Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 600. Menyusup (II)


__ADS_3

Malam hari. Sekitar satu kilometer dari Pelabuhan Phoenix.


Sebuah pelabuhan yang berukuran jauh lebih kecil dibangun dan menjadi tempat untuk berlabuh banyak kapal yang berdatangan dari segala wilayah selatan Daratan Utama. Orang-orang yang membawa kapal itu memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menuju ke tengah danau, dimana gunung tempat kediaman milik Keluarga Lin berada.


Perlu diketahui, kediaman Keluarga Lin terdiri dari empat bagian utama. Yaitu bagian luar, dalam, utama, dan pusat.


Bagian luar adalah wilayah diluar tembok besar yang mengelilingi kawah gunung. Bagian dalam, tengah, dan juga pusat kediaman berada di dalam tembok. Karena itu, wilayah luar mencakup seluruh bagian luar dan kaki gunung berapi. Terdapat sebuah kota besar yang ada di bagian luar ini, dan menjadi tempat tujuan datangnya orang-orang di Pelabuhan Phoenix.


Lalu ada bagian dalam, separuh bagian ini digunakan untuk tempat tinggal para anggota Keluarga Lin yang memiliki garis darah Phoenix di atas sepuluh persen pada diri mereka dari seluruh wilayah selatan Daratan Utama. Sisanya digunakan sebagai tempat dibangunnya beberapa tambang logam langka yang didapatkan dari dalam gunung berapi. Bisa dibilang, bagian dalam ini adalah tempat utama Keluarga Lin menghasilkan uang yang mereka miliki.


Selanjutnya adalah bagian utama. Pada bagian ini, orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah mereka yang memiliki kekuatan garis darah Phoenix dengan persentase tiga puluh persen, yang tidak lain adalah tempat tinggal para petinggi Keluarga Lin, termasuk Lin Bei dan keluarganya.


Di bagian utama ini juga terdapat rumah pembuatan senjata Keluarga Lin, serta gudang besar yang dipakai untuk menyimpan logam-logam yang telah berhasil ditambang, sebelum kemudian dikirimkan untuk dijual ke seluruh Daratan Utama.


Dan bagian yang terakhir, sekaligus bagian terpenting di Kediaman Keluarga Lin, adalah bagian inti.


Bagian inti ini berupa sebuah kastil raksasa yang terbuat dari berbagai macam jenis campuran logam panas. Aliran lahar selalu mengalir dari luar tembok kastil, sehingga bagian utama dan bagian inti kediaman dipisah oleh sebuah sungai lahar yang mengelilingi kastil tersebut.


Kastil ini adalah tempat tinggal para keluarga inti Keluarga Lin yang sudah ada sejak dahulu kalau dan tetap berdiri dengan garis darah Phoenix mereka yang diatas tujuh puluh persen. Bahkan pemimpin mereka, Sang Wanita Phoenix dikatakan memiliki kekuatan garis darah Phoenix lebih dari sembilan puluh persen di dalam darahnya.


Tapi semua yang diketahui oleh Weng Lou mengenai keluarga inti hanya terbatas pada pengetahuan yang dimiliki oleh Lin Dan dan beberapa pengetahuan umum di Daratan Utama yang dimiliki oleh Weng Ying Luan.


Lin Dan sendiri hanya tinggal di bagian utama saja, dan hanya pernah melihat secara sekilas wajah Pemimpin Keluarga Lin yang mengenakan sebuah kain yang menutupi setengah wajahnya saat dia diberikan tugas untuk menjadi salah satu pengurus Kota Tiesha.

__ADS_1


"Jadi, ketika kita sampai di bagian luar, kita tidak akan langsung menuju kota, melainkan membuat sebuah tempat persembunyian yang bisa kita pakai kapan saja. Tapi tentu saja, kita harus melewati danau di depan kita ini terlebih dahulu sebelum melakukan rencana lainnya." Weng Ying Luan berbicara sambil menunjuk ke arah gunung berapi raksasa yang ada di tengah-tengah danau lahar.


"Untuk masalah binatang buas yang tinggal di dalamnya, kita bisa melewatinya karena Kapten kalian ini sudah memiliki sesuatu yang bisa menangani mereka. Satu-satunya masalah tersisa adalah mengenai suhu panas yang dipancarkan oleh danau lahar itu. Seekor burung yang terbang di atas ketinggian lima puluh meter dari danau akan langsung terpanggang hingga matang hanya dengan terbang melintasinya saja."


"Untuk manusia, itu sudah seperti dibakar hidup-hidup di atas tungku api yang membara. Aku dan juga Kapten kalian bisa saja membuat pelindung untuk melindungi kalian dari suhu panas itu, namun udara tidak akan bisa masuk dan kalian tidak akan bisa bernapas dengan baik. Oleh sebab itu, kami akan membuka sedikit pelindung nya sehingga udara bisa masuk. Diantara kalian, siapa yang tidak tahan dengan panas? Jujur saja, rasa panas yang akan kalian rasakan akan seperti berada di bawah teriknya 5 matahari sekaligus." Weng Ying Luan melanjutkan.


Mendengarkan penjelasan Ying Luan, membuat para awak kapal Weng Lou menelan ludah tanpa sadar. Mereka adalah pelaut, suhu panas bukanlah masalah besar bagi mereka. Akan tetapi, ada batas dimana tubuh mereka bisa menahan rasa panas tersebut.


Jika rasa panas yang akan mereka hadapi setara dengan teriknya lima matahari sekaligus, mereka tidak yakin akan bisa sampai di gunung tengah danau dalam kondisi hidup.


Bahkan Du Zhe juga menelan ludahnya karena tidak yakin bisa bertahan di suhu sepanas itu.


Weng Lou yang sedang menyiapkan perahu terbang mereka menoleh dan melihat wajah bimbang para awak nya dan juga Du Zhe. Dia tertawa pelan sambil berbicara, "Tidak perlu khawatir tentang itu juga, aku masih menyimpan dengan baik Hati Salju Abadi yang kita dapatkan waktu itu. Kita bisa menggunakannya untuk menyejukkan bagian dalam perahu nantinya."


Harus dia akui, Weng Lou telah benar-benar baik dalam mengatur barang-barangnya. Untungnya orang yang memegang semua bahan itu adalah Weng Lou, jika seandainya Weng Ying Luan yang memegangnya, mungkin dia sudah menjualnya di Kota Tiesha untuk bisa menambah uang yang dia perlukan untuk membuat kapal.


"Hahaha....kalau begitu tidak ada lagi alasan kita menunggu di sini lebih lama. Ayo kita berangkat, kapal milik mu itu sudah sejak sore tadi berlayar melewati danau itu. Ayo kita susul mereka dan tiba di gunung lebih dulu, lalu mempersiapkan rencana selanjutnya," saran Weng Ying Luan.


"Oke, tunggu sebentar."


Weng Lou segera memposisikan perahu terbang mereka itu agar stabil saat dinaiki oleh mereka semua.


"Em, kalian semua naiklah. Kita akan mulai terbang melewati danau," ucap Weng Lou.

__ADS_1


Du Zhe dan yang lainnya mengangguk mengerti meski ragu-ragu. Du Zhe duduk di bangku kedua paling depan, lalu disusul dengan awak kapal Weng Lou di belakangnya.


Setelah semuanya duduk, Weng Lou pun mengambil tempat duduk paling depan, sementara Weng Ying Luan duduk di kursi paling belakang. Pembagian tempat duduk mereka berdua didasari kemampuan yang mereka miliki saat ini.


Keadaan Weng Lou yang tidak bisa lagi menggunakan Qi atau pun Tenaga Dalam Alam membuatnya tidak cocok untuk menggerakkan perahu, oleh sebab itu Weng Ying Luan dipercayakan untuk pekerjaan tersebut. Sementara Weng Lou yang duduk di depan akan mengendalikan perahu dan membuat pelindung disekitar perahu yang mencegah angin masuk dan menghempas tubuh mereka menggunakan Kekuatan Jiwa nya.


"Kau siap?" Weng Ying Luan bertanya dengan nada bermain-main pada Weng Lou.


"Kapan pun kau siap," balas Weng Lou.


"Oke.....berpegangan. Mungkin agak sedikit berguncang."


Qi mengalir keluar dari dalam tubuh Weng Ying Luan dan langsung terhisap ke dalam perahu, seolah-olah perahu itu adalah sebuah magnet yang terus menarik Qi di sekitarnya.


Ketika Qi mulai mengalir masuk ke dalam seluruh bagian perahu, Weng Ying Luan bisa merasakan seluruh perahu itu dengan inderanya.


Weng Lou segera mengeluarkan Kekuatan Jiwa nya dan ikut memasukkannya ke dalam perahu, sambil membentuk pelindung di sekeliling mereka. Begitu Weng Lou selesai melakukan pekerjaannya, Weng Ying Luan pun segera memasukkan lebih banyak Qi ke dalam perahu.


Pikiran Weng Lou ikut terhubung dengan perahu begitu Kekuatan Jiwa nya telah masuk ke seluruh bagian perahu itu. Dengan pikirannya, Weng Lou pun membuat perahu tersebut melayang di udara, dan kemudian bergerak maju, terbang ke arah danau lahar.


Sistem kerja perahu terbang mereka dibagi menjadi dua, yaitu Qi sebagai bahan bakar, dan Kekuatan Jiwa sebagai pengendali. Weng Lou menemukan hal ini setelah menelitinya selama hampir setengah hari. Dengan kecerdasan dan kejeniusan yang dimiliki olehnya dan Weng Ying Luan, mereka pun berhasil membuat agar masing-masing sistem kerja perahu bisa diambil alih oleh mereka berdua masing-masing.


Weng Ying Luan memberikan Qi, dan Weng Lou memberikan Kekuatan Jiwa. Entah bagaimana mereka berdua tampak seperti sepasang saudara kembar yang saling melengkapi satu sama lain.

__ADS_1


Meski sebenarnya Weng Lou tidak akan pernah mau menerima pujian seperti itu dari orang lain. Karena menurutnya, Weng Ying Luan sudah dia anggap sebagai bagian keluarganya, sama seperti teman-teman nya yang lain.


__ADS_2