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1. Aku kemungkinan maksimal bisa bertarung melawan mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 awal.
Aku sarankan kau jangan meningkatkan tingkat praktik mu dalam satu minggu ini. Peningkatan yang berlebihan selalu akan berakhir buruk, meski tidak menunjukkan tanda-tanda di awal*." Ye Lao berbicara kepada Weng Lou di dalam kepalanya.
Dia dalam satu minggu ini telah melihat perkembangan kekuatan Weng Lou, dan jika dilihat-lihat, itu memang benar-benat luar biasa.
Namun meski begitu, dia tau jika tingkat praktik seseorang ditingkatkan dengan sangat cepat, maka itu tidak akan pernah berakhir baik.
Dantian miliknya bisa saja rusak atau hancur karena terlalu berlebihan dalam peningkatan tingkat praktiknya.
"*Oh ya, benar. Aku perlu memberitahumu, kekuatan untuk menyerap serangan dan mengubahnya untuk meningkatkan tingkat praktik susah bisa kau pakai secara terus menerus dengan batas besar serangan ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 puncak.
Lebih dari itu, maka serangan yang kau terima tidak akan terserap, dan malah akan melukaimu. Ini baru kusadari ketika kekuatan Kitab Keabadian bertambah setelah menyerap banyak tubuh siluman serigala*," jelas Ye Lao.
"Benarkah? Itu luar biasa! Ngomong-ngomong.. tubuh siluman yang tersisa ini.....apa yang harus kita lakukan dengan mereka?" Weng Lou bertanya kepada Ye Lao.
"Bawa saja semua itu ke Kota Hundan, dan jual di sana lalu beli lah lebih banyak logam berharga, Pedang Naga Malam juga harus ditingkatkan kualitasnya. Terlebih kau sudah akan naik ke ranah Penyatuan Jiwa tak lama lagi." Qian Yu yang sedari tadi diam mendadak ikut berbicara.
"Kau akan membutuh Pedang Naga Malam nantinya di Turnamen Beladiri Bebas. Anggap saja sebagai kartu rahasia mu," lanjut Qian Yu.
Weng Lou yang mendengar itu pun mengangguk. Dia setuju akan hal itu. Kekuatan dari Pedang Naga Malam tidak bisa ia pungkiri sama sekali, dan memang benar kekuatannya sangatlah dia butuhkan dalam Turnamen Beladiri Bebas.
Ketika masih berdiskusi dengan Ye Lao dan Qian Yu di dalam pikirannya.
Kelompok Weng Wan keluar dari Hutan Kabut dan tiba di pertigaan jalan dimana Weng Lou dan yang lainnya berada saat ini.
"Apa yang terjadi di sini?!?!" salah seorang murid dari Keluarga Leluhur Weng berseru kaget menyaksikan daratan yang dipenuhi dengan darah dan membuat Weng Lou dan yang lainnya menyadari kedatangan mereka.
__ADS_1