Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 657. Lin Mei (II)


__ADS_3

Di dalam mata ibu Lin Mei tampak sebuah kobaran api yang menyala terang. Ini adalah kehendak pemusnahan dari Api Phoenix.


"Siapa.....siapa yang berani-beraninya ikut campur dalam urusan keluarga ku.......?" Ibu Lin Mei berbicara dengan suara dingin.


Dia adalah salah satu dari beberapa orang yang melihat kakak Lin Mei menggunakan bubuk kristal dengan kehendak pemusnahan. Bubuk kristal dengan kehendak pemusnahan bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh putrinya tanpa campur tangan orang lain.


Bubuk kristal itu tidak dapat dibuat oleh sembarang orang, hanya mereka yang berasal dari Keluarga Lin saja yang bisa membuatnya. Namun bukan berarti semua anggota keluarga bisa membuatnya.


Untuk membuat beberapa butir bubuk kristal, diperlukan seseorang dengan garis darah keturunan Phoenix di dalam tubuhnya. Paling tidak, garis darah Phoenix harus berada dalam jumlah enam puluh persen terbangkitkan dalam tubuh orang itu.


Juga, Tingkat Praktiknya haruslah berada di ranah Penguasaan Jiwa, agar bisa mengkristalkan kehendak pemusnahan di dalam Api Phoenix.


Orang-orang yang memenuhi syarat untuk melakukan hal itu paling tidak berada dalam jajaran Tetua dalam Keluarga Lin. Hanya saja, siapa, ibu Lin Mei tidak mengetahuinya.


"Sayang, bawa Mei'er kita ke kamarnya. Aku akan berbicara dengan Nei'er dari mana dia mendapatkan bubuk kristal dengan kehendak pemusnahan itu," ujar ayah Lin Mei sambil berjalan ke arah kakak Lin Mei sebelumnya pergi.


Ibu Lin Mei diam di tempatnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya pergi ke arah lain. Lin Mei di dalam gendongannya tampak tidur dengan pulas, meski tidak mengetahui bahwa hari-hari selanjutnya di dalam Keluarga Lin akan sangat berat.


Di dalam kamar Lin Nei. Lin Nei duduk di tempat tidurnya sambil menatap kedua telapak tangannya yang gemetaran.


Wajahnya saat ini sangat pucat, darah seakan menghilang dari tubuhnya.


Dia mengingat kejadian sebelumnya saat dia menggunakan bubuk kristal dengan kehendak pemusnahan untuk menambahkannya ke dalam Api Phoenix miliknya dan membakar Lin Mei. Perasaan hancur saat mengingat jeritan adik kecilnya yang tak berdosa, menangis sejadi-jadinya karena ulahnya.


Saat dalam ketakutan itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Sosok ayahnya berdiri dalam diam dan melangkah masuk ke dalam.


Lin Nei terdiam melihat sosok ayahnya. Mulutnya terbuka dan dia hendak mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Dia terlalu panik dan takut.


Tatapan ayahnya jatuh padanya. Berkedip. Dia melihat mulut putrinya yang bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Katakan kepada ayah, siapa yang memberikanmu benda itu?" tanya ayahnya. Tidak ada nada suara marah atau pun kecewa dari suaranya.


Lin Nei terkesiap untuk sesaat.


"Itu.....orang yang memberikannya padaku adala-"


Saat akan berbicara lebih lanjut, Lin Nei terhenti. Tangannya secara tiba-tiba mencekik lehernya sendiri. Itu bukan cekikan biasa, melainkan cekikan dengan tambahan Tenaga Dalam.


"Agh?!" Lin Nei terkejut oleh tindakannya sendiri. Kedua bola matanya berubah menjadi putih. Rasanya dia akan mati dalam hitungan detik saja.


"Kurang ajar. Tidak hanya kau melukai putri kecil ku, sekarang kau menyakiti putri tertua ku?!" Ayah Lin Mei meraung marah.


Kekuatan Jiwa dari seorang Kaisar Jiwa puncak meledak dari tubuhnya. Kekuatan Jiwanya itu langsung menutupi seluruh wilayah kekuasaan Keluarga Lin di Pulau Pasir Hitam, bahkan meluas sedikit keluar dari batas.


Tindakannya ini segera membuat seisi kediaman Keluarga Lin terguncang hebat. Para Tetua keluar dari rumah mereka, semua anggota keluarga yang berada di ranah Penyatuan Jiwa hingg Penguasaan Jiwa, semuanya keluar untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.


Salah satu Tetua yang terlihat tua mengerutkan keningnya, dia mengenali siapa pemilik Kekuatan Jiwa ini.


"Ini Kekuatan Jiwa Kepala Keluarga!" serunya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?! Apakah Kepala Keluarga sedang bertarung dengan seorang Kaisar Jiwa???" tanya Tetua yang panik. Dia sedang membuat jimat ketika kemudian Kekuatan Jiwa milik Kepala Keluarga menerpanya dan merusak pola-pola yang dia gambar di atas kertas jimat.


Di saat orang-orang kebingungan dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, di dalam kamar Lin Nei, ayah Lin Mei memejamkan matanya dan memindai seluruh wilayah kekuasaan Keluarga Lin di Pulau Pasir Hitam.


Dia sebenarnya bisa dengan mudah memindai seluruh Pulau Pasir Hitam jika dia mau, namun dia tidak melakukannya, bukannya dia tidak mau, namun dia tidak ingin menyinggung kekuatan lain di Pulau Pasir Hitam, serta Keluarga Weng.


Lagipula, ini adalah masalah keluarganya, dia tidak mau masalah seperti ini sampai diketahui oleh orang luar.


"Dimana kau bersembunyi, dasar tikus kecil yang licik!"


Kekuatan Jiwanya tampak mengeluarkan gelombang tanpa henti hang berpusat dari dirinya sendiri. Gelombang itu terus-menerus melewati segalanya yang ada di wilayah Keluarga Lin, tanpa terkecuali sedikitpun.


Setelah beberapa saat memindai, dia tidak menemukan petunjuk sama sekali. Lin Nei telah berhenti mencekik dirinya sendiri saat ayahnya mulai melepaskan Kekuatan Jiwanya. Jelas pelakunya takut dirinya tertangkap sehingga memilih berhati-hati.


Mata ayah Lin Mei memerah karena menahan amarah di dalam dirinya. Dia ingin meletus dalam kemarahan, namun pelaku masalah ini tidak bisa dia temukan.


Setelah kejadian pada hari itu, hidup Lin Mei berubah drastis.


Seluruh anggota Keluarga Lin mulai memandangnya dengan tatapan berbeda dari sebelumnya. Ada tatapan penghinaan dalam mata mereka yang bisa Lin Mei rasakan.


Entah itu karena dia kalah dalam pertarungan melawan kakaknya, atau karena bekas luka bakar di wajahnya yang sama sekali tidak bisa dihilangkannya menggunakan kekuatan pemulihan dari Api Phoenix miliknya.


Kakaknya juga bersikap semakin dingin kepadanya. Dia tidak lagi memarahi Lin Mei, namun benar-benar mengabaikannya. Ini karena Lin Nei takut dia akan melukai adik kecilnya lebih jauh lagi, sehingga memilih menjauhkan diri karena tenggelam dalam perasaan bersalah.


Adapun ayah dan ibunya, sikap mereka tidak berubah sedikitpun, malah terkesan semakin protektif terhadapnya.


Lin Mei, yang saat ini berada dalam ledakan cahaya tersenyum tipis.


Dia ingat dengan jelas tatapan mata kakaknya saat dia hendak pergi menuju Sekte Langit Utara. Tatapan itu mengandung kesendirian dan rasa bersalah yang telah ditahannya selama bertahun-tahun.


Lin Nei menghukum dirinya sendiri dengan membuat dirinya tersiksa akan perasaan bersalah yang menghantuinya sepanjang waktu.


"Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku ingin sekali berbincang dengan kakak ku untuk terakhir kalinya, walau hanya sebentar saja. Ya.....keinginan seperti itu mana mungkin terkabul."


Tangan dan kaki Lin Mei hancur sepenuhnya menjadi abu. Kini tubuhnya ikut mengalami keretakan.


"Luan, kau harus menyelesaikan rencana kita dalam membasmi Keluarga Ying. Dan.....Lou, sepertinya kita tidak akan bisa bertemu lagi. Aku minta maaf selama ini selalu menyusahkan mu.... aku minta maaf karena telah merepotkan semua orang......"


Keretakan pada tubuh Lin Mei semakin menyebar. Pandangan Lin Mei berubah menjadi buram. Kesadarannya akan menghilang, namun dia menahan dirinya sendiri agar tidak menutup kedua matanya.


Jika dia menutupnya, maka dia akan mati.


"Ayah.....ibu.....aku minta maaf."


Air mata menetes dari mata Lin Mei. Air mata itu sangat jernih dan memantulkan cahaya kehijauan yang berada di sekitar Lin Mei.


Tepat ketika seluruh tubuh Lin Mei akan hancur dan berubah menjadi abu, bulu Phoenix milik Lin Mei melayang di hadapannya. Matanya dengan sayu menatap bulu itu. Dia menyesal sudah membawanya bersamanya. Jika saja dia tidak membawanya, anggota Keluarga Lin di Pulau Pasir Hitam bisa mendapatkannya dan menggunakannya.


Mungkin saja bulu itu akan jauh lebih berguna untuk kakaknya.

__ADS_1


Mata Lin Mei perlahan tertutup dan kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Sedikit demi sedikit tubuhnya berubah menjadi abu. Dia berada dalam ujung benang kehidupannya. Benang itu begitu rapuh, dan bisa putus kapan saja.


Namun saat itulah, ketika benang itu mengencang dan hampir terputus, cahaya terpancar dan benang tipis kini berubah menjadi sebuah tali tebal dan kuat.


Lin Mei yang sudah hampir kehilangan seluruh kesadarannya mendadak membuka kedua matanya dan menatap bulu Phoenix di hadapannya.


Bulu itu bersinar dalam cahaya merah terang, campuran dari jingga dan merah. Cahaya hijau yang ada disekitarnya lenyap tanpa sisa. Keretakan dan kehancuran tubuhnya terhenti.


"Jangan menyerah seperti itu...... kita tidak pernah menyerah. Kita terus berjuang, generasi demi generasi. Walau terkadang kita tersandung oleh batu besar yang menjatuhkan kita ke tanah, namun kita akan terus bangkit. Kenapa? Karena kita adalah Phoenix! Kita adalah Phoenix Pemusnah yang akan melenyapkan apa saja yang menghalangi jalan kita!


Rintangan sesulit apapun tetap akan bisa ditaklukkan oleh kita! Diri ku di kehidupan ini, dengarkan kata hatimu! Biarkan kekuatan Phoenix dalam tubuhmu terbebas dari kekangan. Jangan membatasinya dengan perasaan bersalah dalam hatimu. Jadikan rasa bersalah itu sebagai pengingat, untuk terus bertambah kuat!" Lin Mei bergetar hebat. Suara itu keluar dari bulu Phoenix di hadapannya.


Ini pasti adalah kehendak yang tertanam di dalam bulu Phoenix. Kehendak yang berasal dari Kepala Keluarga Lin yang menjadi pemilik aslinya.


Kata-kata yang keluar dari bulu itu bergema dalam kepala Lin Mei. Dirinya tidak mengerti maksud dari 'diriku di kehidupan ini' yang dikatakan suara itu, namun dia menyadari bahwa selama ini hatinya terus terikat dalam perasaan bersalah kepada kakaknya karena telah mencuri perhatian seluruh Keluarga Lin waktu kekuatan garis darah keturunan Phoenix miliknya terbangkitkan dan menunjukkan garis darah yang lengkap.


Perasaan itu telah membuatnya tidak bisa melepaskan diri dari belenggu hati, yang membuat kekuatan garis darah keturunan Phoenix nya tidak bisa berkembang lebih jauh.


Bukan tidak bisa, namun hatinya yang terdalam mengatakan bahwa dia tidak mau. Jika bukan karena garis darah ini, dia dan kakaknya akan tetap memiliki hubungan baik. Kakaknya akan terus bersikap baik dan memanjakannya seperti dulu.


"Namun perasaan bersalah belaka tidak akan mengubah segalanya. Hanya kekuatan yang bisa melakukannya. Menjadi kuat, dan buktikan diriku sendiri. Buktikan, bahwa aku......memang layak memiliki garis darah ini!"


Belenggu di dalam hati Lin Mei hancur begitu saja. Perasaan bersalah yang selama ini dia miliki kini menghilang.


Sumber kekuatan garis darah keturunan Phoenix nya adalah jantungnya. Di dalam jantungnya terdapat bara api, ini adalah sumber Api Phoenix yang selama ini dia gunakan. Bara itu terbakar dalam nyala api kecil pada awalnya, namun saat belenggu hati Lin Mei hancur, bara itu langsung terbakar dalam nyala api yang begitu besar.


Tubuh Lin Mei yang sebelumnya hancur kini mulai pulih. Semua bagian tubuhnya terbentuk kembali. Lin Mei bisa melihat semuanya itu dengan matanya sendiri.


"Menyatu dengan bulu Phoenix ini, dan capai kekuatan yang bisa membuktikan dirimu sendiri." Suara kembali terdengar dari bulu Phoenix itu sekali lagi.


Lin Mei tanpa ragu mengambil bulu itu. Dia menatapnya untuk sesaat sebelum kemudian menempelkannya di tengah dadanya, tepat dimana jantungnya berada.


Bulu itu masuk ke dalam tubuhnya, dan mencapai jantungnya. Nyala api di dalam jantungnya mengalami kontak dengan bulu Phoenix, dan saat itu juga, kobaran api yang hanya ada di dalam jantungnya secara mendadak berkobar keluar hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Kekuatan pemulihan yang sedang bekerja dalam tubuhnya melonjak dalam kecepatan yang sama sekali berbeda. Tangan dan kakinya dengan cepat terbentuk ulang. Keretakan pada dirinya menghilang, dan dia kembali seperti keadaannya semula.


Apa yang lebih mengejutkan Lin Mei, adalah bekas luka di wajahnya kini menghilang. Bekas luka yang menutupi setengah wajahnya selama bertahun-tahun, akhirnya menghilang dan kini wajahnya tampak pulih sepenuhnya.


Kini tubuh Lin Mei dipenuhi dengan kekuatan. Dia menatap pada sumber ledakan cahaya hijau, pecahan kristal masih terus melepaskan cahaya hijau dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


"Aku tidak membencimu. Malah, aku berterima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam," ujar Lin Mei.


Dia menutup mata untuk sesaat. Ketika dia membuka matanya kembali, Kedua matanya berubah warna menjadi merah terang.


"Hancurkan."


Kata-katanya itu seperti kata-kata yang sederhana, namun begitu keluar dari mulutnya, Api Phoenix langsung membakar pecahan kristal itu dan menghancurkannya.


Ledakan cahaya perlahan pudar, dan kini wujud Lin Mei bisa terlihat oleh semua yang sedang menonton ledakan cahaya sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2