
Tepat ketika Weng Lou menutup matanya dan melakukan semedi, sosok lainnya berjalan masuk ke ruangan dimana mereka berada.
Sosok itu adalah seorang pemuda yang tidak lain adalah Wudi Ge.
Kehadirannya menarik perhatian banyak peserta kecuali Weng Lou. Yang Guang yang bergabung untuk duduk dengan kelompok Weng Lou menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Wudi Ge, begitu juga dengan Wudi Ge yang balik menatapnya.
Tidak ada hawa permusuhan dari keduanya, hanya ada hawa santai seperti tidak ada yang akan terjadi sama sekali.
"Hei, aku melihat kalian berdua kemarin, apakah kalian berteman?" tanya Weng Ying Luan yang duduk di dekat Yang Guang.
Yang Guang diam selama beberapa saat sebelum mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Weng Ying Luan.
"Bisa dibilang seperti itu, tapi kami jarang berinteraksi satu sama lain karena jarak tempat tinggal kami sangatlah jauh. Mungkin kami saling bertemu hanya ketika ada sebuah acara besar seperti Turnamen Beladiri Bebas ini."
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?"
"Entahlah.... kami tidak berkenalan dengan cara baik-baik waktu itu. Pertama kali saling bertemu, aku sedang menjalankan misi di dekat perbatasan Wilayah Tengah dengan Utara. Wudi Ge saat itu sedang berburu seekor binatang yang menurut ku keberadaannya sama sekali tidak ada, namun Wudi Ge terus mengatakan bahwa binatang yang ia cari itu ada. Kami berdua pun akhirnya bertarung satu sama lain dan berakhir dengan seri.
Semenjak kejadian itu, kami berdua sering bertemu setiap kali aku menjalankan misi di wilayah perbatasan. Pada mulanya kami hanya bertarung, tapi lama kelamaan kami akhirnya berteman tanpa kami menyadarinya," jelas Yang Guang yang tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
Weng Ying Luan yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-ngangguk kan kepalanya.
"Memangnya binatang apa yang dia cari?" tanya Ying Luan kembali.
Yang Guang terkekeh pelan, lalu menoleh menatap Wudi Ge yang saat ini sedang melakukan meditasi.
"Kau tidak akan percaya, dia pergi ke perbatasan Wilayah Utara dengan Tengah hanya untuk mencari binatang yang sudah jelas sekali tidak ada lagi di dunia ini..."
"Apa itu? Cepat beritahu aku!"
"Hehe.....apa yang dicari Wudi Ge adalah binatang buas yang pernah menduduki rantai puncak makanan, yaitu leluhur Wudi Ge sendiri, Harimau Petir."
"Binatang buas itu masih ada?!"
"Kau bodoh yah? Kan sudah aku bilang binatang itu sudah tidak ada lagi di dunia ini! Harimau Petir sudah lebih beratus-ratus tahun punah dari dunia ini. Kalau pun masih ada, mustahil ada di perbatasan Wilayah Utara dengan Tengah."
"Memangnya kenapa?"
"Perbatasan Wilayah Utara dengan Tengah itu adalah wilayah paling berbahaya di seluruh tempat yang ada di Pulau Pasir Hitam. Tempat tersebut pernah pernah menjadi wilayah pertarungan dua Praktisi Beladiri yang melegenda yang berada di ranah Penguasaan Jiwa, tepatnya pada tahap Kaisar Jiwa.
Mereka adalah Kaisar Racun, Xie Xiang, dan Kaisar Kehancuran, Weng Lou. Keduanya memiliki kekuatan yang sama-sama mampu untuk menghancurkan sebuah kerajaan atau kekaisaran seorang diri.
__ADS_1
Terlebih lagi, mereka berdua sama-sama tidak berasal dari Pulau Pasir Hitam ini. Namun entah mengapa mereka malah bertarung di pulau ini. Karena kekuatan mereka yang amat besar, perbatasan Wilayah Utara dengan Tengah menjadi daratan yang sangat tandus. Terdapat banyak jurang yang ada di tempat itu, serta tanahnya mengandung racun.
Bahkan udara yang ada di sana juga beracun. Itu sebabnya tidak ada rute perdagangan atau perjalanan antara Wilayah Tengah dengan Wilayah Utara. Orang-orang harus memutar dari Wilayah Utara ke Wilayah Timur, atau barat terlebih dahulu untuk bisa ke Wilayah Tengah.
Namun tidak sedikit juga ada orang yang memaksa untuk lewat tempat itu meski sangat berbahaya. Beberapa Praktisi Beladiri hebat menciptakan alat berupa penutup wajah yang mempu menetralisir racun yang ada di sana."
"Lalu? Apa hubungannya dengan tidak mungkin Harimau Petir ada di tempat itu?"
"Argh! Kau ini bodoh atau apa? Jika tempat itu saja sangat beracun, bagaimana bisa ada hewan atau binatang buas yang tinggal di situ? pakai sedikit otak mu!" Yang Guang mulai tampak kesal dengan pertanyaan Weng Ying Luan.
Padahal mereka baru saja akrab, tapi dia sudah bertingkah seperti ini.
"Hmmm......jika dipikir-pikir, masuk akal juga." Weng Ying Luan akhirnya paham.
"Sial, bagaimana bisa teman-teman mu ini tetap bersama mu meski sikapmu seperti ini?"
***
Sementara Weng Lou dan kesembilan belas peserta lainnya menunggu waktu Turnamen Beladiri Bebas, babak semifinal dimulai, sosok Zu Zhang muncul di tengah-tengah lapangan arena dimana dirinya terlihat melayang di udara sama seperti kemarin.
Kemunculan sosoknya langsung menarik perhatian para penonton yang ada.
Suasana ricuh di tempat duduk penonton mendadak menghilang dan tak terdengar lagi suara satu orang pun.
Zu Zhang tetap diam di atas udara, sambil menatap para penonton yang ada. Dia memasang senyumnya dan mengangguk-angguk, melihat betapa banyaknya jumlah penonton yang ada.
Pada saat ini, jumlah penonton yang telah ada sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kemarin.
Hal ini terjadi karena kebanyakan penonton memang lebih memilih untuk menonton di babak semifinal, dimana pertarungan sebenarnya akan berlangsung.
Bahkan sebenarnya, banyak yang telah datang ke Kota Hundan sejak beberapa hari yang lalu, namun tidak datang untuk menonton turnamen kemarin, dan baru menonton nya hari ini.
"Para penonton semuanya!!!! Aku senang sekali melihat semangat kalian pagi hari ini!!!!" Zu Zhang berseru dengan suara lantang dan terdengar di seluruh Bangunan Arena Pertandingan, bahkan hingga ke luar bangunan.
"Pagi hari ini, kita akan melanjutkan Turnamen Beladiri Bebas, yaitu babak semifinal!!! Banyak dari kalian yang sudah rela datang pagi-pagi sekali hanya untuk mendapatkan tempat duduk dan bisa menonton pertarungan hari ini. Aku benar-benar tersentuh oleh rasa semangat kalian!!!
Oleh karena itu, tanpa perlu berlama-lama lagi, biar aku panggilkan para peserta yang telah berhasil lolos di babak seleksi kemarin!! Inilah mereka, kedua puluh peserta yang akan bertarung di babak semifinal hari ini!!!"
Tepat setelah Zu Zhang menyerukan hal itu, pintu pada dinding lapangan arena terbuka, dan tak lama keluar para peserta yang sebelumnya sedang berada di ruang tunggu.
Terlihat kelompok Weng Lou, Wudi Ge, Weng Baohu Zhe, dan para peserta lainnya yang berjalan menuju ke tengah lapangan, dimana Zu Zhang berada.
__ADS_1
"Wow, mereka jauh lebih banyak dari pada kemarin," ucap Weng Hua yang menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat para penonton yang ada.
"Kau benar. Aku penasaran dimana Pang Baicha dan pak tua itu duduk." Lin Mei berkata dengan penasaran.
Sementara Weng Lou dan pada peserta berjalan ke tengah lapangan, para penonton mulai menyoraki mereka satu persatu, meskipun sebenarnya yang mereka soraki hanyalah yang mereka kenali saja.
Dan tentu saja, kelompok Weng Lou tidak termasuk dalam daftar orang yang mereka kenali.
"Hei, lihat! Itu Saudara Wan!"
Pada salah satu tempat duduk, seorang gadis yang merupakan murid dari Keluarga Leluhur Weng berseru sambil menunjuk ke lapangan arena.
Di sampingnya, murid-murid dari Keluarga Leluhur Weng yang lain ikut melihat kemana gadis itu menunjuk dan benar terlihat sosok Weng Wan yang bersama kelompok Weng Lou.
"Itu Saudari Ning dan Saudari Hua! Lihat-lihat! Mereka tampak sangat cantik hari ini!!" Salah satu murid laki-laki ikut berseru sambil menunjuk Weng Hua dan Weng Ning.
Rasa antusiasme mereka benar-benar memuncak, dan pada saat ini mereka benar-benar tak sabar untuk melihat pertarungan yang sebentar lagi dimulai.
Meski begitu, sayangnya mereka lupa akan orang yang seharusnya mereka dukung dan soraki. Ya, orang itu adalah Weng Baohu Zhe yang telah menjaga dan melindungi mereka selama ini.
Sayang sekali mereka malah melupakan jasanya pada saat-saat seperti ini.
Kembali di atas lapangan arena dimana Zu Zhang berada.
Dia tampak dengan senyum lebar melihat kedua puluh orang peserta yang sedang berjalan ke arahnya.
Tidak perlu waktu lama untuk mereka semua sampai di bawahnya dan berbaris rapi. Zu Zhang pun turun dari udara dan berdiri tepat di hadapan mereka semua.
"Kalian semua! Aku senang sekali melihat kalian semua bisa bertahan menjaga benda pemberian ku selama satu malam! Sekarang, kembalikan padaku gelang yang aku berikan kemarin!
Sesuai dengan yang aku katakan, hanya yang mampu menjaganya saja yang akan bisa mengikuti babak semifinal hari ini!!!" seru Zu Zhang dengan senyum penuh makna nya.
Dia menyodorkan tangannya ke depan, dan meminta gelang yang ia maksud pada salah satu peserta yang ada di depannya.
Peserta tersebut merobek pakaian yang ia kenakan, dan kemudian mengeluarkan sebuah gelang dengan kristal biru sebagai hiasannya dari balik bajunya yang telah di satukan dengan rapi.
Melihat itu Zu Zhang pun tertawa pelan, cara yang dipakai oleh peserta ini cukup bagus menurut nya. Tidak ada yang akan menduga jika dia menyatukan gelang dan bajunya.
Para peserta turnamen lainnya pun segera mengeluarkan gelang kristal biru yang diberikan oleh Zu Zhang kemarin pada mereka semua. Satu persatu gelang tersebut terkumpul di atas tangan Zu Zhang, hingga peserta terakhir menyerahkan gelangnya.
"Hahaha....tidak disangka kalian semua sanggup mempertahankan nya, benar-benar luar biasa!!"
__ADS_1
Zu Zhang memasukkan semua gelang di tangannya itu di balik bajunya, lalu kembali melayang naik ke udara.
"Baiklah para penonton sekalian, maaf sudah membuat kalian menunggu! Sekarang babak semifinal resmi dimulai!!!"