
Ekspresi Lin Nushen tidak berubah sedikitpun setelah mendengarkan laporan pria itu.
Makhluk raksasa menyerupai manusia tanpa wajah yang diceritakan pria tersebut belum pernah dia dengar atau pun ketahui sedikitpun. Makhluk tersebut sangat asing di telinganya.
Belum pernah dia mendengar makhluk dengan besar tubuh seperti itu selama ratusan tahun hidupnya.
Umurnya telah menginjak usia lima ratus tahun, selama lima ratus tahun tersebut, mustahil ada makhluk sebesar itu yang belum pernah didengarnya di Daratan Utama.
Namun, dia mengingat kembali mengenai lokasi ditemukannya makhluk itu.
Pria itu mengatakan ada banyak portal teleportasi di Gurun Pemakan Kehidupan yang muncul secara tiba-tiba dan membawa orang-orang ke tempat yang tidak dikenal.
"Bebukitan tanah berwarna abu-abu gelap, tulang-belulang yang berserakan dimana-mana. Hmmmm.....aku seperti pernah mendengar tempat seperti itu sebelumnya, tapi dimana.....?" Lin Nushen bergumam dengan suara pelan.
Dia menatap pria di depannya dan bertanya, "Apa tidak ada informasi yang lainnya?"
"Ada, Kepala Keluarga. Salah satu rekan saya, yang juga ditugaskan di Gurun Pemakan Kehidupan telah memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu portal seorang diri. Dia berada di dalam portal selama beberapa tarikan napas, sebelum kemudian sosoknya terlempar keluar dari dalam portal teleportasi dan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Semua darah di seluruh tubuhnya tampak menghilang, seolah-olah terhisap habis. Dagingnya juga mengering, sehingga menyisakan kulit dengan tulang saja. Bahkan organ dalamnya benar-benar ikut kering. Dan juga......" Penjelasan pria itu tiba-tiba berhenti.
Dahi Lin Nushen terangkat sebelah dan kemudian mengernyit, menatap pria tersebut.
"Dan juga apa? Lanjutkan!" ucapnya dengan suara dingin.
*Glek.....*
Pria itu menelan ludahnya dan melanjutkan.
"Dan juga.....jantungnya benar-benar lenyap. Bukan mengering atau hancur, tapi benar-benar lenyap tanpa menunjukkan sisa apapun. Saya berpikir dia telah diserang oleh semacam teknik sihir atau sejenisnya, namun tidak ada tanda-tanda penyerangan di tubuhnya. Darah, daging, dan jantungnya seolah-olah hilang dan lenyap begitu saja."
Ekspedisi Lin Nushen berubah menjadi serius ketika mendengar hal ini.
Penjelasan pria itu membuatnya memikirkan sebuah teknik beladiri yang mana mampu menyerap darah korbannya untuk memperkuat diri sendiri. Namun teknik itu tidak akan bisa membuat jantung seseorang lenyap begitu saja, bahkan tanpa meninggalkan jejak luka sedikitpun.
"Jangan ceritakan masalah ini kepada orang lain, apa kau mengerti?"
__ADS_1
Dengan cepat pria itu mengangguk.
"Bagus, kau boleh pergi. Bawa tubuh rekan mu itu ke ruang pemeriksaan. Jika ada yang tanya, katakan aku yang menyuruhmu, jadi jangan sampai ada yang berani dekat-dekat dengannya, atau bahkan memeriksanya."
Sekali lagi pria itu mengangguk, dan dia pun buru-buru pergi meninggalkan ruangan setelah memberikan hormat sekali lagi kepada Lin Nushen.
Ketika pria itu pergi, Lin Nushen pun tidak berdiam diri di ruangan tersebut. Dia melangkahkan kaki menuju ke luar dan pergi masuk ke dalam ruangan pribadi milik Kepala Keluarga Lin. Ruangan ini telah diwariskan sejak zaman dahulu, jauh sebelum dia dilahirkan, dan telah ditempati oleh Kepala Keluarga Lin dari berbagai generasi yang tak terhitung jumlahnya.
Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah lemari berisikan buku-buku tua, serta gulungan kertas kuno.
Semuanya merupakan peninggalan para Kepala Keluarga Lin yang telah lama mati. Mereka mewariskan pengetahuan mereka kepada Kepala Keluarga generasi seterusnya melalui tulisan-tulisan. Ini adalah kebiasaan lama di Keluarga Lin.
Bahkan dengan adanya giok memori, mereka masih memakai media kertas.
Lin Nushen berjalan dengan langkah kaki tenang menuju lemari tersebut. Tiap langkah kakinya akan menimbulkan suara bergema di dalam ruangan, meski tidak terlalu besar. Namun karena ruangan itu tidak terlalu besar, suaranya benar-benar bergema dan tak berhenti terpantul.
Berdiri tepat di depan lemari, Lin Nushen segera mengambil beberapa buku dari dalam lemari yang semuanya menuliskan tentang Gurun Pemakan Kehidupan di dalamnya. Mengendalikan Kekuatan Jiwa nya, dia kemudian membuat semua buku dan gulungan kertas terbuka di hadapannya.
Ini adalah buku yang ditulis oleh Patriak Klan Lin sekitar tiga ribu tahun yang lalu. Saat itu, Keluarga Lin lebih dikenal dengan nama Klan Lin, dan Kepala Keluarga dikenal sebagai Patriak.
Ada alasan mengapa panggilan dan penyebutannya mulai berubah semenjak kepemimpinan dua Kepala Keluarga sebelum Lin Nushen. Lin Nushen tidak terlalu mengetahuinya, tapi yang pasti dulu tidak ada lima keluarga besar, hanya ada tiga, Keluarga Weng, Keluarga Lin, dan Keluarga Yang. Keluarga Ying dan Keluarga Wang baru muncul dua ribu lima ratus tahun yang lalu, setelah dua Kaisar Jiwa muncul di dalam dua keluarga tersebut dan mulai berkembang pesat.
Pada buku yang ditulis Patriak Klan Lin tersebut, diketahui Gurun Pemakan Kehidupan sudah ada sejak zaman yang tak diketahui. Karakteristik lingkungannya yang spesial menjadikannya salah satu Zona Kematian sejak dulu.
Diceritakan ada surga tersembunyi di suatu tempat di dalam Gurun Pemakan Kehidupan yang bernama Hutan Fu Lin. Di dalam hutan tersebut, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Fenmu yang ditinggali oleh orang-orang lanjut usia. Namun meski begitu, mereka semua tidak bisa dianggap remeh, mereka adalah orang-orang nomor satu di ketika berada di usia puncak mereka.
Dikatakan, mereka memiliki keterampilan di bidang yang berbeda-beda dan hidup dalam damai di desa kecil tersebut.
Salah satu Patriak Klan Lin dikatakan pernah berhasil menemukan Hutan Fu Lin dan memasuki desa tersebut. Setelah itu, kabarnya tidak pernah didengar lagi, dan kepemimpinan Klan Lin diambil alih oleh anaknya.
Banyak rumor yang beredar mengenai Desa Fenmu pada tahun itu, dan dikatakan bahwa ada monster mengerikan yang tinggal di dalamnya dan sedang dalam kondisi tertidur lelap.
Jika dia terbangun, maka dunia akan berakhir.
__ADS_1
Lin Nushen berhenti membaca buku itu. Tidak ada penjelasan mengenai tanah bebukitan dan makhluk raksasa, hanya cerita legenda Hutan Fu Lin yang dia temukan pada buku tersebut.
"Namun, monster yang tertidur lelap di cerita ini kemungkinan besar berhubungan dengan raksasa menyerupai manusia yang ditemukan di dalam portal teleportasi di Gurun Pemakan Kehidupan," ujar Lin Nushen.
Dia segera membaca buku lainnya.
Tak lama, akhirnya selesai membaca semua buku dan gulungan kertas yang ada di hadapannya. Tapi ekspresinya masih sama seperti sebelumnya. Dia masih belum menemukan jawaban apapun tentang tempat tanah bebukitan dengan tulang-belulang yang berserakan.
"Tidak, catatan-catatan ini hanya berisikan pengetahuan para Patriak dan Kepala Keluarga sampai seratus ribu tahun yang lalu, tidak ada satupun yang catatan yang melebihi waktu tersebut. Ada yang aneh, dimana catatan Patriak-Patriak terdahulu disimpan? Aku baru menyadarinya hari ini, seharusnya catatan yang dimiliki Keluarga Lin telah tersimpan dengan baik sejak awal Keluarga Lin itu sendiri berdiri. Sejarah Keluarga atau Klan Lin sendiri sudah ada sangat lama sekali, bahkan dikatakan sudah ada semenjak sistem beladiri diperkenalkan pertama kali."
Jika memang sejarah Keluarga Lin memasang sudah selama itu, lalu ada di mana semua catatan penting yang dimiliki oleh keluarga mereka?
Mata Lin Nushen tiba-tiba memantulkan cahaya aneh, dan dia segera mengembalikan semua buku dan gulungan kertas yang diambilnya sebelumnya. Tidak ada gunanya mencari informasi di lemari ini, karena pengetahuan yang sebenarnya bukan berada di sini, melainkan tempat lain.
Dia sudah memikirkannya, jika ada sebuah tempat yang layak digunakan untuk menyimpan catatan-catatan penting seperti sejarah keluarga, maka itu pasti tempat yang ada di dalam benaknya saat ini.
Setelah mengembalikan semuanya ke tempat semula, Lin Nushen mulai berjalan mundur dan berdiri di tengah-tengah ruangan.
Di lantai, terdapat ukiran yang menggambarkan seekor burung Phoenix yang dibuat dari ukiran halus. Lukisan ini sudah lama ada, dan usianya sama lamanya seperti usia ruangan itu sendiri.
Lin Nushen tiba-tiba mengiris pergelangan tangannya, dan membiarkan darah menetes keluar darah luka irisannya. Darah menetes ke atas lantai dan kemudian mulai memenuhi ukiran burung Phoenix. Ukiran berwarna abu-abu sebelumnya, kini berubah menjadi ukiran berwarna merah karena darah Lin Nushen.
Setelah seluruh gambar Phoenix di lantai terisi oleh darah, Lin Nushen pun menyembuhkan lukanya hingga tidak menunjukkan bekas sedikitpun.
"Aku, Lin Nushen, Kepala Keluarga Lin generasi saat ini, meminta izin kepada para Patriak dan Kepala Keluarga terdahulu untuk memasuki ruangan leluhur," ucap Lin Nushen sambil memutar kekuatan garis darah Phoenix di dalam tubuhnya.
Sebuah Phoenix berwarna merah gelap pun muncul di atas kepalanya. Phoenix itu memekik nyaring, sebelum kemudian menabrak ukiran Phoenix di atas lantai.
Begitu Phoenix menabrak ukiran itu, api segera berkobar dan menutupi seluruh ukiran Phoenix.
Tanpa di duga, ukiran Phoenix itu berubah menjadi portal teleportasi yang entah kemana tujuannya. Namun Lin Nushen tanpa ragu segera melangkahkan kakinya dan melompat masuk ke dalam portal.
Setelah dia sepenuhnya masuk, portal tersebut pun menghilang, dan lukisan Phoenix kembali terlihat di atas lantai. Namun tidak ada bekas darah milik Lin Nushen. Lantai itu bersih seperti tanpa noda sedikitpun.
__ADS_1